Thursday, 19 July 2018

Pentingnya Buku Pujian Yang Baik (5)
(Pdt. Mangapul Sagala)

Sekitar tiga tahun yang lalu saya melayani pada sebuah Gereja tertentu. Itu adalah pertama kali saya melayani di jemaat tsb. Mengamati kondisi jemaat di Gereja tsb, saya melihat bahwa mereka telah cukup mapan, di mana mereka telah memiliki gedung Gereja yang tetap dengan segala fasilitasnya, dan juga seperangkat alat-alat musik, lengkap dengan keyboard, drum, gitar, sound system yg baik, dll. Namun demikian, saya mengatakan kekecewaan saya kepada Gereja tsb karena mereka belum memiliki hymnal (buku pujian).

Saya kecewa ketika menyaksikan jemaat memuji Tuhan dari kertas-kertas lepas dengan kwalitas pujian yang apa adanya. Pokoknya lagunya rame, enak ditepukin, lagu2nya singkat dan tidak memiliki tema yang jelas! Rupanya, bagi jemaat tsb, hymnal tidak mendapat prioritas penting. Karena itu, sekalipun jemaat tsb sudah cukup lama, hingga saat itu mereka belum memiliki hymnal. Jika jemaat terus menerus memuji Tuhan dengan mengandalkan kertas lepas, maka jemaat tsb terbatas pada lagu pujian pada kertas tsb. Lebih buruk lagi jika pemimpin pujian hanya memilih lagu pujian yang “itu itu juga” serta “apa adanya”, di mana dia memilih lagu2 kesukaannya, yang akibatnya, jemaat dapat merasa bosan, tidak dibangun oleh pujian tsb.

William J. Reynolds, dalam bukunya Congregational Singing menegaskan bahwa untuk menghasilkan puji-pujian jemaat yang baik, dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor utama adalah tersedia hymnal yang baik. Bicara soal pentingnya buku pujian, maka saya teringat satu kalimat yang sangat menantang saya, yaitu ketika kami sedang mengikuti kuliah dengan materi Hymnology (ilmu yang mempelajari tentang lagu-lagu pujian). Kalimat tsb adalah: “Show me your and I will say who you are”. Apakah pernyataan tsb tidak berlebih-lebihan? Apakah hanya dengan menunjukkan buku pujian (hymnal) maka kita dapat mengetahui siapa seseorang tsb? Terlepas dari kita setuju atau tidak terhadap pernyataan tsb, tapi pernyataan tsb memang mengandung kebenaran yang tidak dapat disangkal. Sesungguhnya, pujian yang sering dinyanyikan seseorang akan mempengaruhi kondisi kerohanian orang tsb, entah disadarinya atau tidak. Seorang hymnologist malah menegaskan bahwa sebuah pujian rohani mempengaruhi seseorang sedemikian hebat, melampaui kesadarannya. Tidak heran jika tokoh reformasi, John Calvin begitu ketat dalam hal lagu pujian. Karena itu, dia tidak mengizinkan lagu-lagu lain dinyanyikan di dalam Gereja selain yang berasal dari kitab Mazmur. Demikian juga, dalam buku hymnal yang sangat bagus yang berjudul The United Methodist Hymnal, yang terdiri dari 904 lagu tsb terdapat beberapa petunjuk penting. Salah satu di antaranya adalah untuk mempelajari lagu-lagu dalam hymnal tsb serta menyanyikannya dengan tepat.

Pada artikel yang lalu saya pernah membandingkan pengaruh lagu “Besar SetiaMu Allah Bapaku...” dengan “Dikepak-kepakkan tangannya...” Lagu yang pertama membawa kita kepada pribadi Allah dan berpusat kepada Allah; menggambarkan Allah yang penuh kasih setia, yang merupakan salah satu ajaran Kristen yang sangat penting. Kita dapat membayangkan bagaimana kondisi jemaat jika dibina dan dibiasakan untuk menyanyikan lagu-lagu pujian sejenis itu. Sedangkan lagu kedua hanya bersifat mainan yang tidak mengajarkan doktrin apa-apa. Kita juga dapat menduga-duga kira-kira bagaimana kondisi kerohanian jemaat yang dibiasakan untuk menyanyikan lagu-lagu pujian sejenis itu.

Kita bersyukur mengamati bahwa sebenarnya di Indonesia kita memiliki beberapa hymnal yang sangat baik. Sebagai contoh, kita memiliki Kidung Jemaat (KJ) dan Nyanyian Kidung Baru (NKB), di mana dalam hymnal tsb kita menemukan lagu2 bermutu tinggi yang telah diseleksi oleh team pujian yang ahli di bidangnya. Selain itu, kita juga dapat menyebut PPK (Puji Pujian Kristen), Kidung Pujian HKBP (Buku Ende), yang juga memuat lagu-lagu yang sangat bermutu tinggi. Tetapi masalahnya adalah, sejauh mana jemaat yang memakai hymnal tsb memanfaatkan lagu-lagu yang dimuat di dalamnya secara maksimal? Sangat menyedihkan mendengar bahwa ada anggota jemaat dari pemakai hymnal tsb di atas namun mulai meninggalkan hymnal tsb dengan alasan bahwa lagu-lagu dalam buku tsb sudah ketinggalan zaman, kuno, out of date.

Saya teringat ketika memimpin seminar tentang Puji2an Rohani di sebuah Gereja tertentu di Solo, ibu pendeta mengatakan perasaan hatinya yang sangat puas ketika mendengar saya mengangkat beberapa lagu baik dari PPK tsb di atas. Menurutnya, dalam kebaktian pemuda dan remaja di Gereja tsb, hymnal tsb sudah mulai ditinggalkan. Demikian juga, pernah terjadi, dalam satu jemaat yang menggunakan lagu KJ dan NKB, team musik yang tiap minggunya memilih lagu-lagu pujian mengingatkan saya agar tidak memilih lagu-lagu dari hymnal tsb. Jika hal itu dilakukan, maka jemaat akan protes dan selanjutnya mungkin tidak datang beribadah pada minggu berikutnya. Ketika itu saya dipercayakan oleh pendeta (gembala gereja tsb) yang sedang cuti selama satu bulan untuk mengatur semua tata ibadah di Gereja tsb. Karena itu, mendengar kalimat tsb di atas, saya tertantang untuk menunjukkan kepada jemaat bahwa pandangan di atas salah! Itulah sebabnya selama sebulan saya sengaja memilih lagu-lagu pujian dari KJ dan NKB tsb, di mana lagu tsb saya pimpin sendiri dari mimbar. Ketika lagu-lagu tsb dinyanyikan sebagaimana seharusnya, baik dari segi tempo, nada dan penghayatan syairnya, maka terlihatlah betapa indahnya sesungguhnya lagu-lagu dalam hymnal yang katanya kuno tsb. Bagaimana respon jemaat pada umumnya? Ternyata mereka sangat gembira akan hal itu. Beberapa di antara mereka mengakui semakin melihat keindahan lagu-lagu dalam hymnal tsb. Karena itu mengharapkan agar hal itu terus dipertahankan.

Kembali kepada lagu2 dalam kertas lepas tsb di atas, saya tidak mengatakan bahwa cara itu sama sekali tidak dibenarkan. Hal itu tetap dapat dilakukan sebagai tambahan atau lagu sisipan, yang mungkin diperlukan karena alasan tertentu. Namun demikian, jangan lagu2 seperti itu menggantikan peran penggunaan lagu2 dalam hymnal. Apakah itu berarti bahwa setiap lagu dalam hymnal pasti baik? Tidak juga. Karena hal itu tergantung dari kwalitas dari hymnal tsb. Biasanya hymnal yang baik memiliki ciri2 tertentu, salah satu ciri penting adalah keketatan dalam ajaran lagu tsb. Hymnal yang jelek tidak akan memperdulikan soal ajaran lagu. Karena itu, semua lagu pujian yang kedengarannya enak langsung dimuat dalam buku pujian tsb. Sebaliknya, ada satu hymnal, yaitu HUP- The Hymn of Universal Praise, yang tidak memuat lagu yang cukup terkenal yang berjudul Di Bukit Yang Jauh (The Old Rugged Cross). Mengapa? Karena menurut komisi theologia dari hymnal tsb, syair lagu tsb: “ I will cling to the old rugged cross” dapat menyesatkan pemahaman. Menurut mereka, jemaat tidak berpegang kepada salib, tapi kepada Kristus yang tersalib.

Kiranya contoh di atas menolong kita untuk semakin sungguh2 di dalam memilih hymnal. Setelah kita memutuskan menggunakan hymnal yang baik dalam jemaat, maka selanjutnya dituntut untuk mengenal, menguasai dan menghayati lagu-lagu dalam hymnal tsb. Gereja yang kelihatannya ketat dlm khotbah dan pembinaannya, tetapi membiarkan jemaatnya menyanyikan lagu yg tdk baik (misalnya ibadah dalam kelompok remaja, pemuda, dll), tdk akan banyak manfaatnya. Karena disadari atau tdk, lagu tsb telah mempengaruhi doktrin orang tsb. Mempengaruhinya jauh melampaui kesadarannya. Yang pada gilirannya menggeser dan menggantikan apa yang didengarnya di dalam khotbah dan pembinaan. Lebih celaka lagi, jika khotbah yang didengarpun tidak bermutu atau menyesatkan! Semoga hal itu tidak terjadi di Gereja kita masing-masing.

Selamat tahun baru dan nyanyikanlah nyanyian baru bagiNya, atau lagu lama dengan penghayatan yang baru.-