Oleh: Pdt. Mangapul Sagala

Pengantar:
Tahun yang lalu, di sebuah milis, diperdebatkan atau dipermasalahkan kehadiran persekutuan kampus, atau yang lazim disebut dengan PMK- Persekutuann Mahasiswa Kristen. Memang tidak semua bersikap negative terhadap kehadiran PMK. Beberapa netters melihat kehadiran PMK secara positf, namun ada juga yang bersikap negatif dan sinis. Karena itu, disarankan agar Gereja menertibkan PMK-PMK yang 'liar' tsb.

Dalam keadaan demikian, muncullah diskusi yang sangat hangat tentang apa yang disebut dengan "Gereja" dan bagaimana menilai dan memahami persekutuan-persekutuan seperti PMK -yang dikelola oleh lembaga-lembaga pelayanan- khususnya dalam hubungannya dengan Gereja lokal. Seorang netter, yang juga pendeta dari Gereja tertentu menulis sbb:

Lembaga Kristen dan Gereja

Pengantar
Kita patut bersyukur kepada Tuhan untuk hadirnya lembaga-lembaga Kristen yang disambut dengan positip sebagai lembaga yang diakui telah nyata mendukung Gereja dalam menjalankan visi dan misinya. Sebagai contoh kita dapat menyebut beberapa saja, seperti Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Yayasan Musik Gerejawi (Yamuger), Yayasan Komunikasi Masa (Yakoma), dan banyak lagi yayasan dan lembaga Kristen lainnya.

Namun bagaimana dengan kehadiran Persekutuan Kampus, atau yang umumnya dikenal dengan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) yang kehadirannya didukung secara penuh oleh Yayasan pelayanan mahasiswa, seperti Lembaga Pelayanan Mahasiwa Indonesia (LPMI), Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas), Navigator, Lahay Roy dan sejenisnya? Kelihatannya kehadiran mereka masih belum sepenuhnya diterima, baik oleh Gereja-gereja, maupun oleh masyarakat di Indonesia. Tidak heran, kalau beberapa waktu yang lalu sebuah majalah terkenal ibukota memuat kehadiran yayasan-yayasan tersebut diatas dengan nada yang negatif.

Memang kita perlu sedih dengan semua kejadian akhir2 ini: BUKAN SAJA MEMBANGUN RUMAH IBADAH DIPERSULIT, TAPI IBADAH YANG SUDAH BERJALAN PULUHAN TAHUN PUN DIANCAM UNTUK DIHENTIKAN... BAHKAN DIBULDOZER. Kita juga perlu berdoa dan memikirkan segala hal dalam mempersiapkan diri jika yang lebih buruk Tuhan izinkan di republik ini.

Itulah sebabnya saya dan istri terus menerus memikirkan dan mendoakan agar KTB, Kelompok Tumbuh Bersama yang selama ini menjadi kekuatan PMK, Persek Mhs Kristen terus menerus ditingkatkan.

Saya masih ingat ketika sekitar duapuluh tahun yang lalu, pertama kali saya menceramahkan tentang pentingnya KTB. Dan setelah itu, juga terus menerus menceramahkan hal pentingnya KTB itu.
Masih ingat? Salah satu alasan utamanya adalah jika kondisi politik tidak mengizinkan untuk hadirnya GEREJA. Contohnya adalah Kisah RAsul 8. Setelah Stephanus dibunuh, ternyata penderitaan belum berakhir. Paulus malah masuk ke rumah-rumah untuk menyeret dan menganiaya umat!

Page 2 of 2