Sunday, 27 May 2018

Setelah kita melihat kedua pandangan tsb di atas, mk kini tiba saatnya melihat pandangan yang ketiga, yaitu apa yang disebut dengan Eksklusivisme. Pandangan ini percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Perlu diperhatikan bahwa kelompok Eksklusivisme atau disebut juga dengan Particularisme, masih bisa dibagi dua kelompok, yaitu: "Terbatas" dan "Tidak Terbatas ("restrictive and a nonrestrictive kind").

 

a. Kelompok restrictive particularist (R. Douglas Geivett and W. Gary Philips) melihat keharusan pengakuan pribadi kepada Yesus. Karena itu, setiap orang harus percaya dan menerima Yesus secara eksplisit agar diselamatkan. Jadi, kita melihat dua hal penting di sini. Pertama pengakuan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan. Kedua, adalah perlunya pengakuan secara eksplisit, percaya dan menerima Yesus. Ini berarti menyangkali kemungkinan seseorang dapat diselamatkan tanpa
pengakuan yang sadar dan eksplisit kepada Yesus satu-satunya
Juruselamatnya.

b. Kelompok yg nonrestrictive particularist (Ronald Nash, Alister
McGrath) adalah mereka yang percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Kelompok ini juga melihat pentingnya pengakuan pribadi yang secara eksplisit diberikan kepada Tuhan Yesus. Namun demikian, kelompok ini tidak membatasi (nonrestrictive) bahwa keselamatan hanya terjadi karena pemberitaan Injil. Mereka melihat kemungkinan adanya keselamatan di luar pemberitaan Injil, di mana hal
itu tergantung kepada rahmat dan kasih setia Allah. Sebagai contoh, Alister. E. McGrath seorang dari kelompok partikularist menulis, "We are assured that those who respond in faith to the explicit preaching of the Gospel will be saved". Setelah menegaskan keyakinannya tsb, kemudian McGrath menegaskan: "We cannot draw the conclusion from this, however, that only those who thus respond will be saved. God's revelation is not limited to the explicit human preaching of the good news, but extends beyond it".

Karena itu, dia menantang orang2 kelompok Eksklusif Terbatas untuk bersedia mengalami kejutan2, yaitu ketika kelak dalam kerajaan surga ada orang yg dianggapnya tdk selamat
ternyata juga turut di sana.

McGrath menulis: "We must be prepared to be surprised at those whom we will meet in the kingdom of God. In his preaching of the good news of the kingdom, Jesus lists some who will be among its beneficiaries –the Ninevites, the queen of Sheba, and those who lived in the cities of Tyre, Sidon, Sodom, and Gomorrah (Mat.10:15; 11:22; 12:41-42)".[24]

Kelihatannya ajaran inklusivisme cukup meyakinkan. Karena itu, cukup banyak orang –sadar atau tidak- menganut pandangan yang demikian. Namun demikian, sebelum kita memutuskan untuk menerima pandangan tsb, ada juga theolog lain yang perlu kita perhatikan. Dengan demikian, kita dgn teguh dapat menerima atau menolak pandangan tsb. Ronald H. Nash berpendapat bahwa pluralisme dan inklusivisme adalah ancaman bagi kekristenan. Mengapa? Karena jika tidak waspada, kedua ajaran tsb, secara dramatis ajaran tsb akan mengganti inti iman Kristen.[25] Nash menegaskan: "Pluralism is one of the three or four most serious threats to the integrity of the Christian faith at the end of the twentieth century.[26]

Mari kita perhatikan kenyataan ini: ketika seseorang menganut pandangan pluralisme maka segera orang tsb akan meninggalkan berbagai ajaran penting dan mendasar kekristenan, seperti: Tritunggal, keAllahan Yesus, Inkarnasi, dan doktrin penebusan.
(bersambung)