Thursday, 19 July 2018

Persiapan itu penting (8)

John Calvin, tokoh reformasi yang sangat terkenal itu pernah mengatakan satu kalimat yang sangat indah: "The ultimate disire of all the believers is to glorify God" (Kerinduan tertinggi dari semua orang percaya adalah memuliakan Allah). Hal senada sudah ditegaskan oleh tokoh reformasi lainnya, yaitu Martin Luther, sebagaimana telah disinggung pada artikel edisi yang lalu: to know God is to worship God. Jika demikian halnya, maka seharusnya dan sewajarnyalah kita melakukan persiapan yang baik di dalam setiap pelayanan yang kita lalukan kepadaNya, jika memang benar-benar kita melakukan pelayanan itu kepadaNya. Kita tidak akan melalukan pelayanan yang dipercayakan sekedarnya saja, atau asal tampil di depan jemaat. Persiapan yang baik seperti itulah yang memberikan mutu yang baik di dalam pelayanan kita, yang tentunya hal itu terutama memperkenankan hati Allah sendiri.

 

Penulis teringat satu kisah di dalam sebuah retret mahasiswa regional se Sumatera Utara yang diadakan beberapa tahun yang lalu di Wisma Methodist, Parapat, SUMUT. Setelah selesai acara retret tsb, maka sebelum semua peserta dan panitia pulang ke rumah mereka masing-masing, secara spontan saya memberikan pujian kepada panitia atas terlaksananya acara retret tersebut dengan baik. Secara khusus saya menyebut bagaimana pemimpin pujian (song leader) melaksanakan fungsinya dengan sangat baik. Mendengar pujian tsb, seorang panitia berkata: "Syukurlah bang, jika memang baik. Asal tahu saja, mereka semua persiapan dengan terus menerus latihan secara intensif tiga (3) bln sebelum acara ini. Mereka sangat ketakutan menjadi pemimpin pujian, khususnya karena mereka tahu bahwa abang menjadi salah seorang pembicara di retret itu". Penulis juga teringat kisah lainnya tentang seorang pemimpin pujian yang terjatuh dari tempat tidurnya sehari sebelum dia melakukan tugasnya. Sekalipun dia sudah mempersiapkan diri dengan baik dengan mengadakan latihan2, namun dia tetap stress menghadapi pelayanan hari esok, khususnya ketika dia tahu siapa pembicara pada ibadah tsb".

Sebenarnya, melakukan persiapan yang terbaik, bukanlah karena kita ketakutan kepada siapapun. Seharusnya motivasi kita melakukan persiapan dalam setiap pelayanan yang akan dilakukan adalah seperti ditegaskan oleh John Calvin tsb di atas, karena kita memiliki kerinduan tertinggi dan terutama untuk memuliakan Allah kita. Sebagaimana rasul Paulus juga pernah menegaskan: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia" (Kol.3:23) Sangat disayangkan, jika unsur penting tsb di atas hilang dari ibadah kita. Padahal, kita mengakui bahwa Allah adalah pusat dari ibadah kita, dan hanya Dia yang layak menerima segala kemuliaan. Jika demikian halnya, tidak heran jika kita melihat orang-orang tertentu tanpa persiapan yang baik dengan berani menampilkan kebodohan dan kecerobohannya (maaf) dalam pelayanan, yang akibatnya merusak suasana ibadah. Terus terang hal seperti itu sungguh merupakan salah satu kesedihan penulis, di mana jemaat tidak dapat memuji Tuhan dengan baik, karena nada musik yang diambil terlalu tinggi atau terlalu rendah. Juga tidak jarang menyaksikan puji-pujian yang sebenarnya sangat baik, tapi dinyanyikan oleh paduan suara atau vocal group dengan false, yang akibatnya adalah mengundang tawa dari beberapa anggota jemaat. Pernah juga penulis menyaksikan jemaat gelisah di tempat karena pemimpin pujian yang ngalor ngidul di depan jemaat dan memberi kesan yang negatif.

Alangkah indahnya sebuah ibadah jika semua pelayan yang terlibat melakukan tugasnya dengan terlebih dahulu melakukan persiapan yang baik. Jadi, bukan hanya pengkhotbah yang harus mempersiapkan diri, tetapi semua pelayan, pengisi acara termasuk jemaat yang hadir. Semuanya perlu mempersiapkan diri secara rohani, dengan memerika diri di hadapan Allah agar niat hati benar-benar melakukan semua itu untuk Tuhan, bukan untuk diri sendiri. Agar segala dosa yang disadari, diakui dan disesali terlebih dahulu. Dengan demikian, dosa tidak mengurangi dan menghilangkan kepekaan kita di hadapanNya sehingga tidak dapat menampilkan diri dengan cara yang terbaik. Setelah itu, setiap pelayan perlu melakukan latihan-latihan yang baik. Sebagai contoh, pemain musik melatih lagu-lagu yang akan dinyanyikan sehingga pengiringan menjadi prima. Pemimpin pujian atau pengisi acara juga perlu membaca serta menghayati setiap syair lagu-lagu yang akan dinyanyikan, melatih diri sehingga benar-benar menguasai lagu puji-pujian yang akan dinyanyikan. Dengan demikian, lagu pujian yang akan dinyanyikan bukan sekedar keluar dari mulut, atau sekedar menampilkan teknik vokal yang baik, namun tanpa penghayatan. Ini kisah nyata. Dalam salah satu ibadah yang penulis ikuti, jemaat memberi reaksi yang negatif kepada seorang penyanyi, bukanlah karena dia tidak mampu, tetapi karena di dalam kehebatannya, rupanya sedang memamerkan kemampuannya tsb. Menyedihkan memang. Selain itu, pemimpin pujian dan pengisi acara perlu latihan bersama pemain musik. Mereka perlu mencari nada dan tempo yang tepat sehingga pujian jemaat tidak terlalu tinggi atau rendah, juga tidak terlalu cepat atau lambat, tetapi menyanyikannya dengan tepat sebagaimana seharusnya. Juga perlu disepakati intro, gaya pengiringan, serta volume suara yang dihasilkan dalam tiap bagian nyanyian. Banyak hal praktis lainnya yang perlu dilakukan demi memaksimalkan penyembahan kita kepada Allah (lebih jelasnya dapat dilihat dalam buku: Pemimpin Pujian Yang Kreatif, terbitan Perkantas Jakarta).

Sebenarnya, hal-hal di atas perlu dan harus kita lakukan, bukan saja sekedar demi sebuah ibadah yang indah. Akan tetapi seperti kutipan di atas, demi memuliakan dan memuaskan hati Allah, pusat dari ibadah itu sendiri. Jika itu benar-benar terjadi, maka hal itu akan membuat jemaat yang hadir berbahagia dan bersukacita, di mana Allah secara nyata hadir memberkati setiap umatNya. Dengan demikian, jemaat akan pulang dengan puas, dihiburkan dan dikuatkan untuk menjalani hari-hari esoknya yang penuh tantangan.

Semoga.