Monday, 19 November 2018

Yesus adalah Allah Sejati

Sesungguhnya, keempat Injil memperlihatkan dengan jelas bahwa Yesus adalah satu pribadi yang unik. Karena itu, Dia tidak dapat disejajarkan dengan manusia lain, bahkan nabi manapun (baca Fil.2:10-11). Mengapa demikian? Karena Dia adalah Allah. Dalam Injil Yohanes, Yesus tidak hanya disebutkan bersama Allah, tetapi Dia adalah Allah sendiri. Yohanes menulis: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yoh.1:1).

Dari ayat permulaan itu, Yohanes menegaskan tiga hal penting:

 

Pertama, keberadaan Logos (Yesus, ayat 17) yg telah bereksistensi sejak pd mulanya ("en arkhe").

Kedua, hubungan Logos dgn Allah Bapa, yaitu bhw Yesus sdh bersama Allah sejak pd mulanya. Hal ini memang sangat logis. Jk Sang Logos sdh ada sejak kekekalan, mk Dia harus bersama-sama dgn Allah yg juga kekal.

Ketiga, Logos sendiri adalah Allah. Ini pun logis sekali. Jk kedua pernyataan sebelumnya diterima, mk tdk sulit menerima pernyataan yg ke-3, bhw Yesus sendiri adl Allah. Masalahnya memang adl munculnya/adanya pribadi lain di luar Allah (YHWH). Di sinilah keberanian Injil ke-4 memberi pernyataan dan penegasan yg tdk spt penulis2 PB lainnya. Krn itu saya setuju dgn Oscar Cullmann yg mengatakan bhw tanpa Injil Yohanes tsb, ajaran Trinitas masih samar-samar.

Selanjutnya, Firman yang adalah Allah tsb, kemudian dinyatakan menjadi manusia (Yoh.1:14), atau lebih tepatnya menjadi daging (Yun: Kai ho Logos sarks egeneto). Pernyataan ini pun luar biasa 'bombastis'nya. Sebenarnya, tanpa ayat 14 tsb tdk terlalu sulit utk Judaisme termasuk Philo utk menerima penjelasan ttg Logos. Mengapa? Krn sifat yg diperkenalkan itu persis sama dgn Wisdom theology. Namun dgn adanya penegasan di ayat 14, mk penulisan Injil Yohanes memang membuat dirinya berbeda dgn penulis manapun. Krn itulah saya menolak pandangan yg mengatakan bhw Yohanes mengcopy konsep Logos dari Hellenist atau Philo. Memang kita melihat adanya persamaan antara logosnya Philo dgn Logos dlm Injil Yoh. Namun persamaan itu tdk cukup membuktikan pandangan tsb di atas. Alasannya adalah krn adanya perbedaan yg sangat mendasar, yaitu penegasan Logos menjadi daging tsb, di mana konsep tsb tdk pernah muncul di dalam Philo (yg ada hanyalah bhw logos itu kadang2 mau berdiam di dalam diri manusia). Sesungguhnya penegasan "Logos menjadi daging" tsb merupakan sesuatu hal yg unbelievable bagi orang2 Yunani, termasuk Philo. Krn itu, dlm hal ini saya menyetujui R. Bultmann yg mengatakan bhw penegasan tsb telah menjadi batu sandungan bagi orang2 Yunani.

Kembali kpd pernyataan yg sangat 'bombastis' tsb, seorang theolog besar bernama W. Pannenberg malah menegaskan bahwa kalimat tersebut di atas tidak cukup hanya ditulis demikian. Karena itu, Pannenberg mengusulkan adanya kata "historical". Dgn demkn menjadi, "And the Word became a historical flesh". Mungkin hal ini disebabkan oleh adanya pandangan sebagian orang yang meragukan kehadiran Yesus dalam sejarah manusia, seperti docetisme, dan pandangan theolog-theolog liberal tersebut di atas.

Kita dapat melihat dari berbagai segi bagaimana Alkitab menunjukkan bahwa Yesus bukan pribadi biasa, melainkan Allah yang sejati, yang harus disembah dan ditaati.
Pertama, Yesus dan Kesaksian Pada DiriNya

Bicara soal kesaksian, maka sekalipun ada ahli yang menolak kesaksian murid-murid Yesus, namun sesungguhnya kesaksian merekalah yang patut kita dengarkan. Mengapa? Karena mereka adalah orang-orang terdekat Tuhan Yesus. Tuhan Yesus telah hidup bersama mereka selama 3 tahun secara terus menerus. Mereka bukan knowing "about" Jesus, but rather knowing Jesus. Mereka secara langsung mendengar perkataan2 Yesus, serta menyaksikan seluruh hidupNya yang penuh kasih dan kuasa. Maka sebenarnya sangat aneh bila ada theolog yang meragukan dan menolak kesaksian mereka tentang Yesus. Jk demikian,secara logis, mereka juga seharusnya meragukan dan menolak kesaksian siapapun! Dengan demikian seluruh pandangan theolog-theolog tersebut tentang Tuhan Yesus, boleh kita anggap nol besar! Itulah sebabnya, saya melihat betapa ironisnya theolog2 tersebut, di mana mereka tetap mencoba memiliki doktrin Kristologi, namun mereka menghancurkan dasar dan sumber mereka, yaitu Alkitab dan kesaksian murid-murid.

Siapakah Yesus bagi murid-murid tersebut? Kita dapat melihat kesaksian Petrus (Mat.16:16 ; Yoh.6:68), Tomas (Yoh.20: 28), Yohanes (Why.1:8; 5). Membaca pernyataan2 mrk tsb, mk kita melihat bhw mrk tdk hanya menyebut Yesus sbg seorang nabi, tapi lebih dari situ. Mrk menyebut Yesus sbg Anak Allah/Allah dan krn itu, mrk mau menyembahNya.

Ada theolog yg mengatakan -sbgmn kita lihat sebelumnya- bhw murid2lah yg menjadikan Yesus itu Allah, yg sebenarnya bukan. Jk demikian, pertanyaan saya kpd theolog tsb adl mengapa rasul2 dan gereja mula2 mau mengakui seorang bernama Yesus sbg Allah? Mengapa mrk mau menyembah, melayani Dia hingga rela mengorbankan diri mrk sendiri? Mengapa pernyataan dan sikap spt itu tdk pernah diberikan kpd yg lain (termasuk Kaisar) selain kpd Yesus?

(bersambung)