Monday, 24 September 2018

Kristologi
(Oleh: Mangapul Sagala)

Siapakah Yesus Kristus? Apakah Dia sungguh-sungguh Allah, atau nabi atau manusia yang bermoral tinggi? Pertanyaan tentang siapa Yesus, bukan lagi merupakan hal yang baru. Sejak Yesus lahir ke dunia, hidup dan berkarya serta mati di kayu salib, bangkit, dan naik ke sorga, sudah banyak pandangan diberikan kepada Yesus. Banyak diskusi dan seminar yang dilakukan; ribuan bahkan jutaan jilid buku telah diterbitkan. Tentu semua itu dilakukan, ada dengan motif dan maksud baik, dan tidak sedikit dengan motif jelek dan jahat!

 

Kalau kita perhatikan dalam seluruh Alkitab, mulai dari Kitab Kejadian 1 sampai dengan Kitab Wahyu, maka nampak dengan jelas bahwa kehadiran Yesus (Perjanjian Baru) atau Mesias (Perjanjian Lama) telah mengakibatkan manusia terpecah ke dalam dua kutub yang tidak mungkin bersatu secara sungguh- sungguh, kecuali dengan kompromi. Ketika Yesus hidup di dunia ini, manusia pada zaman itu, tidak bisa tidak, ditantang untuk menentukan sikap terhadap diri dan FirmanNya. Ada orang yang percaya dan menerimaNya, karena itu memperoleh hidup yang kekal (Yoh.3:16). Ada juga yang tetap tidak percaya dan menolakNya, karena itu mengalami kebinasaan kekal (Yoh.3:18; Yoh.8:24; baca juga I Kor.1:18 dan I Pet.2:6-7).

Sesungguhnya, manusia pada zaman ini pun mau tidak mau harus mengambil sikap terhadap Yesus. Mereka tidak boleh bersikap netral dan acuh tak acuh. Mengapa? Karena gereja Tuhan, serta orang -orang percaya yang setia dan berani senantiasa menentang mereka dengan firmanNya. Karena itu mereka harus menentukan pilihan! Mereka harus percaya dan menerima, atau ragu-ragu dan menolak. Tentu, masing- masing pilihan mengakibatkan konsekuensi yang bersifat kekal. HIDUP KEKAL ATAU BINASA KEKAL.

Jadi, missi kita orang percaya bukan hal biasa atau juga tdk main2. Mengutip kalimat Yth Pdt Dr Billy Graham, "We are being called not to the play ground, but we are being called to the battle ground... to proclaim that Jesus is the King of Kings and the Lord of lords... He will come to save and to judge all people... certainly one day He will come..." (Amsterdam conference, ICIE, July 1986).

Siapakah Yesus? Dapatkah dan mungkinkah kita mengenalNya?
Kalau mungkin, bagaimana caranya?

Tuhan Yesus bersabda : "Tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang-orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya"
(Mat.11:27)

Firman tersebut di atas, sesungguhnya merupakan sebuah pernyataan penting dari Tuhan Yesus. Dari pernyataan itu kita dapat melihat pengajaran yang sangat penting yang merupakan kunci bagaimana mengenal Allah Bapa dan Yesus.

Dari sabda Yesus tersebut kita dapat menyimpulkan beberapa hal berikut:

1. Satu-satunya Pribadi yang mengenal Yesus, hanya Bapa. Demikian juga, satu-satunya Pribadi yang mengenal Bapa, hanya Yesus.

2. Pengenalan kepada Allah hanya dimungkinkan melalui penyataan (revelation, Yunani,apokalupsis) oleh Yesus sendiri. Itulah sebabnya, tanpa penyataan ini, semua usaha Manusia untuk mengenal Allah (melalui agama) adalah sia-sia. Karena hal itu adalah spekulasi manusia tentang Allah semata-mata.
Kita bersyukur karena kita memiliki pengenalan yang sejati tentang Allah, yaitu dengan metode penyataan tersebut di atas.

3. Siapakah yang dapat mengenal Allah? Jawabannya adalah orang-orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Dengan perkataan lain, itu tergantung kedaulatan Allah semata. Karena itu, Alkitab menegaskan bahwa untuk dapat mengenal Allah pun adalah anugerah juga ( Lihat Mat.11:25; 13:11,16), bukan karena usaha dan kemampuan manusia.

4. Hal itu berarti, sejauh mana Allah mau menyatakan diriNya kepada seseorang, sejauh itulah manusia dapat mengenal Allah. Manusia -betapapun hebat kuasanya dan pengetahuannya tidak boleh dan tidak berhak dengan caranya sendiri membayang-bayangkan atau menggambarkan rupa Allah. Karena dalam dunia ciptaanNya ini, tidak ada yang layak dijadikan sebagai alat untuk menggambarkan Allah secara sempurna. Sebaliknya, manusia tidak boleh dan tidak berhak membatasi dan menolak cara Allah untuk menyatakan diriNya. Karena Allah yang Mahakuasa berkuasa -atas kehendak dan kerelaan-Nya sendiri- untuk menyatakan diriNya dengan caraNya sendiri. Bukan itu saja. Allah juga memiliki kedaulatan penuh untuk menyatakan diriNya pada saat (Yun.kairos) yang dikehendakiNya.

Penulis Kitab Ibrani menulis: "Setelah pada zaman dahulu, Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek mo-yang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya" (Ibr.1:1).

Dari ayat tersebut terlihat dengan jelas bahwa Yesus adalah puncak dari penyataan diri Allah kepada manusia. Karena Yesus adalah Allah yang mengambil rupa manusia (Fil.2:6-7), dan dalam diri Yesus, berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan (Kol.2:9).

(bersambung).