Monday, 24 September 2018

Mengapa merayakan hari Natal? Jika kita berani jujur menjawab pertanyaan tersebut, maka mungkin kita akan kaget menerima jawaban yang ada. Mengapa? Karena jawaban yang muncul kadangkala tidak ada kaitannya dengan Natal itu sendiri. Itu sebabnya, saya setuju dengan sebuah pernyataan yang mengatakan: “Christmas means a different thing for a different person”. Natal mengandung makna yang berbeda bagi orang per orang. Untuk orang tertentu, hari Natal merupakan saat yang paling menguntungkan untuk mengadakan transaksi dagang (business). Karena itu, segala upaya maksimal akan dilakukan demi mencapai hasil maksimal dari Natal tersebut. Untuk orang lain, barangkali hari Natal merupakan saat yang baik untuk mencari nama dan menjalin relasi. Relasi yang baik akan menolong menuju ke peningkatan karir. Karena itu, orang-orang tertentu akan sangat senang duduk dalam kepanitiaan Natal, misalnya menjadi ketua, walau dia tidak memiliki kemampuan untuk itu. Dengan posisi sebagai ketua, apalagi dalam perusahaan tertentu, maka itu merupakan kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang penting di perusahaan itu. Dan pada saat Natal berlangsung, orang-orang seperti itu dapat mempromosikan dirinya dengan berbagai macam cara. Kita dapat menyebut contoh-contoh lain, tapi kita dibatasi oleh ruang yang terbatas.

Perayaan Natal yang seringkali kurang bermakna atau sesat makna tersebut telah membuat orang-orang tertentu mengusulkan agar hari Natal tidak perlu dirayakan. Alasannya jelas: kegiatan rohani seperti itu sesungguhnya merupakan pemborosan yang tidak mencerminkan kerohanian. Itulah sebabnya saya mengerti ketika pada tahun yang lalu sebuah kepanitiaan Natal di kantor tertentu bergumul untuk mengadakan Natal. Hal itu terlebih lagi disebabkan situasi keprihatinan nasional, adanya bencana alam Tsunami yang telah menewaskan ratusan ribu orang. Akhir pergumulan pantia adalah tetap mengadakan perayaan Natal. Tentu saja dengan penghayatan yang benar dan semakin mendalam.

Saya setuju untuk meniadakan perayaan Natal jika ternyata hal itu dilakukan tanpa penghayatan yang benar. Di pihak lain, saya juga mendukung perayaan Natal tersebut tetap dilaksanakan, berapa pun harga yang harus dibayar asalkan dengan pemahaman yang benar. Pemahaman yang benar seperti itu hanya kita peroleh ketika kita sungguh-sungguh membaca dan merenungkan pernyataan-pernyataan Alkitab. Secara umum kita mengetahui bahwa berita Natal adalah berita kelahiran, yaitu kelahiran Yesus Kristus ke dalam dunia (Luk.2:11). Kelihatannya, pernyataan ini sederhana. Tapi sebenarnya, sungguh sangat tidak sederhana. Mengapa? Karena Alkitab menjelaskan bahwa Dia adalah Sang Firman yang menjadi daging (Yoh.1:14). Dalam permulaan Injil Yohanes, Sang Firman sendiri disebut adalah Allah juga” (Yoh.1:1). Jadi, dalam peristiwa Natal, Firman yang adalah Allah sendiri, menjadi daging? Siapakah yang dapat menjelaskan berita tersebut sehingga dapat dimengerti sepenuhnya? Saya yakin, tidak ada. Itulah sebabnya kata “rahasia” atau “mistery” memang merupakan kata yang tepat menggambarkan peristiwa Natal tersebut. Kata “menjadi” (Inggris, became; Yunani, egeneto) dalam kalimat “Firman menjadi daging” pun merupakan kesulitan bagi para ahli. Apakah itu berarti bahwa Firman yang adalah Allah berubah menjadi daging atau manusia, dengan demikian Dia bukan lagi Allah? Atau, Firman tetap dalam keAllahanNya dan pada saat yang sama Dia juga manusia? Jika demikian halnya, sejauh mana kita mengerti kata “menjadi” tersebut?

Bicara soal pemahaman bahwa Yesus bukanlah Allah, tapi hanya manusia biasa, tentu saja kita setuju dengan banyak ahli yang dengan tegas menolak pemahaman seperti itu karena memang tidak mencerminkan pengajaran Alkitab. Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah (Inggris, God; Yunani, Theos). Hal ini telah didemonstrasikan dengan baik oleh seorang theolog, jebolan Inggris, yaitu Murray J. Harris, Ph.D, dalam bukunya Jesus as God. The New Testament Use of Theos in Reference to Jesus. Karena itu, barangsiapa menolak pernyataan penting itu akan mengalami kesulitan menjelaskan pernyataan-pernyataan Alkitab tentang keAllahan Yesus. Demikian juga, akan mengalami kesulitan menjelaskan fakta credo atau pengakuan iman Gereja tentang keAllahan Yesus yang telah dianut selama lebih dari dua ribu tahun! Jadi, ketika kita merayakan Natal, maka penting kita renungkan rahasia yang terjadi pada hari Natal itu. Firman yang adalah Allah, menjadi daging! Pencipta alam semesta dan segala bimasakti masuk ke dalam dunia ciptaan! Rudolf Bultmaan dan Raymond Brown benar ketika mengatakan bahwa pernyataan Alkitab tersebut telah menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Namun bagi setiap orang percaya, berita seperti ini akan menimbulkan kekaguman dan syukur yang tidak cukup dilukiskan dengan kata-kata dan nyanyian. Jika syukur dan kekaguman seperti ini yang mau diungkapkan dalam perayaan Natal, maka hal itu merupakan sesuatu tindakan yang terpuji.

Selanjutnya, Alkitab menegaskan bahwa peristiwa yang ajaib, yaitu Firman menjadi daging tersebut adalah untuk keselamatan manusia berdosa: “... supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:16). Penegasan Alkitab tersebut meruntuhkan kecongkakan manusia yang merasa dirinya benar, mampu dari dirinya sendiri, seolah-olah tidak memerlukan pertolongan untuk menyelesaikan masalah dirinya yang paling mendasar. Dalam kenyataannya, Alkitab menegaskan bahwa manusia sangat memerlukan pertolongan dari luar dirinya. Singkatnya, manusia memerlukan Juruselamat. Penegasan Alkitab tersebut juga meruntuhkan segala kecongkakan dan kefanatikan agama yang ada waktu itu, termasuk Judaisme (agama Yahudi), juga agama-agama yang muncul kemudian, yang merasa bahwa agamanya menjamin keselamatan bagi pemeluknya. Penegasan di atas dan banyak penegasan sejenis di dalam Alkitab menyatakan bahwa manusia tidak cukup hanya memiliki agama. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus pernah menyatakan kebenaran ini kepada penganut agama yang sangat taat di zamanNya: “... sebab jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati di dalam dosamu” (Yoh.8:24). Singkatnya, agama tidak menyelamatkan. Mengapa? Jawabnya sederhana: karena semua penganut dan pendiri agama berada dalam lingkaran dan kuasa dosa. “Karena semua manusia telah berbuat dosa” (Ro.3:23), dan “Upah dosa adalah maut!” (Ro.6:23). Dan mengenai korban persembahan, Alkitab mengajarkan bahwa korban binatang tidak cukup menyelesaikan masalah dosa. Hal itulah yang ditegaskan oleh penulis kitab Ibrani: “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (Ibrani 10:4). Jika demikian halnya, siapapun dia, termasuk agama Kristen, bahkan mereka yang memegang posisi sebagai rohaniwan seperti majelis dan pendeta, mereka akan binasa tanpa Yesus. Sebaliknya, siapa pun dia, betapa pun besar dosa yang telah dilakukannya, jika orang itu sungguh-sungguh percaya kepada Yesus serta sungguh-sungguh bertobat, maka dia akan beroleh keselamatan yang kekal. Hal itulah yang diwartakan oleh nabi Yesaya sekitar 700 tahun sebelum Yesus lahir ke dalam dunia (Yes.1:18; 53:4-6). Penghayatan akan keselamatan yang kekal dan yang tidak ternilai harganya tersebut, serta kelepasan dari segala macam perbudakan dosa mengakibatkan syukur dan kekaguman yang juga tidak terlukiskan dengan kata-kata.

Tentu saja, untuk menyatakan ibadah syukur dan penyembahan seperti itu tidak harus dengan perayaan Natal dengan biaya besar. Juga tidak harus dengan cara yang sangat mewah dan megah. Kita sepenuhnya setuju agar dalam perayaan Natal tahun ini, dan pada waktu yang akan datang, kita menjauhkan diri dari segala hal yang sifatnya pemborosan. Jika gereja atau panitia natal memiliki banyak dana, maka hal itu dapat disalurkan kepada mereka yang memerlukan. Kondisi negara kita belakangan ini, khususnya setelah kenaikan harga BBM yang mengakibatkan meningkatnya biaya hidup sehari-hari menyebabkan semakin banyaknya orang yang hidup dalam kemiskinan dan membutuhkan uluran tangan kita. Bukankah tindakan Yesus di hari Natal itu adalah tindakan kasih dan pengorbanan yang patut kita teladani secara bersama-sama? Dan lagi, bukankah Tuhan Yesus sendiri yang berulang tahun? Karena itu, kita seharusnya memberi hadiah kepadaNya melalui hal-hal yang menyukakan hatiNya. Sehubungan dengan itu, Dia pernah mengatakan: “... sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat.25: 40).

Akhirnya, apa dan bagaimana pun kondisi kita tahun ini mari kita tetap memperingati dan merayakan Natal, bersyukur kepadaNya dan kagum atas karya kasihNya yang sangat ajaib. Selamat hari Natal 25-12-05 dan Selamat Tahun Baru 1-1-06.-

Salam hangat,

Mangapul Sagala