Saturday, 26 May 2018

Yesus dan PerkataanNya

Selain dari kuasa Yesus tersebut di atas, kita juga dapat melihat siapa Yesus dari nilai dan makna yang terkandung dari perkataanNya. Alkitab menuliskan bahwa Yesus tidak seperti ahli-ahli Taurat, karena Yesus mengajar dengan kuasa (Mat.7:29; baca juga Luk.24:19). Marilah kita lihat beberapa sabda Yesus berikut:

  1. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup...” (14:6).
  2. "Tidak seorangpun mengambil nyawaKu..."(Yoh.10:17-18)
  3. "Sebelum Abraham jadi, Aku sudah ada" (Yoh.8:58).
  4. "Langit dan bumi berlalu, tetapi perkataanKu tidak ..."(Mat.24:35; Mat.5:17-18).
  5. "Aku menyertaimu sampai akhir zaman " (Mat.28:20).
  6. "Dosa mu sudah diampuni " (Mat.9:2)
  7. "Engkau akan bersama Aku di Firdaus" (Luk.23:43).
  8. Dan lain lain.

Perhatikan kalimat/pernyataan2 tersebut di atas. Sesungguhnya jika kita merenungkan dan menghayatinya secara mendalam, maka kita akan sangat kagum. Tidak ada seorang manusia atau nabi yang mengatakan kalimat seperti itu. Siapakah di antara nabi dari dirinya sendiri dapat mengatakan “dosamu sudah diampuni”? Siapakah di antara nabi yang dapat mengatakan dapat memberi dan mengambil nyawanya kembali? Sekiranya ada –kenyataannya tidak ada- maka mari kita perhatikan kebenaran pernyataan tsb dan kenyataan yang sesungguhnya. Lalu kita bandingkan. Tetapi karena tidak ada, maka tidak ada perbanding-an. “No comparison”. Mari kita renungkan kenyataan ini: Siapakah Yesus sehingga Dia berani mengatakan, “Before Abraham was, I AM”? Bukankah umur Yesus ketika itu -seperti kalimat tantangan orang2 Yahudi- “belum sampai lima puluh tahun”? (Yoh.8:58). Siapa pula yang dapat memastikan bahwa seseorang dapat masuk ke Firdaus, apalagi jika ternyata orang itu adalah penjahat besar? Siapakah orang atau nabi yang mampu dan pernah mengatakan bahwa dia akan menyertai umatnya hingga akhir zaman, sementara dia sendiri sudah berhenti sebelum zaman itu berakhir? Siapakah nabi yang berani menjamin perkataannya tidak akan lenyap, sekalipun langit dan bumi lenyap? Secara jujur saya mengatakan bahwa ruang dalam milis ini tidak cukup untuk menjelaskan kalimat2 Yesus tersebut di atas. Sesungguhnya, kita dapat menulis beberapa jilid buku untuk menjelaskan kalimat2 tersebut.

Injil Yohanes yang sangat mengagungkan Yesus melebihi semua penulis Injil dan kitab2 PB menjadi saksi akan kedalaman dan keagungan sabda Yesus. Apakah itu semata-mata spekulasi Yohanes sebagaimana dituduhkan oleh sebagian theolog? Jawab saya, tidak. Mengapa? Karena mereka yang mempelajari Injil Yohanes secara serius dan ilmiah akan menemukan bahwa Injil Yohanes sangat berakar kuat dalam Perjanjian Lama. Fakta ini melebihi kenyataan yang kita lihat di dalam ketiga Injil Sinoptik. Injil Yohanes yang penuh dengan “simbol” dan “kata” atau “istilah” serta kalimat yang sangat dalam memang patut digali sedalam-dalamnya. Untuk itu saya setuju dengan kalimat Johannine scholar, yaitu Moody Smith, bahwa seluruh hidup pantas diabdikan untuk mempelajari hanya Injil yang satu ini.

Mari kita ambil sebuah contoh kalimat Yesus tersebut di atas. Di dalam Injil Yohanes kita membaca, "Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" ( Yoh.14:6). Sesungguhnya kalimat ini sangat penting yang menegaskan tentang keunikan Kristus dan Kekristenan. Mengapa? Karena di sinilah muncul kalimat “Egw eimi” dari Yesus yang sangat terkenal itu. Apa yang dapat kita pelajari dari sini? Pertama, di dalam gaya bahasa yang khas Injil Yohanes itu tersirat keAllahan Yesus. Istilah ini juga berakar kuat pada diri Allah di dalam PL. Hal ini terlihat dengan jelas dari jawaban Allah kepada Musa ketika Musa menanyakan siapa namaNya, yang dijawab dengan: “AKU ADALAH AKU” (Kel.3:14).

Kedua, penggunaan introduksi spt “Egw eimi” tsb tidak lazim di zaman Yesus, namun demikian, Yesus telah menggunakan cara tersebut untuk menunjukkan siapa diriNya yang sesungguhnya. Dengan demikian, penegasan seperti ini juga menunjukkan otoritasNya yg sangat tinggi, di mana Dia menunjuk kepada diriNya sebagai pribadi yang berkuasa, bukan menunjuk pribadi lain di luar diriNya (termasuk tidak menunjuk kepada pribadi Allah). Jadi, Yesus menunjukkan self authority di mana Dia menuntut orang lain untuk menerima dan mempercayai pernyataan-pernyataanNya. Ketiga, kalimat “Egw eimi” ini juga memberikan penekanan ganda (double emphasis) di mana “Egw” dan “eimi” sama2 digunakan utk kata ganti orang pertama tunggal, yang berarti “I”, “I am”.

Setelah mengucapkan penekanan ganda tsb, maka kita melihat tiga istilah yang sangat penting, yaitu: Jalan, Kebenaran dan Hidup. Penting untuk diamati bahwa sebelum setiap kata tsb ada artikel “the” yang menunjukkan kepada dirinya “Jalan” dan dirinya “Kebenaran” serta dirinya “Hidup”. Jadi, Tuhan Yesus tidak berbicara mengenai “jalan” atau “way” secara umum, tetapi Dia berbicara tentang dirinya jalan itu, "the way itself". Sebagai contoh, jika saya menyebut I have a pen, maka itu bicara secara
umum, tidak menunjukkan kepada ‘dirinya’ pena mana pun. Tetapi kalau saya katakan “I put the pen on the table”. Maka saya sedang menunjukkan kepada ‘dirinya’ pena dan dirinya ‘meja’. Demikian juga, ketika Yesus menggunakan kata “the way”, “the truth” and “the life”, maka Dia sedang menunjukkan kepada dirinya "jalan" dan "kebenaran" dan "hidup". Yesus tdk sedang bicara jalan secara umum. Jika kita perhatikan konteksnya, maka hal itu menjadi semakin jelas. Dalam saat terakhir kehidupan Yesus di dunia ini, yang rupanya mulai tercium oleh murid2Nya, murid2 melontarkan berbagai macam pertanyaan dan permintaan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Semua itu mencerminkan kegelisahan mereka yang tidak siap ditinggalkan oleh guruNya [(perhatikan pertanya-an Petrus pd Yoh.13:36, Tomas (14:5), Filipus (14:8)]. Dalam kondisi gelisah seperti inilah Tomas bertanya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (14:5).

Apa yang kita lihat dari pertanyaan tersebut? Di situ terlihat adanya pemisahan antara “jalan” dan Yesus, di mana murid2 menginginkan agar sekalipun mereka tidak tahu ke mana Yesus pergi, setidaknya mereka diberitahu “jalan” ke sana. Menjawab pertanyaan tersebut Yesus menjawab dengan, “Aku, Aku adalah jalan itu...”. Dari penegasan itu pun sudah jelas apa maknanya, bahwa tidak boleh memisahkan antara Yesus dengan adanya “jalan lain” Karena DIA SENDIRI lah Jalan itu. Tetapi penegasan tersebut lebih lagi ketika Yesus mengatakan kalimat selanjutnya, “Tidak ada seorangpun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (14:6b). Kalimat yang bersifat negatif tersebut membuntukan kemungkinan lain (any way) untuk dijadikan “Jalan” menuju kepad Bapa, menuju kepada keselamatan, menuju kepada hidup kekal.

Jika Alkitab sudah memberikan pernyataan dan pengajaran yang sedemikian jelasnya, mengapa masih ada orang (termasuk Kristen dan mereka yang belajar theologia) masih berani memberikan pandangan yang berbeda? Jawab saya adalah, mungkin mereka tidak mengerti Kitab Suci. Atau mereka mengerti tetapi tidak mau menerima pernyataan Kitab Suci secara demikian. Karena itu, mereka akan memberikan tafsiran2 dan teori2 yang kelihatannya hebat dan “convincing”. Hal inilah yang pernah saya tegaskan kepada IR ketika kami pernah berdiskusi (berde-bat) melalui email (hingga 7-8 kali). Namun sangat disayangkan, bahwa IR menolak hal itu sebagai pernyataan Yesus. Menurutnya hal itu adl kalimat Yohanes di dalam kondisi komunitas Yohanes yang tertin-das. Karena itulah muncul kalimat seperti itu. Memang ada teori yang dimunculkan yang mengatakan bahwa semua penegasan Yesus di dalam Injil Yohanes sebenarnya tidak harus dimengerti sebagai kalimat asli. Sebab menurut teori ini, yang terjadi sesungguhnya adalah bahwa komunitas Kristen di kala itu (termasuk di dalamnya orang Yahudi yang sdh percaya kepada Yesus) mendapat perlawanan keras dari orang2 Yahudi, termasuk dari Judaisme. Karena itu, apa yang terjadi sesung-guhnya bukanlah keadaan real yang dialami Yesus di zamanNya, tetapi apa yang digambarkan oleh Injil Yohanes adalah keadaan real yang dialami oleh Johannine community, yaitu keadaan komunitas Yohanes sesudah Yesus. Ini yang disebut “The two level of drama”, yang dikembangkan oleh Louis Martyn dlm bukunya “History and theology in the Fourth Gospel”. Tetapi sebenarnya, apa yang dikerjakan oleh Martyn ini merupakan pengembangan dari buku Raymond Brown di dalam tafsiran Yohanesnya, namun kelihatannya Martyn pergi terlalu jauh. Memang bebagai macam teori telah dimunculkan tentang komunitas Yohanes ini. Terlalu rumit dijelaskan di tempat yang sempit ini.

Jika teori2 tsb dilakukan oleh orang2 yg termasuk theolog pemula, tidak masalah. Kita lupakan saja. Tetapi bagaimana kalau hal itu dilakukan oleh mereka yang mengaku diri telah belajar theologia sedemikian jauh? Juga tidak mengapa. Kita tidak perlu kuatir dan takut, karena kitapun memiliki orang2 yang telah belajar theologia sedemikian jauh seperti mereka. Namun ada bedanya. Kita bukan saja belajar, tapi kita mengimaninya dan mempercayainya. Karena itu, kitapun telah mempertaruhkan iman dan hidup kita kepada pernyataan2 Alkitab tersebut. Apapun resiko yang harus kita tanggung, dan berapa-pun harga yang harus kita bayar, kita telah mengatakan kesediaan kita untuk menanggung serta membayarnya. Dan jika kita melakukan demikian, mari kita ingat bhw kita tidak sendiri. Jika kita diolok, diejek dan ditolak, rasul-rasul dan bapak-bapak Gereja pun telah mengalaminya. Kiranya kita terus mengalami kasih dan rahmatNya, sebagaimana dialami oleh pendahulu-pendahulu kita tersebut.

(bersambung).