Thursday, 19 July 2018

Memperkenalkan Buku Pujian (6)

James Rawlings Sydnor menulis sebuah buku yang sangat menarik yang berkait dengan judul artikel tsb di atas. Buku tsb berjudul, “Introducing A New Hymnal”. Barangkali ada yang bertanya, “Untuk apa menulis buku seperti itu? Pentingkah?” Jawabannya, tentu penting. Mengapa? Karena sebagaimana kita lihat pada artikel yang lalu, masalah yang dihadapi oleh beberapa Gereja tertentu kadangkala bukanlah soal tidak memiliki Buku Pujian (Hymnal) yang baik. Tapi masalahnya adalah bahwa Buku Pujian tsb tidak cukup dikenal oleh anggota jemaat dari Gereja tsb. Akibatnya, anggota jemaat merasa asing dengan Buku Pujian tsb. Dalam hal ini berlaku ungkapan: “Tidak dikenal maka tidak sayang. Makin kenal, makin disayang”. Karena itulah, sangat diperlukan usaha-usaha untuk memasyarakatkan Buku Pujian tsb sehingga dikenal dan kemudian dicintai oleh anggota jemaat.

 

Sangat disayangkan, tidak banyak orang yang menyadari betapa pentingnya usaha untuk memasyarakatkan (mensosialisasikan) Buku Pujian tsb. Hal tsb dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor adalah karena tidak merasa perlu untuk meningkatkan kwalitas pujian jemaat. Barangkali untuk orang tertentu, cara bernyanyi yang bagaimanapun tidak ada bedanya baginya. Dengan perkataan lain, selera musiknya sangat rendah. Lalu, buat apa susah-susah untuk memasyarakatkan atau mensosialisasikan? Yang penting, jemaat toh sudah nyanyi. Titik. Faktor lainnya adalah karena merasa sudah cukup mengenal Buku Pujian tsb. “Buku Pujian itu sih sudah lama. Sudah puluhan tahun. Itu sudah dipakai sejak saya belum lahir...”, demikian sahut seseorang. Tapi benarkah demikian? Belum tentu. Karena apa? Sebenarnya, bisa saja Buku Pujian tsb sudah cukup lama digunakan di Gereja tsb, tapi bagi sebagian atau kebanyakan anggota jemaat, sesungguhnya Buku Pujian tsb masih baru atau asing. Karena itu, mereka tidak merasakan dan mengalami keindahan dan keagungan lagu-lagu dalam Buku Pujian tsb. Atau barangkali, ada beberapa lagu yang belum sepenuhnya dikenalnya.

Penulis memiliki pengalaman seperti itu. Sekalipun penulis termasuk ‘fanatik’ terhadap Buku Pujian yang kami gunakan, yang memang sejak kecil sudah merasakan dan menikmati Buku Pujian tsb, namun dalam kenyataannya, masih cukup banyak lagu pujian di dalamnya yang belum sungguh-sungguh saya kenal dengan baik. Saya ambil satu contoh saja. Dalam Buku Pujian HKBP ada sebuah lagu yang berjudul “Batang Aek UsehononKu” (Buku Ende no: 131). Semula, lagu yang bertema missi tsb, kurang berkesan bagi saya. Selain karena jarang dinyanyikan, juga memang nada dan syairnya yang termasuk ‘berat’. Namun dalam sebuah ibadah, saya sungguh menikmati keindahan dan keagungan lagu tsb ketika seorang bapak menyanyikannya dengan solo. Sejak itu, lagu yang terdiri dari 6 bait tsb menjadi salah satu lagu yang sangat menguatkan dan menghiburkan saya. Karena itu, dalam saat-saat tertentu, khususnya dalam masa bergumul sedemikian berat dalam pelayanan, syair-syair lagu tsb disertai dengan melodinya yang penuh pergumulan dan penyerahan, memberi kesan yang sangat dalam. Tidak jarang, penulis menyanyikan lagu tsb sambil meneteskan air mata. Sukar sekali melukiskan dengan kata-kata keindahan syair tiap bait lagu tsb, khususnya bait 5 dan 6. Harapan dan doa saya, kiranya semakin banyak anggota jemaat pemakai Buku Ende tsb mengalami berkat yang sama, sebagaimana saya sebutkan di atas. Contoh lainnya adalah ketika saya memilih lagu pujian dari Buku Pujian tertentu, seperti Buku Pujian yang digunakan oleh GMI (Gereja Methodist Indonesia), GKI, Grj Kalam Kudus, dll, beberapa di antara mereka secara spontan mengakui bahwa selama ini mereka belum melihat betapa bagusnya lagu-lagu pujian dalam Buku Pujian mereka. Jadi, dapat kita mengerti jika orang-orang seperti ini kurang menghargai Buku Pujian tsb. Tetapi, sikap mereka akan berubah ketika menyadari kekeliruan mereka selama ini.

Apa yang perlu dilakukan untuk memasyarakatkan Buku Pujian tsb? Ada banyak cara. Sydnor malah mengusulkan perlunya dibentuk panitia untuk usaha tsb. Menurut Sydnor, anggota panitia seharusnya melibatkan pendeta dan para anggota team musik serta anggota jemaat lainnya yang dianggap tepat. Team tsb akan menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi kwalitas pujian jemaat. Hal itu antara lain: team meneliti bagaimana penguasaan anggota jemaat terhadap musik, serta sejauh mana kesadaran mereka tentang pentingnya menyanyikan pujian yang baik. Apakah perlu diadakan training/pelatihan/seminar khusus? Jika ternyata jemaat umumnya telah menghayati betapa pentingnya mempersembahkan puji-pujian yang baik kepada Tuhan, maka langkah selanjutnya adalah meneliti sejauh mana jemaat mengenal lagu-lagu dalam Buku Pujian tsb. Untuk itu, lagu-lagu pujian dapat dikelompokkan kepada tiga golongan: lagu pujian yang biasa dinyanyikan (lagu lama), lagu pujian yang jarang dinyanyikan (lagu baru) serta lagu-lagu pujian yang belum pernah dinyanyikan (belum dikenal). Untuk lagu baru, lagu tsb perlu perlu diulang kembali –satu dua kali- agar jemaat semakin akrab. Untuk itu, pada kebaktian selanjutnya, lagu tsb disisipkan dalam pujian jemaat berikutnya bersamaan dengan lagu-lagu pujian yang sudah biasa dinyanyikan jemaat. Dengan demikian, jemaat tidak dibuat frustrasi karena menyanyikan banyak lagu baru dalam sebuah ibadah! Sedangkan untuk lagu yang belum dikenal, lagu tsb dapat diperkenalkan melalui bulletin Gereja dan diberitahukan kapan lagu tsb akan diajarkan dalam jemaat. Saya sarankan agar lagu tsb diajarkan sebelum ibadah dimulai, di mana pada umumnya ada jemaat sudah hadir. Dengan demikian, selain menciptakan suasana rohani sebelum ibadah, juga memanfaatkan waktu jemaat yang hadir lebih awal. Dari hasil penelitian tsb di atas, maka team dapat menyusun lagu-lagu pujian dalam sebuah ibadah minggu dengan baik. Artinya, lagu-lagu yang dipilih benar-benar sudah dikenal dan dikuasai oleh jemaat. Secara khusus perlu ditekankan di sini agar lagu pujian untuk pembukaan dan penutup ibadah, jangan dipilih lagu-lagu ‘aneh’ yang masih asing bagi jemaat. Sebab hal itu dapat menghilangkan ‘mood’ atau emosi jemaat ketika memulai ibadah dan mengakhirinya dengan akhir yg tidak baik; karena mereka diam atau bengong! Sebaliknya, jika team mampu memilih lagu pembukaan yang baik yang sudah dikenal dengan baik oleh jemaat, maka suasana ibadah dapat lebih hidup, di mana jemaat dengan sukacita mengikuti lagu pujian pembukaan tsb. Demikian juga, betapa indahnya suasana pujian penutup tsb, bukan saja karena lagu yang dipilih sesuai dengan tema khotbah minggu itu dan merupakan klimaks ibadah, tetapi juga karena lagu tsb telah akrab bagi seluruh (sebagian besar) jemaat.

Lalu bagaimana kesiapan team pemusik MC/Song Leader dan pengiring pujian (singers?) Jika mereka ini tidak mengenal atau belum menghayati dan menikmati lagu-lagu pujian tsb, tentu saja tidak banyak yang dapat diharapkan dari mereka. Karena fakta menunjukkan bahwa kwalitas pengiring musik serta pemimpin pujian sangat mempengaruhi keseluruhan proses pujian jemaat. Karena itu, perlu dilakukan persiapan sebelumnya –yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan- baik untuk Pemimpin Pujian/Singers serta pengiring pujian (pemain musik). Untuk itulah, team perlu memikirkan metode-metode yang akan digunakan serta waktu yang tepat dalam memperkenalkan Buku Pujian tsb. Ada kalimat yang mengatakan, “Katakanlah kebohongan itu seribu kali, maka hal itu akan dianggap sebagai kebenaran”. Jika kebohongan dapat dianggap sebagai kebenaran karena proses yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, apa yang terjadi dengan kebenaran? Jika kebenaran akan keindahan dan keagungan Buku Pujian tsb dimasyarakatkan dengan berbagai cara, dan secara terus menerus yang berkesinambungan, maka pastilah keindahan dan keagungan lagu-lagu dalam Buku Pujian tsb lebih dihayati sehingga membawa berkat yang sangat besar, yang melampaui kesadarannya. Semoga hal itu menjadi kenyataan.-