Monday, 24 September 2018

BIDAT (Ajaran Sesat)
(oleh: Mangapul Sagala)

Pengertian Bidat

Apa yang dimaksud dengan bidat? Bidat (Bhs Inggris: Heresy, Yunani: hairesis) muncul 9 kali dalam Perjanjian Baru. Menurut kamus Yunani karya monumental W.F Arndt dan F.W. Gingrich yg diterjemahkan oleh W. Bawer's, semula kata ini bersifat netral, tanpa konotasi negatif, yaitu dimengerti sebagai kelompok/sekte, opini, dogma (BAG 23-24). Dengan demikian, dalam Perjanjian Baru (PB) dikenal sekte orang Saduki (Kis. 5:17) dan sekte orang Farisi (Kis. 15: 5; 26:5) yang dibentuk dari kelompok Judaisme. Sekte orang Saduki adalah kelompok yang menolak hal-hal yang bersifat supernatural, seperti ajaran tentang kebangkitan, hidup kekal, juga adanya malaikat. Sedangkan sekte orang Farisi adalah mereka yang percaya kepada hal-hal tersebut di atas, dan digambarkan didalam PB sebagai kelompok yang sangat memegang tradisi nenek moyang, mengerti dan memelihara Kitab Taurat secara kaku. Karena itu, kelompok ini sering bertentangan dengan Tuhan Yesus, serta memusuhiNya.

 

Perlu diperhatikan bahwa kata yang sama, yaitu sekte, juga digunakan oleh non Kristen terhadap kekristenan. Sebagai contoh, kita dapat membaca tuduhan yang diberikan kepada R. Paulus: "Telah nyata kepada kami bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani (Kis. 24: 5, lihat juga 14; 28: 22). Jadi jika pada mulanya pengertian "hairesis" adalah aliran, opini atau dogma, kemudian aliran atau sekte ini diindikasi sebagai aliran yang menyesatkan( I Eph 6:2; I Tr 6:1; Epil Mosq 1, hal ini bisa juga dibaca dalam tulisan Justin). Dalam tulisan rasul Paulus, aliran ini disebut menimbulkan perpecahan yang perlu diwaspadai. Karena itu, bidat dapat juga dimengerti sebagai kelompok dalam gereja yang memecahkan diri karena alasan-alasan tertentu (band. 1Kor.11: 19; Gal.5: 20). Dalam Tit.3: 10 kata ini digunakan untuk orang tertentu. Rasul Paulus menulis: "Seorang bidat yang sudah satu dua kali kau nasehati, hendaklah engkau jauhi. Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri" (Tit.3: 10-11).

Bidat dalam PB dan sesudah zaman PB
Dalam tulisan ini, kita mendefenisikan bidat sebagai sekte, kelompok atau gerakan dengan ajaran yang menyimpang dari ajaran utama, sebagaimana diajarkan oleh Alkitab dan tradisi Gereja mula-mula. Yang kita maksud dengan ajaran utama di sini adalah seperti ajaran tentang Allah, Kristus, Roh Kudus serta Keselamatan. Tentu saja, dengan defenisi ini, sebelum kita membahas terlalu jauh, kita perlu mengingat penegasan ahli sejarah Gereja, Williston Walker:

"Not every deviation from tradition, however, could be called heretical…practically speaking, therefore, the identification of what counted as heresy was a matter of papal decree". (Walker hal. 300). Dalam PB, penggunaan kata bidat dalam arti penyimpangan terhadap ajaran sebagaimana kita sebut di atas, pertama kali dapat ditemukan dalam 2Pet.2: 1, di mana di sini rasul Petrus menegaskan adanya guru-guru
palsu. Petrus menulis: "Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka sendiri" (2Pet.2: 1).

Sebernarnya, kita melihat bahwa ada dua kelompok bidat yang paling menonjol dalam PB. Pertama, kelompok Gnostik Yahudi (Kol.2: 8-23) dan Dosetisme (1Yoh.4: 2,3 dan 2 Yoh.7). Kita sebut Gnostik Yahudi, karena sekalipun faham Gnostik baru muncul pada abad kedua, namun benih ajaran tersebut telah ditemukan pada masa PB. Ajaran Gnostik sulit dirumuskan secara tepat. Hal ini disebabkan adanya berbagai variasi dan keragaman pengajaran mereka. Yang jelas, mereka tidak menerima otoritas Alkitab Perjanjian Lama (PL), tidak mengakui bahwa keselamatan adalah melalui Kristus. Umumnya mereka menolak ajaran tentang Kristus yang datang menjadi manusia serta menderita di kayu salib. Bagi kelompok ini, keselamatan adalah melalui kemampuan untuk mencapai satu tingkat pengetahuan tertentu yang disebut the secret gnosis. Sedangkan ajaran dosetisme adalah pengajaran yang menolak kesejatian tubuh Kristus. Bagi kelompok ini, tubuh Kristus hanya bersifat maya. Kata "dokew" dalam bahasa Yunani berarti kelihatannya (it seems), jadi kelihatannya Kristus memiliki tubuh manusia, padahal sebenarnya tidak demikian. Pengajaran ini tentu dipengaruhi oleh pemahaman bahwa semua yang bersifat materi (termasuk tubuh) adalah hina serta penyebab dosa. Tubuh dianggap penjara jiwa. Karena itu, manusia harus melepaskan diri dari tubuh jasmaninya. Alkitab menegaskan bahwa pemahaman tersebut tidak benar. Karena itulah, rasul-rasul, khususnya Paulus dan Yohanes banyak melawan ajaran tersebut dalam surat-suratnya.

Lalu apa yang terjadi sesudah zaman rasul-rasul? Kita juga melihat munculnya bidat-bidat baru. Itulah sebabnya, sebenarnya dapat dikatakan bahwa sejarah Gereja adalah juga sejarah bidat-bidat. Karena itu, tema di atas sesungguhnya merupakan sesuatu hal yg sangat sulit untuk dibahas, karena itu sering dihindari. Kita dapat maklum, karena kalau kita membaca kitab Sejarah Gereja yg begitu tebal yang ditulis oleh Williston Walker, atau yang ditulis berjilid-jilid serta tebal-tebal (hampir selusin) oleh Philip Schaff, kita akan melihat bahwa kehadiran bidat dalam sejarah Gereja begitu rumit. Kita tidak mungkin mendiskusikan apa yang terjadi pada Montanisme dan Gnostiksisme di abad kedua serta the Cathars,Waldensians, Skolastiksisme di abad pertengahan hingga liberalisme di abad 19.
(Bersambung)