Monday, 24 September 2018

Tujuan Kedatangan Kristus

Menurut Louis Berkhof, tujuan kedatangan Kristus adalah memperkenalkan era yang akan datang dan keadaan akhir dari segala sesuatu. Apakah yang terjadi pada waktu kedatangan Kristus tersebut? Ada dua hal penting kita catat di sini.

Pertama, yaitu kebangkitan orang mati (orang yang percaya dan tidak percaya). Ajaran ini banyak disinggung dalam Alkitab, khususnya Perjanjian Baru. Tuhan Yesus bersabda: "Sebab inilah kehendak BapaKu, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkanNya pada akhir zaman" (Yoh.6: 40). Baca juga: Yoh.6: 44, 54; 1Kor.15; 1Tes.4: 13-16; 2Kor.5: 1-10; Kis.23: 6; 24: 21; Why.20: 4-6, 13.

 

Ajaran tentang kebangkitan tersebut terdapat juga dalam Perjanjian Lama (baca: Yes.26: 19; Dan.12: 2; Yehez.37: 12-14; Maz.49: 15). Mengenai kondisi manusia yang kelak akan dibangkitkan, secara panjang lebar telah dibahas oleh rasul Paulus dalam 1Kor.15.

Kedua, yaitu penghakiman terakhir. Menurut Hoekema, tujuan penghakiman bukan semata-mata untuk menetapkan tujuan akhir manusia. Tetapi ada 3 hal yang terutama, yakni:

a. Menyatakan kemuliaan Allah.

b. Menunjukkan secara publik dan bersifat final keberadaan yang sangat nyata antara umat Allah dan yang memusuhi Allah.

c. Menyatakan derajat upah dan penghukuman yang akan diterima oleh tiap-tiap orang.

Setelah hari penghakiman tersebut, semua-orang yang tidak percaya dan yang telah menolak Kristus akan tinggal di neraka selama-lamanya. Sedangkan orang-orang percaya akan diam bersama Allah di bumi baru dengan kemuliaan kekal. Rasul Yohanes menulis: "Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari Surga, dari Allah… Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umatNya" (Why.21: 2,3; baca juga 22: 3). Menarik sekali melihat bagaimana para theolog memandang kondisi 'dunia' baru tsb. Hoekema berpendapat bahwa pada hidup yang akan datang, Sorga dan bumi tidak lagi dipisahkan tetapi akan bersatu. Karena itu orang-orang percaya akan berada di langit dan bumi baru. Di pihak lain, Prof. Donald Bloesch menegaskan: "We affirm not simply the dissolution of the world (Luther) nor its renovation (Calvin) but its transformations into a new heaven-earth on which all the biblical promises concerning the future glory of Jerusalem will be fulfilled". (Kami menegaskan bukan sekedar hancurnya dunia ini (Luther) atau renovasinya (Calvin), tetapi transformasinya menjadi sebuah langit-bumi baru di mana seluruh janji-janji Allah mengenai kemuliaan Yerusalem yang akan datang akan digenapi). Kelihatannya, pandangan ini sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Rasul Yohanes: "Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi baru" (Why.21:1). Jadi, bukan hanya langit atau bumi baru, tetapi langit-bumi baru.

Kita bersyukur atas kasihNya kepada dunia yang semakin bengkok ini. Dia tidak membiarkan dunia hancur dalam dosa-dosanya. Karena itu, Dia mau datang kembali untuk mengakhiri segala kekacauan dunia. Dengan kedatanganNya kembali, berarti Dia menyempurnakan karya kasihNya. Dia membuktikan bahwa Dia adalah yang mengendalikan sejarah dunia. Genaplah kelak segala yang tertulis tentang Dia bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Dia jugalah yang menopang segala sesuatu sampai kesudahannya (baca Kol.1: 16-17). Inilah pengharapan yang penuh bahagia yang dinantikan dan dirindukan oleh setiap kita yang percaya kepadaNya.
(bersambung).