Saturday, 26 May 2018

Apakah menerima fakta kebangkitan Kristus merupakan suatu kebodohan? Ada yang menganggapnya demikian. Namun, saya harus menjawab dengan tidak! Buktinya? Banyak orang terpelajar di bawah kolong langit ini dengan segenap hati dapat menerima kebangkitan itu dan mensyukurinya. Memang, ada juga ‘ahli’ meragukan dan menolak berita tersebut.

Sebutlah misalnya seorang yang bernama Gerd Ludemann, professor Perjanjian Baru dari Univ. Gottingen yang pemikirannya dipengaruhi oleh David Hume, di mana Ludemann menolak peristiwa kebangkitan Kristus tsb. Bagi Ludemann, kebangkitan itu tidak lebih dari halusinasi saja atau sebuah pengalaman subjektif dari murid-murid. Bukan kebangkitan tubuh yang sesungguhnya. Kelihatannya, pandangan ini yang dianut oleh Ioannes Rakhmat (IR) sebagaimana dapat dibaca dalam artikelnya pada sebuah harian ibu kota yang berjudul “Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus”. Pada akhir artikel tsb, IR menyimpulkan bahwa "kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah objektif, melainkan sebagai metafora". Apa yang dia maksud dengan istilah metafora tersebut? Selanjutnya dia menulis, “Dalam metafora sebuah kejadian hanya ada di dalam pengalaman subjektif, bukan dalam realitas objektif... Yesus bangkit dalam memori dari pengalaman hidup”.

Sebagaimana saya tuliskan di atas, berbeda dengan Ludemann, banyak ahli Perjanjian Baru menerima fakta kebangkitan Yesus. Prof. William Lane Craig secara khusus telah meneliti hal tsb dan hasil karyanya dapat dibaca di dalam bukunya, Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus, yang merupakan volume ke 16 dari Studies in the Bible and Early Christianity tsb. Buku setebal 442 halaman tsb sepenuhnya merupakan pertanggung jawaban imannya kepada peristiwa kebangkitan tsb yang dapat dibaca oleh mereka yang menerima atau menggugat berita penting tsb. Maka wajar jika pada 18-9-1997 di St Thomas More Society of Boston College, William Lane diundang untuk menjawab serta menantang kembali Gerd Ludemann yang menolak kebangkitan tsb. Dalam buku tsb di atas, dia menegaskan betapa akurat dan dapat dipercayanya laporan keempat Injil tsb. Demikian juga, N.T. Wright, ahli Perjanjian Baru dari Inggris, dalam bukunya setebal 817 halaman itu, secara khusus membahas tentang kebangkitan Yesus secara ilmiah dan pendekatan Alkitabiah. Menarik sekali, dalam buku yang berjudul The Resurrection of the Son of God tsb dia malah mengacu kepada seorang teolog dan penulis Yahudi yang bernama Pinchas Lapide yang mengakui kebangkitan Yesus secara daging (hal.721). Pinchas menegaskan bahwa bagi mereka (Orang Yahudi) tidak ada masalah untuk menerima kebangkitan tubuh, karena hal itu telah terjadi juga di Perjanjian Lama. Kebangkitan tubuh itu jugalah yang menjadi pengharapan agama Yahudi, di mana menurut mereka, hal itu terjadi di akhir zaman.

Adakah dasar yang logis untuk menerima kebangkitan tsb? Tentu ada. Marilah kita lihat fakta-fakta yang sangat penting dari kebangkitan Yesus tsb. Kita dapat mencatat fakta kubur kosong, batu yang terguling serta adanya perempuan-perempuan yang menjadi saksi kubur kosong tsb. Seorang kritikus Alkitab, Klaus Berger juga menyoroti fakta kubur kosong tersebut. Dia menulis: “The reports about the empty tomb are related by all four Gospels and other writings of early Christianity) in a form independent of one another... We have a great abundance of reports, which have been separately handed down”.

Klaus Berger benar. Keempat penulis Injil menyoroti hal itu bersama-sama. Di dalam penulisan tsb, mereka juga memiliki keunikan masing-masing. Injil Markus misalnya mencatat kekwatiran perempuan-perempuan tsb, tentang siapa yang akan menggulingkan batu besar yang menutup kubur Yesus tsb. (Mark.16:3). Sedangkan Injil Matius menjelaskan bagaimana batu yang besar itu bisa terguling karena adanya gempa bumi yang hebat dan turunnya malaikat Tuhan dari langit. Yang menarik adalah, bahwa Matius mencatat bukan saja batu itu terguling melainkan malaikat mendudukinya! Apa gerangan yang mau disampaikan fakta yang agak ‘lucu’ tsb?

Selain fakta tersebut di atas, Injil Yohanes sendiri mencatat hal yang kelihatannya kecil namun penting, yaitu adanya kain kapan terletak di tanah dan kain peluh yang mengikat kepala Yesus, berada dekat kain kapan itu (Yoh.20:5,6). Apa pula yang mau disampaikan oleh fakta tsb? Bahwa kebangkitan adalah metafora? Biarlah orang yang beriman dan berpikir, merenungkan dan memikirkannya. Satu hal sangat jelas, bahwa kain kapan yang mengikat tubuh Yesus, serta kain peluh pengikat kepala itu kempes karena tubuh yang dapat mati tersebut telah lenyap dan berubah menjadi tubuh kebangkitan.

Keempat Injil mencatat penampakan Yesus yang bangkit itu. Hal itu dilakukanNya secara berulang-ulang dan kepada orang yang berbeda-beda. Dokter Lukas malah menulis bahwa penampakan diriNya terjadi bukan satu dua jam, tetapi selama empat puluh hari (Kis.1:3). Injil Yohanes secara khusus mencatat penampakan Yesus kepada Maria Magdalena yang terus menerus setia mendampingi dan melayani Yesus (20:11-18). Maria inilah yang setelah dilepaskan dari perbudakan roh jahat, dengan setia mengiring Yesus hingga Yesus disalibkan dengan begitu mengenaskan di bukit Golgota. Padahal, ketika itu, murid-murid Yesus sendiri, kecuali Yohanes, begitu ketakutan dan pergi entah ke mana. Injil Lukas yang kelihatannya telah mengantisipasi keraguan orang-orang di kemudian hari telah mencatat tantangan Yesus kepada murid-muridNya utk melihat tangan dan kakiNya. "Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya seperti yang kamu lihat padaKu" (24:39). Tidak cukup di sana, Lukas masih mencatat satu pembuktian secara ilmiah lainnya ketika Yesus makan ikan di hadapan murid-murid (24:42-43).

Kebangkitan Yang Mengubahkan

Mari kita perhatikan kenyataan ini: tema khotbah paling awal rasul Petrus ketika itu bukanlah berpusat kepada kematian Yesus, tetapi kepada kebangkitanNya. Dia bahkan menggabungkan kebangkitan itu dengan nubuatan Mazmur yang dapat kita lihat pada Kis.2:25-28. Di tengah2 ribuan massa yang menyalibkan Yesus, Petrus dengan berani mengkhotbahkan kebangkitan Mesias! (Kis.2:31). Sekiranya Yesus tidak bangkit, jika mayat Yesus masih ada pada orang-orang Yahudi itu, apakah Petrus berani berkhotbah tentang kebangkitan tsb? Jika pemberitaan tentang kebangkitan adalah kebohongan -di mana sebenarnya orang-orang Yahudi memiliki dan mengetahui tempat kuburan Yesus- tentu dengan sangat mudah orang-orang Yahudi akan mentertawakan Petrus serta orang-orang Kristen. Mereka akan dengan mudah membantah pemberitaan tsb serta mempermalukan orang-orang Kristen dengan menunjukkan kubur Yesus yang mereka miliki tsb. Tetapi kenyataannya, tidaklah demikian. Apakah yang kita lihat di dalam Alkitab? Bukannya orang-orang Yahudi berhasil mempermalukan orang-orang Kristen dengan menunjukkan kuburan Yesus, tetapi sebaliknya, orang-orang Yahudi yang mengarang cerita bahwa kubur Yesus dicuri oleh murid-murid (Mat.28:11-15). Sekalipun tentu sangat sulit menerima cerita bohong tsb, karena kubur Yesus dijaga sedemikian ketat (Mat.27:62-66) sementara murid-murid sedemikian lemah dan tak berdaya. Namun demikian, cerita itu tetap diciptakan demi melepaskan diri dari kondisi kepepet. Inti yang mau saya sampaikan adalah ini: orang-orang Yahudi dan musuh-musuh Kristen menerima fakta kubur kosong tersebut, mereka mengakui bahwa mayat Yesus tidak ada di sana. Jika kita beralih dari Petrus kepada rasul Paulus, maka kita juga melihat penegasannya tentang kematian dan kebangkitan Yesus tsb. Dia bahkan mengatakan hal itu sebagai berita yang "sangat penting..." (1Kor.15:3-4). Untuk itu, dia juga menjelaskan bukti-bukti dari peristiwa Yesus menampakkan diriNya kepada orang yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda-beda, termasuk kepada dirinya sendiri (ay.5-8). Dari semua penampakan itu, salah satu kalimat yang SANGAT PENTING DIAMATI adalah kalimat berikut, "Sesudah itu, Ia menampakkan diri kepada lebih dari LIMA RATUS saudara sekaligus; KEBANYAKAN DARI MEREKA MASIH HIDUP SAMPAI SEKARANG, ttp beberapa telah meninggal" (1Kor.15:6).Pernyataan di atas sangat penting. Penegasan itu melawan teori halusinasi sebagaimana dituduhkan oleh teolog tertentu termasuk Ludemann. Apakah mungkin terjadi halusinasi kepada 500 orang pada saat yang sama? Jawabnya tentu tidak. Tetapi, jika sekiranya masih ada keraguan terhadap kebangkitan Yesus, maka ketika rasul Paulus menulis kitab tsb, maka berhentilah segala keraguan itu dengan menanyakan langsung kepada saksi mata yang masih hidup tsb. Dengan perkataan lain, segala debat, keberatan dan tantangan terhadap kebangkitan Yesus telah dipatahkan oleh rasul Paulus dengan tulisannya tsb. Jika demikian halnya, boleh dikatakan bahwa debat yang meragukan dan menolak kebangkitan Yesus sudah dapat ditutup pada abad pertama dengan kemenangan di pihak pro kebangkitan. Akhirnya, ada kenyataan lain yang sangat penting dan mendasar untuk kita simak. Sekiranya Tuhan Yesus tidak bangkit, atau sekiranya itu hanyalah kisah rekayasa yang mereka buat sendiri, maka mungkinkah ada rasul yang mau memberitakannya dan rela mati untuk sebuah berita yang bohong? Tentu saja tidak. Kenyataannya, kita melihat perubahan yang sangat besar dan mendasar dalam diri para rasul. Sekalipun sebelumnya mereka sempat kecewa karena kematian Yesus yang sedemikian tragis dan memalukan., namun setelah kebangkitan Yesus itu dan setelah penampakan Yesus kepada diri mereka, dengan berani mereka berkhotbah di hadapan ribuan orang-orang Yahudi yang baru beberapa waktu yang lalu menyalibkan Yesus tsb. Bagi saya, selain karena faktor kebangkitan Yesus yang merupakan fakta dan realita, sulit menjelaskan perubahan yang terjadi di dalam murid-murid. Demikian juga, sulit menjelaskan bagaimana Gereja berkembang dari abad ke abad. Faktor apa yang mendorong Gereja terus bertumbuh dan berkembang, yaitu Gereja yang hanya dimulai dari 120 orang (Kis.1:5) dan sekarang telah mencapai lebih dari satu miliyard orang? Kiranya kita semua juga menyatukan diri dengan fakta kebangkitan tersebut dan dengan rindu berkata: “Yang kukehendaki adalah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya” (Fil.3:10). Berita yang mulia dan bersifat kekal tersebutlah yang mau kita beritakan ke seluruh penjuru dunia, termasuk dalam ibadah paskah yang diadakan di Istora, 22 April ’07 yang akan datang. Kiranya berita itu juga mengubahkan hidup puluhan ribu yang akan datang, sebagaimana telah mengubah hidup rasul Petrus dan rasul-rasul lain.- Semoga