Thursday, 19 July 2018

Pdt. Mangapul Sagala

"Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengarkan engkau" (1Tim.4: 16).

Pengantar
Tema tersebut di atas telah ditetapkan oleh Perkantas untuk menjadi tema hari ulang tahun ke-30 ini. Seingat saya, sebenarnya, selain dari tema tersebut di atas, ada dua tema lain yang diusulkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada bulan November 2000 lalu. Namun, setelah melalui pergumulan dan diskusi yang hangat ketika itu, akhirnya tema tersebut di atas disepakati untuk menjadi tema perayaan HUT ke-30 ini. Apa yang melatarbelakangi pemilihan tema tersebut? Hal apakah yang dapat kita pelajari dari tema tersebut, sehingga dia layak dijadikan tema pada perayaan khusus ini? Hal itulah yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Penggalian
Sebenarnya, ada beberapa hal penting yang menarik untuk dipelajari dari tema tersebut di atas. Pertama, perintah ini diberikan oleh rasul Paulus kepada anak rohaninya Timotius pada abad pertama. Ini berarti bahwa usia perintah ini sudah sangat lama, 20 abad. Karena itu, mungkin ada yang berkata bahwa karena ini diperintahkan pada abad pertama, maka tidak lagi relevan dengan pergumulan gereja masa kini. Namun hal itu tidak benar. Karena pada kenyataannya, seruan tersebut di atas merupakan seruan Alkitab sepanjang sejarah gereja, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Sebagai contoh kita dapat membaca peringatan nabi Musa terhadap penyembahan berhala dan ibadah yang sesat (Ulangan 12: 29-13: 18). Dalam bagian ini Musa memperingatkan adanya pengajar dan nabi-nabi yang menyesatkan. Karena itu, nabi Musa memerintahkan: "Maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu... Tuhan, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintahNya..." (Ul.13: 3-4). Kita juga mempelajari bahwa Nabi besar Yesaya dan Yeremia juga berjuang melawan ajaran sesat. Kita dapat membaca seruan Allah melalui nabi Yesaya untuk menentang pemimpin-pemimpin yang fasik (Yes. 56:9 - 57: 5). Sangat menyedihkan melihat kenyataan tentang keadaan pemimpin-pemimpin tersebut. Allah bersabda: "Sebab pengawal-pengawal umatKu adalah orang-orang buta, mereka semua tidak tahu apa-apa, mereka semua adalah anjing-anjing bisu, tidak tahu menyalak... anjing-anjing pelahap yang tidak tahu kenyang...masing-masing mengejar laba, tiada yang terkecuali" (Yes.56: 10-11). Demikian juga, kita dapat membaca dalam kitab Yeremia tentang perilaku nabi-nabi yang menjijikkan (23: 9-40). Allah bersabda: "Sungguh, baik nabi maupun imam berlaku fasik; di rumahKupun Aku mendapati kejahatan mereka...Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorang pun yang bertobat dari kejahatannya; semuanya mereka telah menjadi seperti Sodom bagiKu dan penduduknya seperti Gomora" (Yer.23: 11, 14).

Selanjutnya, seruan yang sama untuk waspada dan menentang segala penyesatan juga kita lihat dalam khotbah-khotbah Tuhan Yesus, serta tulisan para rasul. Menarik sekali memperhatikan bahwa seruan untuk waspada terhadap pengajar dan nabi-nabi palsu sering sekali muncul dalam khotbah Tuhan Yesus, mulai di awal pelayananNya hingga di akhir pelayanan-Nya. Sebagai contoh, kita membaca hal tersebut dalam khotbah-Nya tentang akhir zaman. Tuhan Yesus malah menegaskan bahwa salah satu tanda sebelum kedatangan-Nya yang kedua adalah adanya roh-roh penyesat. Itulah sebabnya ketika murid-murid menanyakan tanda kedatangan-Nya kelak, Dia memberi peringatan: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! (Mark.13:5). Peringatan tersebut begitu serius, sehingga Tuhan Yesus perlu mengulanginya berkali-kali -dengan menggunakan kata yang sama blepete- di ayat 9, 23 dan 33. Demikian juga, rasul Petrus menulis: "Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka sendiri" (2 Pet.2: 1).

Kedua, dari perintah ini kita melihat pentingnya kesatuan antara kehidupan pelayan dan pengajaran. Di sini rasul Paulus menegaskan bahwa kehidupan tidak boleh dipisahkan dari pengajaran. Perhatikan kata "dirimu sendiri" (Yunani: heauton) yang berarti penegasan. Rasul Paulus menegaskan bahwa Timotius perlu sekali memperhatikan dirinya sendiri, bukan hanya memperhatikan diri orang lain, atau jemaat pada umumnya. Barangkali ada yang bertanya: "Apakah mungkin seseorang memiliki ajaran yang benar, tetapi tidak memiliki perilaku yang benar"? Jawabnya, mungkin. Memang, seharusnya apa yang diketahui dalam ajaran (doktrin) akan diwujudkan dalam perilaku. Namun pada kenyataannya, tidak selamanya demikian. Itulah dosa (Yunani: hamartia) yang berarti menyimpang dari sasaran. Karena itu, masalah dosa seringkali bukan masalah ketidaktahuan, melainkan ketidakmampuan. Hal ini yang disebutkan dengan manusia berada dalam perbudakan dosa: tahu yang baik tetapi tidak mampu melakukannya. Tahu yang jahat, tetapi tidak mampu menjauhkannya. Hal inilah yang dikritik oleh Allah secara keras baik dalam Perjanjian Lama, sebagaimana telah kita lihat di atas tadi. Hal ini juga yang dikritik oleh Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru, di mana orang-orang Yahudi, Farisi, dan ahli Taurat mengetahui banyak kebenaran, akan tetapi tidak melakukannya. Pertanyaan lain yang dapat muncul adalah, apakah mungkin seseorang memiliki kehidupan yang benar tapi tidak memiliki pengajaran yang benar? Jawabnya juga mungkin. Hal ini yang sering saya sebut dengan sesat dalam ketulusannya. Hal ini yang banyak dikritik oleh rasul Paulus dalam surat-suratnya. Itulah sebabnya dalam suratnya kepada jemaat Galatia, rasul Paulus berkata: "Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?" (Gal. 3: 1).

Ketiga, perintah ini diberikan oleh rasul Paulus menjelang akhir hidupnya, di mana surat 1 dan 2 Timotius ditulis pada saat mendekati kematiannya. Hal ini jelas ditulis pada 2 Tim.4: 6: "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan, dan saat kematianku sudah dekat". Dengan demikian, kita menyadari bahwa isi perintah ini sangat penting. Karena biasanya orang menyampaikan hal-hal yang sangat penting --atau terpenting-- pada akhir hidupnya. Selanjutnya, bila kita membaca surat Galatia, yang merupakan surat pertama yang ditulis oleh rasul Paulus (ditulis kira-kira tahun 49), maka hal ajaran ini juga yang menjadi sorotan utama rasul Paulus. Sebagaimana dapat kita baca berikut ini: "Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu Injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus" (Gal.1: 6-7). Bila kita memeriksa tulisan-tulisan Paulus lainnya kita dapat melihat bahwa peringatan terhadap ajaran sesat mendapat sorotan utama. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa di awal, di akhir serta sepanjang pelayanan rasul Paulus, dia terus berjuang untuk melawan kesesatan. Dia juga terus memperingatkan tim pelayanannya, termasuk Timotius untuk "memelihara harta yang indah" (2Tim.1: 14). Kata pelihara (Yunan: phulakson) adalah menjaga atau mengawasi. Tindakan ini menggambarkan pengawal penjara mengawasi para narapidana agar tidak melakukan pengrusakan atau melarikan diri.

Demikian juga, Timotius harus mengawasi dan menjaga kebenaran agar tidak dirusakkan atau dirampas oleh pengajar-pengajar sesat. Dan dalam ayat tersebut di atas, kata yang digunakan adalah kata "epekhe" (present, aktif, imperatif). Ini berarti rasul Paulus memerintahkan untuk terus-menerus mengawasi atau memperhatikan hidup dan doktrinnya. Tidak cukup hanya satu minggu, satu bulan, atau satu tahun dia mengawasi kualitas hidup dan ajarannya, tetapi terus menerus. Seumur hidupnya. Hal itu semakin jelas dengan perintah berikutnya: "bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian, engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau" (1 Tim. 4:16).

Penerapan
Setelah mencoba menggali ayat penting tersebut di atas, maka marilah kita mencoba mencari penerapan penting dalam hidup dan pelayanan kita. Dengan demikian, tema HUT ke-30 yang kita persiapkan secara khusus tidak sekedar slogan kosong, tanpa makna.

Pertama, sebagai mana telah diserukan rasul Paulus kepada Timotius dan kepada jemaat lainnya, marilah dengan sungguh-sungguh menyadari betapa bahayanya penyesatan itu, baik penyesatan dalam perilaku, maupun penyesatan dalam pengajaran.

Dengan demikian, kita senantiasa menghayati dan semakin menghayati seruan tersebut dalam kehidupan kita.

Kedua, dengan adanya penghayatan tersebut di atas, marilah kita memeriksa diri kita di bawah pertolongan Roh Kudus. Kiranya Roh dan firmanNya menolong kita untuk memeriksa kualitas diri dan kerohanian kita. Setelah sekian lama kita mengaku Kristen dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita, sejauh mana kelakuan kita makin serupa dengan-Nya. Bukankah hal menjadi serupa dengan Dia, merupakan ambisi suci dari setiap anak-anak tebusan-Nya? Hal itu jugalah yang menjadi ambisi rasul Paulus ketika dia mengatakan: "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia…" (Fil.3: 10). Jika demikian, sejauh mana visi, ambisi, hidup kita semakin sesuai dengan firman-Nya? Sebagai anak-anak Tuhan, apakah saat ini yang sedang memenuhi pikiran dan hati kita? Materi? Kekuasaan? Popularitas hidup? Atau kenikmatan hidup? Bagaimanakah kita mengelola keluarga, studi, karier kita? Apakah semua itu dikerjakan untuk memuaskan hati-Nya, atau sekedar memuaskan ambisi daging kita? Sebagai hamba-hamba Tuhan, sejauh mana hati nurani semakin dimurnikan oleh-Nya? Apakah kita memiliki motivasi yang benar dalam melayani?

Barangkali kita sedih dengan melihat kenyataan di sekitar kita bahwa ada pelayan-pelayan yang mengerjakan pelayanannya bukan dengan hati seorang pelayan, yang mengerjakan pelayanannya dengan motivasi-motivasi yang salah seperti mau mencari uang, kedudukan dan popularitas. Kita tentu sangat sedih ketika mendengar adanya pelayan-pelayan yang menentukan pelayanan berdasarkan kelengkapan fasilitas. Kita juga tentu sangat sedih bila ada pengkhotbah dan pelayan yang berani menentukan honor terendahnya setiap kali diundang untuk berkhotbah. Bila hal itu dapat terjadi kepada mereka, tentu dapat juga terjadi kepada kita. Dengan demikian, seruan rasul Paulus di atas menjadi sangat relevan untuk direnungkan. Bila ternyata sikap hati, pikiran, motivasi dan ambisi kita dalam pelayanan tidak lagi semakin terfokus kepada kebenaran firmanNya, biarlah kita dengan rendah hati terbuka memohon pertolongan Roh Tuhan untuk mengubah kita dengan segera. Dengan demikian, 'benih' kesalahan itu tidak sempat dibiarkan semakin bertumbuh dan susah untuk dipotong. Firman Tuhan selalu mengingatkan kita agar bertindak tegas terhadap dosa. Hal itulah yang harus kita lakukan.

Kita juga harus memeriksa pengajaran kita. Karena itu, sebagai jemaat kita harus waspada terhadap segala pengajaran yang menyesatkan. Hal ini telah panjang lebar dibahas dalam majalah DIA Edisi 1/2001 ketika membahas tema Bidat. Sebagai contoh di sana kita menyebutkan adanya pendeta yang telah menyelewengkan fungsi perjamuan kudus menjadi sarana penyembuhan. Dengan demikian, menyerongkan iman jemaat dari Kristus yang menderita dan mati bagi dosa-dosanya, kepada diri sendiri dengan penyakit-penyakit tertentu yang sedang diidap. Selanjutnya, sebagai hamba Tuhan (Staf) kita harus terus menerus meningkatkan semangat belajar kita, baik secara formal dan informal (studi pribadi). Tidak cukup kita menyadari (dalam hati dan pikiran) pentingnya pengajaran yang benar. Tetapi hal itu harus kita wujudkan dalam tindakan melalui adanya sikap yang benar dalam belajar. Hal itu harus menjadi nyata dalam ketegasan kita untuk menyisihkan waktu satu dua hari seminggu untuk belajar secara khusus. Hal itu juga harus kita buktikan dengan penggunaan uang kita yang berani dan rela membeli buku-buku yang bermutu.

Ketiga, sebagaimana rasul Paulus, kita juga harus terus-menerus memerangi ajaran yang tidak benar yang terjadi di sekitar kita. Jadi, tidak cukup kita hanya memiliki kebenaran bagi diri sendiri, dan membiarkan orang lain dalam pengajarannya yang salah. Marilah kita kembali semakin sungguh-sungguh menghayati dan mentaati seruan Paulus berikut: "Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh2 kepada mereka di hadapan Allah, agar mereka jangan bersilat kata (2Tim.2: 14). Bahkan bila perlu, demi untuk tidak membingungkan jemaat akan apa dan siapa yang kita maksud, kita harus memberanikan diri untuk menyebut contoh ajaran tertentu dan nama pengkhotbah tertentu. Hal inilah yang juga dilakukan oleh rasul Paulus ketika dia mengatakan: "Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus (2Tim.2: 17). Selanjutnya kita juga dapat membaca tentang Alexander, si tukang tembaga itu, yang telah banyak berbuat kejahatan 2Tim.4: 14).

Lalu apa yang telah kita lakukan terhadap pengajaran yang aneh-aneh belakangan ini? Seperti adanya "minyak urapan", "perjamuan kudus pakai darah", "kepenuhan Roh Kudus yang ditandai dengan bahasa lidah, tertawa tidak hentinya sambil berguling-guling, juga sambil mengeluarkan suara2 binatang", "debu emas sebagai tanda dipenuhi Roh Kudus", "penginjilan terhadap roh orang mati", dan lain sejenisnya. Lalu apa yang kita lakukan ketika seorang berkata: "Saya sudah bolak balik naik ke Sorga", "Roh Kudus tadi mengatakan kepadaku bahwa ada satu orang dari pemirsa TV yang sakit kerongkongan", dan lain sejenisnya. Apakah kita cukup menyatakan ketidak setujuan kita? Atau tidakkah kita perlu mengadakan seminar untuk menjelaskan hal-hal penting dengan mengundang sebanyak-banyaknya jemaat? Atau tidakkah kita harus lebih berani bersusah-susah untuk menulis dan menerbitkan buku buku untuk mengabarkan kebenaran yang sesungguhnya serta sekaligus meng-counter semua ajaran-ajaran yang tidak beres tersebut?

Sesungguhnya, hal itulah yang dikerjakan rasul Paulus. Dia berkeliling ke seluruh 'dunia' untuk mengajar dan menguatkan jemaat-jemaat. Tidak hanya berhenti di sana, dia juga 'menulis dan menerbitkan' buku-buku. Apakah kita tidak terkagum-kagum melihat keteladanannya yang sedemikian hebat? Marilah kita renungkan kenyataan ini: dari 27 kitab Perjanjian Baru 13 kitab merupakan tulisan rasul Paulus! Bagi saya itulah kenyataan cinta kasih kepada Allah. Itulah respon yang benar dalam menjawab kasih dan anugerah Allah dalam hidupnya. Yang paling penting bukan pernyataan yang dia berikan bahwa dia misalnya bolak-balik masuk Sorga, tetapi kenyataan yang dia lakukan bahwa seluruh hidupnya diwarnai oleh penyerahan yang benar kepada-Nya.

Mungkin ada yang berkata: "Wah melakukan hal itu sungguh membutuhkan penyerahan yang sungguh-sungguh. Juga memerlukan pengorbanan dan keberanian yang tidak kecil. Untuk melakukan hal itu, dibutuhkan dana yang cukup besar dan sebenarnya sangat besar…" Benar. Tapi itulah arti dari sebuah penyerahan. Sebuah penyerahan yang benar, menuntut harga yang besar. Dengan perkataan lain, ada harga yang harus dibayar. Harga itu mungkin pikiran, uang, diri dan… nyawa kita. Karena itulah saya sering menyerukan bahwa dalam pelayanan kita di Perkantas, dibutuhkan kualitas dan kuantitas 3D: Diri, Doa dan Dana. Tetapi dengan rela membayar harga sedemikian, kita akan mendapatkan 'upah' yang kekal. Sebagaimana rasul Paulus tegaskan:

"Dengan berbuat demikian, engkau akan menyelamatkan dirimu, dan semua orang yang mendengar engkau" (1Tim.4: 16).

Kita bersyukur kepada Allah, dengan sejarah pelayanan Perkantas yang ke-30, Dia telah melakukan banyak perkara di dalam dan melalui banyak orang dengan 3D tersebut di atas. Kiranya Allah semakin mengaruniakan hal itu lagi kepada kita, demi kemuliaan nama-Nya dan demi kesejahteraan umat-Nya.

Dirgahayu Perkantas!