Wednesday, 17 January 2018

(Pdt. Mangapul Sagala)

Judul artikel di atas mengandung dua hal penting tentang alumni: sehat dan melayani. Mengapa alumni harus sehat secara jasmani, terutama secara rohani? Jawabannya tentu sangat sederhana. Karena dengan kondisi sehat, alumni akan dapat lebih menikmati hidup serta berkarya bagi Tuhan. Sebab tanpa kesehatan yang prima, karya apa yang dapat dihasilkan? Tetapi untuk hal yang kedua, mengapa alumni harus melayani? Barangkali tidak mudah untuk menjawabnya. Karena tidak adanya keseragaman terhadap pertanyaan tersebut, maka sebagian alumni akan merasa ‘aman’ untuk menikmati kekristenannya tanpa terlibat sedikitpun dalam pelayanan kongkrit, baik di kantor, di Gereja atau di mana saja. Perasaan aman tersebut di atas akan semakin aman pula dengan pernyataan jitu, “Pekerjaan kantor yang sudah begitu membuat kita jungkir balik, itu pun pelayanan juga. Buat apa masih repot-repot urus ini dan itu...” Tentu pernyataan di atas ada benarnya. Namun demikian, itu tidak berarti bahwa alumni bisa diam saja dan merasa aman tanpa terlibat dalam bentuk apa pun dalam pelayanan pemberitaan Injil Kerajaan Allah. Sebab sesungguhnya, setiap alumni yang mencintai Tuhan tidak akan mencari alasan pembenaran untuk tidak melayani. Tetapi sebaliknya, dia akan mencari segala cara dan usaha agar dapat semakin giat melayani Tuhan.

Mengapa? Di dalam Injil Lukas kita membaca satu pernyataan penting dari Tuhan Yesus: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut” (Lk.12:48b).

Ayat kutipan dari pernyataan Tuhan Yesus di atas saya kira cukup tegas dan jelas. Itulah sebabnya, jika saja rekan-rekan alumni mau sejenak merenungkan ayat tersebut, pastilah mereka akan gelisah, merasa tidak sejahtera, jika tidak terlibat dalam pelayanan, dalam bentuk apapun. Hal ini tentu berlaku bagi alumni yang telah memiliki dan dimiliki Roh Kudus. Maksud saya dengan “memiliki Roh Kudus” adalah bahwa Roh Kudus itu benar-benar diam di dalam hati dan hidupnya. Hal itu terjadi ketika dia secara sadar membuka diri dan mengundang Roh Kudus dalam hati dan hidupnya. Tetapi bukan hanya memiliki Roh Kudus, dia harus menyerahkan hidupnya untuk dimiliki Roh Kudus. Dengan demikian, pikiran, emosi dan kemauannya berada dalam kendali Roh Kudus. Dengan demikian pula, dia memiliki hati nurani yang peka terhadap teguran Roh Kudus (Bandingkan hal ini dengan penegasan Alkitab bahwa Roh Kuduslah yang mampu menginsyafkan manusia dari segala dosa dan pelanggarannya). Sedangkan bagi mereka yang sudah terlibat dalam pelayanan, akan semakin giat melakukannya. Mereka bukan sekedar terlibat melayani, akan tetapi melayani dengan kenikmatan dan sukacita tersendiri. Dengan demikian, benarlah syair sebuah lagu yang berbunyi:

Tiada lebih indah, kumelayani Yesus.

Walaupun sukar dan berat jalannya.

Takkan aku mundur sebelum berakhir hidupku

Karena aku tahu apa arti hidupku.

Ref:

Kumelayani Yesus, itu terlebih dari semua...

Kumelayani Yesus, itu terlebih indah.

Siapakah alumni tersebut? Bukankah alumni termasuk orang yang kepadanya banyak “diberi” dan “dipercayakan”? Dari segi tingkat pendidikan, berapa persen masyarakat Indonesia yang dapat mencapai tingkat pendidikan setinggi itu? Saya setuju ketika dalam masa orientasi mahasiswa tempo doeloe (thn 1975), seorang senior pada saat kebaktian mengatakan bahwa menjadi mahasiswa, diterima di perguruan tinggi tersebut adalah sungguh merupakan anugerah Allah yang sangat besar. Saya membandingkan persentasi yang sangat kecil yang diterima sebagai mahasiswa jurusan Metalurgi ketika itu. Dari 1280 orang yang mendaftar, dengan memilih jurusan Metalurgi sebagai pilihan pertama hanya 28 orang saja yang diterima. Benar. Saya termasuk dari sejumlah mahasiwa yang dianugerahi Allah tersebut.

Selain hal di atas, dari segi pembinaan di PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen), alumni yang terlibat secara aktif dalam pembinaan, juga sangat bersyukur. Karena kita dapat menikmati pengajaran2 seperti: visi, misi, motivasi, pentingnya komitment dalam hidup dlsb. Dengan demikian, maka kepada kita yang telah diberi dan dipercayakan sedemikian banyak, SANGAT WAJAR diminta dan dituntut untuk melakukan sesuatu pelayanan kongkrit, apakah di persekutuan alumni, di PMK atau di Gereja masing-masing. Karena itu, saya ingin memberanikan diri mengatakan bahwa hanya mereka yang tidak mengenal anugerah Tuhanlah –yang merasa segala sesuatu dicapai karena kemampuannya sendiri- yang mengabaikan pelayanan. Kesibukan di kantor atau dalam business –sesibuk apapun- tidak akan membuat seorang alumni terhalang melayani Tuhan. Saya bersyukur memiliki banyak contoh, di mana mereka yang sangat sibuk, namun dengan sukacita, tetap ‘mencuri’ waktu untuk melayani Tuhan.

Hal lain yang penting saya lihat yang menjadi alasan mengapa alumni penting terlibat dalam pelayanan adalah untuk memelihara kerohaniannya: supaya hatinya tetap murni dan tertuju kepada Tuhan. Saya sungguh ingin menekankan hal ini, karena memang saya mengamati bahwa mereka yang melayani sungguh2, terlihat memiliki hati yang terus terpelihara: tulus dan mencintai Tuhan. Maka saya terkesan ketika seorang alumni senior dan memiliki posisi tinggi dalam sebuah perusahaan swasta bersaksi, “Saya melayani, dan akan tetap melayani bagaimanapun sibuknya saya. Ketika saya melayani, sesungguhnya saya sedang dilayani Tuhan. Karena saya takut, jika saya menjauh dari pelayanan, pada saat yang sama saya juga akan menjauh dari Tuhan. Maka hati dan ambisi saya tidak lagi dipenuhi Tuhan, tapi akan digantikan oleh segala daya tarik dunia ini”. Pernyataan tulus tersebut benar. Hal itulah yang kita amati di sekitar kita. Dengan hati yang sangat sedih saya mengamati bahwa alumni-alumni yang tidak terlibat dalam pelayanan dalam bentuk apapun, mereka menjadi tawar, ambisi mereka menjadi lain. Kadangkala, saya ingin berteriak dalam hati ketika menyaksikan alumni yang sangat berambisi untuk membicarakan hal-hal duniawi tetapi tidak bergairah untuk hal-hal rohani dan sorgawi. Kadangkala saya bertanya kepada diri sendiri, buat apa saya dan rekan-rekan staf mahasiwa menyerahkan diri dalam pelayanan mahasiwa, rela membayar harga, jika mereka ahkirnya tidak beda dengan alumni lainnya, yang bahkan mungkin tidak pernah menginjak Gereja?

Bicara soal kerohanian yang tawar karena berbagai godaan, termasuk daya tarik harta, takhta dan wanita/pria, sebenarnya hal itu sudah diantisipasi oleh Tuhan Yesus. Itulah sebabnya dalam perikop tersebut di atas, yang diberi judul “Kewaspadaan”, Tuhan Yesus menegaskan, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (Luk.12:35). Setelah perintah ini, selanjutnya Tuhan Yesus memberi perumpamaan hamba yang berjaga- jaga. Sungguh sangat disayangkan, jika kita melihat alumni yang dulu aktif, bahkan mungkin terlibat dalam kepengurusan PMK, namun kemudian ‘pelitanya’ padam dan ‘ikat pinggangnya’ kedodoran. Sedih sekali mendengar bahwa seorang mantan ketua salah satu PMK melakukan penggelapan uang di kantor, dan karena itu dia harus menjadi buron. Sedih sekali mendengar bahwa alumni yang dulunya aktif di PMK terlibat dalam praktek-praktek business yang kotor, sama seperti mereka yang tidak pernah “diberi dan dipercayakan apa-apa”.

Kiranya perenungan dari Firman Tuhan tersebut di atas kembali mengobarkan ‘api’ pelayanan kita. Karena itu, sebagai alumni, kita dengan sukacita ‘mencuri’ waktu untuk melayani di kantor, juga melayani adik2 kita di PMK –atau di Gereja- yang memang sangat membutuhkan keteladanan kita. Kiranya perenungan tersebut juga membuat kita semakin merasakan kebutuhan kita kepada persekutuan alumni, di mana melaluinya kita dapat saling menguatkan, disehatkan untuk melayani. Maka genaplah apa yang diserukan firman Tuhan dalam diri kita masing-masing, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Ro.12:11).

(22/4/02. Mangapul Sagala, Trinity Theological College).