Tuesday, 20 November 2018

Selama berabad-abad, Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, menjadi sumber penting untuk mempelajari Kristologi (ilmu yang mempelajari tentang siapa Yesus Kristus). Bahkan pada abad 16 tokoh-tokoh reformasi seperti M. Luther menyerukan otoritas Alkitab sebagai satu-satunya otoritas tertinggi bagi iman, keselamatan dan menjadi dasar dari seluruh doktrin Kristen. Itulah yang kita kenal dengan istilah Sola Scriptura. Istilah lain yang penting berkenaan dengan otoritas Alkitab adalah kanon Alkitab. Ini berarti bahwa Alkitab adalah pengukur, di mana segala etika dan doktrin diukur dari pengajaran Alkitab.

Namun dua abad kemudian, pada akhir abad 18 seiring dengan masa pencerahan (enlightenment), di mana rasio manusia begitu dijunjung tinggi lebih dari sepatutnya, maka pernyataan-pernyataan Alkitab yang telah diterima selama berabad-abad mulai diganggu gugat dan dicoba dibongkar sampai ke akar-akarnya. Hal yang sama dilakukan untuk doktrin Kristologi. Jadi, Yesus Kristus yang telah diakui dan diterima sebagai Allah, oknum kedua Tritunggal juga digugat dan dicoba ditafsirkan ulang.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Bultmann, yaitu menolak Yesus Kristus yang disaksikan oleh para penulis Alkitab dan hanya menerima apa yang disebut dengan Yesus sejarah telah terjadi dua abad sebelumnya ketika Reimarus mencoba membangun Kristologi yang berbeda dari apa yang dituliskan di dalam Injil. Jadi tema di atas merupakan sebuah tema yang telah dibahas sedemikian lama dan dengan pendekatan yang sedemikian rumit.

Istilah Yesus sejarah dimunculkan untuk membedakannya dengan istilah lain, yaitu "Kristus yang diimani". Istilah pertama dimengerti sebagai Yesus yang sesungguhnya, atau ."the real Jesus", atau meminjam istilah Bultmann, "the mere thatness", sedangkan istilah kedua, mengacu kepada pribadi Yesus yang telah dipoles oleh para rasul. Maksudnya, rasul- rasul dan penulis-penulis Alkitab tidak lagi menulis Yesus yang sesungguhnya, apa adanya, tetapi menuliskan Yesus dari kaca mata mereka. Menurut pandangan ini, apa yang ditemukan didalam Alkitab, baik itu ucapan, karya serta istilah–istilah yang diberikan kepada Yesus yang mengacu kepada keAllahanNya, sebenarnya hanya merupakan ciptaan atau kreasi para rasul, bukan menggambarkan Yesus yang sesungguhnya. Bultmann menegaskan bahwa mustahil kita dapat mengetahui ucapan-ucapan Yesus dan merekonstruksi kehidupanNya selama Dia hidup di Galilea dan Yerusalem .pada tahun 30-33 Masehi.
Dalam semangat seperti inilah muncul usaha-usaha dari para ahli untuk `menemukan' kembali Yesus sejarah. Sebagai hasilnya, kita mengenal apa yang disebut dengan "The first Quest for the Historical Jesus" (A. Schweitzer, 1906), "The second (new) Quest" (E. Kasemann, 1964) dan "The Third Quest" (M.E. Boring, Interpretation 50, 1996, 341-354).

Jika kita membaca dan mengamati dengan seksama tulisan dan pandangan para ahli tersebut di atas, maka kita dapat menemukan beberapa hal.

Pertama, kita menemukan bahwa dari banyak penelitian atau tulisan yang dilakukan oleh teolog-teolog tertentu, sesungguhnya tidak menjelaskan tentang siapa Yesus. Tulisan-tulisan mereka (para peneliti tersebut) lebih banyak menggambarkan diri mereka sendiri daripada diri Yesus. Atau, jika kita mencoba membangun wajah Yesus sebagaimana dipahami oleh teolog-teolog tersebut, maka kita melihat wajah Yesus yang tercabik-cabik. Itulah sebabnya saya mengerti jika ada sebuah buku tentang Kristologi dengan sampul depan adalah wajah Yesus yang terbagi-bagi. A. Schweitzer sendiri, setelah menganalisa berbagai pandangan mulai dari Reimarus sampai ke Wrede menegaskan: "they were describing their own mirror-image reflection aboout Jesus" Pernyataannya tsb tentu berlaku juga bagi dirinya sendiri.

Kedua, saya melihat suatu keanehan yang dilakukan oleh teolog-teolog ketika mereka memisahkan Yesus sejarah dari Kristus yang diimani. Adalah merupakan fakta yang tidak dapat disangkali bahwa para penulis Alkitab menulis kembali kehidupan Yesus SETELAH kebangkitan Yesus, bukan sebelumnya. Tetapi itu tidak harus dipahami seolah-olah para penulis Alkitab menciptakan sendiri ucapan, karya dan kehidupan Yesus tanpa fakta sejarah. Adalah benar bahwa ketika kita membaca Perjanjian Baru, di sana kita menemukan tulisan-tulisan yang diwarnai oleh iman kepercayaan kepada Yesus Kristus yang bangkit. Apakah hal itu salah? Dalam hal ini saya setuju pernyataan M. Kahler yang menegaskan: "It was impossible to separate out the historical Jesus from the Christ of faith, since the New Testament writings all focus on the latter". Demikian juga Kasemann yang mengkritik gurunya, Bultmann menegaskan: "If there is no connection between the glorified Lord of the Gospels and the historical Jesus, Christianity becomes a myth". Dan lagi, apakah kita dapat menuntut para rasul untuk menulis atau mengkhotbahkan bahwa Yesus seolah-lah tidak bangkit? Apakah itu mungkin? Dan lagi, jika Yesus tidak bangkit, apakah kita dapat membayangkan adanya Injil tersebut? Apa yang akan mereka tuliskan? Iman seperti apa yang mau mereka bagikan?

Ketiga, usaha-usaha kelompok tertentu untuk `menemukan' kembali Yesus yang sebenarnya terlepas dan terpisah dari tulisan para rasul, bagi saya bukanlah karena didasari motivasi untuk mencari Yesus yang sesungguhnya. Jika mereka mau jujur dan terbuka, sebenarnya hal itu dilakukan karena ketidak mampuan teolog-teolog tertentu menerima (mengimani) apa yang dituliskan oleh para rasul. Karena itu, sebenarnya, jika ada masalah, maka masalah yang sesungguhnya bukan terjadi di dalam diri penulis Alkitab, tetapi dalam diri para ahli tersebut. Sesungguhnya , jika ada kesulitan, maka kesulitan terjadi dari pihak mereka, bukan dalam diri para rasul. Sangat aneh memang ketika kita membaca tulisan-tulisan teolog-teolog tertentu yang ingin mengajari penulis Alkitab untuk menulis apa yang seharusnya mereka tulis. Tapi itu adalah kenyataan yang terjadi di sekitar kita. Karena itu, ada yang dengan gemas berkata: "Jika para ahli tersebut meragukan dan tidak menerima apa yang dikatakan oleh para penulis Alkitab, mengapa mereka tidak sekalian saja meninggalkan Alkitab dan membuat kitab Sucinya sendiri? Jika Yesus yang dituliskan oleh para rasul bukanlah Yesus sejarah, atau the real Jesus, mengapa mereka tidak membuat Yesus mereka sendiri?" Saya menjawab bahwa memang itulah yang sudah dan sedang dilakukan oleh teolog-teolog tertentu. Tapi sebenarnya, justru di situlah permasalahannya. Jika kita tidak bisa mempercayai tulisan-tulisan para rasul yang nota bene merupakan murid-murid Yesus sendiri, lalu tulisan siapa lagi yang akan kita percayai? Apakah logis untuk menerima `Yesus sejarah'nya para ahli dan menolak Yesusnya para rasul? Bukankah mereka itu telah hidup bersama Yesus, mendengar sabdaNya dan menyaksikan sendiri karya-karyaNya? Mari kita perhatikan pernyataan berikut: "…Apa yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami… itulah yang kami tuliskan kepadamu (1Yoh.1:1). Kisah dan kuasa Yesus di dalam Alkitab adalah dongeng? Pernyataan itulah yang dilawan oleh Alkitab itu sendiri: "Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng dan isapan jempol manusia…tetapi kami adalah saksi mata" (2Pet.1:16). Para rasul subjektif dan tidak objektif menuliskan Yesus yang sesungguhnya? Sekiranya tuduhan itu benar, maka itulah gambaran terbaik dan terlengkap dari Yesus sejarah yang pernah kita miliki. Saya mau mengakhiri dengan contoh sederhana berikut. Sekiranya dua ribu tahun kemudian ada orang yang ingin mengenal Pdt. Stephen Tong, maka mereka harus menyelidinya menurut laporan bulletin GRII atau STRII, atau jika memungkin melalui tulisan2 saudaranya kandung. Jangan dibaca menurut laporan istana negara, belum tentu ada. Demi mencegah subjektivitas orang-orang yang sangat mengagungkan Stephen Tong, jangan pergi ke tanah Batak, sebab barangkali Tong yang lain yang ditemukan, yaitu Silitonga. Sekalipun keduanya ada kemiripan dan persamaan, tapi keduanya sungguh sangat berbeda.
Soli Deo gloria.-