Pdt. Mangapul Sagala

Judul artikel di atas mengandung dua hal penting tentang alumni: sehat dan melayani. Mengapa alumni harus sehat secara jasmani, terutama secara rohani? Jawabannya tentu sangat sederhana. Karena dengan kondisi sehat, alumni akan dapat lebih menikmati hidup serta berkarya bagi Tuhan. Sebab tanpa kesehatan yang prima, karya apa yang dapat dihasilkan? Tetapi untuk hal yang kedua, mengapa alumni harus melayani? Barangkali tidak mudah untuk menjawabnya. Karena tidak adanya keseragaman terhadap pertanyaan tersebut, maka sebagian alumni akan merasa ‘aman’ untuk menikmati kekristenannya tanpa terlibat sedikitpun dalam pelayanan kongkrit, baik di kantor, di Gereja atau di mana saja. Perasaan aman tersebut di atas akan semakin aman pula dengan pernyataan jitu, “Pekerjaan kantor yang sudah begitu membuat kita jungkir balik, itu pun pelayanan juga. Buat apa masih repot-repot urus ini dan itu...” Tentu pernyataan di atas ada benarnya. Namun demikian, itu tidak berarti bahwa alumni bisa diam saja dan merasa aman tanpa terlibat dalam bentuk apa pun dalam pelayanan pemberitaan Injil Kerajaan Allah. Sebab sesungguhnya, setiap alumni yang mencintai Tuhan tidak akan mencari alasan pembenaran untuk tidak melayani. Tetapi sebaliknya, dia akan mencari segala cara dan usaha agar dapat semakin giat melayani Tuhan.

Pdt. Mangapul Sagala

"Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengarkan engkau" (1Tim.4: 16).

Pengantar
Tema tersebut di atas telah ditetapkan oleh Perkantas untuk menjadi tema hari ulang tahun ke-30 ini. Seingat saya, sebenarnya, selain dari tema tersebut di atas, ada dua tema lain yang diusulkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada bulan November 2000 lalu. Namun, setelah melalui pergumulan dan diskusi yang hangat ketika itu, akhirnya tema tersebut di atas disepakati untuk menjadi tema perayaan HUT ke-30 ini. Apa yang melatarbelakangi pemilihan tema tersebut? Hal apakah yang dapat kita pelajari dari tema tersebut, sehingga dia layak dijadikan tema pada perayaan khusus ini? Hal itulah yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Kutipan buku. Penulis: Mangapul Sagala

Pengantar:
Setelah kembali dari Singapura pada tahun 1991, saya sangat menikmati perbincangan dengan sahabat dan teman-teman lama. Dari perbincangan tersebut, salah satu pertanyaan yang sering saya tanyakan kepada mereka adalah, "Kapan menikah?" Yang menarik adalah mendengar jawaban dari kebanyakan mereka. "Ah si Abang, boro-boro menikah, calon aja belum punya; cepat banget menikahnya?" Mendengar jawaban ini saya lanjutkan, "Ha? Terlalu cepat menikah? Umurmu sudah berapa tahun?" Ada yang menjawab, 27; 28 atau 29 tahun. Gawat, pikirku. Memang inilah rupanya gejala umum pemuda kita. Saya jadi teringat ketika masih studi diTrinity Theological College, ada dosen saya orang Amerika yang ketika itu (tahun 1991)umurnya baru 36 tahun, tapi putrinya sudah SMP. Sedangkan saya sendiri hanya setahun lebih muda dari padanya, anak saya ketika itu didaftarkan di Taman Kanak-kanak pun belum diterima.

Page 1 of 2