Wednesday, 12 December 2018

Siapakah Yesus bagi murid-murid tersebut? Kita dapat melihat kesaksian Petrus yang mengatakan bahwa "Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (Mat.16:16 ; Yoh.6:68). Dengan pengakuan tersebut, rasul Petrus bukan saja menjadikan Yesus sebagai pribadi yang merupakan penggenapan Mesias yang telah lama diharapkan di dalam Perjanjian Lama, tetapi juga menjadikan Yesus sehakekat dengan YHWH, dimana Dia disebut sebagai Anak Allah. Bapa dan Anak memiliki esensi yang sama. Itulah sebabnya, istilah yang digunakan dalam bahasa Yunani, Anak memiliki zat yang sama (homo ousia) dengan Bapa.

 

Selanjutnya, setelah kebangkitan Tuhan Yesus, murid lainnya yang bernama Tomas, sang peragu tersebut bahkan masuk kepada sebuah pengakuan yang melampaui pengakuan semua rasul: "Engkaulah Tuhanku dan Allahku" (Yoh.20: 28). Pengakuan ini melampaui apa yang dikatakan rasul Petrus tersebut di atas. Yesus bukan saja disebut Anak Allah, tetapi juga Allah sendiri. Pernyataan inilah yang kita temukan di dalam Injil Yohanes, di mana Yesus yang adalah Logos, bukan saja bersama dengan Allah, tetapi Logos tersebut adalah Allah (Yoh.1:1). Seiring dengan pengakuan Tomas tersebut, penulis kitab Wahyu (Yohanes) menuliskan bahwa Yesus adalah "YANG AWAL DAN YANG AKHIR (Why.1:8; 5).

Membaca pernyataan2 mereka tersebut, maka kita melihat bahwa mereka tidak hanya menyebut Yesus sebagai seorang nabi, tapi lebih dari itu. Mereka menyebut Yesus sebagai Anak Allah, bahkan juga sebagai Allah. Karena itu, mereka mau menyembahNya. Ada theolog yang mengatakan bahwa murid2lah yang menjadikan Yesus sebagai Allah, yang sebenarnya bukan. Tentu saja pernyataan tersebut dapat ditolak dengan tegas. Rasul-rasul tidak menjadikan Yesus sebagai Allah, tapi Yesus sendirilah yang memperkenalkan diriNya sebagai satu pribadi yang sejajar dengan YHWH, yaitu Allah yang menyatakan diri di Perjanjian Lama. Dan lagi, satu hal yang penting kita renungkan adalah mengapa rasul2 dan gereja mula2 mau mengakui seorang bernama Yesus sebagai Allah? Mengapa mereka mau menyembah dan melayani Dia hingga rela mengorbankan diri mereka sendiri? Mengapa pernyataan dan sikap seperti itu tidak pernah diberikan kepada yang lain, seperti kepada Kaisar? Mengapa murid-murid dan gereja mula-mula berani menolak penyembahan kepada kaisar, namun dengan segenap hati menyembah Yesus, meski itu mengandung resiko yang sangat besar, termasuk terancamnya nyawa mereka? Jawabnya, tentu karena mereka mengamati Yesus sebagai satu pribadi yang layak dipuji dan disembah. Seluruh kehidupanNya, pernyataan-pernyataanNya, kuasaNya serta apa yang disaksikan para nabi tentang Dia sebelum Dia lahir ke dunia menyatakan siapa Dia sesungguhnya (Luk.24:44).

Jadi jika ada theolog yang ingin menyingkirkan semua kesaksian para rasul, maka saya menegaskan bahwa sesungguhnya, kita memerlukan kesaksian mereka. Kita perlu mengamati dan memperhatikan dengan saksama semua yang mereka katakan, alami dan saksikan tentang Yesus. Hal itu menjadi dasar yang sangat penting bagi kita.
Kita perlu memiliki sikap dan pemahaman sebagaimana didemonstrasikan para rasul dan gereja mula-mula. Mengapa? Karena sesungguhnya, merekalah orang pertama yang memiliki wahyu dan penyataan Yesus. Siapapun kita, bagaimanapun hebatnya pengalaman dan pemahaman theologia kita, kita harus dengan rendah hati untuk mengakui bahwa kita tidak pernah mengalami penyataan Yesus secara langsung sebagaimana mereka alami. Kita bukan penerima wahyu dan penyataan itu. Kita hanyalah generasi kesekian yang mewarisi kesaksian gereja-gereja sebelumnya. Kita tidak mau menerima kesaksian mereka tentang Yesus? Silakan. Tapi itu berarti kita kehilangan Yesus yang sesungguhnya. Kita hanya menciptakan Yesus yang baru menurut kehendak dan kemauan kita sendiri. Dengan demikian, kita juga menciptakan kekristenan yang baru menurut versi kita. Jika demikian, itu bukan Yesus yang disaksikan Alkitab; itu bukan Yesus yang sesungguhnya yang dialami oleh para rasul dan gereja mula-mula. Ironis memang.