Sunday, 22 July 2018

Pdt. Mangapul Sagala

Di dalam theologia, dikenal dua macam pendekatan Kristologi, yaitu: Kristologi dari bawah dan Kristologi dari atas. Yang dimaksud dengan Kristologi dari atas adalah melihat siapa Yesus Kristus sebelum Dia datang ke dalam dunia. Pandangan ini mengatakan bahwa keAllahan Yesus Kristus terselubung ketika Dia di dalam dunia. Karena itu, kita akan gagal mengenalNya dengan pendekatan ini. Supaya kita dapat mengenal Dia sebagai Allah yang sejati, kita harus melihat siapa Yesus sebelum Dia datang ke dalam dunia. Salah satu ayat Alkitab acuan untuk pendekatan ini adalah Yoh.1:1: “Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”.

Theolog yang menganut pendekatan ini, antara lain adalah Rudolf Bultmann. Sedangkan Kristologi dari bawah, memiliki pendekatan yang justru kebalikan dari pandangan tersebut di atas. Pandangan ini justru memperhatikan secara sungguh2 siapa Yesus ketika Dia berada di dalam dunia. Bagaimana hidupNya, siapakah Dia menurut orang-orang di sekitarNya, bagaimana kuasaNya, serta apa yang dikatakanNya. Semua itu menunjukkan siapa Dia sesungguhnya. Sebagai contoh, kita dapat melihat khotbah Petrus pada Kis.2. Setelah dia menguraikan hidup dan kuasa Yesus, bagaimana Dia akhirnya bangkit mengalahkan maut, maka Petrus menyerukan: "Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus" (2:36). Theolog yang menganut pandangan ini adalah W. Pannenberg.

Penulis-penulis Perjanjian Baru dengan jelas menunjukkan siapa Yesus dari kesaksian orang-orang di sekitarNya. Sekalipun ada ahli yang menolak kesaksian murid-murid Yesus, namun sesungguhnya kesaksian merekalah yang patut kita dengarkan. Mengapa? Karena mereka adalah orang-orang terdekat Tuhan Yesus. Tuhan Yesus telah hidup bersama mereka selama 3 tahun secara terus menerus. Mereka bukan hanya tahu tentang Yesus (knowing "about" Jesus) tetapi sungguh mengenal dan hidup bersama Yesus. Mereka secara langsung mendengar perkataan2 Yesus, serta menyaksikan seluruh hidupNya yang penuh kasih dan kuasa. Maka sebenarnya sangat aneh bila ada theolog yang meragukan dan menolak kesaksian mereka tentang Yesus. Jika demikian, secara logis, mereka juga seharusnya meragukan dan menolak kesaksian siapapun! Itu berarti, seluruh pandangan theolog-theolog tersebut tentang Tuhan Yesus, boleh kita anggap nol besar! Itulah sebabnya, saya melihat betapa ironisnya theolog2 tertentu, yang mencoba memiliki doktrin Kristologi, namun mereka menghancurkan dasar dan sumber mereka, yaitu Alkitab dan kesaksian murid-murid.
(bersambung)