Sunday, 22 July 2018

Sikap Yang Benar

Sekalipun kita tidak mengetahui waktu yang tepat kapan Tuhan Yesus datang kembali, namun kita perlu memiliki sikap yang benar dalam menyambut kedatanganNya. Hal ini perlu ditegaskan di sini karena tidak sedikit orang yang mengambil sikap yang salah. Kesalahan yang dilakukan oleh Pdt Mangapin dan jemaatnya, bukanlah yang pertama kali. Saya ingin memberikan sebuah contoh lain. Ketika pada tahun 1991, saya terkejut
mendengar bahwa seorang teman telah berhenti dari pekerjaannya, demikian juga dengan istrinya. Anaknya juga telah dihentikannya dari sekolah.

Menurut rekan sekantornya hal itu dilakukannya karena ajaran baru yang diterimanya. Karena itu, dia menarik diri dari segala kesibukan dunia, yang menurutnya hal itu adalah duniawi. Mereka dan kelompoknya bersekutu terus sambil menanti datangnya Kristus.

Sebenarnya, sejarah gereja telah berulang kali menyaksikan adanya kesalahan yang sama di seluruh dunia dilakukan oleh orang-orang yang sesat dalam ketulusannya. Itulah sebabnya dalam khotbahNya tentang akhir zaman, Tuhan Yesus tidak lupa menegaskan sikap yang benar yang harus dilakukan oleh umatNya dalam menanti kedatanganNya.

Pertama, kita diminta untuk berjaga-jaga. Kita harus berjaga-jaga karena sebagaimana disebut di atas, kedatanganNya kelak tidak terduga sebelumnya. Segala sesuatu berjalan secara rutin, sebagaimana kehidupan normal sehari-hari berlangsung. Tuhan Yesus bersabda: "Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia" (Mat.24: 38, 39).

Kedua, bekerja dengan setia. Tuhan tidak menginginkan kita menanti dengan pasif, tetapi harus aktif dengan melakukan segala tugas yang telah dipercayakanNya kepada kita. Tidak ada tugas dan pekerjaan yang kurang mulia bila kita kerjakan dalam Dia. Untuk itulah Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang hamba yang setia dan jahat pada Mat.24:45-51. Marilah kita perhatikan khususnya ayat 46: "Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugas itu, ketika tuannya itu datang". Rasul Paulus juga mengingatkan kita agar melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol.3: 23).

Ketiga, pelita kita harus tetap menyala. Sungguh menyedihkan gambaran tentang gadis bodoh yang diberikan Tuhan Yesus dalam Mat.25: 1-13. Mereka telah lama menanti dan merin-dukan kedatangan mempelai laki-laki tersebut. Namun pada saat yang dirindukan tersebut tiba, mereka tidak siap menyambutnya, karena pelita mereka tidak menyala. Mereka kekurangan minyak untuk menyalakan pelita tersebut. Konteks perumpamaan tersebut jelas, yaitu mengenai kedatangan Tuhan Yesus kembali di akhir zaman. Karena itu, kita juga jangan sampai seperti gadis bodoh tersebut. Kita harus seperti gadis yang bijaksana tersebut yang pe-litanya tetap menyala. Alkitab menegaskan, "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan" (Ro.12:11). Karena itu, biarlah kita terus memelihara hubungan pribadi kita denganNya melalui doa dan pembacaan firman Tuhan tiap-tiap hari, serta tekun bersekutu dan beribadah dengan motivasi yang benar.

Keempat, kita harus mengerjakan talenta kita serta mengembangkannya. Dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta dalam Mat.25: 14-30, jelas dituntut kesetiaan. Sangat penting kita tegaskan di sini bahwa masalahnya bukanlah berapa banyak talenta yang kita miliki, tetapi bagaimana sikap kita ter-hadap talenta tersebut. Apa dan bagaimana talenta kita biarlah kita setia mengerjakannya. Jangan seperti orang yang memiliki satu talenta tersebut yang akhirnya dihukum karena menanam talentanya. Kiranya dalam anugerahNya kita juga boleh mendengar pujian Tuhan Yesus berikut:

"Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaKu yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Mat.25: 21).
(bersambung)