Tuesday, 16 January 2018

Akhir Zaman
(Oleh: Mangapul Sagala)

Tidak semua orang sependapat bahwa doktrin akhir zaman penting untuk dipelajari. Ada yang menganggap bahwa doktrin ini sungguh penting, tetapi ada juga yang menganggapnya sekedar doktrin tambahan. Mereka ini mengatakan bahwa apa dan bagaimanapun pandangan kita tentang doktrin ini tidak akan mempengaruhi -mempercepat atau memperlambat kedatangan Kristus. Karena itu, lebih baik membicarakan hal-hal lain yang jauh lebih penting. Tetapi bagi saya, doktrin ini sangat penting.

 

Ada beberapa alasan mengapa kita mempelajari doktrin ini:

a. Alkitab mengajarkan bahwa sejarah tidak akan berjalan dengan sendirinya begitu saja, tetapi ada dalam pimpinan dan kontrol Allah. Sejarah akan menuju pada penggenapannya yang sempurna. Hal ini akan terjadi pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kali, yaitu pada akhir zaman.

b. Kita orang-orang percaya yang hidup di dunia ini tidak boleh terlalu disibukkan oleh dunia ini sehingga kita lupa bahwa kita akan menerima, "Suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar, dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di Sorga.""(1Pet.1: 4). Karena itu, kita harus berusaha menghubung-kan apa yang kita lakukan sekarang dengan doktrin ini. Sebagaimana tokoh reformasi, Martin Luther pernah berkata, "Aku hanya punya dua hari, yaitu hari ini dan hari itu. Saya mau hidup hari ini dalam terang hari itu (hari kedatangan Kristus yang kedua)."

c. Sesungguhnya segala kejahatan dan penderitaan yang terjadi di dunia ini hanya akan berakhir pada akhir zaman. Jadi, pengharapan dan kerinduan kita akan dunia yang penuh baha-gia dan ideal akan dipenuhi pada akhir zaman. Itulah sebabnya kita tidak setuju pada kelompok tertentu yang memiliki pan-dangan yang terlalu optimis akan keadaan dunia ini. Kenyataannya, dunia semakin rusak, kejahatan semakin mera-jalela. Hal tersebut sebenarnya sudah ditegaskan Kitab Suci. Sebagaimana tertulis, "Sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat." (2Tim.3: 13)

Ada berbagai teori yang telah diberikan mengenai topik ini. Berbagai pandangan tersebut ada yang merupakan hasil studi yang sungguh-sungguh, tetapi ada juga hasil spekulasi pikiran semata. Sangat menyedihkan jika melihat kenyataan bahwa tidak sedikit orang yang mencoba membangun teorinya tanpa dasar teologi yang jelas, lalu mengajarkannya dengan penuh keberanian dan dengan gaya yang sangat otoritatif. Padahal, pandangan tersebut sesungguhnya bukanlah pandangan Alkitab secara utuh, melainkan hanya sekedar kutipan-kutipan dari beberapa ayat saja.


1. Berbagai Pandangan Modern
Millard J. Erickson dalam bukunya, Christian Theology, menuliskan beberapa pandangan teolog-teolog modern tentang Escha-tology.

a. The Liberal Approach: Modernized Eschatology
Pandangan ini menolak ajaran tentang kedatangan Kristus yang kedua. Menurut kelompok ini, sebenarnya maksud dari pengajaran tentang kedatangan Kristus yang kedua adalah menyatakan kemenangan kebenaran Allah atas segala kejahatan di dunia ini. Jadi, kepercayaan ini dikaitkan dengan ajaran dunia yang semakin maju. Mereka ini berkesimpulan bahwa, "A continuing Christianization of the social order, including economics, would be the current exemplification of the real meaning of the second coming." (Arti sesungguhnya dari kedatangan Kristus adalah adanya perubahan tatanan sosial termasuk keadaan ekonomi seba-gai akibat dari pengaruh kekristenan yang terus menerus).

b. Albert Schweitzer: Demodernized Eschatology
Menurut Schweitzer, Yesus mengkhotbahkan kerajaan yang akan datang, yang bersifat radikal supernatural, tiba-tiba, dan ter-putus dari sejarah manusia. Dia juga berpendapat bahwa akan ter-jadi kekacauan dunia. Yesus mengorbankan diriNya mati di kayu salib supaya Allah segera menciptakan zaman baru. Ternyata, menurut Schweitzer, Yesus salah perhitungan. Dia berpendapat bahwa Tuhan Yesus telah membuat pernyataan yang salah pada Matius 24: 34. Dalam ayat ini Tuhan Yesus menegaskan, "Aku berkata kepadamu: sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu sebelum semuanya itu terjadi." Pada kenyataannya, demikian Schweitzer, angkatan di zaman Yesus telah berlalu, tetapi pernyataan-Nya tentang datangnya akhir zaman belum juga terjadi. Karena itu, Schweitzer menegaskan hal kerajaan yang akan datang harus dimengerti secara etika dan tidak bersifat supernatural, se-suatu yang sudah dialami bukan diharapkan. Memang berbagai tafsiran telah diberikan oleh para ahli untuk mengerti ayat tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran.

c. C.H. Dodd: Realized Eschatology
Menurut Dodd, isi pengajaran Tuhan Yesus tidaklah bersifat yang akan datang, melainkan dengan kedatangan Yesus, kerajaan Allah telah tiba.
Jadi, Dodd menegaskan bahwa daripada meman-dang ke depan terhadap penggenapan nubuat, sebaiknya kita mem-perhatikan bagaimana hal itu telah digenapi. Kerajaan Allah bu-kanlah peristiwa yang akan datang di mana dunia akan dicipta kembali, tetapi "a timeless eternity," yaitu suatu keadaan "inner communion with God."

d. Rudolf Bultmann: Existentialized Eschatology
Bultmann berpandangan bahwa tulisan-tulisan dalam Perjan-jian Baru tidak boleh dimengerti secara objektif dan harfiah. Jadi dengan pendekatan mitologisasinya, dia mengambil kesimpulan bahwa kerajaan Allah menunjukkan kuasa anugerah dan pengam-punan yang dialami oleh manusia ketika dia percaya dan menyerahkan diri. Jadi, kerajaan Allah sudah dialami, "it is the presence of eternity in time," demikian Bultmann. Dia juga meno-lak adanya penebusan atau penyempurnaan dunia.

e. Jurgen Moltmann: Politicized Eschatology
Moltmann berpendapat bahwa kita tidak boleh secara pasif menunggu datangnya hari yang akan datang. Sebab hari yang akan datang tergantung pada usaha kita. Dia mengakui bahwa hari yang akan datang tidak sepenuhnya dicapai atas usaha kita, tetapi pada dasarnya itu dicapai oleh pekerjaan Allah. Namun demikian, untuk mencapai hari yang akan datang dibutuhkan tindakan.

Selain pandangan-pandangan tersebut di atas, perlu juga kita lihat beberapa pandangan lain seperti pandangan Karl Barth dan Pannenberg.
Barth berpendapat bahwa kerajaan Allah memiliki dua sisi, yaitu sisi kekinian (sudah dialami) dan sisi yang akan da-tang. Untuk itu dia melihat tiga peristiwa penting.

a. Peristiwa kebangkitan Kristus yang telah terjadi.
b. Turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, yang merupakan "a present reality" dalam gereja.
c. Datangnya Kristus yang kedua kali (parousia). Bagi Barth, kedatangan Kristus yang pertama adalah inaugurated escha-tology, sedangkan kedatanganNya yang kedua adalah consumated eschatology.

Sementara itu, Pannenberg berpandangan bahwa datangnya kerajaan itu bukanlah merupakan intervensi supernatural ke dalam sejarah manusia, tetapi bagaimana nasib masyarakat sekarang ini pada waktu yang akan datang. Karena itu, pengharapan diarahkan pada kehidupan manusia yang semakin baik dalam dunia baru yang akan datang. Baik Erickson maupun Bloesch melihat adanya dua sisi dari kerajaan Allah, yaitu "realized" dan "futuristic eschatology." Penggenapa waktu (kairos) yang telah dinubuatkan itu terjadi pada inkarnasi Kristus (Mark.1: 15), tetapi sejarah akan tiba pada peng-genapannya yang penuh pada waktu yang akan datang. Bloesch menegaskan, "Yesus Kristus sudah datang dan akan datang kembali."
(Bersambung)