Monday, 24 September 2018

Evaluasi

Setelah kita membahas adanya empat pandangan yg berbeda ttg kerajaan seribu tahun, maka kini kita ingin membahas keempat pandangan tersebut secara singkat dan mencoba mengambil kesimpulan penutup.

1. Premillenium Dispensasional dan Historis sama-sama berpendapat bahwa kerajaan 1000 tahun yang ditulis pada Wahyu 20 adalah sungguh-sungguh terjadi di dunia ini. Sebelum masa ini, Kristus akan datang dan akan memerintah bersama-sama orang percaya selama 1000 tahun di bumi ini.
Perbedaan kedua kelompok ini adalah adanya masa pengangkatan (rapture) pada Premillenium Dispensasional, sedangkan pada Premillenium Historis hal itu tidak ada.

 

2. Premillenium Dispensasional dan Historis berpendapat adanya lebih dari satu kebangkitan orang mati. Mereka juga berpendapat bahwa kedatangan Kristus yang kedua tidak sama dengan penghakiman terakhir, karena Kristus masih harus memerintah di bumi selama 1000 tahun.
Kemudian barulah terjadi penghakiman terakhir dan terbentuknya bumi baru.

3. Postmillenium dan Amillenium sama-sama berpendapat bahwa kerajaan 1000 tahun sedang dialami saat ini. Namun ada perbedaan dalam kedua kelompok ini. Amillenium melihat kerajaan 1000 tahun identik dengan era gereja, sedangkan Postmillenium melihat adanya periode perpanjangan pada millenium tersebut, jadi tidak sama dengan era gereja.

4. Baik Postmillenium maupun Amillenium sama-sama berpendapat bahwa kedatangan Kristus yang kedua akan disertai dengan kebangkitan semua orang mati (general resurrection) dan penghakiman terakhir. Jadi, kebangkitan orang mati merupakan peristiwa tunggal yang hanya terjadi satu kali saja.

5. Setelah melihat keempat pandangan tersebut, pandangan mana yang berdasarkan Alkitab? Pertanyaan ini sengaja kita berikan untuk menunjukkan bahwa kata "berdasarkan Alkitab" tidak menjamin kebenaran Alkitab. Mengapa? Karena keempat pandangan tersebut di atas mengaku berdasarkan Alkitab. Sebagai contoh, kelompok Dispensasional mengaku dirinya Alkitabiah dan menuduh yang lain tidak Alkitabiah. Padahal, mereka ini menafsir Alkitab secara harfiah, serta sering bersifat spekulatif.

Membaca pandangan Herman A. Hoyt, dari kelompok Dispensasional, kelihatan kelemahan dalam melakukan penggalian Alkitab. Kita melihat adanya sikap asal comot ayat saja. Karena itu, wajarlah bila G.E. Ladd dalam responnya terhadap kelompok ini menulis, "Hoyt's essay reflects the major problem in the discussion of the millenium". Demikian juga, Hoekema dalam responnya menulis, "What makes Hoyt's essay difficult to evaluate is that he nowhere gives a specific exegesis of any Scripture passage. Most of the time he simply gives Scriptural references in parenthesis… but never does he give a detailed and argued interpretation of a passage". (Yang membuat tulisan Hoyt sulit dievaluasi adalah karena dia tidak memberikan pengga-lian yang spesifik dari setiap ayat yang dikutipnya. Dia sering hanya menunjukkan ayat-ayat tetapi tidak
pernah memberikan pe-nafsiran serta argumentasi yang jelas).
Di pihak lain, meskipun G.E. Ladd dari kelompok Premil-lenium Historis, dalam artikelnya menunjukkan kemampuan menggali yang begitu baik, namun tetap ada masalah dalam pandangan kelompok ini. Beberapa pertanyaan dapat diberikan yang sungguh-sungguh menyulitkan pandangan ini. Dapatkah kita memastikan doktrin kerajaan 1000 tahun hanya dari satu fasal saja, yaitu Wahyu 20? Dan lagi, bukankah kitab Wahyu penuh dengan penglihatan? Perhatikan kata "Aku melihat" sering ditulis dalam kitab ini. Dapatkah kita memperlakukan kitab Wahyu sama dengan kitab-kitab lainnya yang
tidak bersifat apokaluptik?
Kita melihat kenyataan lain bahwa Hoekema yang memiliki kemampuan menggali Alkitab yang tidak kalah dengan Ladd, namun memberikan pandangan yang berbeda tentang Wahyu 20. Ini menunjukkan bahwa kebenaran doktrin tersebut masih dpt diragukan. Demikian juga dengan Guthrie, yang juga ahli Perjanjian Baru -yg menulis buku2 tebal spt bantal itu dalam bukunya New Testament Theology menulis, "That a spiritual interpretation of the millenium is preferable to a literal inter-pretation becomes
clear when note is taken of the exegetical difficulties which a literal interpretation faces". (Penafsiran rohani dari millenium lebih baik dari penafsiran harfiah menjadi lebih jelas ketika kita memperhatikan kesulitan-kesulitan penggalian yang dihadapi oleh jenis penafsiran harfiah).

Disamping itu, Leon Morris, theolog Injili dari Australia, dalam tafsirannya yang berjudul Revelation menulis tentang Wahyu 20: 4 bahwa sekalipun orang-orang literal millenium berpendapat bahwa hal itu ada di bumi, namun dia berpendapat bahwa itu ada di Sorga. Menurut Morris, kata "takhta" digunakan oleh Yohanes dalam kitab Wahyu sebanyak 47 kali. Dari ke-47 kali ini semuanya nampaknya ada di Sorga, kecuali takhta Iblis (2: 13) dan takhta binatang (13: 2). Berkenaan dengan kerajaan 1000 tahun, Morris menulis, "One thousand is the cube of ten, the numbers of completeness. We have seen it is used over and over again in this book to denote completeness of some sort, and this is surely the way we should take it here. Satan is bound for the perfect period". (Seribu tahun adalah perkalian dari 10x10x10, yang merupakan angka kesempurnaan. Kita telah melihat hal itu digunakan berulang-ulang dalam kitab ini untuk menunjukkan jenis kesem-purnaan. Tentunya inilah cara yang harus kita ambil di sini. Setan telah diikat untuk periode yang sempurna).

Hal lain yang penting diperhatikan adalah apakah Alkitab mengajarkan dua kali kebangkitan orang mati? Apakah kedatangan Kristus yang kedua berbeda dengan peghakiman terakhir? Apakah Perjanjian Baru, khususnya keempat Injil mengajarkan adanya masa 1000 tahun tinggal di bumi setelah kedatanganNya yang kedua? Pernahkah Tuhan Yesus mengajarkan demikian? Memang benar bahwa kurangnya data untuk mendukung pandangan satu kitab atau satu fasal tertentu tidak boleh dijadikan dasar untuk menolak ajaran tersebut di atas. Namun masalahnya adalah disamping hal millenium ini dan kebangkitan yang nampaknya tejadi dua kali- hanya ditulis oleh kitab Wahyu, yang bersifat apokaluptik, hal itu pun tidak jelas dinyatakan oleh kitab ini. Andaikata jelas, timbul masalah lain.
Bagaimanakah ajaran ini diharmoniskan dengan kitab-kitab Perjanjian Baru
lainnya?

Kesimpulan/Penutup:

Setelah melihat kedua pandangan tersebut di atas, yaitu Premillenium Dispensasional dan Historis yang kurang meyakinkan, maka tinggal pandangan Postmillenium dan Amillenium. Kedua pandangan ini lebih meyakinkan, karena keduanya mengajarkan peristiwa kebangkitan yang hanya terjadi satu kali saja pada saat kedatangan Kristus yang kedua. Pada waktu itu, akan terjadi penghakiman terakhir yang diikuti oleh adanya dunia baru. Namun dengan pandangan yang sangat optimis dari Postmillenium, nampaknya pandangan ini tidak tepat. Alkitab tidak pernah mengajarkan pandangan yang demikian. Alkitab malah mengajarkan kenyataan dunia yang semakin jahat. Rasul Paulus menulis, "Ketahuilah, bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar, manusia akan mencintai dirinya sendiri… sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat…" (2Tim.3: 1, 13). Kata "sukar" dalam bahasa Yunani adalah khalepos yang berarti menakutkan, mengerikan. Demikian juga Prof. Bloesch dengan tegas menulis, "The contention that the whole world will gradually be won for Christ and the life of all nations will, in the course of time, be transformed by the Gospel is not in harmony with the New Testament picture of the end of the age".

Karena itu, pandangan Amillenium lebih meyakinkan. Namun kembali kita tegaskan di sini bahwa kita tidak dapat memastikan waktu kedatangan Kristus yang kedua. Karena itu, jauhilah sikap berspekulasi tentang waktu parousia tersebut.

(selesai).

Catatan :

Kiranya posting2 akhir zaman ini sungguh menolong umat Tuhan utk tdk terhindar dari kesalahan yg sama sbgmn dilakukan oleh sekte kiamat di Bandung, serta kelompok2 lain yg juga melakukan kesalahan yg sama sepanjang sejarah Gereja.

Saya sadar adanya perbedaan pandangan di antara pembaca sekalian, dan utk itu kami tdk bermaksud utk memaksakan pandangan kami. Namun dmkn, kiranya artikel ini dpt digunakan utk memperkaya pandangan yg telah dianut masing2.

Soli Deo Gloria,
Salam hangat,
Mangapul Sagala.

NB:Artikel ini diambil dari buku kami yg berjudul, "Kristus Pasti Datang Kembali", terbitan Perkantas Jakarta.