Monday, 24 September 2018

Menciptakan Pujian Jemaat Yang Baik (4)
(Pdt. Mangapul Sagala)

Bulan Desember ini kita akan merayakan salah satu peristiwa besar, yaitu hari Natal. Bahkan peristiwa tsb dapat kita sebut sebagai peristiwa ajaib, di mana Allah, pencipta alam semesta datang ke dalam dunia ciptaan. Karena itu, tidak heran jika seluruh umat menyambutnya dengan penuh sukacita. Memang berita natal pertama yang disampaikan malaikat kepada para gembala juga mengumandangkan sukacita. Penginjil Lukas menulis: “... sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat” (Luk.2:10-11). Jadi jelas, berita Natal, adalah berita sukacita. Sukacita yang bagaimana? Sukacita besar (great joy; Yunani, kharan megalen). Sukacita untuk siapa? Sukacita untuk seluruh bangsa.

 

Jadi jelas, dari sejak awal, berita Natal bukan hanya untuk sekelompok orang, tapi untuk semua orang. Berita yang ditulis Lukas tsb sejalan dengan penegasan Yohanes bahwa Allah mengasihi seisi dunia ini, sehingga Yesus datang untuk seluruh dunia (Yoh.3:16). Bagi kita yang percaya berita Alkitab dengan segenap hati, harus berpegang kepada berita tsb. Dengan demikian, kita singkirkan semua pandangan yang mengatakan bahwa Yesus hanya menyelamatkan kelompok atau agama tertentu. Itu nonsense! Berita seperti itu tidak ada di dalam Alkitab! Jika pada kenyataannya ada kelompok yang menerima dan mengalamiNya, itu bukan karena Dia datang hanya untuk kelompok itu. Tetapi karena hanya kelompok itulah yang menerima kedatanganNya. Karena itu, mereka bersukacita, sukacita besar! Tidak heran jika dalam Natal (sepanjang bulan Desember) kita mendengar lagu-lagu dikumandangkan. “Joy to the World the Lord is come”, “Dari pulau dan benua terdengar selalu terus, lagu pujian... gloria...” Serangkaian ibadah akan kita ikuti, baik itu ibadah Natal di Gereja, sekolah, kantor, dll. Karena itu, alangkah bahagianya jika berbagai ibadah itu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, setiap jemaat yang mengikutinya sungguh-sungguh semakin menghayati makna berita Natal tsb. Sebaliknya, alangkah menyedihkan, jika ibadah itu dilakukan tanpa persiapan. Atau persiapan seadanya. Sekedar ceremonial tanpa makna, atau malah sesat makna.

William J. Reynolds dalam bukunya Congregational Singing membahas beberapa faktor penting untuk mencapai pujian jemaat yang baik, atau lebih tepatnya apa yang disebutnya sebagai “a great congregational hymn singing”. Marilah kita lihat beberapa faktor tsb.

Pemimpin Pujian (Song Leader)

Saya setuju dengan Reynolds bahwa peranan pemimpin pujian sangat penting dalam membawa atau menciptakan kwalitas pujian jemaat yang baik. Itulah sebabnya dia membahas faktor ini dalam satu bab khusus. Dalam bab itu, dia menegaskan bahwa keefektifan dalam menyanyikan puji-pujian gerejani sangat tergantung pada kwalitas pemimpinnya. Saya kira, kita tidak dapat menyangkali hal itu. Karena dalam kenyataannya kita dapat menyaksikan bahwa jemaat yang sama, jika dipimpin oleh pemimpin pujian yang berbeda, dapat memberikan kwalitas yang sangat berbeda pula. Itulah sebabnya Reynolds menyarankan tiga hal penting yang harus dimiliki oleh pemimpin pujian. Pertama, adanya kemampuan untuk mempengaruhi jemaat. Hal ini dapat dicapai secara rohani, di mana pemimpin pujian memancarkan kekuatan/wibawa rohani ketika memimpin pujian tsb. Dengan demikian, yang diharapkan dari seorang pemimpin pujian bukan sekedar kemampuan teknis -seperti penguasaan dari lagu yang dinyanyikan- tetapi terutama kehidupan kerohanian yang terpancar melalui kata-kata yang diucapkan serta melalui seluruh penampilannya di depan jemaat. Kedua, kemampuan untuk peka terhadap kebutuhan yang dinyatakan jemaat. Artinya, pada kondisi tertentu, kadang-kadang jemaat perlu didorong atau dimotivasi untuk bernyanyi lebih keras atau agar lebih menghayati setiap syair lagu yang dinyanyikan. Nah, untuk mencapai tujuan tsb, pemimpin pujian harus memiliki keberanian dan kebijakan untuk melakukannya. Ketiga, kemampuan untuk mengembangkan dan menggunakan teknik yang kreatif untuk menyanyikan puji-pujian yang baik. Termasuk di sini adalah kwalitas suara pemimpin pujian itu sendiri yang menjadi contoh nyata untuk diikuti oleh seluruh jemaat. Demikian juga, kemampuan untuk memimpin jemaat dengan tangannya, di mana kedua tangannya dapat difungsikan dengan baik untuk memberi aba-aba: cepat-lambat, keras-lembut lagu pujian tsb. Dengan perkataan lain, sangat diharapkan kemampuan pemimpin pujian untuk menguasai setiap lagu yang dinyanyikan (apakah itu 2 ketuk, 3 ketuk, 4 ketuk, dstnya) dan dengan jelas hal itu dipindahkan kedalam gerakan tangan. Sangat disayangkan jika pemimpin pujian hanya berdiri di depan jemaat seperti patung tanpa memberi pengaruh apapun!

Peranan Pemain Musik

Pada umumnya para hymnologist sepakat bahwa peranan pengiring pujian (pianis, organis atau pemain gitar) sangat menentukan dalam menciptakan pujian jemaat yang baik. Itulah sebabnya baik Eskew dan McElrath, maupun Sydnor -yang memberikan bab khusus dalam menguraikan peran pengiring pujian- berpendapat bahwa orang yang memainkan lagu puji-pujian adalah “the real leader in hymn singing”. Oleh karena itu, mereka harus melakukan yang terbaik dalam mengiringi jemaat untuk memuji Tuhan. Reynolds juga menegaskan bahwa bunyi suara alat-alat musik yang mengiringi nyanyian tersebut haruslah meningkatkan, memperkaya dan membantu kwalitas bernyanyi dan menjadi bagian dari keseluruhan nyanyian bersama. Mari kita simak peringatan Reynolds yang sangat penting berikut:

“Alat-alat musik tidak boleh menyimpang dari nyanyian dengan menarik perhatian padanya. Alat-alat musik sebaiknya tidak mengeluarkan suara yang terlalu keras sehingga menelan nyanyian dan para penyanyinya, atau tidak juga terlalu rendah sehingga hampir tidak memberi pengaruh”. (Congregational Singing, hal.26)

Saya kira, peringatan tsb sangat relevan. Dari peringatan tsb, kita menemukan dua ekstrim dari mereka yang mengiringi lagu pujian. Ekstrim pertama yaitu suara musik yang terlalu keras (ditambah lagi dengan pengeras suara dengan volume besar) sehingga menelan nyanyian dan para penyanyinya. Hal ini umumnya ditemukan dalam Gereja yang berlatar belakang Karismatik. Ekstrim yang kedua adalah suara musik yang terlalu rendah sehingga hampir tidak memberi pengaruh kepada jemaat. Hal spt ini umumnya ditemukan dalam ibadah di Gereja-gereja tradisional. Jadi, kedua latar belakang Gereja tersebut perlu waspada dan segera mengubah dan memperbaiki cara bermain musik mereka. Secara lebih kongkrit Sydnor memberikan beberapa petunjuk praktis yang harus dimiliki pemusik: harus mengerti musik dan lagu serta cara memainkannya, harus bermain tepat, pandai memberi irama, bermain dengan tempo yang baik, dan akhirnya tetap setia mengikuti teks lagu nyanyian tsb.

Hal lain yang penting untuk dilakukan adalah latihan bersama pemimpin pujian. Ada empat hal yang disarankan oleh Reynolds: a) menemukan intro yang tepat dari lagu tsb; b) mencari tempo dan nada yang tepat (usahakan mengikuti nada yang telah ditetapkan oleh pencipta lagu tsb); c) mencari gaya pengiringan; legato? Stacato? Akhirnya, kesepakatan volume suara dari alat2 musik yg digunakan.

Peranan Pengisi Acara

Pengisi acara juga sangat berperan penting dalam membangun pujian jemaat yang baik. Sydnor misalnya memberi peran yang sangat penting bagi paduan suara. Bagaimana paduan suara membantu jemaat menyanyikan puji2an? Oleh karena paduan suara terbentuk dari orang-orang yang telah terlatih dan mempunyai ketrampilan musik yang lebih baik dari jemaat, maka paduan suara diharapkan dapat membantu jemaat dalam banyak hal. Paduan suara dapat membantu jemaat melalui suara dan ekspresi muka yang dapat mendorong jemaat untuk mengikuti mereka (itulah sebabnya mereka mengambil tempat berhadapan dengan jemaat). Demikian juga, mereka dapat membantu mengajarkan lagu-lagu yang belum dipahami. Hal itu dapat dilakukan dengan terlebih dahulu menyanyikannya sebagai lagu koor. Paduan suara juga dapat memberi inspirasi atau menciptakan suasana tertentu kepada jemaat. Itulah sebabnya, dalam sebuah ibadah, kadang2 kita mengamati bahwa ibadah dimulai dengan paduan suara, misalnya dengan lagu “Joy to the World”, yang dinyanyikan dengan gegap gempita. Dengan demikian, emosi atau suasana dari paduan suara tsb dibagikan kepada seluruh jemaat dan siap untuk memasuki pujian jemaat.

Bicara soal pengisi acara, tentu saja kita harus memikirkan dan merencanakan secara matang akan jumlah pengisi acara dalam ibadah, di mana semua itu diatur dengan baik sesuai waktu ibadah yang tersedia. Untuk itu, kita kembali perlu menghindari dua ekstrim. Ekstrim pertama, pengisi acara terlalu minim, sehingga ibadah terkesan monoton, tanpa variasi. Tetapi ekstrim kedua adalah pengisi acara yang terlalu banyak yang mengakibatkan jemaat menjadi passif, mereka dijadikan penonton yang mau tidak mau harus ‘menelan’ semua ‘menu’ yang diberikan kepada mereka. Sebagai contoh, sekitar 3 bln yl saya sendiri menyaksikan pengisi acara yang sedemikian banyak. Dengan demikian, pemberitaan firman Tuhan terpaksa mundur, yaitu setelah ibadah berlangsung hampir dua jam! Dapat dimengerti jika dalam kondisi demikian, pemberitaan firman Tuhan menjadi anti klimaks, di mana jemaat sudah terlalu capek!

Semoga ibadah Natal kita di bulan Desember ini berjalan dengan baik, karena seluruh jemaat berusaha menciptakan pujian yang terbaik untuk dipersembahkan bagi Allah, Sang Raja Damai tersebut. Selamat hari Natal 04 dan selamat Tahun Baru 05.-