Monday, 24 September 2018

Dasar Menerima Eksklusivisme

Di atas telah kita sebutkan pandangan Eksklusivisme yang dianut oleh banyak umat Tuhan dan theolog dari kaum konservatif. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, yaitu karena sifat finalitas Kristus yang sangat berakar kuat dalam Alkitab. Hal itulah yang diikuti oleh Gereja-gereja Tuhan sepanjang massa. Mereka tidak rela melihat pengecilan, apalagi penyimpangan peran dan makna Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Itulah sebabnya, bagi mereka yang mau berpegang pada pandangan Gereja tradisional, pandangan Eksklusivisme menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Itulah sebabnya, di atas saya menegaskan bahwa penolakan pada Eksklusivisme, dapat dikatakan, sekaligus merupakan penolakan kepada otoritas Alkitab dan keyakinan yang bersifat tradisional.

 

Jika digali dari Injil Yohanes saja, kita akan menemukan terbentang luas dasar-dasar yang sangat kuat dari paham Eksklusivisme tsb.

Di bawah ini, saya mendaftarkan ayat-ayat yang berkaitan dengan paham tsb:

1. Yoh.1:1-5,14,18.
a. Yesus adalah Allah (1-2)

b. Di dalam dan bersama Yesus segala sesuatu (Yunani: ta panta) diciptakan (3-5).

c. Dia adalah satu2nya pribadi yang dari surga datang ke dalam dunia, menjadi manusia (14)

d. Dia adalah satu2nya yang berada di pangkuan Bapa, yang akan menyatakan Bapa ke dalam dunia (18)

2. Yoh.3:16-18. Dari ayat2 tsb sangat jelas penegasan Yesus akan dua hal. Pertama, bahwa siapa yang percaya kepadaNya akan diselamatkan. Kedua, siapa yang tidak percaya akan binasa.

3. Yoh.4:42. Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia.

4. Yoh.5:24 "Barangsiapa mendengar perkataanKu...ia mempunyai hidup yang kekal"

5. Yoh.6:39-40. "... semua yang diberikanNya kepadaKu... setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal"

6. Yoh.7:39. "Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya".

7. Yoh.8:12. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan"

8. Yoh.10:29. "BapaKu memberi mereka kepadaKu..."

9. Yoh.11:26. "Setiap orang yang percaya kepadaKu, tdk akan mati selama-lamanya".

10. Yoh.12:32. "...Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu"

11. Yoh.13:20. "... barangsiapa menerima Aku..."

12. Yoh.14:6: Yesus adalah satu2nya JALAN, KEBENARAN DAN HIDUP. Dalam bahasa Yunani ada penegasan2 penting:

a. Penekanan ganda: ego eimi.

b. Terdapat artikel "the", the way, the truth and the life, yang
menunjuk kepada dirinya jalan secara spesifik; jadi bukan jalan secara umum, tapi dirinya jalan itu. Karena itu, dapat dipahami ketika kita membaca penegasan dari segi negatif: "Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku", hal itu menjadi sangat penting.

13. Yoh.19:30 "Selesailah". Ini adalah seruan kemenangan Yesus di kayu salib, di mana Dia menyerukan selesai dan sempurnanya karya penyelamatan itu.

14. Yoh.20:30-31. "... spy kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya.

Penutup:

Kita telah mendiskusikan berbagai pandangan tentang keselamatan orang berdosa. Adanya banyak ayat2 yang sangat eksklusive dalam Alkitab, khususnya dalam Injil Yohanes tsb di atas, membuat orang2 penganut pluralists menolak Injil Yohanes, karena menurut mereka, itu adalah hasil olahan theologia dari Gereja mula-mula.

Tapi sebenarnya, bukan hanya Yohanes yang memberikan pengakuan eksklusif seperti itu, tetapi juga rasul Petrus (Kis.4:12. Kis.8:35 mengacu kepada Yes.53), rasul Paulus (Kis.16:31; Ro.3:10-28; 5:1-11; 10:9; 1Tim.2:5), dll.

Setelah melihat berbagai pandangan tsb di atas, maka sangat diharapkan kemampuan kita untuk lebih memahami pandangan yang kita anut di tengah-tengah adanya berbagai pandangan yang berbeda di sekitar kita. Maksudnya bukan utk kompromi. Sebaliknya, supaya kita lebih meyakini pandangan kita dengan dasar yg semakin kuat. Dengan demikian, kita berupaya untuk mendoakan dan melakukan berbagai cara untuk membawa orang lain kepada Kristus, satu-satunya jalan keselamatan. Tapi semuanya itu harus dilakukan dengan semangat kasih.-

(selesai).

--------------------------------------------------------------------------------

[1] John Hick, God Has Many Names (Philadelphia: Westminster, 1982), 58.

[2] John Hick, in Dennis L. Okholm, Timothy R. Philips (eds), Four
Views on Salvation in a Pluralistic World (Grand Rapids, Mi:
Zondervan, 1996), 57-58.

[3] Ibid, 35.

[4] Ibid, 36.

[6] John Hick pernah memegang posisi penting di departemen thelogia
Universitas Birmingham. Pada tahun ke 15 di Birmingham Hick terlibat
dalam berbagai kegiatan organisasi. Hick adalah salah satu pendiri dan
pemimpin pertama dari AFFOR (All Faiths For One Race) yang terdiri
dari orang-orang Islam, Hindu, Sikh, Yahudi, Buddhist, dll. John Hick,
in Four Views, 37.

[7] D'Costa, John Hick's Theology of Religions (Lanham, Md: University
Press of America, 1987), 48. Saya kira, selain pengalaman Hick tsb,
pengenalan dan penghayatannya kepada Alkitab juga diragukan, di mana
saya melihat Hick lebih banyak dipengaruhi oleh filsafat dari pada
Alkitab, di mana Hick lebih dahulu mempelajari filsafat di Edinburgh
University, kemudian melanjutkan program D.Phil. di Oxford
University, baru kemudian dia masuk ke Presbyterian Seminary,
Westminster College, Cambridge. Hal tsb dapat kita lihat dari
tulisannya: "After the war I returned to Edinburgh University for the
remaining three years on my philosophy course. I rejoined the
Evangelical Union, but soon I found that I was no longer fully in tune
with it. My philosophical training was leading me to ask awkward
questions". John Hick, in Four Views, 31. Bahkan ketika Hick masuk ke
Siminary kelihatannya dia juga kurang beruntung dengan kondisi
lingkungannya. Menurut pengakuannya, dia menyaksikan: "There I
remember being profoundly shocked by a graduate student who argued
that Jesus was not God incarnate but a remarkable human being". John
Hick, in Four Views, 32.

[8] Leonard Swidler, Paul Mojzes (editors), The Uniqueness of Jesus. A
Dialogue with Paul F. Knitter (Maryknoll, NYY: Orbis Books 1997), 46.

[9] Clark H. Pinnock, in Four Views, 141.

[10] Clark H. Pinnock, in Four Views, 98.

[11] Clark H. Pinnock, in Four Views, 188.

[12] C.S. Lewis, Mere Christianity (New York: Macmillan, 1967), 176.

[13] Clark H. Pinnock, Four Views, 99.

[14] Clark H. Pinnock, Four Views, 95.

[15] Clark H. Pinnock, in Four Views, 254.

[16] Ibid, 119.

[17] Clark H. Pinnock, in Four Views, 119.

[18] Dalam bahasa Yunani ditulis: zelon Theou ekhousin.

[19] Alister McGrath, in Four Views, 131.

[20] Ibid, 131.

[21] Clark H. Pinnock, in Four Views, 120.

[22] Ibid.

[23] Ibid.

[24] Ibid.

[25] Alister. E. McGrath, Four Views, 178.

[26] Ronald H. Nash, Is Jesus the Only Savior? (Grand Rapids,Mi:
Zondervan, 1994), 10.

[27] Ibid.

[28] Donald G. Bloesch, Essentials of Evangelical Theology, vol.1 (San
Fransisco: Harper & Row, 1978), 63.

[30] Leslie Newbigin, The Gospel in a Pluralist Society (Grand Rapids:
Eerdmans, 1989), 1.

[31] Alister. E. McGrath, in Four Views, 153.

[32] Michael Green, Acts for Today: First- Century Christianity for
Twentieth-Century Christians (London: Hodder & Stoughton, 1993), 38.

[33] Frans Magnis Suseno, "Dialog Antar Agama di Jalan Buntu?", dalam
Agama dalam Dialog (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 29.

[34] Ibid, 27.

[35] Ibid.

[36] Alister. E. McGrath, in Four Views, 156.

[37] Ibid.

[38] Kathryn Tanner, "Respect for Other Religions: A Christian
Antidote to Colonialist Discourse", Modern Theology 9 (1993): 1-18.