Sunday, 27 May 2018

Apakah dasar Alkitab dari pandangan Inklusivisme tsb?

Setiap pandangan tentu memiliki dasar Alkitabnya, terlepas seberapa komprehensifnya pemahamannya terhadap Alkitab tsb. Karena itu, kelompok Inklusif juga memiliki dasar Alkitabnya. Beberapa di antaranyha adalah: Penebusan utk semua ( 1Yoh.2:2). Kasih Allah kpd semua (Mat.20:15-16), cakupan kasih Allah yg sedemikian luas (Eph.3:18). Adanya pelangi pengharapan di sekitar tahta Tuhan dapat dilihat dari berbagai ayat berikut: Rev.4:3; 22:2; Ro.11:32; 1Tim.2 :4; Acts 10:35. Berdasarkan ayat2 di atas Pinnock menulis: "Christian theology must speak of universality and of inclusion".[13] Dalam kritiknya terhadap "restrictive particularist", Clark Pinnock writes: "The entire Old Testament record is a problem for them because it describes countless pagans and Jews who were saved by faith without knowing Jesus or calling on his name--- all saved by faith even though they had no Christian theology. Unless we assume that God is stricter and less generous after Easter than before... we must suppose that God responds to all sinners who call on him, whether they employ Christian language or not".[14]

 

Pinnock mengakui adanya "pagan saints" dalam agama2 lain di luar Kekristenan. Jika Karl Rahner menyebut orang2 tsb sbg "anonymous Christians", Pinnock tidak demikian. Pinnock menggunakan istilah yang menurutnya lebih Alkitabiah "as believers awaiting messianic salvation".[15] Pinnock mengacu kepada orang2 dalam PL seperti Ayub, dll. Demikian juga dia mengacu kepada pengalaman rasul Paulus sebelum percaya kepada Yesus (Gal.3:23; 4:1).

Selanjutnya, Pinnock menulis: "Everyone must eventually pass through Jesus to reach the Father, but there is more than one path for arriving at this place... one can get that place from many points on the compass. All the paths that lead to God end up at Jesus, but do not all start with him".[16]

Saya sungguh mengalami kesulitan memahami pernyataan di atas, khususnya jika dibandingkan dengan penegasan Yesus pd Yoh.14:6. Dan lagi, kemungkinan bahwa Allah dapat bekerja di dalam agama lain tidak menjamin bahwa orang2 tsb dalam kenyataannya akan menerima kebenaran Allah. Rasul Paulus sendiri menegaskan bahwa ada orang yang menggantikan kebenaran dengan kebohongan ( Ro.1:25; baca juga
1Kor.8:4-7; 1Yoh.5:19-21).

Bicara soal kesungguhan beragama, rasul Paulus sendiri menyaksikan bahwa orang-orang Yahudi sungguh-sungguh giat[17] untuk Allah, tapi tanpa pengertian yang benar. Apa yang
terjadi kemudian? Rasul Paulus menulis: "Sebab oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah" ( Ro.10:3).

Apakah rasul Paulus diam saja dan membiarkan orang-orang seperti itu 'mengalami' keselamatan dengan dalih bahwa Allah memiliki cara tersendiri kepada mereka? Tidak! Dia menyerukan: "... keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah supaya mereka diselamatkan" (Ro.10;1).

Dalam konteks seperti itulah rasul Paulus menegaskan satu pernyataannya yang sangat terkenal itu: "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adl Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia (Yesus) dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan" ( Ro.10:9-10).

Bagaimanakah contoh orang2 Yahudi yg sangat giat tsb di atas menolong kita melihat orang2 beragama di zaman kita, yang juga barangkali memiliki kesungguhan dan fanatisme yang sama? Karena itu, kembali kepada Alister McGrath, yang mengakui bahwa Allah dapat bekerja di dalam agama2 lain. Namun demikian, dia menegaskan: "In all these contexts, God is seeking to make himself known. It is, however, only through the coming of Christ that God makes himself known fully, and it is only in Christ that salvation is fully available".[18]

Selanjutnya, dalam membicarakan keselamatan, McGrath tidak hanya melihat pentingnya pribadi Yesus Kristus, tetapi juga pentingnya Alkitab, sebagai pegangan untuk menilai. Hal ini khususnya dikaitkan dengan pengakuan kaum Pluralists dan Inklusivists tentang kebenaran yang didapati di dalam agama2 lain. McGrath menegaskan bahwa kita harus menjamin bahwa kita tidak memasukkan seperangkat kriteria yang berasal dari luar Alkitab dan membiarkannnya menjadi kebenaran yang penting dan bersifat normatif ketika kita mengevaluasi agama2 lain.[19]
(bersambung)