Saturday, 26 May 2018

Sebagian orang menolak doktrin Allah Tritunggal karena menurut mereka hal itu tidak logis. Namun demikian, banyak ahli yang berpendapat justru pemahaman kepada doktrin tersebut sungguh-sungguh logis. Sebagai contoh, bapak Gereja, Augustinus, theolog yang sangat dikagumi dan berpengaruh di zamannya menegaskan bahwa hal itu sesuai dengan ajaran Alkitab bahwa “Allah itu adalah kasih”. Menurut Augustinus, bagaimanakah kita memahami Allah yang adalah kasih tanpa adanya sifat kejamakan di dalam diri Allah? Kasih memerlukan subjek dan objek. Sebelum Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk malaikat-malaikat dan manusia, Allah mengasihi siapa/apa? Hal ini menjadi kesulitan bagi mereka yang menolak adanya oknum lain di luar diri Allah (YHWH). Tetapi bagi mereka yang menerima doktrin Allah Tritunggal, hal itu tidak masalah, karena Bapa mengasihi Anak, Anak mengasihi Roh, dstnya. Pengenalan kepada self-sufficient and self-dependent God membuat kita dapat memahami bahwa Allah cukup dengan diriNya sendiri dan tidak bergantung kepada siapapun.

Karena itu, Allah dapat mengungkapkan kasihNya tanpa adanya satu eksistansi (keberadaan) di luar diriNya. Demikian juga, pemahaman kepada Allah yang hidup dan yang bersabda “the living and speaking God” membuat kita memikirkan perlunya ada komunikasi yang di dalamnya ada subjek dan objek, karena bagaimanakah oknum yang satu dapat berkomunikasi? Atau Dia menjadi Allah yang bisu dan kesepian sebelum Dia menciptakan sesuatu? Tentu saja tidak. Pemahaman kepada Allah Tritunggal akan menolong mengatasi hal itu. Alkitab menegaskan bahwa sebelum Allah menciptakan manusia, Allah telah berkomunikasi dengan diriNya: “Marilah kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa KITA” (Kej.1:26).

Selain dari relasi tersebut di atas, kita akan mencatat hal-hal berikut:

1.Relasi saling menghormati dan memuliakan di dalam oknum Tritunggal: Yoh.16:14-15; 17:1,4.

2.Adanya koordinasi dan kesatuan ketiga oknum dalam Penciptaan (Kej.1:26); karya keselamatan (1Pet.1:2); Baptisan (Mat.28:19); pembaharuan dan berkat dalam diri orang percaya (Gal.4:6, 2 Kor.13:13).

3.Adanya peran khusus di dalam masing-masing oknum: Bapa (Kis.2:23; Ro.11:33-34; Ef.1:4,9,11; 3:11), Anak (Yoh.17:4; 1Kor.1:30; Ef.1:7; 1Tim.2:5); Roh (Ro.8:2,14,15,16,26; Tit.3:5).

4.Dalam karya penyelamatan, apa yang ditetapkan oleh Bapa, digenapkan oleh Anak di kayu salib dan diaplikasikan oleh Roh di dalam diri orang percaya. Dengan perkataan lain, yang disalibkan adalah oknum kedua, bukan oknum pertama atau ketiga, sedangkan yang mendiami orang percaya adalah oknum ketiga, bukan oknum pertama dan kedua.

5.Penerapan praktis. Dalam doa, biasanya kita berdoa dan memohon kepada Allah Bapa. Hal itu kita lakukan dalam pertolongan dan kekuatan Roh Kudus, dan doa itu hanya layak karena jasa Yesus Kristus. Itu sebabnya seringkali doa diakhiri dengan “dalam nama Yesus”, atau “... semua permohonan kami tersebut kami alaskan dalam nama AnakMu, Yesus Kristus.
Perhatian! Jika kita berdoa kepada Yesus, jangan diakhiri dengan “...dalam nama AnakMu, Yesus Kristus”, karena Yesus tidak punya Anak.

Kesimpulan:

Pemahaman kepada Allah Tritunggal adalah:

1.Percaya kepada Allah yang memiliki tiga oknum (Bapa, Anak dan Roh) dalam satu keberadaan (substansi).

2.Percaya kepada Allah Bapa, Anak dan Roh yang SETARA, SEHAKEKAT DAN MEMILIKI KEKEKALAN YANG SAMA.

3.Ketiga oknum tersebut DAPAT DIBEDAKAN TAPI TIDAK DAPAT DIPISAHKAN.

4.Dapat diimani, tapi tidak dapat dimengerti sepenuhnya. Doktrin Allah Tritunggal bukan di wilayah logika, bukan irrasional tapi supra rasional (beyond logic). Hal itu memang sesuai dengan hakekat Allah. Allah yang sejati pasti di luar jangkauan logika manusia.
Akhir kata, sekalipun doktrin Allah Tritunggal melampaui akal, jangan menyangkalnya, juga jangan memaksa diri untuk memahaminya. Seorang pernah menulis: Jika kamu mencoba mengerti dengan pikiranmu, kamu akan kehilangan akalmu. Tetapi jika kamu mencoba menyangkalnya, kamu akan kehilangan hatimu”. –

Soli Deo gloria.