Thursday, 19 July 2018

Lagu Pujian Yang baik (3)
(Pdt. Mangapul Sagala)

Dua tahun yang lalu, dalam sebuah seminar tentang “Puji-pujian Rohani”, seorang peserta mengelompokkan lagu-lagu pujian tertentu kepada lagu gereja Karismatik dan lagu-lagu lainnya kepada lagu gereja GKI. Selanjutnya, dia memberi pandangannya terhadap kedua kelompok lagu tsb.

 

Meresponi pernyataan tsb maka saya bertanya apakah ada lagu pujian yang dapat disebut lagunya GKI atau lagunya Karismatik. Atau yang dia maksud adalah lagu pujian yang barangkali biasa dinyanyikan oleh gereja GKI atau Karismatik. Kemudian, saya menegaskan bahwa kita tidak boleh mengelompokkan lagu-lagu pujian berdasarkan denominasi tertentu, seolah-olah lagu pujian dari denominasi tertentu itu pasti lagu bagus, sedangkan dari denominasi yang lainnya adalah lagu pujian yang jelek. Dalam kenyataannya, lagu pujian yang dinyanyikan oleh Gereja tertentu ada yang bagus dan ada juga yang jelek. Karena itu, sebaiknya kita sederhanakan pengelompokan lagu tsb menjadi lagu baik dan lagu jelek. Bagus atau jelek dari segi apa? Bisa dari segi melodinya, di mana lagu tsb memiliki komposisi yang jelek, cukup baik dan sangat baik. Tetapi, penilaian baik tidaknya sebuah lagu pujian, tidak semata ditentukan oleh melodinya yang enak untuk didengar atau enak untuk ditepukin, melainkan terutama dapat dilihat dari segi kata-kata atau syair lagu tsb. Artinya, syair lagu tsb minimal memiliki ciri-ciri sbb:

- Ajarannya benar, dalam serta Alkitabiah

- Pesannya jelas

- Membangkitkan atau menantang iman

Itulah sebabnya pada edisi yang lalu, kita memberi peringatan agar waspada terhadap lagu pujian dengan syair yang dangkal dan menyesatkan. Hal itu juga sesuai dengan seruan Eskew Harry dan McElrath Hugh dalam bukunya, Sing with Understanding, agar jemaat Tuhan memuji Tuhan dengan pengertian, mengerti dan merenungkan setiap syair lagu yang dinyanyikan.

Saya bersyukur karena dibesarkan dalam lingkungan gereja dengan tradisi memuji Tuhan dengan lagu-lagu pujian yang sangat bermutu. Demikian juga, ketika saya memasuki universitas, kira-kira tiga dekade yang lalu, saya pernah dibina dalam sebuah lingkungan PMK (Persekutuan Mahasiwa Kristen) yang memiliki tradisi memuji Tuhan yang baik, bukan saja dari segi melodi lagu tsb, tetapi terutama dari segi syairnya. Saya bersyukur karena sejak tahap awal pembinaan tsb kami telah diperkenalkan dengan lagu pujian dengan tema-tema yang sangat baik, seperti tema penyerahan diri, misi dsbnya. Saya ingin membagikan beberapa dari lagu tsb.

Pertama adalah lagu dengan syair: “Allahmu benteng yang teguh, perisai dan senjata, meski besar sengsaramu, pertolonganNya nyata...” Lagu pujian lainnyanya adalah: “For me to live is Christ to die is gain, to hold his hand and walk the narrow way, there is no joy nor peace nor thrill, like walking in his will, for me to live is Christ to die is gain”. Lagu yang diambil dari Filipi 1:21 tsb sungguh sangat indah. Mengapa? Karena jika kita perhatikan syairnya, lagu tsb mengajarkan bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah untung. Lagu itu juga mengingatkan kita bahwa tidak ada sukacita serta kebahagiaan sejati kecuali kita berjalan di dalam kehendakNya. Selanjutnya, saya juga teringat lagu yang bertemakan missi: “Engkau cari intankah untuk permata Yesus... intan-intan dan permata, yakni jiwa tersesat, biar cari lalu bawa, untuk mahkota Yesus”. Lagu lainnya dengan tema yang sama yang sering kami nyanyikan adalah: “Love this world through me Lord, this world of broken men. Thoud didst love through death Lord, o love through me again. Souls are in despair Lord o let me know and care. When my life they see, they may behold Thee. O love this world through me...” Lagu tsb sungguh telah mempengaruhi kami untuk pergi melayani ke luar dari kampus kami ke kampus-kampus lain di Jakarta, bahkan juga di luar Jakarta. Jadi, kami tidak hanya tinggal dan sibuk di kampus sendiri dan membiarkan saudara/i seiman lainnya di kampus lain terbengkalai tanpa pembina. Dan jika kemudian saya belajar theology secara formal dan belajar tentang “Global Mission” (pentingnya bermissi ke seluruh dunia), hal itu bukan lagi merupakan hal baru buat saya, karena sejak tahap awal dari pembinaan di kampus, kami telah diperkenalkan tentang pentingnya bermissi ke seluruh dunia. Lagu itu juga telah mengajarkan kepada kami bahwa bermissi bukan hanya dengan kata, tetapi terutama dengan keteladanan hidup: “Thou didst love through death Lord, o love through me again... when my life they see they may behold Thee” Jadi, sekalipun ketika itu kami sangat kekurangan pembicara atau hamba Tuhan yang dapat diundang untuk melayani di kampus, namun lagu-lagu pujian tsb telah mempengaruhi dan membentuk kami sedemikian rupa. Kami telah menyaksikan kebenaran ungkapan yang mengatakan bahwa lagu pujian mempengaruhi seseorang melebihi kesadarannya.

Sungguh sangat disayangkan ketika tahun yang lalu saya diundang ke salah satu PMK di Jakarta, saya mendengar lagu-lagu pujian yang menurut pengamatan saya hanya menekankan pada melodi lagu, enak didengar atau enak dinyanyikan dengan bertepuk tangan sambil melompat-lompat dan menari-nari. Padahal, sesungguhnya jika kita menerapkan prinsip Sing with Understanding tsb di atas (memuji Tuhan dengan pengertian) maka beberapa dari lagu yang dinyanyikan tsb memiliki syair yang dangkal dan bisa menyesatkan! Ketika saya menyebut lagu pujian tsb di atas serta beberapa lagu pujian lainnya yang sangat baik –ditinjau dari segi melodi dan syairnya- mereka tidak tahu. Lebih menyedihkan lagi adalah, bahwa hal seperti itu ternyata tidak hanya terjadi di PMK, tapi juga di beberapa persekutuan atau ibadah di gereja di mana saya pernah diundang untuk melayani. Untuk lebih jelasnya, izinkanlah saya memberikan beberapa contoh sederhana, yaitu adanya lagu pujian yang cukup sering dinyanyikan, tetapi memiliki syair yang kurang baik.

Pertama, saya pernah mendengar lagu pujian yang dapat memberi pemahaman yang salah tentang Roh Kudus. Ada sebuah lagu yang berbunyi: “Berhembuslah Roh Kudus di tengah kami...” Lagu pujian tsb dapat memberi peluang kepada aliran tertentu seperti aliran Saksi Jehova yang mengajarkan bahwa Roh Kudus bukan Allah, tapi hanya merupakan kuasa Allah. Saya pernah didatangi oleh orang2 dari aliran tsb di mana mereka menyamakan Roh Kudus dengan angin. Jika ajaran seperti ini digabungkan dengan penggunaan kata “ruakh” (bahasa Ibrani) atau kata “pneuma” (bahasa Yunani) yang memang dapat berarti “angin”, “nafas” dan “roh”, maka orang tertentu pun dapat semakin diyakinkan. Dengan gaya humor kadang-kadang saya mengingatkan kemiripan lagu tsb dengan nyanyian alm Broery Pesulima, yang berjudul “Berhembus Angin Malam”. Jika kedua lagu tsb digabungkan, bukankah dapat memberi pengertian bahwa “Roh Kudus” sama dengan “angin malam?” Lain halnya jika kita menyanyikan lagu dari kidung jemaat tertentu yang berbunyi: “Roh Kudus tetap teguh, Kau Pemimpin umatMu.Tuntun kami yang lemah lewat gurun dunia...” Syair lagu tsb dengan sangat jelas menunjukkan kepada kita bahwa Roh Kudus adalah pribadi Allah yang memimpin umatNya. Selanjutnya, ada lagu pujian yang memiliki melodi yang baik, namun setiap kali saya mendengar lagu tsb dinyanyikan, sungguh sangat mengganjal. Lagu pujian tsb dapat memberi pemahaman yang salah tentang bagaimana menghayati kasih Allah. Syair lagu tsb berbunyi kira-kira sbb: KasihMu yang telah kurasakan, sempat membuatku terpesona...Siapakah aku ini Tuhan, jadi bijih mataMu...” Kita tahu bahwa kata “sempat” mengandung arti sesaat, sebentar saja. Jika demikian halnya, bukankah lagu tsb menyesatkan? Apakah kita menghayati kasih Allah sedemikian dangkalnya sehingga kita menggunakan kata “sempat?” Syukurlah, dalam beberapa kali kesempatan saya mendengar lagu pujian tsb, kata “sempat” itu telah diganti dengan “selalu” atau “sungguh”. Ada lagi lagu pujian lainnya yang syairnya dapat memberi konotasi negatif, khususnya ditinjau dari segi etika. Syair lagu tsb berbunyi sbb: “Kukalahkan musuh dan melompat tembok, haleluya, haleluya”. Secara jujur, pertama kali saya mendengar lagu pujian tsb, saya sungguh merasa tidak enak. Barangkali ada ayat dalam Alkitab yang menunjukkan umat Allah di dalam Perjanjian Lama setelah mereka mengalahkan musuh, lantas karena kondisi tertentu mereka melompat tembok. Tetapi hal itu tidak otomatis dapat dijadikan sebuah lagu. Sebab ada juga ayat di dalam Injil Yohanes di mana Yesus mengatakan bahwa “siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok” (Yoh.10:1). Akhirnya, ada juga lagu yang menurut saya tidak jujur dan berbau mensugesti diri, khususnya dalam kaitannya dengan melayani Tuhan. Lagu tsb berbunyi sbb: “Jangan lelah, bekerjalah di ladangnya Tuhan... ratakan tanah bergelombang...” Saya mengerti bahwa lagu pujian tsb memiliki ‘niat’ yang baik untuk mendorong orang untuk melayani. Akan tetapi, jika kita menerapkan prinsip Sing with Understanding tsb di atas, maka kita bisa mengalami kesulitan menyanyikan lagu tsb. Mengapa? Karena dalam kenyataannya, kita yang melayani Tuhan sering merasa lelah. Bukan saja kita, dalam Injil Yohanes sendiri kita dapat membaca bahwa Yesus pun “sangat letih” (Yoh.4:6). Barangkali, kita dapat menyanyikan lagu pujian tsb dengan pengertian yang baik dan dengan hati yang jujur jika kita mengganti kata “jangan” menjadi “meski”: Meski lelah, bekerjalah di ladangnya Tuhan. Bukankah hal yang sama dikisahkan tentang Yesus? Dia sudah sangat lelah -dan juga barangkali sangat lapar- namun Dia tetap melayani seorang perempuan Samaria yang sangat memerlukan pelayananNya (Yoh.4:27-42). Dengan demikian, ketika kita menyanyikan lagu dengan pengertian dan dengan jujur, maka kita akan bertumbuh melalui lagu pujian yang kita nyanyikan tsb. Kita juga akan memiliki ‘filter’ untuk menyeleksi mana lagu-lagu pujian yang baik untuk kita nyanyikan.

Semoga.