Monday, 24 September 2018

Lembaga Kristen dan Gereja

Pengantar

Kita patut bersyukur kepada Tuhan untuk hadirnya lembaga2 Kristen yang disambut dengan positip sebagai lembaga yang diakui telah nyata mendukung Gereja dalam menjalankan visi dan misinya. Sebagai contoh kita dapat menyebut beberapa saja, seperti Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Yayasan Musik Gerejawi (Yamuger), Yayasan Komunikasi Masa (Yakoma), dan banyak lagi yayasan dan lembaga Kristen lainnya.

Namun bagaimana dengan kehadiran Persekutuan Kampus, atau yang umumnya dikenal dengan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) yang kehadirannya didukung secara penuh oleh Yayasan pelayanan mahasiswa, seperti Lembaga Pelayanan Mahasiwa Indonesia (LPMI), Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas), Navigator, Lahay Roy dan sejenisnya? Kelihatannya kehadiran mereka masih belum sepenuhnya diterima, baik oleh Gereja-gereja, maupun oleh masyarakat di Indonesia. Tidak heran, kalau beberapa waktu yang lalu sebuah majalah terkenal ibukota memuat kehadiran yayasan-yayasan tersebut diatas dengan nada yang negatif. Karena itu, ketika ada orang yang menyampaikan protes dan amarahnya akan adanya salahpengertian itu, saya mengatakan supaya tidak terlalu marah secara demikian. Karena saya katakan, bahwa memang, bukan saja majalah umum (yang tidak berlatarbelakang Kristen itu) salah mengerti akan kehadiran lembaga pelayanan kerohanian mahasiswa tersebut, akan tetapi orang-orang Kristen sendiripun, termasuk Gereja-gereja tertentu masih juga salah mengerti. Syukurlah, setelah lebih kurang tiga dekade lembaga kerohanian tersebut hadir di Indonesia,[1] kehadiran mereka semakin disambut di dalam masyarakat dan Gereja-gereja. Namun demikian, harus diakui adanya pengalaman-pengalaman pahit yang terjadi antara lembaga tersebut dengan Gereja. Hal itu dapat terjadi sebagai akibat dari kesalahan dari lembaga tersebut menyikapi Gereja, tetapi juga sebaliknya karena kesalahan Gereja menyikapi kehadiran lembaga tersebut. Artikel ini ditulis sebagai salah satu usaha untuk mencoba menjembatani hubungan yang baik antara keduanya: lembaga pelayanan dengan Gereja.

I. Apa yang dimaksud dengan Gereja?
Kalau kita mendengar kata Gereja barangkali yang langsung ada di pikiran kita adalah sebuah bangunan yang di atasnya ada salib. Atau barangkali kita terpikir akan segala aktivitasnya, fasilitas yang dimiliki, atau bahkan mungkin keadaan administrasinya yang hebat. Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan Gereja? Kata "Gereja" diterjemahkan dari bahasa Yunani "ekklesia" atau bahasa Ibrani "qahal" (kumpulan). Ekklesia berasal dari kata "ek" (keluar) dan "kaleo" (memanggil), sehingga ekklesia berarti "memanggil/dipanggil keluar". Artinya sekelompok (kumpulan) umat Allah yang dipanggil ke luar dari dunia ini. Sebagaimana rasul Petrus menegaskan: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib (band. 1Pet.2:9b). Di dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas), kata ekklesia hanya muncul dalam Injil Matius, dan hanya terdapat dua kali, yaitu pada Mat.16:18 dan Mat.18:17-18. Karena itu, sebagian ahli mencurigai istilah tersebut asli berasal dari Tuhan Yesus. Mereka menganggapnya sebagai tambahan atau ditambahkan kemudian oleh murid-murid. Namun demikian, tuduhan tersebut tidak meyakinkan. Sebagaimana Guthrie menulis, "Tidak ada alasan yang meyakinkan untuk menyangkal bahwa ucapan tentang ekklesia tersebut adalah otentik.[2]

Injil Yohanes tidak menyinggung secara langsung mengenai jemaat atau Gereja. Namun demikian, itu tidak berarti bahwa dalam Injil ini tidak ada ide tentang Gereja. Johan Ferreira yang telah meneliti hal ini secara khusus dalam disertasinya yang berjudul Johannine Ecclesiology menegaskan, "The subject of Johannine ecclesiology covers a large area of Johannine scholarship".[3]

Selanjutnya, dalam penelitiannya terhadap Yoh.17, dia menulis, "Ecclesiological concerns occupy a prominent place throughout the prayer...from the beginning the prayer is concerned with the Johannine community, that is, those who belong to the Son".[4]

Yohanes memberi istilah lain yang mengandung makna Gereja, yaitu:
a. Konsep kawanan domba (Yoh.10)
b. Konsep pokok anggur (Yoh.15)
c. Konsep kesatuan umat (Yoh.17:22)

Di pihak lain, menurut rasul Paulus, ada dua macam pengertian Gereja. Pertama adalah Gereja yang tidak kelihatan atau invisible church, atau Gereja universal. Yang termasuk dalam Gereja ini adalah semua orang yang telah percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan JuruselamatNya (Baca Efesus 1:22 dan Kol.1:18). Kedua adalah Gereja yang kelihatan atau visible church, atau disebut juga Gereja lokal. Sebagai contoh: HKBP, GKI, GPIB, GKJ, dll (Baca 1Kor.1:2 dan 2Kor.1:1). Catatan, untuk selanjutnya Gereja Lokal cukup disebut dengan Gereja.

Bagaimanakah Perjanjian Baru mengerti Gereja?
1. Gereja adalah umat Allah (lihat 1Pet.2:9. Bandingkan dengan Ulangan 9:10;10:4.)
2. Gereja adalah komunitas Mesianis (lihat Luk.12:32; Mat.16:18; Mat.28:20.)
3. Gereja adalah tubuh Kristus (lihat Efesus 1:22-23)
4. Gereja sebagai persekutuan Roh (lihat Kis.1:4; 5:32)

Sebagaimana telah disebutkan di atas, ada orang yang bersikap menolak gereja karena beranggapan bahwa persekutuan sudah cukup. Salah satu alasan yang diberikan adalah, "Kita adalah gereja yang sesungguhnya, karena kita adalah kumpulan orang-orang yang telah percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita tidak harus ke gereja, karena di mana pun kita berkumpul, itu sama dengan gereja. Gereja bukanlah gedung atau bangunannya. Kelompok ini kadang2 mengutip pernyataan Tuhan Yesus, "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di tengah2 mereka" (Mat.18.20).

Benarkah sikap yang demikian? Marilah kita melihat sikap Tuhan Yesus dan rasul-rasul terhadap Gereja. Sebenarnya, Yesus adalah yang pertama menggunakan istilah Gereja. Sebagai contoh, setelah rasul Petrus mengakui siapa Yesus, Tuhan Yesus bersabda padanya, "You are Peter, and on this rock I will build my church" (Mat.16.18). Jika kita melihat konteks ayat ini sebagai mengacu kepada Gereja universal, maka pada ayat berikutnya, kita melihat dengan jelas, bahwa Yesus mengacu kepada Gereja lokal. "If he refuses to listen to them, tell it to the church...". (Mat.18.17) Melalui ayat tersebut kita melihat bahwa Tuhan Yesus mengakui pemerintahan atau otoritas Gereja lokal. Bahkan dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa selama hidupNya, Tuhan Yesus biasa memasuki synagoge, yaitu 'Gereja' pada saat itu (lihat Luk.4.16). Demikian juga dengan rasul-rasul, mereka menerima Gereja lokal sebagai bagian penting dari pelayanan mereka. Dalam Kisah Rasul, Paulus tidak hanya memberitakan Injil dan menjadikan mereka bertobat, tetapi ia juga mengatur mereka ke dalam Gereja (lihat Kis.14.23). Dalam banyak pasal, rasul Paulus memberikan contoh melalui ketaatannya terhadap kekuasaan pemimpin2 Gerejanya di Antiokhia. Dia dipercayakan oleh mereka dengan meletakkan tangan ketika ia memulai pelayanan missinya (lihat Kis.13;5). Kemudian, ia melaporkan hasil-hasil pelayanannya ke Gerejanya. "And when they arrived, they gathered the church together and declared all tha God had done with them...(Acts 14.27; lihat juga Kis.18.22).

Rasul Paulus menunjukkan ketergantungan jemaat yang begitu mutlak dengan Kristus. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai ilustrasi yang menggambarkan hubungan Gereja denganNya.
1. Jemaat sebagai tubuhNya (Ef.1.22-23; 4.12
2. Jemaat sebagai pengantin perempuan (2Kor.11.2)
3. Jemaat sebagai bangunan (1Kor.3.9;6.19)

Kehadiran Gereja Tuhan di dunia ini, serta perjalanan dan pertumbuhannya, yang tetap bertahan sekalipun melalui dan menghadapi berbagai tantangan dari abad ke abad adalah merupakan suatu misteri. Di sini terlihat misteri pemeliharaan Allah. Walau bagaimanapun Gereja akan tetap hadir di dunia ini sebagai organisme anak-anak Allah. Di sinilah mereka secara bersama-sama beribadah menyembah Allah. Di sinilah umat belajar mengenal dan menerima serta mengasihi satu dengan yang lain dengan kasih Allah (band.Yoh.13.34-35). Di dalam dan melalui Gereja, Allah menyatakan kasih dan karyaNya kepada dunia. Sebagaimana rasul Paulus menulis, "Kepadaku yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat (church) diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah- pemerintah dan penguasa-penguasa di Surga (Ef.3.8-10). Apakah hikmat Allah yang harus diberitakan oleh Gereja kepada dunia ini? Hikmat Allah itu, tidak lain adalah Injil, yaitu kabar baik bagi dunia. Tugas utama Gereja untuk dunia telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus pada detik-detik terakhir sebelum Yesus naik ke Surga. Dia memerintahkan, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk" (Mark.16.15). Alkitab menunjukkan bahwa tugas pemberitaan Injil harus menempati prioritas utama dalam kehidupan Gereja. Karena itu, segala dana dan daya sudah sepatutnya dikonsenterasikan untuk tugas ini. Tugas ini bukan milik orang tertentu saja seperti pendeta, penginjil dan majelis Gereja, akan tetapi semua orang yang telah percaya harus terlibat dalam tugas penginjilan memberitakan kabar baik, yaitu pengampunan dan keselamatan bagi orang berdosa.

II Persekutuan Kampus
Kita telah melihat sikap Tuhan Yesus dan rasul-rasul terhadap Gereja. Karena itu, kita harus mengikuti teladan Tuhan Yesus yang telah rela mempersembahkan segala milikNya, termasuk diriNya sendiri bagi GerejaNya. Kita tidak boleh sekedar ikut ke Gereja, tetapi harus menjadi anggota jemaat yang melibatkan diri dalam membangun Gereja di mana kita ditempatkan oleh Tuhan. Lalu bagaimana dengan Persekutuan Kampus? Jikalau kita setuju dan konsekwen bahwa setiap orang yang telah percaya pada Yesus harus memiliki Gereja dan terlibat di dalamnya, maka seharusnya, kita juga setuju dan bersyukur untuk kehadiran Persekutuan Kampus. Mengapa? Karena umat Allah dikampus sebenarnya merupakan utusan Gereja bagi 'dunia' kampus. Jikalau kita setuju dan mau taat pada perintah Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil ke segala mahluk, ke seluruh dunia, maka tidakkah seharusnya Gereja menjadikan dunia kampus sebagai ladang pelayanannya? Kalau ya, siapakah yang akan diutus ke sana? Pendeta kah? Atau majelis? Dapatkah mereka melakukan tugas ini? Kalau dapat, apakah mereka diperbolehkan? Kalau boleh, apakah mereka diterima oleh mahasiswa. Dari pengalaman melayani di kampus selama lebih dari 26 thn, jawaban kita yang pasti adalah hanya orang-orang dari dalam kampus itu sendirilah yang paling tepat untuk melakukan tugas pemberitaan Injil itu, termasuk didalamnya adalah dosen, karyawan dan mahasiswa. Dengan demikian, kita harus yakin sepenuhnya, bahwa dunia kampus harus dijadikan ladang pelayanan yang harus ditangani secara sungguh-sungguh. Dengan demikian, dosen, karyawan dan khususnya mahasiswa Kristen yang telah percaya kepadaNya menjadi utusan-utusan Gereja bagi kampus, setelah dilatih dan dipersiapkan dengan baik.

Sebenarnya, kalau kita pikirkan lebih teliti, maka dunia kampus sebagai ladang pelayanan merupakan ladang pelayanan yang sangat penting dan strategis. Hal itu telah terbukti dalam gerakan pelayanan mahasiwa di seluruh dunia.[5] Sesungguhnya, sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa memiliki peranan yang sangat penting dalam Gereja. Karena Allah telah menggerakkan sejumlah mahasiwa untuk membangun kerajaanNya. Sebagai contoh, Allah menggerakkan John Wycliffe dari Universitas Oxford (1329-1384) yang kemudian dikenal sebagai forerunner, atau pendahulu gerakan reformasi. Dia juga menterjemahkan Alkitab Vulgate ke bahasa Inggris. Allah juga membangkitkan Martin Luther (1483-1546), yaitu seorang Reformator besar. Dia telah memutar balik arah Gereja ke arah yang benar dengan kesembilan puluh lima pasal protesnya. Luther memulai gerakannya dari Universitas Wittenberg tahun 1508. Kemudian, Allah juga telah membangkitkan P.J. Spener (1635-1705) dari Universitas Halle. Spener kemudian dikenal sebagai bapak Pietisme. Allah juga membangkitkan John Wesley (1703-1791) dan George Whitefield (1714-1770) dari Universitas Oxford. John Wesley kemudian dikenal sebagai bapak dan pendiri dari Gereja Metodis. Akhirnya, Allah juga yang telah membangkitkan Charles Simeon (1759-1836) dari Universitas Cambridge.

Gerakan Allah di kalangan mahasiswa berkembang terus sampai ke seluruh dunia. Pada tahun 1947 melalui sekelompok mahasiswa di Cambridge terbentuklah International Fellowship of Evangelical Students (IFES), yaitu Persekutuan Mahasiwa Injili Internasional. Pada mulanya Persekutuan Mahasiwa Kristen secara resmi dimulai bulan Maret 1877. PMK ini mempengaruhi seluruh kampus di Inggris, sehingga terbentuklah Inter-Varsity Christian Fellowship (IVCF), atau Persekutuan Kristen Antar Universitas. Kemudian pada tahun 1928 PMK tersebut di atas berubah nama menjadi Universities and Colleges Christian Fellowship (UCCF). Dengan demikian jangkauan PMK tidak hanya Universitas tetapi juga ke tingkat Akademi. Gerakan persekutuan mahasiwa ini tidak hanya terjadi di Inggris, tetapi juga di luar Inggris. Sebagai contoh, melalui UCCF tersebut, di Australia terbentuklah Australia Fellowship of Evangelical Student (AFES) pada tahun 1936. Allah terus memberkati AFES sehingga terus bertumbuh dalam kwalitas dan kwantitas, khususnya dalam semangat missinya. Karena itu, untuk menjangkau para mahasiwa dari luar (Overseas Students) yang datang ke Australia, AFES membentuk Overseas Christian Fellowship (OCF). Segala puji bagi Tuhan, melalui OCF tersebut, tiga orang mahasiwa Indonesia yaitu, Panusunan Siregar, Jonathan Parapak dan Jimmy Kuswady mengami pertumbuhan dalam kekristenan mereka. Kemudian mereka ini oleh anugerah Allah mendirikan Perkantas pada tahun 1969. Kemudian Perkantas menjadi sebuah Yayasan yang terdaftar di Jakarta secara resmi dan memiliki badan hukum dengan Akte Notaris no 32 tanggal 29 Juni 1971. Hal ini dilakukan bukan demi organisasi tetapi agar kehadirannya memiliki kekuatan hukum. Syukur kepada Allah, dengan kehadiran Perkantas di Indonesia selama lebih dari tiga dekade, Allah telah membangun kerajaanNya di berbagai kampus, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di seluruh Indonesia.

Sebenarnya, kalau diamati dengan teliti, maka dunia kampus sebagai ladang pelayanan merupakan ladang pelayanan yang sangat penting dan strategis. Mengapa?

Pertama, karena pembinaan mahasiwa bersifat homogen.
Ditinjau dari segi pembinaan, maka persekutuan kampus adalah satu kelompok yang sangat penting, di mana mereka memiliki tingkat pemikiran yang sama dan memiliki daya nalar yang cukup tinggi. Hal ini tidak seperti kelompok pembinaan di Gereja, di mana anggota jemaatnya pada umumnya diikuti oleh orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, baik dari segi usia, tingkat pendidikan dan status sosialnya. Karena itu, dengan kondisi mahasiwa yang demikian, sudah sepatutnya dipersiapkan trainer-trainer dan pembicara yang sungguh-sungguh mampu serta berkwalitas.

Kedua, karena mahasiwa adalah calon pemimpin Gereja.
Calon pemimpin Gereja sangat membutuhkan orang-orang yang berkwalitas tinggi, baik dalam hal rohani maupun dalam hal pendidikan, sehingga Gereja sebagai tubuh Kristus tidak berjalan lambat, terbengkalai dan ketinggalan zaman, karena dikelola oleh orang-orang yang kurang mampu. Gereja harus segera mengakhiri kelemahan tersebut, dengan melibatkan kaum intelektual, seperti orang-orang yang telah dibina dengan baik di PMK. Kiranya Gereja sungguh-sungguh menyadari hal ini, dengan demikian tidak membiarkan kaum intellektual atau mereka yang memiliki pendidikan tinggi menjadi passif, hanya sebagai penonton.

Ketiga, karena mahasiwa adalah calon pemimpin bangsa.
Kelompok ini adalah kelompok yang sangat beruntung dan sangat penting dalam masyarakat, yang hanya merupakan persentasi kecil (kurang dari 1%). Maka tidaklah mengherankan apabila hampir seluruh kekuatan berusaha mendekati dan memperalat kelompok ini. Bagaimana dengan Gereja? Melihat betapa pentingnya peranan mereka dalam pembangunan bangsa, apakah terlalu berlebihan apabila Gereja mempersiapkan dan memberikan dana dan daya secara khusus demi keberhasilan misi ladang istimewa ini? Betapa gemilangnya masa depan bangsa Indonesia bila calon-calon pemimpin tersebut telah berhasil diubah dan dibentuk oleh Injil melalui persekutuan kampus. Dengan demikian, kampus tidak hanya menghasilkan calon-calon pemimpin yang pintar tetapi berhati korup, sehingga semakin menambah koruptor-koruptor kelas kakap. Bukankah ini sebenarnya menjadi masalah utama bangsa ini? Bangsa ini memiliki cukup banyak orang pintar, tetapi kekurangan pemimpin-pemimpin yang sungguh-sungguh bermoral tinggi. Inilah sebenarnya yang harus dipersiapkan oleh PMK, yaitu alumni, atau calon pemimpin yang takut akan Tuhan (Ams.1.7), yang jujur dan bertanggung jawab. Sungguh, bangsa kita sangat memerlukan orang-orang seperti ini. Orang-orang seperti inilah yang mempercepat pemulihan bangsa ini dari berbagai masalah yang dihadapinya.

Dengan melihat ketiga hal di atas, maka Gereja sudah seharusnya mendoakan dan mendorong persekutuan kampus agar bertumbuh dengan baik, agar pada saatnya mereka dapat dilibatkan dalam pelayanan Gereja.

III. Hubungan Gereja dan Persekutuan Kampus
Sudah disinggung di atas bahwa persekutuan kampus tidak boleh hanya hidup bagi dirinya sendiri, apalagi melepaskan diri dari Gereja. Sekalipun persekutuan kampus maju dan berkembang, namun harus tetap disadari keterbatasannya jika dibandingkan dengan Gereja.

Pertama, persekutuan kampus (PMK) hadir dalam misinya yang khusus. Sebagaimana telah disebutkan di atas, ia hadir sebagai utusan Gereja untuk melaksanakan pemberitaan Injil bagi dunia mahasiswa. Persekutuan kampus tidak pernah sepenuhnya dapat melaksanakan tugas Gereja, seperti membaptis, pemberkatan nikah, dan lain lainnya.

Kedua, persekutuan kampus adalah bersifat tertutup, terbatas hanya bagi mahasiswa; sedangkan Gereja memiliki anggota yang heterogen, tidak dibatasi usia, jenis kelamin, perbedaan status sosial.

Ketiga, persekutuan kampus mempunyai anggota yang senantiasa berubah. Setelah lulus, maka mahasiswa tersebut akan meninggalkan kampus, kecuali bagi mereka yang memilih untuk menjadi dosen atau tugas lain yang tetap berada di lingkungan kampus. Karena itu, sebelum meninggalkan kampus, mahasiswa sebaiknya mempersiapkan diri untuk memilih bidang pelayanan yang akan dilakukan di Gereja. Hal ini sangat penting dilakukan mengingat bahwa Gereja merupakan tempat pelayanannya yang menetap.

Beberapa bidang pelayanan di Gereja yang perlu dipersiapkan oleh Persekutuan Kampus untuk membantu pelayanan di Gereja adalah, Mempersiapkan mahasiwa untuk menjadi guru sekolah minggu.

Perlu diketahui bahwa masih banyak orang yang belum melihat pentingnya pelayanan sekolah minggu. Karena itu, pengelolaannya seringkali tidak sungguh-sungguh seperti mengelola jemaat dewasa. Hal ini juga terlihat dari kwalitas guru-guru sekolah minggu yang bukan saja tidak memiliki kemampuan (tidak memiliki ketrampilan yang cukup), melainkan juga belum memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Padahal, Tuhan Yesus sendiri memberi teladan dan pengajaran akan pentingnya pelayanan anak-anak (bandingkan dengan Mark.10.13-16). Karena itu, adalah bijaksana bila kekosongan guru sekolah minggu yang banyak dalam Gereja juga diisi oleh mereka yang pernah dibina di PMK. Membantu pelayanan komisi pemuda.

Sangat disayangkan, cukup banyak komisi pemuda saat ini statis,bahkan timbul tenggelam. Kegiatannya sering kali hanya sebatas paduan suara. Padahal, seharusnya komisi pemuda berperan sebagai motivator, pemberi visi dan penggerak dalam seluruh kegiatan Gereja. Karena sesungguhnya, pemudalah nanti yang akan menjadi majelis atau tua-tua Gereja. Bagaimanakah masa depan Gereja jika pemudanya tidak terbina dan dipersiapkan dengan baik. Karena itu, sangatlah bijaksana bila mereka yang terbina di PMK juga melihat komisi ini sebagai tempatnya untuk melayani Tuhan, baik sebagai pengurus, pembimbing, pemimpin KTB, membantu penerbitan bulletin, dll.

Persekutuan mahasiswa juga dapat membagikan keahliannya sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Misalnya, mereka yang memiliki latar belakang medis, dapat terlibat dalam poliklinik Gereja, mereka yang memiliki latar belakang teknik Sipil/Arsitektur dapat membantu pembangunan atau renovasi Gereja, mereka yang berlatar belakang akuntansi, dapat membantu memperbaiki pembukuan dan sistim keuangan Gereja.

Pekerjaan lainnya.
Jika kita memang mau dan rindu membantu Gereja, maka sebenarnya masih banyak bidang pelayanan yang dapat dikerjakan. Persekutuan kampus seharusnya melakukan hal-hal tersebut dengan jujur dan sungguh-sungguh. Mereka melakukan hal itu bukan sekedar menjalin hubungan dengan Gereja, sehingga mendapat nama baik.

IV. Permasalahan Yang Terjadi Antara Persekutuan Kampus dan Gereja.
Ternyata, kerinduan mahasiswa yang telah dibina dalam PMK untuk membangun Gerejanya tidak jarang menimbulkan permasalahan. Berbagai alasan dapat terjadi sebagai penyebab permasalahan itu. Karena itu, berbagai cara harus diupayakan untuk mengatasinya. Sebagaimana disebutkan di depan, permasalahan dapat terjadi dari pihak lembaga kerohanian (PMK), tetapi juga dapat terjadi dari pihak Gereja.

Kesalahan dari pihak Gereja antara lain adalah:
1. Tidak mengerti visi dan misi pelayanan mahasiswa tersebut. Untuk mengatasi hal ini maka perlu diadakan pendekatan yang baik kepada pihak Gereja atau majelis. Pendekatan sebaiknya bersifat pribadi dan kekeluargaan, jangan bersifat formal. Pendekatan harus sedemikian sehingga sumber permasalahan dapat ditemukan. Setelah itu, lembaga kerohanian dengan sungguh-sungguh mencoba menjelaskan visi dan misi mereka, serta dengan rendah hati bersedia memohon dukungan dan kerja sama dari pihak Gereja.

2. Pelayan dan pelayanan tersebut terlalu menonjol sehingga dapat menimbulkan iri hati, baik disadari maupun tidak disadari oleh pihak Gereja (bandingkan pengalaman rasul2 yang mendapat tantangan dalam Kis.5:17-18). Jika demikian, pelayanan harus dilakukan dengan banyak doa, sehingga baik pihak lembaga, maupun Gereja dikuduskan oleh Tuhan. Perlu juga dimohon kepekaan untuk melihat tindakan yang tepat untuk mengatasi hal tersebut.

3. Tidak dapat menerima cara-cara melayani dari lembaga atau PMK tersebut. Kalau begitu, pihak lembaga harus melayani dengan suatu prinsip yang benar yaitu membedakan apa yang merupakan hal primer dan apa yang sekunder. Untuk hal-hal yang primer, misalnya soal keselamatan di dalam Yesus, kebenaran dan otoritas Alkitab, harus dipertahankan dengan bijaksana. Sedangkan untuk hal-hal sekunder, misalnya bernyanyi dengan tepuk tangan atau tidak, berdoa bersama-sama dengan mengeluarkan suara atau tidak, hal itu dapat dirubah sesudai dengan kebiasaan di Gereja tersebut. Kita harus ingat bahwa metode pelayanan rasul Paulus adalah metode identifikasi disi sedapat mungkin (band. 1Kor.9:19-23). Tujuan metode ini jelas, "memenangkan sebanyak mungkin orang bagi Kristus" (ayat 19, 20, 21, 22).

Selanjutnya, Jerry White, mantan pimpinan The Navigators, dalam bukunya The Church & The Parachurch. An Uneasy Marriage, juga telah membahas secara khusus adanya problem yang dihadapi antara lembaga pelayanan dengan Gereja.[6] Jerry mengusulkan agar dalam membina hubungan yang baik dengan Gereja, maka harus dilakukan hal berikut,[7]

Pertama, "Para-local church organizations should clearly define their purposes and goals, and be willing to be evaluated." Maka dalam hal ini, lembaga perlu menjelaskan kepada Gereja apa yang menjadi visi dan misi lembaga tersebut. Selanjutnya, Gereja dapat berperan untuk melihat sejauh mana lembaga tersebut tetap berjalan sesuai dengan visi tersebut, dan sejauh mana mulai menyimpang.

Kedua, "Para local church staff should relate to a local congregation". Dalam hal ini dia menegaskan bahwa semua orang percaya harus memiliki Gereja lokal tertentu, tidak terkecuali dengan staff dari lembaga pelayanan.

Ketiga, "Para-local church leaders should give sound teaching on responsibility to the local congregation.

Keempat, "Emphasize the ministry of the laity". Lembaga pelayanan yang mimbina mahasiwa atau kaum awam, juga harus mendorong mereka untuk mau menyerahkan diri dalam pelayanan full time. Jika ini terjadi, maka Gereja harus mendukungnya, karena telah terjadi mobilisasi kaum awam bagi pekerjaan Allah, yang dilakukan melalui lembaga pelayanan tersebut.

Memang dalam pelayanan kita tidak boleh melakukannya dengan jalan pintas dengan dalih bahwa Roh Kudus dapat memakai segala cara asal tulus. Tuhan Yesus sendiri telah memperingatkan kita agar melayani dengan tulus dan cerdik (Mat.10:16). Jadi tidak cukup hanya melayani dengan tulus, tetapi juga dengan cerdik. Atau, juga tidak boleh melayani hanya mengandalkan kecerdikan, seperti mengandalkan kemampuan berargumentasi, melakukan berbagai macam pendekatan yang meyakinkan, tetapi semua itu harus dilakukan atas dasar ketulusan. Keseimbangan untuk memelihara keduanya sangat dituntut untuk menghasilkan pelayanan yang diberkati Tuhan serta diterima oleh umatNya: melayani dengan tulus dan cerdik. Menjadi pelayan Tuhan memang tidak semudah mengatakannya. Itulah sebabnya firman Tuhan memberikan kwalifikasi tertentu bagi Timotius si pelayan muda (baca 1 Tim.4:11-16). Tuntutan yang diberikan kepada pelayan sebanyak 7 orang dalam jemaat mula mula adalah terkenal baik, penuh Roh dan hikmat (Kis.6:7). Memang sangat sukar, bahkan tuntutan dari pelayanan tersebut tidak jarang adalah kerelaan untuk menderita serta pengorbanan diri. Namun demikian, firman Tuhan memberi penghiburan bahwa jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, maka kita juga akan dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (Rom.8:17b). Tuhan Yesus juga menegaskan, "Barangsiapa melayani Aku, dia akan dihormati oleh BapaKu" (Yoh.12:26b).

Kesimpulan
Dari uraian di atas kita melihat betapa pentingnya Gereja, sehingga kita harus terlibat di dalamnya. Demikian juga, kehadiran lembaga kerohanian atau PMK sangat penting sebagai ladang pelayanan khusus bagi Gereja, untuk memenangkan dunia kampus bagi Kristus.

Jika Anda disuruh untuk memilih melayani antara persekutuan di PMK dengan Gereja, apa yang Anda pilih? Saya memilih keduanya. Selama masih mahasiwa, saya memprioritaskan persekutuan kampus, dan ketika hampir lulus saya mulai memprioritaskan pelayanan di Gereja, di mana Gereja adalah ladang pelayanan yang tetap. Tentu di sini ada pengecualian, yaitu bila jelas Tuhan memimpin saya untuk tetap menjadi utusan Gereja ke pelayanan kampus, saya akan tetap di sana, sebagaimana saya lakukan hingga saat ini.

________________________________

[1] Yayasan-yayasan kerohanian yang melayani mahasiswa seperti . LPMI
dan Perkantas hadir di Indonesia di sekitar tahun 60-an. Yayasan
Perkantas mulai melakukan pelayanannya di Indonesia pada tahun 1969,
akan tetapi baru pada tahun 1971 terdaftar secara resmi memiliki akte
notaris yang berbentuk yayasan.

[2] Teologia Perjanjian Baru, vol.3, hal.34.

[3] Johan Ferreira, Johannine Ecclesiology (Sheffield. Sheffield
Academic Press, 1998), hal. 35.

[4] Ibid, hal. 77.

[5] Untuk lebih jelasnya dapat dibaca, Keith & Gladys Hunt, For Christ
and the University (Illinois.IVP, 1991).

[6] Jerry White, The Church & The Parachurch. An Uneasy Marriage
(Portland, Oregon. Multnomah Press, 1983). Dalam buku ini, yang hanya
terdiri dari dua bagian, Jerry membahas masalah ini dalam bagian kedua
yang dibagi menjadi empat fasal, yaitu, fasal 6-9.

[7] Jerry White, hal. 120-121.