Tuesday, 16 January 2018

Nyanyian Rohani (1)
[ARTIKEL INI TELAH DITERBITKAN DI TABLOID REFORMATA]
(Pdt. Mangapul Sagala)

Dalam beberapa milis (mailing list) yang saya ikuti, saya menemukan diskusi yang cukup seru tentang nyanyian rohani. Menarik sekali mengamati posting yang masuk di milis tsb. Dari berbagai posting saya melihat kenyataan bahwa ternyata pemahaman orang tentang nyanyian rohani sangat bervariasi.

 

Semula, ketika posting pertama muncul, yaitu tentang reaksi negatif terhadap sebuah ibadah tertentu, saya kira masalahnya sederhana saja. Karena itu, reaksi orang akan relatif seragam. Ternyata saya salah. Berbagai reaksi muncul terhadap posting pertama tersebut yang memunculkan pemahaman yang cukup bervariasi. Reaksi tersebut antara lain mempertanyakan bagaimana sikap yang benar di dalam menyanyikan lagu pujian; diam saja? Apakah diperkenankan melompat-lompat? Lagu seperti apa sih yang menarik jemaat utk senang bernyanyi; lagu-lagu kontemporer yang sifatnya ngepop? ngerep? dangdut? Hymnal? Peralatan musik seperti apa yang sebaiknya digunakan ketika beribadah? Apakah cukup dengan organ/piano? Apakah perlu diiringi dengan band dan seperangkat alat musik lainnya? Berbagai pertanyaan dan pandangan dimunculkan dalam disikusi di milis tsb. Karena itu, kita akan membahas hal-hal tersebut; dengan harapan, pembaca Reformata semakin tertolong dalam mengungkapkan pujiannya dengan baik dan benar.

Hal yang sangat penting untuk kita ketahui ketika kita mau bernyanyi adalah mengapa kita melakukan hal itu? Jika jawaban terhadap pertanyaan ini kita ketahui dan hayati secara sungguh-sungguh, maka kita akan tahu bagaimana melakukan hal itu. Ada ucapan yang mengatakan, “If the people know the ‘why’, they will know the ‘how “. Memang sangat bahagia jika waktu yang disediakan untuk pujian itu dapat digunakan dengan sebaik-baiknya. Tetapi alangkah ruginya jika waktu yang panjang itu digunakan hanya sekedar memenuhi tata ibadah saja (Cat. Dalam ibadah di Gereja tertentu waktu untuk pujian bisa lebih dari separuh waktu kebaktian). Kadang kadang, saya merasa bahwa penghayatan kita terhadap nyanyian puji-pujian itu bukan saja kurang bermakna, tetapi lebih sedih lagi adalah sesat makna. Sebagai contoh, dalam beberapa kali kebaktian retret, saya mengamati bahwa dengan semangat pemimpin pujian memilih lagu untuk tujuan berolah raga. Maka berserulah dia dari depan jemaat: “Mungkin kita tadi pagi belum sempat berolah raga. Karena itu, mari kita menyanyikan lagu, ‘Dikepak kepakkan tangannya... goyang kiri, goyang kanan, putar ke kiri...’” Mendengar itu saya berpikir, jika memang tujuannya untuk olah raga, mengapa tidak membiarkan saja jemaat itu keluar sebentar dan melakukan olah raga.

Menurut hymnologist Lovelace dan Rice dalam bukunya Music and Worship in the Church, sebenarnya menyanyikan lagu pujian adalah hak istimewa bagi setiap orang Kristen. Tapi sayang, dia mengamati bahwa sebagian orang telah menjadikan lagu puji-pujian sebagai manipulasi psikologis. Hal itu terjadi ketika sebuah lagu dinyanyikan terus menerus secara berulang-ulang karena menganggapnya dapat memberi tenaga hipnotis. Tentu kita tidak dapat menyangkali kenyataan tersebut. Barangkali kita sendiri pun pernah mengalami hal yang sama di mana kita diminta untuk menyanyikan lagu pendek hingga lebih dari sepuluh kali. Bukan maksud saya mengatakan bahwa kita tidak boleh mengulang syair lagu. Hal itu baik dilakukan untuk tujuan lebih memahami syair lagu tersebut, sehingga dapat menyanyikannya kembali dengan pengertian dan penghayatan yang lebih baik (Pentingnya pengertian yang baik terhadap setiap syair pujian yang dinyanyikan telah ditegaskan oleh Eskew dan McElrath dalam bukunya Sing With Understanding). Tetapi pengulangan tersebut harus dibatasi agar jangan membosankan atau salah penghayatan sebagaimana diperingatkan Lovelace dan Rice tersebut di atas. Di sinilah sebenarnya letak makna pujian tersebut, yaitu bukan untuk memuaskan diri kita yang menyanyikan, melainkan untuk memuaskan hati Allah semata. Sekali lagi kita tegaskan, tujuan pujian adalah pertama dan terutama untuk Allah. Sebagaimana Pemazmur menulis, “Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; pada pemandangan Allah itu lebih baik dari pada sapi jantan...” (69:31-32).

Sesungguhnya, jika kita membaca Alkitab dengan teliti, maka kita akan menemukan alasan yang kuat untuk memuji Tuhan. Kita menemukan bahwa baik dalam Kitab Musa, Mazmur, kitab para Nabi, surat2 rasul Paulus hingga kitab Wahyu, umat Allah digambarkan sebagai umat yang memuji dan mengagungkan Dia. Bahkan di dalam surat rasul Paulus tsb disebutkan bahwa salah satu ciri dari orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah mempersembahkan kidung pujian dan nyanyian rohani (Ef.5:18b-19). Itulah sebabnya umat Allah sepanjang sejarah Gereja, dari abad pertama hingga zaman reformasi sampai saat ini mengikuti teladan di dalam Alkitab tersebut. Dari kitab Musa tersebut di atas, kita dapat belajar sesuatu dari nyanyian syukur umat Allah (Kel.15) yaitu setelah mereka terlepas dari tentara Firaun yang mengejar mereka dan berhasil berjalan melewati laut Teberau (Kel.14:15-31). Ada tiga alasan penting yang dapat kita catat di sini. Pertama, mereka memuji Allah karena keberadaanNya yang memang seharusnya dan sepatutnya dimuliakan. Pujian mereka dalam Kel. 15 tsb dimulai dengan, “Baiklah aku menyanyi bagi Tuhan, sebab Ia tinggi luhur” (ayat 1a). Kedua, mereka memuji Allah karena menyadari karya Allah dalam hidup mereka. Selanjutnya kita membaca, “Kuda dan penunggangnya dilemparkanNya ke dalam laut... Ia telah menjadi keselamatanku” ( ayat 1b dan 2a). Ketiga, mereka memuji Allah karena menyadari relasi yang hidup antara mereka dengan Allah. “Ia Allahku, kupuji Dia” (ayat 2b).

Dari ketiga hal tersebut di atas, maka jelaslah kita ketahui mengapa di Gereja tertentu lagu pujian dinyanyikan dengan sangat ceria, hidup dan penuh penghayatan, sementara di Gereja lainnya mekanis, lambat dan nyaris tanpa penghayatan. Faktor utama yang sangat penting adalah soal relasi yang hidup dengan Allah. Apakah anggota jemaat tersebut masih mengalami hidup lama dan belum pernah secara sungguh2 mengalami perjumpaan rohani dengan Yesus, Sang Juruselamat? Jika demikian, maka mustahil dapat menyanyikan lagu pujian dengan benar. Mayat rohani tidak akan dapat memperkenankan hati Allah, demikian surat Paulus (Ro.8:5-8). Selanjutnya hal yang sangat penting adalah pertumbuhan umat menuju kepada kedewasaan rohani. Jadi, penting sekali umat diajar kepada pengenalan yang semakin dalam akan pribadi Allah. Penghayatan yang benar akan pribadi Allah yang tinggi luhur, seharusnya akan mempengaruhi sikapnya dalam memuji. Sikap hormat seperti apakah yang sepatutnya diberikan ketika timbul kesadaran bahwa Allah yang sedemikian agung yang akan disembah? Selain mengenal pribadi Allah, umat juga perlu diajar mengenal karya Allah dalam hidupnya. Semakin dalam orang tersebut mengenal dan memahami penderitaan Yesus di dunia -sejak inkarnasiNya di Betlehem dan mempersembahkan diri mati di kayu salib di bukit Golgota- dan betapa mahalnya darah Yesus yang telah dicurahkan tersebut, maka hal itu akan mempengaruhi syair lagu yang akan dipersembahkan. Maka masalahnya bukan lagi terletak pada apakah kita akan memilih lagu kontemporer masa kini atau lagu hymnal zaman tempo dulu. Umat Allah akan memilih syair dan melody lagu seperti apa yang tepat mengungkapkan pujianNya kepada Allah yang sesuai dengan tingkat kerohaniannya. Jadi, apakah kita lebih suka menyanyikan lagu “Dikepak-kepakkan tangannya”, atau “Great is Thy faithfulness/Besar SetiaMu”, hal itu mencerminkan kondisi kerohanian kita yang sebenarnya.-