Tuesday, 20 November 2018

Penolakan kepada eksklusivisme:

Mengapa ada yang menolak eksklusivisme tersebut di atas? Banyak penyebabnya.

Pertama, karena tidak mau menerima pengajaran Alkitab sebagai satu-satunya sumber otoritas. Karena itu, mereka akan mengejek kelompok eksklusif (khususnya yang "Terbatas") dgn istilah "Bibliolater", penyembah2 Alkitab, padahal, kata mereka, Allah lebih tinggi dari pada Alkitab. Lalu bagaimana? Untuk itu kita perlu melihat penegasan Yesus berikut: "... harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur" ( Luk.24:44).

Hal itu dinyatakan oleh Yesus untuk menjelaskan penderitaan dan kematianNya, di mana Dia dengan taat menjalaninya demi menggenapkannya. Jadi dalam pernyataan tsb bagaimana Yesus juga termasuk 'bibliolater', terlalu berpegang kepada kitab Musa dan Mazmur. Padahal, menurut kelompok tertentu, Musa dan Daud juga manusia biasa. Karena itu, tulisan2 mereka juga tidak luput dari kesalahan2. Karena itu menarik sekali memperhatikan komentar Prof. Donald Bloesch terhadap sikap Yesus tsb di atas, khususnya dalam kaitannya dengan Alkitab (Perjanjian Lama):"The absolute authority of faith, the living Christ Himself, has so bound Himself to the Sacred Scripture".[27]

Kedua, adanya tuduhan bahwa kelompok eksklusif melakukan kesalahan dalam membaca Alkitab. Karena itu, kelompok yang menolak tersebut mengatakan bhw Alkitab sebenarnya tidak boleh dilihat sebagai buku yang menyatakan konsep-konsep kebenaran. Allah itu tidak terbatas, karena itu gereja tidak akan mungkin membatasi Allah ke dalam bahasa tulisan. Alkitab harus dilihat sebagai respon manusia di zamannya terhadap pergumulan mereka dengan Sang Pencipta. Sedangkan kita sendiri di zaman kita ini memiliki pergumulan sendiri.

Ketiga, alasan kemajemukan.
Alasan lainnya yang membuat orang sulit menerima pandangan eksklusivisme adalah kenyataan bahwa kita hidup dalam masyarakat majemuk (pluralist) dgn berbagai macam agama dan kepercayaan. Hal itulah yang secara jelas kita lihat dalam pengalaman John Hick, penganjur kuat pluralisme tersebut di atas. Masalah kemajemukan itu juga yang pernah disinggung oleh ahli missi, Leslie Newbigin di dalam bukunya, The Gospel in a Pluralist Society. Dalam buku tsb Newbegin menulis sbb: "It has become a commonplace to say that we live in a pluralistic society - not merely a society which is in fact plural in the variety
of cultures, religions and lifestyles which it embraces, but pluralist in the sense that this plurality is celebrated as things to be approved as cherished". (Leslie Newbigin, The Gospel in a Pluralist Society. Grand Rapids: Eerdmans, 1989), 1.)[30]

Sehubungan dengan itu, yang menjadi pertanyaan penting bagi kita adalah apakah karena kita tinggal di masyarakat majemuk, lantas kita harus menyesuaikan atau merubah berita Injil tsb dengan kondisi sekitar? Untuk menjawab hal tsb, Alister E. McGrath memberikan pandangan yg menarik bhw sebenarnya Injil itu sendiri muncul dalam matrix Judaisme dan berkembang dalam di era Hellenist. [31] . Menarik juga untuk memperhatikan penegasan Michael Green yg juga menyoroti soal konteks kemajemukan tsb. Dia menulis: "I find it ironic that
people object to the proclamation of the Christian gospel these days because so many other faiths jostle on the doorstep of our global village. What's new? The variety of faiths in antiquity was even greater tha it is today. And the early Christians, making as they did ultimate claims for Jesus, met the problem of other faiths head-on from the very outset. Their approach was interesting... They did not denounce other faiths. They simply proclaimed Jesus with all the power and persuasiveness their disposal".[32]

Jadi, masalah kemajemukan itu sebenarnya bukanlah hal baru bagi Injil itu sendiri. Namun demikian hal yang penting yang perlu kita amat secara saksama dan jujur adalah, apakah dengan demikian maka penulis2 Alkitab mengubah berita mereka dan dengan demikian menghilangkan unsur eksklusivisme Injil dan Yesus Kristus? Kenyataannya tidaklah demikian.
Sebaliknya, dalam Alkitab, baik PL dan PB kita melihat dengan jelas berita-berita yang bersifat eksklusivisme tsb.

(bersambung)