Saturday, 26 May 2018

Jakarta, Bahana

Benarkah adat Batak bertentangan dengan Injil? Untuk menjawab pertanyaan ini dan sejumlah pertanyaan lain, Yayasan Gema Kyriasa menggelar seminar bertajuk “Adat Batak dan Injil; Apakah Benar Adat Batak Bertentangan dengan Injil?” belum lama ini di Jakarta.

Pdt. Ir. Mangapul Sagala, M. Div tampil sebagai pembicara tunggal dalam seminar yang sebagian pesertanya adalah orang tua. Mangapul menjelaskan bahwa letak permasalahan adanya polemik semacam ini karena kurangnya pemahaman orang-orang yang terlibat dalam polemik itu baik atas Injil maupun atas adat Batak.

Ia memberi contoh soal ulos (selendang). Mereka yang kontra adat berpendapat bahwa di dalam ulos ada kuasa gelap sehingga dapat mengikat orang yang memakainya dan menyebabkan kehidupan orang tersebut tidak bertumbuh. Terhadap pendapat ini Mangapul dengan tegas menolak. “Saya menolak penilaian itu karena ibu saya penenun ulos di Tapanuli, dan saya tidak pernah mengamati adanya kuasa gelap dalam pembuatan atau penenunan ulos itu,” tegas pria berbadan gelap ini.

Lantas bagaimana menempatkan Injil di depan adat dan sebaliknya adat di hadapan Injil? Menurut Mangapul, sikap yang rasional dan elegan bukan menerima semua atau menolak semua adat. Tetapi bersikap selektif. Untuk itu lanjutnya, harus ada pemahaman yang baik dan mendalam terhadap injil.

(E. Dapa Loka)