Wednesday, 17 January 2018

Pengantar

Hari ini, 27 Maret '05 saya bersyukur dipercayakan untuk melayani sebuah kebaktian paskah berbentuk KKR di sebuah Gereja megah di ibukota, Jakarta. Sekitar lima ratusan lebih umat bersorak sorai merayakan hari kebangkitan Kristus tersebut. Setahun yang lalu, saya juga menikmati keindahan dari peristiwa yang sama, di mana hari raya paskah dirayakan pada dini hari di sebuah gereja yang sangat megah di Singapura, dihadiri oleh sekitar 400 orang jemaat. Ketika pada umumnya masyarakat setempat tertidur lelap, ratusan jemaat tersebut dengan gegap gempita mengumandangkan nyanyian-nyanyian kemenangan! Jadi, kemegahan dan keagungan ibadah bukan saja karena kondisi Gerejanya yang sedemikian megah, tetapi juga karena umat yang bersorak sorai menyanyikan "Kristus Bangkit, Soraklah, Haleluya!" Suasana memang menjadi saling mendukung karena sekitar 40 orang anggota paduan suara, yang mayoritas adalah mahasiwa/i dari universitas terkenal, dgn pakaian seragam putih hitam berdiri di depan jemaat dengan posisi saling berhadapan. Sungguh sangat indah dan bahagia, saya sulit melukiskannya dgn kata2, ketika lagu tersebut dikumandangkan secara bersama dan bersahut-sahutan antara ratusan jemaat dgn paduan suara tersebut. Kebaktian yg berjalan 2 jam tersebut diakhiri dgn suasana ceria, penuh sukacita sambil bersalaman mengucapkan, "Selamat Paskah", "Kristus Bangkit". Menyaksikan hal itupun memberi sukacita tersendiri, yaitu ketika melihat jemaat dari berbagai usia spt remaja, pemuda hingga orang tua, dan latar belakang tingkat pendidikan dan sosial, spt siswa mahasiwa, alumni... serta Ph.D(cand)/ Ph.D yg memiliki reputasi tinggi menyatu di dalam semangat persaudaraan. Semua bersama-sama menikmati betapa indahnya berita kebangkitan Kristus itu. Dalam hati saya berpikir, berita kebangkitan bukan hanya milik orang sederhana atau orang2 terpelajar, miskin atau konglomerat, melainkan milik mereka yang beriman.

Dasar Yang Teguh

Jika demikian halnya, mengapa masih ada orang yang meragukan peristiwa tersebut? Seperti saya sebut di atas, jawabannya sederhana: karena mereka tidak mau beriman, atau barangkali mereka tidak mampu beriman. Apakah menerima fakta kebangkitan Kristus merupakan suatu kebodohan? Saya harus menjawab dengan tidak! Buktinya? Banyak orang terpelajar di bawah kolong langit ini, termasuk jemaat tersebut di atas, yg dengan segenap hati dapat menerima kebangkitan itu dan mensyukurinya. Memang kita harus mengakui dengan jujur bahwa ada juga orang2 yg ahli meragukan dan menolak berita tersebut. Sebutlah misalnya seorang yg bernama Gerd Ludemann, professor Perjanjian Baru dari Univ. Gottingen yg pemikirannya dipengaruhi oleh David Hume, di mana Ludemann menolak peristiwa kebangkitan Kristus tersebut. Bagi Ludemann, kebangkitan itu tidak lebih dari halusinasi saja, atau visionary. Karena itu, dia menulis: "We can no longer take the statements about the resurrection of Jesus literally... the tomb of Jesus was not empty, but full, and his body did not disappear but rotted away"[1] (Kita tidak dpt mengambil pernyataan tentang kebangkitan Yesus secara harfiah... kubur Yesus tidak kosong, tapi penuh, dan tubuhNya tidak bangkit, tetapi membusuk). Saya memutuskan utk tidak menghabiskan wkt utk menulis pandangan ahli2 lain spt Barbara Thiering atau John Dominic Crossan yg dengan jahatnya mengatakan bhw tubuh Yesus sebenarnya dimakan anjing2, namun penulis2 Alkitab berimaginasi dengan menulis kisah kebangkitan tersebut.

Adakah dasar yang logis untuk menerima kebangkitan tersebut? Tentu ada. Masalahnya adalah, apakah orang/ahli tersebut memiliki kesediaan utk menerimanya? Atau, apakah yg dpt dikelompokkan ke dalam "masuk akal" tersebut. Bagi David Hume, the Socttish philosopher yg terkenal itu semua yg namanya mukjizat, yg tidak dpt dijelaskan dengan rasio atau "science" tidak masuk akal. "Miracle is a violation of the laws of nature..." demikian Hume.[2] Karena itu tidak ada gunanya mengatakan bhw Allah telah membangkitkan Yesus yg mati itu dari kubur. Hume menuntut penjelasan 'ilmiah' bgmn tubuh Yesus yg sudah mati tersebut 'berubah' menjadi tubuh lain (yg disebut kebangkitan). Karena itu, tidak ada gunanya mulut sampai berbusa atau tangan sampai 'lumpuh' menulis penjelasan2 tentang mukjizat kepadanya. Itu hanya membuang2 waktu yg sangat berharga. Mengapa? Karena apa yg kita anggap ilmiah dan logis, bagi Hume dan pengikutnya bisa jadi tidak logis. Bagi Hume, realita tersebut hanya ada di dalam logika dan science. Tidak ada realita yg lain di luar itu. Allah terlibat dalam alam semesta? Tidak mungkin. Karena jk demikian, kita harus mengurung Allah dan menjelaskannya ke dalam kategori ilmiah/logis. Itu berarti Allah yg tidak terbatas itu harus juga 'dimasukkan' ke dalam rasio yg terbatas! Apakah itu logis? Bagi kita tidak, tapi Hume itulah yg logis!

Karena itu, mari kita lupakan Hume, Ludemann dan semua pengikut2nya. Mari kita maju di dalam pengenalan dan iman kita secara bersama-sama. Kembali kepada pertanyaan di atas, adakah dasar yg teguh bagi kita yg dpt dinikmati baik iman maupun akal? Sekali lagi saya jawab dengan penuh keyakinan dgn, ada. Dan sebenarnya itulah yg dijelaskan oleh penulis2 Alkitab. Sebenarnya, jk kita mengamati semua tulisan2 mereka, baik PL maupun PB, mk kita akan melihat bhw mereka itu menulis bukan hanya dgn iman, tapi juga dengan akal; bukan hanya dengan akal, tapi juga dengan iman.

Barangkali ada yang berkata: "Ah, Alkitab? Bukankah laporan Alkitab tentang kebangkitan, berbeda-beda?" Memang itu jugalah reaksi Ludemann, dan pengikut2nya. Baginya keempat Injil tidak dpt dipercaya, karena mereka menceritakan hal2 yg berbeda-beda, masing2 dgn versinya. Pandangan yg sama juga pernah ditegaskan oleh almarhum Wismoadi, guru besar STT Jkt, dlm bukunya "Di Sini Kutemukan" itu. Namun, bagi saya, tentu juga bagi banyak orang, perbedaan penulisan dari penulis2 Injil, termasuk rasul Paulus sebenarnya tidak cukup kuat utk menyangkal kebangkitan tersebut. Seharusnya, sebaliknya yg terjadi. Mari kita ambil sebuah contoh, tentang Perdana Menteri dari S'pura yg datang ke Indonesia. Apakah kita mengharapkan bhw semua koran akan menulis peristiwa yg sama dgn cara yg sama? Apakah tidak mungkin terjadi bhw Kompas menyoroti percakapan politik di Cendana, Suara Pembaruan menyoroti percakapan business di hotel Hilton, dan pos Kota menceritakan makan ikan di Muara Angke? Jika terjadi perbedaan laporan seperti itu, apakah itu pertanda bhw pemimpin S'pura tersebut sebenarnya tidak benar2 datang ke Indonesia? Atau sebaliknya, perbedaan laporan tersebut meneguhkan fakta kedatangannya?

Secara jujur saya mengatakan bhw setelah meneliti dan mengamati kisah kebangkitan Kristus yg disampaikan oleh keempat Injil, tidak ada masalah bagi saya untuk menerimanya. Sebaliknya saya sangat diteguhkan olehnya. Dan ternyata saya tidak sendiri, karena banyak ahli yg jauh lebih senior dari saya dan yang telah lama 'menyelam' di 'samudera raya' Perjanjian Baru, dengan segenap hati mereka menerima pernyataan Alkitab tersebut. Prof. William Lane Craig secara khusus telah meneliti hal tersebut dan hasil karyanya dapat dibaca di dalam bukunya, "Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus", yg merupakan volume ke 16 dari Studies in the Bible and Early Christianity tersebut. Buku setebal 442 halaman tersebut sepenuhnya merupakan pertanggung jawaban imannya kepada peristiwa kebangkitan tersebut yg dpt dibaca oleh mereka yg menerima atau menggugat berita penting tersebut. Mk wajarlah jk pd 18-9-1997 di St Thomas More Society of Boston College, Lane lah yg diundang utk menjawab serta menantang kembali Gerd Ludemann yg menolak kebangkitan tersebut. Dlm buku tersebut di atas dia menegaskan betapa akurat dan dapat dipercayanya laporan keempat Injil tersebut. [3] Kita bahkan dpt mengutip pandangan dari seorang kritikus Alkitab, Klaus Berger yg mengatakan, "The reports about the empty tomb are related by all four Gospels and other writings of early Christianity) in a form independent of one another... We have a great abundance of reports, which have been separately handed down". [4]

Karena itu, marilah kita lihat fakta-fakta yg sangat penting mengapa kita menerima kebangkitan Yesus tersebut. Kita dapat mencatat fakta kubur kosong, batu yg terguling serta adanya perempuan2 yg menjadi saksi kubur kosong tersebut. Keempat penulis Injil menyoroti hal itu bersama-sama. Di dalam penulisan tersebut, mereka juga memiliki keunikan masing2. Injil Markus misalnya mencatat kekwatiran perempuan2 tersebut, tentang siapa yg akan menggulingkan batu besar yg menutup kubur Yesus tersebut (Mark.16:3). Sedangkan Injil Matius menjelaskan bagaimana batu yg besar itu bisa terguling karena adanya gempa bumi yg hebat dan turunnya malaikat Tuhan dari langit. Yg menarik adl, bhw Matius mencatat bukan saja batu itu terguling MELAINKAN MALAIKAT MENDUDUKINYA! Apa gerangan yg mau disampaikannya? Biarlah orang yg percaya merenungkannya. Sedangkan Injil Yohanes sendiri mencatat hal yg kelihatannya kecil namun penting, yaitu adanya kain kapan terletak di tanah dan kain peluh yg mengikat kepala Yesus, berada dekat kain kapan itu (Yoh.20:5,6). Apa pula yg mau disampaikan oleh fakta tersebut? Bahwa kebangkitan adalah metaphora? Biarlah orang yg beriman merenungkan dan memikirkannya. Apakah dengan demikian kita dpt mengatakan bhw kain kapan yg mengikat tubuh Yesus yg mati serta kain peluh pengikat kepala itu kempes karena tubuh tersebut telah bertransformasi menjadi tubuh kebangkitan? Banyak perenungan dpt terjadi bagi kita yg memang mempercayai Alkitab dgn segenap hati.

Sebagaimana telah saya tuliskan di atas, apakah penerimaan kpd kubur kosong itu adalah bukti kelemahan intelektual dan hanya mengandalkan apa yg disebut dgn iman atau percaya saja pdhal sebenarnya dia hanyalah "dongeng dan kisah ciptaan hasil imaginasi para rasul yg frustrasi dan perlu mengalami pemeriksaan ilmu jiwa?" Saya harus menjawab dgn tegas, tidak! Karena kita dpt mencatat pandangan orang2 yang benar-benar ahli, di mana keahliannya diakui oleh seluruh ahli sejagad. Untuk itu, kita dapat menyebut beberapa nama spt John A.T. Robinson, N.T. Wright dari Cambridge University atau seorang ahli dari Austria yg bernama Jacob Kremer, yg telah mengkhususkan dirinya meneliti kebangkitan tersebut. Menurut Kremer, "By far most exegetes hold firmly to the reliability of the biblical statements concerning the empty tomb".[5] (Hampir semua ahli berpegang teguh dan percaya kpd pernyataan2 Alkitab mengenai kubur kosong). Prof J.A.T Robinson malah menegaskan lebih jauh lagi ketika dia mundur ke belakang terhadap fakta penguburan Yesus yg dipertanyakan oleh sebagian ahli sbgmn John Dominic Crossant dan Barbara Thiering tersebut di atas. Dia menulis, "The burial of Jesus in the tomb is 'one of the earliest and best attested facts about Jesus' "[6] Demikian juga, N.T. Wright, jagoan Perjanjian Baru dari Inggris tersebut dalam bukunya setebal 817 halaman itu secara khusus membahas tentang kebangkitan Yesus secara ilmiah dan pendekatan Alkitabiah. Menarik sekali, dalam buku yg berjudul "The Resurrection of the Son of God" tersebut dia malah mengacu kepada seorang theology dan penulis Yahudi yg bernama Pinchas Lapide yang mengakui kebangkitan Yesus secara tubuh (hal.721).

Jika hal tersebut di atas digabungkan dgn nubuatan Alkitab, baik di PL maupun PB, mk iman kita akan semakin diteguhkan. Bukankah hal itu telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya kira2 700 thn sebelumnya? "Ia akan meniadakan maut utk seterusnya dan Tuhan Allah menghapuskan air mata..." (Yes.25:8). Bahkan Yesus sendiri telah berkali-kali menubuatkan hal itu, bhw Dia akan diserahkan... akan mati dan akan bangkit pada hari yg ketiga. Setidaknya hal itu telah dicatat empat kali oleh Injil Matius: 16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2.

Selanjutnya, Alkitab, khususnya keempat Injil mencatat penampakan Yesus yg bangkit itu. Hal itu dilakukanNya secara berulang-ulang dan kepada orang yg berbeda-beda. Injil Yohanes secara khusus mencatat penampakan Yesus kpd Maria Magdalena yg terus menerus setia mendampingi dan melayani Yesus (20:11-18). Maria inilah yg setelah dilepaskan dari perbudakan roh jahat, dengan setia mengiring Yesus hingga Yesus disalibkan dgn begitu mengenaskan di bukit Golgota. Pdhal, ketika itu murid2 Yesus sendiri, kecuali Yohanes, begitu ketakutan dan pergi entah ke mana. Injil Lukas yg kelihatannya telah mengantisipasi keraguan orang2 di kemudian hari telah mencatat tantangan Yesus kpd murid2Nya utk melihat tangan dan kakiNya. "Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya spt yg kamu lihat pdKu" (24:39). Tidak cukup di sana, Lukas masih mencatat satu pembuktian secara ilmiah lainnya ketika Yesus makan ikan di hadapan murid2 (24:42-43). Tentu fakta inipun dpt ditolak oleh seorang yg bernama Ludemann, karena baginya itu adl karangan Lukas semata. Karena itu dia menulis setemgah melawak bhw di sana Lukas toh tidak menjelaskan apakah Yesus masih perlu pergi ke toilet setelah makan ikan itu! Tapi kita tidak perlu pusing dgn orang2 spt itu, termasuk para pengikut2nya yg membeo saja. Pd kenyataannya, William Lane Craig sendiri yg telah melakukan research ilmiah secara jujur telah mengungkapkan karyanya sbgmn kita sebutkan di atas. Dalam buku tersebut dia menegaskan, "The majority of New Testament scholars today ´┐Żnot conservatives, not fundamentalists- concur with the facts of Jesus honorable burial, his empty tomb, his postmortem appearances... and the best explanation for those four facts is that God raised Jesus from the dead". Itulah sebabnya kita melihat perubahan yg sangat besar dan mendasar dlm diri para rasul, sekalipun sebelumnya mereka tidak dpt membohongi diri bhw mereka sempat kecewa karena kematian Yesus yg sedemikian tragis dan memalukan! Namun setelah kebangkitan Yesus itu dan setelah penampakan Yesus kpd diri mereka, dgn berani mereka, khsusnya rasul Petrus yg pernah menyangkal gurunya itu berkhotbah di hadapan ribuan orang2 Yahudi yg baru bbrp wkt yl menyalibkan Yesus tersebut. Mari kita perhatikan kenyataan ini: tema khotbah paling awal rasul Petrus ketika itu bukanlah berpusat kpd kematian Yesus, tetapi kepada kebangkitanNya. Dia bahkan menggabungkan kebangkitan itu dgn nubuatan Mazmur yg dpt kita lihat pd Kis.2:25-28. Di tengah2 ribuan massa yg menyalibkan Yesus, Petrus dgn berani mengkhotbahkan kebangkitan Mesias! Kis.2:31) Sekiranya Yesus tidak bangkit, jk kubur Yesus masih ada pd orang2 Yahudi itu, apakah Petrus berani berkhotbah tentang kebangkitan tersebut? Jika pemberitaan tentang kebangkitan adl kebohongan di mana sebenarnya orang2 Yahudi memiliki dan mengetahui tempat kuburan Yesus, tentu dengan sangat mudah orang2 Yahudi akan mentertawakan Petrus serta orang2 Kristen. Mereka akan dengan mudah membantah pemberitaan tersebut serta mempermalukan orang2 Kristen dgn menunjukkan kubur Yesus yg mereka miliki tersebut. Tp kenyataannya, tidaklah demikian. Apakah yang kita lihat di dalam Alkitab? Bukannya orang2 Yahudi berhasil mempermalukan orang2 Kristen dgn menunjukkan kuburan Yesus, tetapi sebaliknya, orang2 Yahudi yang mengarang cerita bahwa kubur Yesus dicuri oleh murid2 (Mat.28:11-15). Sekalipun tentu sangat sulit menerima cerita bohong tersebut, karena kubur Yesus dijaga sedemikian ketat (Mat.27:62-66) sementara murid2 sedemikian lemah dan tak berdaya, namun demikian cerita itu tetap diciptakan demi melepaskan diri dari kondisi kepepet. Inti yang mau saya sampaikan adalah ini: bukannya orang2 Yahudi dan musuh2 Kristen berhasil menunjukkan kuburan Yesus, tetapi, mengarang cerita yg sangat sulit diterima akal.

Jika kita beralih dari Petrus kpd rasul Paulus, maka kita juga melihat penegasannya tentang kematian dan kebangkitan Yesus tersebut. Dia bahkan mengatakan hal itu sbg berita yang "sangat penting..." (1Kor.15:3-4). Untuk itu, dia juga menjelaskan bukti2 dari peristiwa Yesus menampakkan diriNya kpd orang yg berbeda-beda pd wkt yg berbeda-beda, termasuk kpd dirinya sendiri (ay.5-8). Dari semua penampakan itu, salah satu kalimat yg SANGAT PENTING DIAMATI adl kalimat berikut, "Sesudah itu Ia menampakkan diri kpd lebih dari LIMA RATUS saudara sekaligus; KEBANYAKAN DARI MEREKA MASIH HIDUP SAMPAI SEKARANG, ttp bbrp telah meninggal" (1Kor.15:6).Pernyataan di atas sangat penting. Penegasan itu melawan teori halusinasi sbgmn dituduhkan oleh theolog tertentu termasuk Ludemann. Apakah mungkin terjadi halusinasi kepada 500 orang pd saat yg sama? Jawabnya tentu tidak. Selanjutnya, jk sekiranya ada keraguan terhadap kebangkitan Yesus, mk ketika rasul Paulus menulis kitab tersebut, mk berhentilah segala keraguan itu dengan menanyakan langsung kpd saksi mata yg MASIH HIDUP tersebut. Dengan perkataan lain, segala debat, keberatan dan tantangan terhadap kebangkitan Yesus telah dipatahkan oleh rasul Paulus dgn tulisannya tersebut. Jika demikian halnya, boleh dikatakan bahwa debat meragukan dan menolak kebangkitan Yesus SUDAH DITUTUP pada abad pertama dengan KEMENANGAN DI PIHAK PRO KEBANGKITAN. Apa yg terjadi dgn sekarang? Ketika saya dgn seorang teman (ketepatan pendeta dari sebuah gereja besar) berdebat berjam-jam tentang kebangkitan Yesus, mk dengan emosi tinggi dia berkata: "Buktikan kpd saya bahwa Yesus bangkit..." Tentu saya mengalami kesulitan melakukan itu, khususnya jk kita bicara dari segi saksi mata. Itulah sebabnya dia merasa menang. Karena itu, saya memintanya untuk tidak terlalu cepat tertawa dan merasa menang karena saya kemudian balas menantangnya: "Masalahnya, bukan pada saya, tapi pada diri anda. Buktikan kpd saya bahwa Yesus tidak bangkit". Hasilnya? Dia pun bungkem dan hanya bisa mengarang cerita spt pemimpin2 tersebut di atas. Tapi lain halnya pd abad pertama ketika rasul Paulus menulis kitab di atas. Kebangkitan dpt dibuktikan oleh saksi mata yg MASIH HIDUP KETIKA ITU. Jadi, segala teori yang meragukan dan menolak kebangkitan Kristus dapat dipatahkan.

Ada lagi tuduhan yang aneh yang sengaja diberikan oleh mereka yg meragukan kebangkitan Yesus tersebut. Mereka mengatakan bhw hal itu adl dongeng ciptaan orang2 Kristen. Tp sesungguhnya, tuduhan spt ini pun dpt dgn mudah ditolak, karena dalam masa kurang dari 30 thn sejak kematian dan kebangkitan Kristus, berita itu telah dituliskan oleh keempat penulis Injil: Mat, Mark, Luk dan Yohanes. Dalam kurun wkt singkat spt itu tidak mungkin menciptakan sebuah dongeng, di mana saksi mata masih cukup banyak yang hidup. Bahkan jika kita perhatikan surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, dia menulis: "Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, . bhw Kristus mati karena dosa-dosa kita. ia telah dibangkitkan pada hari yg ketiga.(1 Kor.15:3-4). Menarik sekali membaca kalmiat tersebut di atas, di mana itu termasuk merupakan pengakuan kepercayaan paling awal dari Gereja mula-mula. Menurut para ahli, pengakuan itu diduga sudah menyebar di berbagai jemaat mula-mula pada thn 35 M. Jadi, jk rasul Paulus bertobat pd tahun 32, maka 3 thn kemudian, pengakuan tersebut diterima oleh rasul Paulus dan kemudian dituliskannya. Selang waktu tiga tahun sungguh merupakan waktu yang terlalu dekat untuk menciptakan sebuah dongeng.Bagaimana caranya orang2 liberal menjelaskan hal itu? O... 'gampang' saja. Dengan ringan Ludemann dpt mengatakan bhw Paulus itu aneh dan mengalami gangguan jiwa yg perlu dibawa ke RS jiwa. Mengapa? Karena tidak mungkin seorang yg tadinya begitu keras menentang kekristenan tiba2 berubah sedemikian jadi pembela nomor satu! Tidak heran jk mereka ini akan membuat berbagai teori, spt rasul Paulus stress berat karena berbagai hal, mengalami visionary, terancam hidupnya, dstnya...Tapi kita juga punya penjelasan yg cukup kuat utk menyanggah tuduhan tersebut di atas. Krister Stendahl, theolog Swedia yg boleh dikatakan tidak seinjili orang2 Injili pada umumnya (utk tidak mengelompokkannya juga kpd theolog liberal spt Ludemann) pernah menulis bhw Paulus tidak mengalami masalah spt dituduhkan tersebut, karena itu tidak perlu dia menulis hal2 yg aneh2. Stendahl menulis:"... he experiences no troubles, no problems, no qualms of conscience. He is a star pupil, the student to get thousand dollar graduate scholarship in Gamaliel's Seminary... Nowhere in Paul's writings is there any indication... that psychologically Paul had some problem of conscience".[7]

Setelah melihat betapa kuatnya dasar yang kita miliki untuk menerima kebangkitan tersebut, sekarang kita melihat apa makna praktis dari kebangkitan tersebut kepada kita. Bagi saya secara pribadi, kebangkitan Yesus mengandung makna yg sangat penting, yang berhubungan dgn doktrin- doktrin penting kekristenan.

Pertama, kebangkitan Yesus berhubungan dengan ajaran Kristologi. Kebangkitan tersebut menyatakan identitas diri Yesus Kristus. Seluruh pendiri agama, betapapun besarnya mereka itu, mereka memiliki nasib dan kondisi yang sama: mereka semua berada di dalam kuburan. Tetapi Yesus mengosongkan kuburan. Ini kembali membuktikan keAllahanNya. Di dalam Kristologi, dikenal dua macam pendekatan: pendekatan dari atas, yaitu Kristologi dari atas (Christology from above) dan pendekatan dari bawah, yaitu Kristologi dari bawah (Christology from below).

Pendekatan Kristologi dari bawah melihat kebangkitan Yesus sebagai klimaks penyataan diri Yesus sbg Tuhan. Rasul Petrus menulis: "Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus) (Kis.2:36). Pemimpin-pemimpin agama Yahudi menyalibkan Dia, tetapi Allah membangkitkanNya. Itu berarti bhw pernyataan Tuhan Yesus selama hidupNya benar adanya. Jk sekiranya Yesus adl pembohong spt tuduhan mereka yg memusuhiNya, mk Allah akan membuktikan 'kebohongan' tersebut dgn membiarkan Nya tetap di dalam kuburan. Tetapi Yesus tidak bohong, Dia benar2 bangkit; Dia membuktikan diriNya sbg Allah yang melampaui nabi-nabi. Karena itu, biarlah kita menyembah dan melayani Dia seumur hidup kita.

Kedua, kebangkitan Yesus berhubungan dengan bibliology (ajaran tentang Alkitab). Sejak PL sudah dengan sangat jelas dinubuatkan bahwa tentang kematian dan kebangkitan Yesus tersebut. Itulah sebabnya rasul Paulus menulis bahwa hal itu "sesuai dengan kitab suci" (1Kor.15:3-4). Ketika rasul Paulus mengatakan bhw maut telah ditelan oleh kematian Yesus, dia mengacu kepada nubuatan nabi Yesaya dan Hosea (1Kor.15:54-55; Yes.25:8; Hos.13:14). Demikian juga, ketika rasul Petrus berkhotbah tentang kebangkitan Yesus, dia mengacu kepada nubuatan2 yang telah ditulis di dalam Perjanjian Lama (Kis.2:23-36). Sebagaimana telah sy tulis di atas, Injil Matius sendiri mencatat berkali-kali tentang kematian dan kebangkitan Yesus tersebut (Matius: 16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2. Lihat juga Yoh.10:17-18). Jadi, dengan kebangkitan Yesus tersebut, maka pernyataan2 Alkitab di dalam PL terbukti benar, semua digenapi. Dengan demikian, kita dapat semakin mengandalkan firman Tuhan sbg landasan yg teguh bagi iman dan hidup kita.

Ketiga, kebangkitan Yesus berhubungan dengan soteriology (ajaran tentang keselamatan). Perlu kita perhatikan bahwa sekalipun di dalam agama-agama lain kita menemukan ajaran yang kelihatannya sama dengan Kekristenan, namun dalam hal kebangkitan, ada perbedaan yang sangat mendasar. Ini yang seringkali saya katakana, serupa tapi tak sama. Sama halnya, ketika melihat semua daun kelihatannya sama, tapi sebenarnya berbeda, demikian juga dengan Kekrisenan dengan agama-agama lain. Di mana perbedaannya? Memang agama lain juga mengajarkan tentang adanya keselamatan dan kebangkitan orang mati. Artinya, agama lain juga mengajarkan adanya kehidupan setelah kematian. Tetapi yang menjadi pertanyaan besar adalah siapakah dari mereka yang telah bangkit? Siapakah dari pendiri agama tersebut yang telah bangkit? Kita jawab dengan tegas dan yakin: tidak ada. Jika demikian halnya, apa dasarnya umat dari agama-agama tersebut mengimani dan berharap kepada kebangkitan setelah kematian jika dalam kenyataannya TIDAK ADA YANG BANGKIT? Itulah permasalah utamanya. Dengan perkataan lain, di dalam agama lain kebangkitan tersebut baru merupakan KONSEP ATAU IDE yang belum menjadi kenyataan. Bagaimana dengan kekristenan? Kebangkitan bukan sekedar ide, tetapi FAKTA DAN REALITA. Kritus telah bangkit. Itulah sebabnya kita mengerti bahwa rasul Paulus menuliskan fakta kebangkitan Yesus secara meyakinkan di dalam 1 Kor.15. Untuk apa? Karena itu MENJADI DASAR YANG PASTI bagi kebangkitan orang percaya. Rasul Paulus menulis:
"Jadi, bilamana kami beritakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan" (1Kor.15:12-13).

Ada yang dengan nada sinis berkata, "Sekiranya Yesus benar2 dibangkitkan, apa hubungannya dengan saya? Yang bangkit adalah Kristus, dan bukan saya". Untuk ini saya akan mengutip kalimat Yesus sendiri sebelum kematian dan kebangkitanNya. "Karena Aku hidup, dan kamupun akan hidup" (Yoh.14:19b) Jadi, dari pernyataan Yesus tersebut jelas sekali adanya hubungan yang erat antara kebangkitan Yesus dan kebangkitan orang percaya. Sebagaimana rasul Paulus juga menegaskan bahwa Yesus menjadi yang pertama bangkit, "Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya" (1Kor.15:23). Dengan perkataan lain, kita tidak hanya memiliki ide atau konsep yang muluk-muluk, tapi kita sungguh memiliki contoh yang sangat jelas.

Keempat, kebangkitan Yesus berhubungan dengan missiologi (ajaran tentang missi). Menarik sekali bagaimana pengutusan (missi) dituliskan dalam Injil Matius. Sebelumnya, Dia memperkenalkan diriNya dengan menunjukkan siapa Dia sebenarnya.
"KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi." (Mat.28:18). Setelah itu, Dia menggabungkan diriNya yg adl penguasa surga dan bumi dengan pengutusanNya. "Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu..." (ayat 19). Dengan perkataan lain, Dia yang telah mengalahkan maut itu adl penguasa surga dan bumi. Dan dengan kuasa tersebutlah Dia mengutus murid-muridNya untuk bermissi. Kuasa dosa, setan dan maut telah dikalahkanNya. Lalu apa lagi yang perlu ditakutkan? Demikian juga, Injil Markus melukiskan dengan sangat indah bagaimana setelah kebangkitan Yesus, berita keselamatan itu menyebar ke berbagai penjuru. Markus menulis: "Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu, Yesus sendiri dengan perantaraan murid-muridNya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu. Rasul Paulus juga menuliskan:
"Tetapi andaikata Yesus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami." (1Kor.15:14).

Kelima, kebangkitan Yesus berhubungan dengan eskatologi (ajaran tentang akhir zaman). Sebagaimana telah kita sebutkan di atas, kita tidak beriman dan berharap kepada pendiri agama yang hebat NAMUN DIRINYA SENDIRI MASIH DI KUBURAN. Kita percaya dan berharap kepada Yesus yang telah mengalahkan maut. Dengan demikian, bukan saja pemberitaan kita tidak sia-sia, tetapi juga seluruh pengharapan kita tidak akan sia-sia. Dengan perkataan lain, seluruh janji2 Allah, baik dalam PL maupun dalam PB akan digenapiNya pada waktu yang ditetapkanNya sendiri. Menarik sekali bagaimana rasul Paulus mengakhiri perenungannya tentang kebangkitan Kristus dalam satu fasal penuh pada 1 Kor.15. Fasal itu diakhiri dengan satu pernytaan yang sangat indah dan menghiburkan: "Karena itu, saudara/I ku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. SEBAB KAMU TAHU BAHWA DI DALAM TUHAN, JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA" (1 Kor.15:58). Kalimat dalam huruf besar adl terjemahan saya sendiri. Di dalam bhs asli tidak ada kata "bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan". Kalimat itu cukup diterjemahkan dengan "di dalam Tuhan", artinya, kita yang percaya dan hidup di dalam Tuhan, apapun yang kita kerjakan, hal itu tidak sia-sia. Pengharapan kita, bukan hanya di dunia ini, tetapi juga dunia yang akan datang. Dengan sangat tegas rasul Paulus menulis: "Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan kepada Kristus, maka kita adalah orang-orang paling malang dari segala manusia" (1 Kor.15:19). Implikasi negatif lain bagi mereka yang tidak mempercayai kebangkitan dan hidup yad adl hidup dengan semaunya tanpa memper-hatikan hidup kudus. Barangkali, itulah yang mengakibatkan orang bisa menjerumuskan dirinya kpd berbagai macam dosa, spt percabulan, berbagai kecemaran: homosex: guy dan lesbian atau bahkan apa yg disebut dgn animal sex.

Hal itu memang sudah ditegaskan oleh rasul Paulus ketika dia menyindir orang2 penganut ajaran hedonisme denga menulis: "Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka 'marilah kita makan dan minum, sebab besok kita akan mati'" (1 Kor.15:32) (hedonisme: suatu pandangan yg membuat kenikmatan, kesenangan menjadi tujuan hidup). Pada bagian lain rasul Paulus menulis tentang pengharapannya yang teguh pada kebangkitan tersebut: "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal" (2 Kor.4:18).

Penutup

Secara jujur saya mengatakan bhw kita dpt menulis secara panjang lebar tentang kebangkitan Kristus tersebut. Sy bersukacita memberitahukan bahwa di dalam perjalanan menjelajah di dalam dunia theologia yang sedemikian rumit, sy mengamati bhw sekali-pun ada segelintir org yg meragukan dan menolak kebangkitan Kristus tersebut, namun sangat banyak ahli-ahli theologia di bawah kolong langit ini yang membangun iman dan hidupnya di atas dasar Kristus yg bangkit tersebut. Sy telah berjumpa dgn mereka secara pribadi dan mengamati sorot mata mereka yg dgn jujur menyatakan iman dan keeper-cayaan mereka. Jd, kita tidak sendiri mengimani tema yg sangat penting tersebut. Banyak hal yg dpt kita bicarakan tentang iman dan pengajaran mereka. Tetapi kita akhiri di sini saja pembahasan tema, yang oleh rasul Paulus ditegaskan sebagai tema "yang sangat penting" tersebut.

Marilah kita mendasarkan kebangkitan Yesus tersebut kepada kebangkitan kita sendiri. Sebagaimana telah kita lihat ditegaskan oleh Yesus, "... karena Aku hidup, mk kamupun akan hidup" (Yoh.14:19b). Sebenarnya, sadar atau tidak, kita sudah menyatakan kebangkitan tersebut sebagai hal yang sangat penting. Kita telah merayakannya setiap hari Minggu dan menjadikannya sebagai dasar yg teguh. Selanjutnya, marilah kita juga memberitakannya kpd orang lain, sebagaimana kita melihat hal itu ditegaskan oleh keempat penulis Injil.

Sebenarnya, waktu kita beribadah menjadi hari Minggu, itu merupakan perubahan mendasar dari hari Sabtu, yi hari yang sebelumnya dipraktekkan oleh umat Allah dan para Rasul. Akan tetapi untuk memperingati dan mensyukuri kebangkitan Yesus di hari Minggu tersebut, mereka tidak lagi beribadah hati Sabtu, tapi hari Minggu. Tradisi itulah yang kita ikuti hingga saat ini. Artinya, hal itu mengingatkan kita bhw Kristus telah bangkit, maka kitapun memiliki jaminan yang pasti akan kebangkitan kita; bukan sekedar teori atau konsep yang belum menjadi kenyataan. Jadi, ibadah tiap minggu merupakan ungkapan sorak sorai atas kemenangan yang dikerjakan dan dikaruniakan oleh Tuhan Yesus tersebut.

Sesungguhnya iman thdp kebangkitan itu bukanlah hal sepele. Itu adl pilihan antara hidup atau mati. Ya, spt pernah ditegaskan oleh apologet Kristen, Prof Ravi Zacharia, kekristenan bukan sekedar perubahan dari jahat menjadi baik, atau bodoh menjadi pintar. Lebih dari itu, Kekristenan adalah pilihan antara hidup kekal dan binasa kekal. Ketika filsuf terkenal Leo Tolstoy kehilangan yg dikasihinya, Anne K, mk semua ilmu filsafatnya tidak dpt menjelaskan apa yg sedang terjadi. Dia hanya dpt berteriak dengan sedih mengatakan, "Dari mana datangnya hidup dan kemana dia pergi
...?"

Akhir kata, jk kita berada di kapal Titanic yg besar itu, kita dpt menari dan bermain sepuasnya tanpa perlu memikirkan apa yg terjadi bbrp jam lagi atau esok hari. Lain halnya ketika diberitahukan bhw Titanic bbrp jam lagi akan tenggelam! Orang2 akan terlalu bodoh terus bermain-main dan menari-nari. Mereka semua, ya semua harus segera bertindak, berhenti dari segala permainan mereka.... berlari keluar secepat-cepatnya dan mencari kapal kecil yg dpt memberi harapan agar terlepas dari maut (sekalipun usaha itu tetap tidak pasti)!

Berita kebangkitan bukan sekedar harapan. Itu adl kepastian. Ya kepastian kehidupan kekal bagi mereka yg percaya dan menerima Dia, dan kepastian kebinasaan bagi mereka yg mengeraskan hati dan menolak!

Barangkali ada yg bertanya, "Apakah mungkin seseorang tetap mengakui dirinya Kristen namun pd saat yg sama menolak kebangkitan Kristus serta keAllahannya"? Jawabnya, mungkin saja. Itulah yg terjadi dgn Ludemann. Ketika dia didesak utk mengatakan apakah dia tetap menyebut diri Kristen dgn pandangan yg sedemikian liberal, mk dia menjawab dgn "the answer is a confident 'Yes'".[8] Ironis memang. Tapi itulah kenyataannya yg kita lihat di sekitar kita.

Kita bukanlah Ludemann. Kita adl org2 percaya yg dengan penuh syukur menjalani hidup kita di dalam kuasa dan kemenangan Yesus Kristus. Bersama rasul-rasul kita bisa berseru dalam kemenangan: "Kristus telah bangkit! Dan Dia bangkit untuk kita".-

--------------------------------------------------------------------------------

[1] Gerd Ludemann, What really happened to Jesus? A Historical Approach to the
Resurrection, trans. John Bowden (Louisville, Ky: Westminster John Knox, 1995),
134-5.

[2] David Hume, An Inquiry Concerning Human Understanding, ed. L.A.
Selby-Bigge,3rd ed (Oxford: Clarendon press, 1975), 114.

[3] William Lane Craig, Assessing the New Testament Evidence for the Historicity
of the Resurrection of Jesus (Lewiston/Queenston: The Edwin Mellen Press), 163
ff.

[4] Klaus Berger, "Ostern fallt nicht aus! Zum Streit um das 'kritische Buch
uber die Auferstehung", Idea Spektrum 3 (1994), 21-2.

[5] Jacob Kremer, Die Osterevangelien: Geschichten um Geschichte (Stutentangart:
Katholisches Bibelwerk, 1977), 49-50.

[6] John A.T. Robinson, The Human Face of God (Philadelphia: Westminster Press,
1973), 131.

[7] Krster Stendahal, "Paul Among Jews and Gentiles", in Paul Among Jews and
Gentiles Philadelphia: Fortress, 1976), 12-3.

[8] Opcit, 136.