Tuesday, 20 November 2018

Pengisi Acara (7)

Martin Luther, tokoh reformasi abad 16 yang sangat berpengaruh tsb pernah memberikan kalimat yang sangat berkesan: “To know God is to worship God”, mengenal Allah berarti menyembah Allah. Lima abad kemudian, Pdt. Dr. John Chew, mantan rektor Trinity Theological College (TTC), yang sekarang menjadi bishop gereja Anglikan di Singapura pernah menegaskan hal yang sama. Pdt John Chew, yang ketika itu sebagai rektor TTC berperan besar dalam merencanakan kampus baru TTC di Upper Bukit Timah Rd.

Kampus yang tergolong megah itu memiliki perpustakaan dan chapel yang banyak dipuji oleh mereka yang pernah mengunjunginya. Namun demikian, posisi chapel yang berada persis di atas perpustakaan tiga lantai itu, seringkali membuat orang2 tertentu mengeluh. “Mengapa posisi chapel berada di puncak sehingga agak capek naik tangga setiap kali kita beribadah? Tidakkah lebih baik dan lebih praktis sekiranya posisi chapel ada di lantai dasar?” demikian pertanyaan yang muncul. Pada satu kali kesempatan, ketika John Chew memimpin ibadah di chapel tsb, beliau menjelaskan alasan mengapa posisi chapel berada di puncak bangunan. Beliau mengatakan sbb: “Ibadah merupakan ungkapan tertinggi yang disampaikan oleh umat tebusan kepada Allah. Karena itu, ribuan judul buku-buku theologia serta ratusan macam jurnal yang Sdr/i baca di bawah sana haruslah menuntun Sdr/i sekalian kepada penyembahan yang benar kepada Allah. Tanpa penyembahan yang benar kepada Allah, maka studi dan research Sdr/i akan merupakan teori semata yang tidak banyak gunanya. Atau, jika Anda mau membangun ibadah yang benar kepada Allah, maka pergilah ke bawah sana –sambil menunjuk ke arah bawah tempat perpustakaan- dan belajarlah baik2”.

Jika ibadah/penyembahan merupakan ungkapan tertinggi kita kepada Allah, Pencipta dan Penebus hidup kita, maka selayaknyalah kita merencanakan ibadah tiap Minggu dengan baik. Sehubungan dengan itu, beberapa hal telah kita bahas pada bagian sebelumnya, seperti pentingnya peranan pemimpin pujian, pemusik, buku pujian dll. Kini kita akan membahas soal pengisi acara. Ya, soal pengisi acara yang baik dalam ibadah tiap Minggu atau pada kesempatan lainnya. Bicara mengenai pengisi acara yang baik, seringkali yang segera terpikir adalah masalah dana. Karena itu, jika dana terbatas, maka ibadah pun akan berjalan sekedarnya saja, monoton: nyanyian jemaat, khotbah, lalu pulang. Sebagian orang telah terlanjur salah memahami apa yang dimaksud dengan pengisi acara yang baik. Hal itu seringkali dikaitkan dengan nama besar seperti mengundang artis terkenal, memiliki teknik vokal yang prima dan berpenampilan menarik. Jika demikian halnya, maka harus mengeluarkan dana yang besar untuk mengundang pengisi acara. “Siapakah artis terkenal atau penyanyi yang sudah punya nama yang mau dibayar murah? Kalaupun ada, sulit dicari”, demikian kata seseorang.

Sebenarnya, hal itulah yang seringkali menggelisahkan penulis. Jika seseorang bernyanyi karena dibayar mahal, apakah orang tsb masih dapat dipastikan mememiliki motivasi yang murni dan benar dalam menyembah Allah? Jika tidak, bagaimanakah nyanyiannya dapat menjadi berkat bagi jemaat yang mendengarnya? Pertanyaan lainnya adalah, jemaat seperti apakah yang tergila-gila karena nama besar? Terus terang, saya tidak anti kepada penyanyi atau artis yang punya nama. Tetapi menurut pengamatan penulis, setelah beberapa kali melayani bersama penyanyi yang sangat terkenal di Indonesia, nama besar atau artis terkenal tidak menjamin mutu yang baik. Beberapa kali mereka malah tampil dengan mengecewakan! Sebaliknya, pengisi acara yang baik belum tentu punya nama besar. Beberapa kali saya mengamati jemaat biasa yang bernyanyi dengan sangat baik. Karena itu, saya rindu sekiranya orang/kelompok vokal tsb lebih didorong untuk memuji Tuhan secara teratur di Gereja tsb. Soal dikenal atau tidak, itu hanya masalah waktu. Artis terkenal pun sebelumnya tidak dikenal. Jika orang atau kelompok vokal tsb di atas lebih sering dilibatkan dalam berbagai acara, akhirnya mereka juga akan semakin terkenal; mereka juga akan punya nama di masyarakat.

Barangkali ada yang bertanya: “Bagaimana kita menilai pengisi acara tsb telah memuji Tuhan dengan baik?” Jawaban penulis adalah, kita harus memperhatikan bahwa yang paling penting bukanlah soal teknik vokal yang canggih serta penampilan yang menarik, sekalipun itu diperlukan juga. Tetapi jika kita sungguh2 bicara mengenai pengisi acara yang baik dalam arti beribadah dan menyembah Tuhan, maka orang seperti itu harus benar-benar hidup dalam Tuhan dan berambisi memperkenankan hatiNya melalui seluruh proses menyanyi tsb. Sebagaimana John Wesley pernah menyarankan: “Pusatkan diri Anda kepada Allah dalam menyanyikan setiap kata. Milikilah motivasi untuk memuaskan hatiNya lebih dari pada diri sendiri atau ciptaan Allah lainnya” (Petunjuk untuk bernyanyi: The United Merhodist Hymnal. Lihat juga petunjuk lainnya, Mangapul Sagala. Pemimpin Pujian Yang Kreatif. Jakarta: Perkantas, 2002). Jadi, dalam hal memilih pengisi acara di dalam ibadah, tdk harus karena teknik vokal yg sangat canggih, tapi terutama adalah kekuatan rohani yang terpancar melalui diri pemuji atau paduan suara tsb. Sebagai contoh, seorang pengkhotbah besar Skotlandia yang sangat terkenal, bernama Tom Allan bertobat bukanlah karena mendengar khotbah yang mengglegar, tetapi karena dia mendengar pujian solis. Ketika itu, seorang gadis negro menyanyikan lagu yang berjudul: “Were you there when they crucified my Lord?”. Menurut kisah tsb, ketika gadis tsb menyanyikan lagu itu dengan segala ketulusan dan kesungguhan, Tom Allan merasakan kuasa rohani yang sangat dalam sehingga dia melihat dan merasakan kasih Allah yang sangat ajaib. Di sisi lain, dia menyadari betapa besar dosanya, betapa sombongnya dia di hadapan Allah yang membuat Yesus tersalib. Demikian juga, Alfred Simanjuntak, seorang komponis nasional, yang menciptakan lagu “Bangun Pemudi Pemuda Indonesia”, suatu kali terlihat mengusap air matanya karena terharu mendengarkan pujian yang dinyanyikan kelompok vokal remaja di Gerejanya. Kemudian, Simanjuntak memberi kesannya kepada kelompok vokal tsb: “Saya sungguh menikmati berkat besar dari pujian tsb. Melalui pujian mereka tsb saya sungguh disadarkan atas kasih Yesus yang sangat ajaib. Mereka bernyanyi begitu sungguh dan tulus...”

Jika sekiranya penghayatan pengisi acara itu dibuat wajar, di mana setiap anggota jemaat memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk meninggikan nama Tuhan melalui puji2an mereka, maka di satu sisi, gereja tidak harus mengeluarkan dana besar untuk mengundang pengisi acara dari luar (tidak berarti anti dan menolak. Pada peristiwa-peristiwa khusus, hal itu dapat juga dilakukan).

Di pihak lain, jemaat di mobilisasi untuk mengambil bagian. Dengan demikian, setiap anggota jemaat merasa memiliki program/kegiatan Gereja tsb. Anggota jemaat ditumbuhkan karena saling menguatkan.

Itu juga mempengaruhi dan mendorong kemajuan dan pertumbuhan keluarga2. Contoh, bulan keluarga, di mana persembahan2 keluarga diberikan.

Dll.