Monday, 24 September 2018

SURAT PENGGEMBALAAN BADAN PEKERJA MAJELIS SINODE GEREJA KRISTEN INDONESIA

Saudara-saudara anggota GKI yang kami kasihi dalam Tuhan kita Yesus Kristus,

Dalam kurun waktu satu sampai dua tahun terakhir ini, masyarakat telah dibanjiri oleh tulisan-tulisan populer dan ilmiah yang berhubungan atau bersentuhan dengan kekristenan, Tulisan-tulisan tersebut telah pula memancing reaksi orang-orang Kristen. Berbagai pertemuan studi, diskusi, dan percakapan telah diadakan sebagai upaya untuk memahami dan menentukan sikap terhadap tulisan-tulisan tersebut.

Gereja Kristen Indonesia menggumuli secara serius dan mendalam masalah ini. Pergumulan yang serius dan mendalam itu juga dipicu oleh munculnya tulisan salah seorang pendeta GKI berkenaan dengan salah satu tulisan ilmiah tentang penemuan makam keluarga Yesus, yang dikenal dengan makam Talpiot. Tulisan itu dipublikasikan dalam salah satu media massa nasional dan menimbulkan berbagai reaksi di kalangan anggota GKI khususnya, dan warga gereja umumnya. Anggota-anggota GKI yang memberikan reaksi itu pada umumnya memahami bahwa tulisan tersebut juga memuat semacam "manifesto iman" penulis tentang kebangkitan Yesus Kristus, yang dianggap atau diduga menyimpang dari ajaran GKI.

Terkait dengan ajaran GKI, dengan ini kami ingin menyatakan dengan tegas bahwa ajaran GKI adalah ajaran yang disebutkan dan/atau diacu dalam Tata Gereja GKI yang berlandaskan Alkitab. Karena itu, jika ada ajaran-ajaran yang bertentangan dengan ajaran GKI, GKI tidak dapat menerimanya. Secara spesifik, ajaran GKI mengenai kebangkitan Yesus Kristus adalah bahwa Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati ("kebangkitan daging") dan ajaran yang menyatakan bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah kebangkitan yang bersifat metaforis bukanlah ajaran GKI.

Terkait dengan pendeta GKI yang disebutkan di atas, Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, sebagai institusi di mana pendeta yang bersangkutan dipanggil selaku Pendeta Tugas Khusus Sinode Wilayah untuk mengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, telah melakukan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah yang muncul akibat tulisan tersebut, yaitu:

1. Menyelenggarakan dua kali pertemuan terbuka dalam bentuk sarasehan. Sarasehan-sarasehan tersebut dihadiri oleh yang bersangkutan, para pendeta GKI, dan anggota-anggota GKI.
2. Menempuh langkah-langkah penggembalaan kepada yang bersangkutan sesuai dengan Tata Gereja GKI. Hal ini masih terus berlangsung sampai saat ini dan terus akan dilanjutkan sampai tuntas.
3. Melakukan pertemuan dengan Pengurus Lembaga Perguruan Tinggi Teologi Jakarta di mana pendeta tersebut melayani sebagai tenaga pengajar penuh-waktu ("dosen biasa") yang diutus oleh GKI. Hal ini juga masih akan dilanjutkan terus sampai masalah ini diselesaikan secara tuntas.
4. Melayangkan "Memorandum Pastoral" kepada anggota-anggota GKI di lingkup GKI Sinode Wilayah Jawa Barat.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengajak segenap anggota GKI untuk dengan kritis dan tenang menghadapi setiap fenomena dalam masyarakat, yang berkaitan dengan iman atau kehidupan keagamaan kita. Kami juga ingin mengimbau agar kita tidak terpancing oleh upaya-upaya untuk membangkitkan kemarahan atau perpecahan dalam tubuh gereja Tuhan umumnya dan GKI khususnya. Kita harus tetap waspada tanpa kehilangan kemampuan kita untuk secara kritis melihat pokok masalah dan menempatkan tiap masalah pada tempatnya secara proporsional.

Akhirnya kami berharap agar dengan adanya persoalan ini, kita sebagai anggota-anggota GKI tidak kehilangan semangat untuk saling menegur dan menasihati dalam suasana kasih demi pembangunan GKI sebagai tubuh Kristus.

"Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah" (I Korintus 2:5)

Jakarta, 7 September 2007
BADAN PEKERJA MAJELIS SINODE GEREJA KRISTEN INDONESIA

Pdt. Dr. Robert Setio Pdt. Jahja Sunarja Th.M.
Ketua Umum Pj. Sekretaris Umum