Monday, 19 November 2018

Bagaimana dengan dialog antar agama?

Setelah melihat fakta kemajemukan tsb di atas, maka pertanyaan selanjutnya adalah apa yang dapat kita lakukan dengan konteks hidup sedemikian? Apakah kita akan kompromi, yaitu dengan menghilangkan kebenaran yang telah diajarkan dalam Alkitab dan yang telah diyakini oleh umat Tuhan secara turun temurun dari abad ke abad? Apakah kita akan mengatakan bahwa "semua agama baik, tidak ada bedanya, karena sama-sama mengajarkan moral dan surga?" Banyak orang tentu tidak akan setuju dengan sikap demikian, walau tidak sedikit juga yang telah melakukannya. Sikap yang dianggap lebih tepat untuk dilakukan dalam konteks majemuk tsb adalah mengembangkan sikap toleransi. Barangkali dalam hal inilah usaha-usaha untuk melakukan dialog antar agama menjadi sangat diperlukan, walau karena berbagai alasan, usaha2 spt itu disikapi sebagian orang (theolog) dengan pro kontra. Frans Magnis Suseno, seorang filsuf Katolik dan dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Jakarta mendukung adanya dialog antar agama dengan syarat: "asal tidak diharapkan sesuatu dari padanya yang tidak mungkin diberikannya".

[33] Hal yang dimaksud dengan "tidak mungkin" tersebut adalah mengubah hal2 yang sifatnya final dalam agama-agama tsb. Sebagai contoh adalah pribadi Yesus di dalam agama Kristen dan nabi Muhammad di dalam Islam. Suseno menegaskan: "Tidak mungkin mencari kesamaan antara Yesus dan Muhammad".[34] Bagi peserta dialog dari kalangan Muslim, mereka tidak akan melepaskan keyakinan bahwa nabi Muhammad adalah nabi pengunci dan penyempurna. Di pihak lain, peserta dialog dari Kristen harus berpegang kepada Alkitab yang menegaskan bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat, di mana di luar Dia tidak ada keselamatan.[35] Dalam dialog seperti itu, maka sangat diharapkan masing-masing berusaha mengenal ajaran dan keyakinan agama lain tanpa berusaha menghakiminya, dan juga tanpa sedikit pun mengkompromikan segala perbedaan yang ada. Dengan perkataan lain, dialog membutuhkan penghormatan, bukan persetujuan antara kedua kelompok.

Dialog antar agama memang sangat penting karena dengan demikian meningkatkan pengertian kita terhadap agama2 lain. Pd saat yg sama, dialog juga meningkatkan pengertian kita thdp agama kita, yaitu dengan memaksa kita untuk memeriksa ulang akan pengajaran dan keyakinan kita. Untuk itu, saya setuju bahwa untuk dapat melakukan hal itu dibutuhkan sikap dewasa, dalam arti, di satu sisi ada keyakinan kepada agama yang dianutnya, tapi di sisi lain ada keterbukaan untuk mendengar ajaran agama lain. Bukan hanya terbuka, tapi juga berani mengoreksi diri dan mengubah diri, jika memang benar-benar menemukan kebenaran dari pihak lain. Memang demikianlah halnya pencari kebenaran yang sejati itu:
sikap hati dan pikirannya harus benar.

Adanya unsur saling menghormati itu jugalah yang ditegaskan oleh Alister E. McGrath sebagai prasyarat untuk melakukan dialog antar agama. Dia menulis: " A discussion about the place of Christianity among the world religions must be conducted on the basis of mutual respect, both on the part of Christians for those who are not Christians, and on the part of those who are not Christians for those who are.[36] Selanjutnya, McGrath menyatakan persetujuannya akan dialog tsb, karena melalui dialog seperti itulah sikap saling menghormati dapat diungkapkan secara kongkrit, bukan hanya dalm teori. Dia juga menyetujui bahwa sikap saling menghormati tsb tidak berarti menyatakan persetujuan. McGrath menegaskan: "This respect can be expressed in dialogue, which is to be understood as an attempt on the part of people with different beliefs to gain better understanding of each other. But this dialogue cannot be concluded on the basis of the deeply patronizing assumption that "eveyone is saying the same thing". Dialogue implies respect, but it does not presuppose agreement".

[37] Lalu, bagaimana sikap kelompok Pluralist terhadap dialog antar agama tsb di atas? Sikap Pluralist yang menyamaratakan semua agama telah dikritik dengan keras oleh seorang theolog dari Yale, Kathryn Tanner. Dia menegaskan: "Pluralist generalizations about what all religions have in common conflict with genuine dialogue, in that they prejudge its results. Commonalities, which should be established in and through a process of dialogue, are constructed ahead of time by pluralists to serve as presuppositions of dialogue. Pluralists therefore close themselves to what people of other religions might have to say about their account of these commonalities. Moreover... a pluralist focus on commonalities slights differences among the religions of the world. [38] (Kathryn Tanner, "Respect for Other Religions: A Christian Antidote to Colonialist Discourse", Modern Theology 9 (1993): 1-18). Menurut Tanner, penekanan terus menerus kaum Pluralist terhadap persamaan agama-agama sebagai persyaratan dialog antar agama, menunjukkan ketidak inginan kaum Pluralist untuk mengakui kedalaman dan derajat perbedaan di antara agama-agama tsb. [39]

Selain Tanner -yang mengkritik sikap kaum Pluralist tsb di atas- ada juga ahli lainnya yang keberatan dengan sikap menyamaratakan semua agama seolah-olah semuanya benar di hadapan Allah dan memimpin semua orang kepadaNya. Ketika orang Kristen-Yahudi sibuk berdialog dgn mencari persamaan2 antar agama, seorang Yahudi, penulis yang sangat terkenal, Jacob Neusner menegaskan bhw faktanya tidak pernah ada dialog, dalam arti yang sesungguhnya, antara Kristen dan Yahudi. Neusner berpendapat bahwa di dalam hal ajaran inti, telah terdapat perbedaan yang sangat besar di antara kedua kepercayaan tsb. Karena itu, dia bertanya: "Can this be real dialogue if there has been a failure to face up to such clear and overt differences? Why is it that such interfaith discussions seek to establish points of agreement and pass over such major differences?".[40]

Sebagaimana telah disebutkan di atas, reaksi keras terhadap ajaran Pluralisme dan sikap menyamaratakan agama-agama sebenarnya tidak hanya muncul di Barat, tapi juga di Indonesia sendiri. Adian Husaini, seorang penulis Islam dan mahasiswa PhD di ISTAC-IIUM, Kuala Lumpur menegaskan adanya perbedaan yang sangat mendasar antara Islam dan Kristen.[41] Menurut Husaini, sejak awal Islam melihat Nabi Isa a.s. sebagai manusia, Rasul, utusan Allah dan bukan Tuhan atau Anak Allah.
Dia juga mengacu kepada ajaran Qur'an yang mengkritik keras konsepsi theologis orang Kristen, di mana pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah "disebut Al-Qur'an sebagai kesalahan serius" (QS Maryam:89-92, Al - Maidah 72-75). Karena itu, dia menyerukan: "Jika perbedaan konsepsi dan sejarah antara teologi Kristen dengan Islam, benar-benar dikaji secara cermat, seyogyanya tidak perlu ada kalangan Muslim yang latah menyebarkan paham pluralisme agama".[42] Dengan gaya bahasa yang agak sarkastik dia kemudian menulis: "Biarlah Barat... memeluk berbagai paham yang menghancurkan sendi-sendi agamanya sendiri. Jika mereka 'masuk ke lobang biawak', mengapa kita harus ikut?".[43]

Setelah melihat pandangan2 theolog kontemporer tsb di atas, barangkali ada yg bertanya bagaimana dengan tokoh-tokoh reformasi abad lalu? Di dalam theologia Lutheran, dibedakan antara Deus absconditus dan Deus revelatus. Carl Braaten menulis: "Lutheran theology typically affirms a twofold revelation of God: through the hidden God of creation and law (Deus absconditus) and through the revealed God of covenant and Gospel (Deus revelatus)".[44] Jadi, dari kutipan di atas jelas terlihat kekhususan pewahyuan di dalam Alkitab. Ini yang disebut oleh theologia Reformed (bukan yang di Indonesia) dengan pewahyuan umum dan pewahyuan khusus. Pewahyuan umum berarti pengenalan kepada Allah melalui ciptaan, sedangkan pewahyuan khusus adalah pengenalan kepada Allah melalui Yesus yang disaksikan oleh Alkitab. Pewahyuan umum tidak membawa orang kepada keselamatan dan hidup kekal. Hanya melalui wahyu khususlah manusia berdosa diselamatkan melalui iman kepada Yesus Kristus, demikian pemahaman theolog Reformed, yang sebenarnya sebelumnya telah ditegaskan oleh kaum Lutheran.

Sebenarnya pemahaman Reformed tsb dapat dimengerti, di mana John Calvin sendiri membedakan pengenalan kepada Allah sbg Pencipta dan sbg Penebus. Yang pertama dapat dialami secara universal melalui alam dan khususnya melalui Alkitab. Pengenalan kepada Allah sbg Penebus merupakan kekhususan orang Kristen, di mana Allah memperkenalkan diri melalui Yesus Kristus sebagaimana dinyatakan di dalam Alkitab.
Demikian juga, theolog besar abad lalu, yi Karl Barth bersikukuh dan menegaskan: "No knowledge of God was available or possible ouside Christ".
(bersambung).