Sunday, 27 May 2018

Karena itu, hanya beberapa dari bidat tsb kita sebutkan di bawah ini. Pertama, bidat di sekitar ajaran Kristus (Kristologi). Kita memassukkan ke dalam kelompok ini aliran Apollinarisme yang mengajarkan bahwa Kristus tidak memiliki roh manusia, tetapi Logos menggantikannya.
Selanjutnya Eutychianisme yang mengajarkan bahwa Yesus tidak memiliki tubuh manusia, karena kemanusiaan Yesus hilang ditelan Logos. Sedangkan Monothelistime mengajarkan bahwa Kristus tidak memiliki kemauan insani, tetapi hanya kemauan Allah.

 

Kedua, kita juga melihat adanya bidat di sekitar ajaran Tritunggal. Salah satu bidat yang cukup banyak mempengaruhi ajaran Tritunggal jemaat di Indonesia adalah Sabellianisme atau Modalisme. Kelompok ini menerima ajaran Tritunggal tetapi tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab.
Kelompok ini mengajarkan bahwa yang dimaksud dengan ajaran Tritunggal adalah Allah yang menyatakan diri dalam tiga cara, yaitu Allah Bapa yang berubah menjadi Allah Anak, serta Allah Anak yang berubah menjadi Allah Roh. Pengertian seperti inilah yang biasa digambarkan de gan air-es-uap.
Jadi, ajaran ini menyangkali adanya tiga oknum yang berbeda dalam Allah Tritunggal, yang dapat dibedakan sekalipun tidak dapat dipisahkan. Aliran lain yang juga termasuk di sini adalah Monarchianisme atau adoptianisme, Arianisme serta Macedonianisme. Monarchianisme menolak Tritunggal karena mereka ini mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Allah sejati, tetapi Yesus menjadi Kristus pada saat Yesus dibaptis oleh Yohanes, dan kemudian Allah mengadopsi Yesus setelah kematianNya. Demikian juga dengan Arianisme, menolak ajaran Tritunggal karena kelompok ini berpendapat bahwa Yesus bukan Allah melainkan ciptaan Allah yang pertama. Sedangkan Macedonianisme menolak ajaranAllah Tritunggal dengan alasan bahwa Roh Kudus merupakan ciptaan Allah juga.

Selanjutnya kita juga mengenal bidat di sekitar kanon Alkitab. Hal ini telah dimulai oleh Marcion di mana dia menolak seluruh kitab yang berbau Yahudi, seperti Injil Matius. Sebenarnya kita dapat menyaksikan bahwa dalam sepanjang sejarah Gereja, baik di abad permulaan hingga saat ini, kita terus melihat adanya kelompok yang menolak otoritas Alkitab, termasuk di sini adalah Neo Protestanisme serta liberalisme yang menolak pengilhaman dan Otoritas Alkitab.

Sikap Terhadap Bidat
Seringkali anggota jemaat bingung dan ragu dalam menyikapi hadirnya bidat atau aliran yang mengarah kepada bidat di Indonesia. Bahkan ada semacam pengertian bahwa setiap kelompok adalah benar, karena itu adalah salah dan berdosa bila meragukan atau menentang aliran tersebut. Padahal, kita dapat menyaksikan bahwa rasul-rasul seperti Paulus dan Yohanes memberikan sikap yang sangat jelas dan tegas terhadap segala
penyelewengan dan penyimpangan ajaran yang benar. Itulah sebabnya kita dapat membaca tulisan mereka serta tulisan dari Bapak2 Gereja cukup banyak berisi peringatan terhadap ajaran2 bidat ini. Sebagai contoh adalah Ignatius yang menganggap pengajar2 sesat ini sebagai pemabuk (Trall.6: 1-2) dan beruang ganas (Eph.7:1). Sedangkan Ireneus menulis "Against Heresies" untuk melawan berbagai pengajaran Gnostik di abad kedua. Karena itu, Ireneus memperingatkan orang2 Kristen untuk menghindari setiap pengajaran yang tidak murni dan menyesatkan.
Selanjutnya, Clement dari Alexandria melihat adanya sifat kedagingan yang berdosa sebagai penyebab munculnya bidat. Dia menegaskan bahwa ajaran bidat memancar dari keserakahan pribadi, keinginan yang sia-sia serta kesalahan menafsir Alkitab (Strom. VII. 15). Cyprian bahkan memberikan pandangan yang lebih tajam dan keras dengan mengatakan bahwa Setan menanamkan ajaran sesat dan perpecahan dalam Gereja untuk menghancurkan iman orang percaya, mencemarkan kebenaran serta memecah kesatuan (Unity of the Church 3).

Bagaimanakah Gereja mencegah dirinya dari ajaran sesat tersebut? Berbagai upaya dilakukan oleh Gereja mula-mula untuk menangkal pengajaran-pengajaran sesat.

Pertama, semua jemaat didorong untuk mengikuti pemimpin masing2. Maka di sini terlihat peran pemimpin Gereja, seperti Penilik untuk memelihara jemaat masing-masing. Hal ini sebenarnya sudah terlihat dari tulisan rasul Paulus di mana Paulus misalnya mengirim Timotius untuk menggembalakan jemaat di Efesus. Dengan demikian slogan: "Follow your pastors/leaders" menjadi sangat terkenal pada Gereja mula-mula. Tetapi bagaimana kalau ada kelompok atau jemaat yang belum memiliki Penilik atau semacam pendeta jemaat? Karena itu sangat dirasakan pentingnya kehadiran Kitab Suci sebagai buku pegangan umat. Inilah cara kedua untuk menangkal bidat: mengupayakan proses kanonisasi Alkitab. Sekalipun proses kanonisasi ini berlangsung sangat sulit dan memakan waktu yang sangat lama, namun usaha itu tetap dilakukan. Kita tahu bahwa seluruh kitab-kitab dalam Perjanjian Baru sebenarnya telah selesai ditulis pada abad pertama. Meskipun demikian, barulah abad keempat proses pengkanonan dianggap selesai, di mana Gereja mula-mula akhirnya menerima Alkitab PL sebanyak 39 kitab, dan PB sebanyak 27 kitab. Sejak saat itu, sekalipun masih ada upaya-upaya untuk untuk merekanonisasi Alkitab, usaha tersebut tidak pernah diterima oleh seluruh Gereja Tuhan. Hal ini terbukti hingga saat ini kita tetap menerima kanon tersebut di atas. Jadi, dari sini kita dapat melihat bahwa sesungguhnya Alkitab yang terdiri dari 66 kitab merupakan harta Gereja yang sangat berharga. Kita dapat meyakini bahwa itu sesungguhnya merupakan karya besar Roh Kudus melalui GerejaNya.
Karena itu, adalah merupakan suatu keharusan yang wajar bagi setiap anak-anak Tuhan untuk sungguh-sungguh menghargai serta mempelajari harta yang sangat indah dan berharga tersebut. Selanjutnya, sekalipun Kanon Alkitab tersebut telah diterima, namun masih dianggap kurang untuk menangkal bidat-bidat yang muncul. Mengapa? Karena Alkitab yang terdiri dari 66 buku tersebut dianggap terlalu luas dan tidak mengajarkan inti sari iman yang cukup jelas. Karena itu, muncullah cara ketiga yaitu merumuskan "the rule of faith" di mana di sini ditegaskan ajaran-ajaran yang dianggap sangat penting. Gereja mula-mula mempertahankan dirinya dengan berpegang kepada pengakuan-pengakuan iman. Karena itu Ireneus menyerukan bahwa bidat-bidat tidak mengikuti baik Kitab Suci, maupun pengajaran Gereja mula-mula yang bersumber dari pengajaran rasul-rasul, yang dipelihara dalam Gereja secara turun temurun (Against Heresies III.2). Demikian juga, Tertullian menegaskan bahwa tidak mengetahui apapun dari ajaran bidat yang bertentangan dengan pengakuan iman sebenarnya sama dengan mengetahui semuanya (Prescription of Heretics 7).
Pengajaran yang ketat dari "the rule of faith" mengakibatkan semakin mudahnya menolak ajaran bidat, dan mendefenisikan iman, seperti pengakuan iman rasuli, pengakuan Nicea, Pengakuan Kalsedon, Pengakuan Atanasius.Selanjutnya, dari masa Reformasi aliran protestan telah membedakan ajaran yang benar dari bidat dengan munculnya pengakuan2 dan pernyataan2 seperti Formula of Concord, the Thirty nine Articles, and the Westminster Confession.
(bersambung)