Thursday, 19 July 2018

(oleh: Pdt. Mangapul Sagala)

Pengantar:

Tahun yang lalu, di sebuah milis, diperdebatkan atau dipermasalahkan kehadiran persekutuan kampus, atau yang lazim disebut dengan PMK- Persekutuann Mahasiswa Kristen. Memang tidak semua bersikap negative terhadap kehadiran PMK. Beberapa netters melihat kehadiran PMK secara positf, namun ada juga yang bersikap negatif dan sinis. Karena itu, disarankan agar Gereja menertibkan PMK-PMK yang 'liar' tsb.

Dalam keadaan demikian, muncullah diskusi yang sangat hangat tentang apa yang disebut dengan "Gereja" dan bagaimana menilai dan memahami persekutuan-persekutuan seperti PMK -yang dikelola oleh lembaga-lembaga pelayanan- khususnya dalam hubungannya dengan Gereja lokal. Seorang netter, yang juga pendeta dari Gereja tertentu menulis sbb:

"Saya setuju isu "parachurch" penting dibahas. Apakah masih dipertahankan atau tidak, ataukah diganti dengan "intra-church" seperti yang diusulkan sebagian orang. Tapi juga perlu direnungkan apakah persekutuan mahasiswa adalah gereja as such?"

Meresponi diskusi di milis yang pro-kon tsb, saya memberikan sebuah posting yang sifatnya mengajukan pertanyaan2. “Apa yang membuat Gereja disebut Gereja? Kwalitas apa dari essensi Gereja tsb yang tidak dimiliki oleh persekutuan atau PMK? Mengapa PMK atau yayasan pelayanan Kristen seperti Perkantas, LPMI dan sejenisnya hanya disebut sebagai “para-Church” (pendamping Gereja)? Apa yang mendirikan apa? Apakah Gereja yang mendirikan ‘para-Church’, ataukan sebaliknya? Bagaimana dengan sejarah Church planting? Apakah itu semua dimulai oleh Gereja asal, atau juga oleh apa yang disebut dengan “para-Church?” Hal-hal itulah yang mau kita diskusikan di bawah ini, dengan harapan, pemahaman kita akan Gereja dan ‘para-Church’ semakin baik. Dengan demikian, kita dapat menempatkan diri dengan benar.

I. Apa yang dimaksud dengan Gereja?

Kata “Gereja” diterjemahkan dari bahasa Yunani, ekklesia atau dari bahasa Ibrani, qahal. Ekklesia berasal dari dua kata, yaitu “ek” yang berarti keluar dan “kaleo” yang berarti memanggil. Jadi kata tsb berarti orang yang dipanggil keluar, atau kumpulan umat Allah. Menarik sekali untuk mengamati kenyataan ini, bahwa di seluruh Injil, kata ekklesia hanya muncul dalam Injil Matius; itupun hanya dua kali: Mat.16:18 dan Mat.18:17-18. Karena itu, sebagian ahli mencurigai bahwa istilah tsb asli berasal dari Tuhan Yesus. Mereka menganggap bahwa istilah tsb sebagai tambahan yang ditambahkan kemudian oleh Matius. Namun demikian, tuduhan tsb tidak meyakinkan. Kita setuju kepada Guthrie yang menulis bahwa tidak ada alasan yg meyakinkan untuk menyangkal bahwa ucapan tentang ekklesia tsb adalah otentik (Teologia PB, vol.3, hal. 34).

Jika kita menyoroti Injil Yohanes, maka Yohanes tidak menyinggung secara langsung mengenai jemaat atau Gereja. Namun demikian, itu tidak berarti bahwa dalam Injil ini tidak ada ide tentang Gereja. Kelihatannya, Injil Yohanes menghindari usaha-usaha untuk mensakralkan institusi Gereja. Hal itu disebabkan bahwa Yesus adalah pusat ibadah. Kata “bait Allah” di dalam Injil ini mengacu kepada diriNya (1:14; 2:19). Jadi, dalam Injil Yohanes sangat jelas dinyatakan bahwa ibadah tidak lagi diikat oleh tempat; seperti orang Samaria yang beribadah di gunung Gerizim atau orang Yahudi di Yerusalem (lihat Yoh.4:21). Mengapa? Karena menurut Yesus, “Waktunya sedang datang (the time is coming) dan sudah tiba (Yun: kain nun estin) bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Allah di dalam Roh. Allah itu Roh, barangsiapa beribadah kepadaNya harus beribadah dalam Roh dan kebenaran” (4:23-24). Karena itu, menarik sekali mengamati bagaiman Injil Yohanes memberi gambaran lain tentang Gereja, yaitu sebagai komunitas orang percaya. Karena itu, dalam Injil ini kita menemukan:

a. Gembala dan kawanan domba (10).

Bandingkan hal ini dengan Jer.23:1 dan Yehez.34:11

b. Pokok anggur dan ranting2nya (Yoh.15)

c. Konsep kesatuan umat (17:22)

Gambaran tsb di atas menunjukkan satu hal yang sangat jelas, yaitu adanya relasi yang hidup antara umat dan Tuhan. Tanpa Tuhan Yesus, sebagai Gembala maka seluruh kawanan akan tersesat dan dimakan oleh serigala yang buas. Tanpa Yesus sebagai Pokok Anggur, maka tidak ada ranting yang dapat hidup dan berbuah. Dengan perkataan lain, Injil Yohanes tidak mengenal adanya anggota jemaat tanpa pertobatan, tanpa relasi dan pertumbuhan yang hidup. Tuhan Yesus menegaskan bahwa ranting tidak cukup hanya berbuah, tetapi harus berbuah BANYAK (15:8). Itulah satu2nya cara memuliakan Bapa dan dikenal oleh semua orang sebagai murid2 Yesus. (15:8)

Jika kita beralih kepada Rasul Paulus, maka dalam surat-suratnya kita melihat dia menuliskan berbagai konsep tentang Gereja. Gambaran tentang relasi yang hidup tsb di atas juga terlihat dengan jelas, seperti hubungan antara kepala dan tubuh, di mana Yesus digambarkan sebagai kepala dan jemaat sebagai tubuhNya. Dengan demikian, tubuh tanpa kepala jelas akan mengalami kematian. Demikianlah vitalnya hubungan antara jemaat dengan Tuhan Yesus. Rasul Palus menggambarkan Gereja antara lain sebagai:

a. Gereja sebagai kelompok orang percaya di kota tertentu (1Kor.1:2; II Kor.1:1; Gal.1:2 dan I Tes.1:1).

b. Gereja sebagai kumpulan orang percaya di rumah-rumah (Ro.16:5; 1Kor.16:19; Kol.4:15).

c. Gereja sebagai kelompok orang percaya di seluruh dunia, yang dibangun di atas pengajaran nabi dan para rasul (Ef.1:22; Kol.1:18).


II. Dua Model Gereja: Modality dan Sodality

Dalam membicarakan Gereja di dalam Perjanjian Baru, Ralph Winter menulis artikel yang sangat menarik. Dalam buku tsb[1], Winter membahas adanya “The Two Structures of God’s Redemptive Mission”, dua model Gereja yang menjadi alat di tangan Allah untuk menyelamatkan umatNya. Winter memulai dengan Synagoge sebagai model yang pertama.[2] Menurut Winter, model inilah yg kemudian terus berkembang, yg disebutnya sebagai a congregational structure. Itulah yg kemudian disebutnya sebagai model Modality. Inilah yg oleh Winter pada umumnya dikenal sebagai Gereja lokal dalam Perjanjian Baru.

Selain model Modality tsb, kemudian Winter membahas model yg kedua, yang disebutnya sebagai model Sodality. Mengenai model ini dia menulis: "There is a second, quite a different structure in the New Testament context..."[3] Di situlah dia bicara kenyataan hadirnya Paulus dan teamnya. Memang Winter mengakui bhw sedikit yg kita ketahui ttg struktur tsb. Tapi team yg kecil tsb disebutnya sbg, "it was also dependent, from time to time, not alone apon the Antioch church, but upon other churches..." Untuk tidak meremehkan team pelayanan yg kecil tsb, kemudian dia menegaskan, "Paul's team may certainly considered a structure".

Kelihatannya ada orang tertentu yg kurang mengakui team Paulus tsb (model sodality). Mengapa? Mungkin karena team penginjilan itu kecil dan strukturnya tidak jelas. Krn itu, kemudian dia menegaskan: "While its design and form is not made concrete for us on the basis of remaining documents, neither, of course is the structure of a New Testament congregation defined concretely for us in the pages of the New Test." Saya setuju dengan pernyataan tsb bahwa berdasarkan Alkitab, kita tidak menemukan bagaimana seharusnya struktur Gereja tsb. Itulah sebabnya ketika soal bentuk struktur jemaat atau Gereja tidak jelas ditulis dlm Perjanjian Baru, maka kemudian Winter menulis, "In both cases, the absence of any such definition implies the preexistence of a commonly understood pattern of relationship, whether in the case of THE CONGREGATIONAL structure or MISSIONARY BAND structure..."[4] Jadi perhatikan kutipan tsb, di mana Winter melihat keduanya sebagai Gereja dgn pattern yg berbeda. Kedua struktur Gereja itu memiliki pola relasi yg berbeda (pattern of Relationship), itulah yg dia sebut dgn "THE CONGREGATIONAL structure or MISSIONARY BAND structure..." Inilah yg kemudian dia sebut sebagai "the two redemptive structure in the New Testament Times"[5]

Jadi, pola seperti itu jugalah yg dia bahas ketika kemudian Winter membahas ttg "The Early Development of Christian Structures within Roman Culture"[6] Selanjutnya, dia secara eksplisit membahas soal modality dan sodality pada hal.224.kol.1-226.kol.1. Di sini Winter kembali membahas dua model dalam Gereja Roma Katolik, yaitu "monastic" (sodality) dan "diocesan" (modality). Pada bagian tsb, Winter memberi contoh yg menarik, yaitu Gereja Mennonite dan Bala Keselamatan yg dia tulis dgn " a 'pure' Church, or what is often called a 'believes' church".[7] Saya katakan menarik, krn di sini pembahasan ttg Gereja dengan dua model atau struktur yg disodorkan Winter tdk sepenuhnya tepat jika diterapkan dgn Gereja tsb. Mengapa? Krn menurut Winter, struktur Gereja tsb ada sbg campuran antara "modality" dan "sodality". Winter menulis: "Such a structure stands, in certain sense, midway between a modality and a sodality since it has the constituency of the modality (involving full families) and yet, in its earlier years, may have the vitality and selectivity of a sodality".[8]


III. Karakteristik Modality dan Sodality:

Setelah melihat kedua model tsb di atas, kita dapat melihat karakteristik dari model Modality dan Sodality. Secara umum dapat dikatakan bahwa model Modality memiliki karakteristik sbb:

1. Anggotanya umumnya memiliki satu Gereja pada saat yang sama.

2. Anggotanya umumnya memiliki satu Gereja selama hidupnya.

3. Anggotanya umumnya bersifat lokal/territorial

4. Keanggotaannya bersifat inklusif, dari berbagai usia.

5. Bersifat denominasi tertentu.


Sedangkan karakteristik model Sodality adalah:

1. Anggotanya dapat memiliki lebih dari satu sodality

2. Sodality cenderung mengembangkan atau menuntut loyalitas yang kuat.

3. Anggotanya terdiri dari orang-orang yang memiliki loyalitas yang kuat

4. Memiliki visi dan semangat yang kuat

5. Bersifat interdenominasi.


IV. Hubungan antara Modality dan Sodality

Dalam artikel tsb, kita menemukan kritikan terselubung dari Winter, yaitu perlakuan tidak fair terhadap model sodality tsb. Hal itu terlihat jelas dlm halaman2 artikel Winter selanjutnya ketika dia membahas ttg "The Protestant Recovery of the Sodality" (226-227), dan "The Contemporary Misunderstanding of the Mission Sodality" (227-229). Pada bagian recovery dari sodality tsb, Winter kembali mengangkat sodality melalui peranan Gereja2 yg bertradisi pietis (tradisi menekankan hidup kudus). "The pietist tradition, in every new emergence of its force, was very definitely a sodality...comitting themselves to a new beginnings and higher goals as Christians... "[9]

Kelihatannya Winter yg sedemikian mengangkat Gereja model Sodality tsb kwatir juga bhw dia disalah mengerti. Karena itu, saya mengerti ketika di dalam kesimpulan dia membalance pandangannya dgn mengatakan bhw maksud tulisannya bukan utk meremehkan atau mengatakan bhw model jemaat lokal (modality) tidak penting. Winter menulis: " The modality structure ... is a significant and absolutely essential structure."[10] Jadi, ketika orang2 yang menekankan model modality meremehkan model sodality, kesalahan yang sama harus dihindari, yaitu ketika mereka yang berada di model sodality tidak lagi bersikap benar terhadap model modality. Setelah menyebut pentingnya modality tsb, kemudian Winter menutup artikel tsb dengan kalimat berikut:

"All that is attempted here is to explore some of the historical patterns which make clear that God, through His Holy Spirit, has clearly and consistently used a structure OTHER than (and sometimes instead of) the modality structure."[11] Selanjutnya Winter menyerukan, "It is our attempt here to help church leaders and others to understand the legitimacy of BOTH structures, and the necessity for both structures not only exist but to work together harmoniously for the fulfilment of the Great Comission..."

Dalam pertemuan IFES sedunia 4-11 Juli 2004 yl di Amsterdam (sy ikut hadir) memang terus ditegaskan akan komintment terhadap Gereja lokal (modality). Jadi IFES melihat dirinya sebagai satu kelompok khusus yg dipanggil oleh Allah utk memenangkan kaum intelektual dunia bagi Allah. Kelihatannya IFES akan terus melihat model Modality dan Sodality sbg dua model keteraturan yg sangat baik utk dipelihara. Jadi sekalipun staf IFES di seluruh dunia (termasuk di Indo) kadang2 dianggap oleh org tertentu sbg pelayan (hamba Tuhan kelas dua atau kelas berapalah) hal itu dilihat (termasuk) harga yg harus dibayar dalam penyerahan itu.

Kesimpulan

Menarik untuk diamati bahwa sepanjang sejarah Gereja, Modality dan Sodality Church telah exist secara bersama sama, saling menolong utk tujuan yg sama. Kita yakin bahwa Roh Allah sendiri yang terus bekerja sedemikian rupa di dalam GerejaNya. Karena itu, biarlah kita juga secara bijaksana menyikapi kedua model tsb sebagai alat Tuhan yang saling memerlukan dan tolong menolong dalam mewujudkan misi penyelamatan sedunia (global mission). Soli Deo gloria.-


[1] Ralph D. Winter. Perspectives on the World Christian movement: a reader (Pasadena,CA: William Carey Library, 1999), hal. 220-230.

[2] Ibid, hal.220.

[3] Ibid, hal. 221.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ibid, 222-4.

[7] Ibid, 226.

[8] Ibid.

[9] Ibid, 226.

[10] Ibid, 229.

[11] Ibid.