Kutipan buku. Penulis: Mangapul Sagala

Pengantar:
Setelah kembali dari Singapura pada tahun 1991, saya sangat menikmati perbincangan dengan sahabat dan teman-teman lama. Dari perbincangan tersebut, salah satu pertanyaan yang sering saya tanyakan kepada mereka adalah, "Kapan menikah?" Yang menarik adalah mendengar jawaban dari kebanyakan mereka. "Ah si Abang, boro-boro menikah, calon aja belum punya; cepat banget menikahnya?" Mendengar jawaban ini saya lanjutkan, "Ha? Terlalu cepat menikah? Umurmu sudah berapa tahun?" Ada yang menjawab, 27; 28 atau 29 tahun. Gawat, pikirku. Memang inilah rupanya gejala umum pemuda kita. Saya jadi teringat ketika masih studi diTrinity Theological College, ada dosen saya orang Amerika yang ketika itu (tahun 1991)umurnya baru 36 tahun, tapi putrinya sudah SMP. Sedangkan saya sendiri hanya setahun lebih muda dari padanya, anak saya ketika itu didaftarkan di Taman Kanak-kanak pun belum diterima.

Oleh: Pdt. Mangapul Sagala

Pengantar:
Tahun yang lalu, di sebuah milis, diperdebatkan atau dipermasalahkan kehadiran persekutuan kampus, atau yang lazim disebut dengan PMK- Persekutuann Mahasiswa Kristen. Memang tidak semua bersikap negative terhadap kehadiran PMK. Beberapa netters melihat kehadiran PMK secara positf, namun ada juga yang bersikap negatif dan sinis. Karena itu, disarankan agar Gereja menertibkan PMK-PMK yang 'liar' tsb.

Dalam keadaan demikian, muncullah diskusi yang sangat hangat tentang apa yang disebut dengan "Gereja" dan bagaimana menilai dan memahami persekutuan-persekutuan seperti PMK -yang dikelola oleh lembaga-lembaga pelayanan- khususnya dalam hubungannya dengan Gereja lokal. Seorang netter, yang juga pendeta dari Gereja tertentu menulis sbb:

Lembaga Kristen dan Gereja

Pengantar
Kita patut bersyukur kepada Tuhan untuk hadirnya lembaga-lembaga Kristen yang disambut dengan positip sebagai lembaga yang diakui telah nyata mendukung Gereja dalam menjalankan visi dan misinya. Sebagai contoh kita dapat menyebut beberapa saja, seperti Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Yayasan Musik Gerejawi (Yamuger), Yayasan Komunikasi Masa (Yakoma), dan banyak lagi yayasan dan lembaga Kristen lainnya.

Namun bagaimana dengan kehadiran Persekutuan Kampus, atau yang umumnya dikenal dengan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) yang kehadirannya didukung secara penuh oleh Yayasan pelayanan mahasiswa, seperti Lembaga Pelayanan Mahasiwa Indonesia (LPMI), Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas), Navigator, Lahay Roy dan sejenisnya? Kelihatannya kehadiran mereka masih belum sepenuhnya diterima, baik oleh Gereja-gereja, maupun oleh masyarakat di Indonesia. Tidak heran, kalau beberapa waktu yang lalu sebuah majalah terkenal ibukota memuat kehadiran yayasan-yayasan tersebut diatas dengan nada yang negatif.

Page 2 of 3