Wednesday, 17 January 2018

Benarkah Kita Menyembah Allah? (9)

Saya memohon maaf jika judul tersebut di atas menyinggung perasaan Anda sekalian. Tetapi dengan jujur saya mengaku bahwa judul di atas kadang-kadang muncul di dalam pikiran ketika sedang mengikuti acara puji-pujian di Gereja atau persekutuan-persekutuan tertentu.

Alkitab memang mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap isi dan cara kita menyembah Allah. Dalam kenyataannya, Alkitab menunjukkan bahwa orang-orang yang kelihatan beribadah, memuji dan menyembah Allah itu, belum tentu mereka menyembah Allah dalam arti yang sesungguhnya. Hal itulah yang pernah diserukan oleh nabi besar, Yesaya pada awal dan akhir kitabnya.

Nabi Yesaya menyerukan: “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?” (Yes.1:11-12) Kita tahu bahwa persembahan sebenarnya ditetapkan Allah sendiri. Namun demikian, persembahan yang sedemikian penting itu, sekarang diprotes oleh Allah. Allah mengatakan jemu dengan persembahan-persembahan yang dibawa oleh umatNya. Karena itu, selanjutnya nabi Yesaya menulis: “Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan”. (1:13) Bagi saya, ayat tersebut di atas sungguh sangat keras. Allah menolak dengan tegas persembahan umatNya. Sungguh sangat mengejutkan membaca pernyataan nabi Yesaya tsb. Bagaimana mungkin persembahan yang seharusnya adalah korban yang “harum”, “kudus” dan “berkenan” kepadaNya sekarang berubah menjadi korban yang “menjijikkan”? Namun itulah yang terjadi. Protes terhadap ibadah yang tidak benar tsb diulangi lagi menjelang akhir kitab Yesaya (baca Yes. 58).

Mengapa saya mempertanyakan soal apakah kita benar menyembah Allah? Ada beberapa indikasi yang membuat saya tergoda untuk bertanya demikian. Pertama, ketika memperhatikan secara saksama gerak gerak mereka yang mengaku memuji dan dan menyembah Allah. Terus terang, saya pribadi sering sekali tidak setuju dengan expressi atau ungkapan tubuh dengan gerak gerak yang diperagakan oleh beberapa singers (pemuji dan pemimpin pujian) di depan jemaat (di panggung). Gerakan melompat-lompat ke kiri dan ke kanan serta menggerak-gerakkan tangannya ke berbagai arah membuat saya bertanya apakah memang orang-orang tersebut sedang ‘bertemu’ dengan Allah yang sejati. Jika ya, kadang saya bertanya dalam hati: “Allah seperti apakah yang dihayati oleh mereka ini?” Ada yang mengatakan bahwa itu adalah bukti kedekatan dengan Allah. Namun, benarkah demikian? Masalahnya adalah ketika kita membaca umat Allah di Perjanjian Lama atau bahkan nabi-nabi yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah, mereka tidak melakukan hal yang sama. Sebaliknya, Alkitab mencatat bahwa mereka bersujud, bukan melompat-lompat ketika sedang melihat Allah turun di atas awan2. Itulah sebabnya, ketika mereka melihat Allah dari tempat yang masih jauh, mereka memberi sikap hormat dengan bersujud. Dalam kitab keluaran kita membaca: “Berfirmanlah Ia kepada Musa: "Naiklah menghadap TUHAN, engkau dan Harun, Nadab dan Abihu dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel dan sujudlah kamu menyembah dari jauh. (Kel.24:1) Selanjutnya, ketika Musa, nabi yang sangat dekat dengan Allah itu melihat Allah turun dalam awan Kel.34:5), Alkitab mencatat sikap yang dilakukannya: “Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah”. Sikap sujud seperti itu biasanya selain berlutut ke tanah kepala juga menunduk sampai menyentuh tanah. Lalu, apa yang terjadi dengan hal-hal yang belakangan ini diperagakan di berbagai kebaktian tertentu? Semoga tidak sedang terjadi penyesatan –disadari atau tidak- dalam mengungkapkan penyembahan kita kepada Allah yang sejati.

Kedua, pertanyaan seperti di atas juga muncul ketika saya menyimak syair syair pujian yang dikumandangkan dalam nyanyian pujian tsb. Ketika saya memperhatikan syair-syair lagu pujian yang dipersembahkan di beberapa Gereja tertentu, secara jujur saya mengatakan ada suasana yg bersifat egosentris atau berpusat kepada diri sendiri. Padahal, jikalau kita sedang menyembah Allah, seharusnya pusatnya bukan diri sendiri, tetapi Allah. Itulah yang kita lihat di dalam doa yang sangat indah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus: “Bapa kami... dikuduskanlan namaMU, datanglah kerajaanMU, jadilah kehendakMU...” Di pihak lain, syair-syair lagu yang kita dengar adalah sbb: “Aku diberkati sepanjang hari hidupku diberkati ..”, “ Di hadiratMu AKU puas... di hadiratMu AKU bebas ... AKU... AKU...”. Saya berharap tidak terjadi salah pengertian di sini. Sejujurnya, sy tidak sedang anti berkat Tuhan. Tapi masalahnya adalah, ketika kita mengatakan bahwa kita sedang memuji dan menyembah Tuhan, kita perlu merenungkan dan menjawab dengan tegas pertanyaan yang sangat penting dan mendesak berikut: apakah dengan menyanyikan lagu-lagu dengan syair seperti itu kita sedang memuaskan hati Allah atau diri kita sendiri. Jangan-jangan ketika kita mengaku sedang menyembah Allah, tanpa sadar kita sedang menyembah diri kita sendiri; ketika kita ‘bermaksud’ memuaskan hati Allah, kita sebenarnya sedang memuaskan hati sendiri yang memang seringkali hampa dan kosong ketika datang beribadah. Indikasi lain, untuk apa harus mengulang-ulang lagu yang sama sampai berkali-kali (kadangkala saya hitung pernah lebih dari 10 kali!) jika yang mau kita puaskan melalui pujian tsb adalah Allah? Apakah Allah semakin merasa disembah (dan makin dipuaskan) sebanding dengan pengulangan lagu yang dilakukan? Lain halnya jika kita memang ingin memuaskan hati yang kosong tsb. Barangkali, disadari atau tidak, kita perlu mengulangi menyanyikan lagu yang sama sampai ‘TERASA” jiwa dan hati kita puas!

Ketiga, pertanyaan seperti di atas juga muncul ketika adanya atraksi-atraksi yang diperagakan serta dipertontonkan di depan jemaat seiring dengan puji-pujian berlangsung. Atraksi yang dipertontonkan oleh para penari dengan kostum/jubah seringkali sedemikian menonjol, akibatnya perhatian jemaat disadari atau tidak- tertuju kepada penari dan atraksi-atraksi yang diperagakannya. Hal seperti itu SEHARUSNYA tidak boleh terjadi! Mengapa? Karena jikalau kita ingin menciptakan suasana ibadah dan penyembahan yang sejati (yang sebenarnya mengadung mysteri itu, di mana kehadiran Allah memang merupakan mysteri yang tidak dapat dirasionalisasikan), maka segala tindakan, gerakan, ucapan yang menyerongkan pikiran serta perenungan jemaat kepada Allah harus segera disingkirkan. Sebaliknya, kita harus berjuang untuk memilih kalimat (yg memotivasi, seperti dengan membaca Mazmur pujian), lagu pujian serta gerakan agar jemaat semakin berkonsenterasi kepada Allah didalam proses penyembahan tsb.

Akhirnya, saya juga mepertanyakan soal kesungguhan penyembahan ketika saya mengamati apa yang terjadi setelah ibadah selesai. Tuhan Yesus pernah menegaskan satu kebenaran penting, yaitu: pohon dikenal dari buahnya. Dengan perkataan lain, kondisi anggota jemaat yang diungkapkan setelah ibadah merupakan buah dari kerohanian orang tersebut. Ini berarti jika apa yang diungkapkan dalam penyembahan selama ibadah adalah penyembahan yang benar kepada Allah, maka tentu terjadi perjumpaan rohani antara jemaat dengan Allah. Sebagai akibat atau buah dari perjumpaan tersebut, tentu kita mengharapkan suasana yang hangat dan akrab di antara sesama anggota jemaat, di mana sesama anggota jemaat akan saling menyapa di dalam segala ketulusan. Hal yang sama juga akan tercermin setelah anggota jemaat kembali ke rumah masing-masing, di mana suasana rohani akan terpancar ke luar yang mengakibatkan kehangatan dan penuh damai sejahtera. Tetapi dalam kenyataannya, benarkah demikian? Terus terang, saya sulit sekali menjawab dengan benar, walau memang saya sangat berharap demikian.

Kiranya di dalam anugerahNya yang ajaib, Allah yang adalah pusat dari penyembahan kita tsb, terus menerus menolong kita untuk meluruskan dan meningkatkan penyembahan kita kepadaNya. Dengan demikian, genaplah apa yang pernah ditegaskan oleh reformator besar, Martin Luther: To know God is to worship God.-