Monday, 11 December 2017

Pdt. Mangapul Sagala

Hal beriman merupakan salah satu hal yang ditonjolkan di dalam Injil Yohanes. Itulah sebabnya, ketika Yohanes menulis tentang mujizat pertama yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, yaitu mengubah air menjadi anggur, maka segera dia menulis: "Hal itu dibuat Yesus di Kana... sebagai yang pertama dari tandan-tandaNya .. dan murid-muridNya percaya kepadaNya" (Yoh.2:11). Selanjutnya, setelah tanda tersebut, kita masih menemukan enam tanda lainnya.

Tanda ketujuh atau terakhir yang dituliskan adalah Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian (Yoh.11). Setelah ketujuh tanda tersebut diberikan, maka Yohanes kembali menyoroti soal beriman. Ada hal penting yang patut kita amati pada bagian tersebut, khususnya bagi mereka yang selalu mengkaitkan mujizat dengan iman kepada Yesus. Maksud saya, ada sebagian orang yang begitu rupa menonjolkan mujizat dalam ibadah dan pelayanannya, seolah-olah dengan adanya mujizat pasti orang beriman kepada Yesus. Dalam kenyataannya tidaklah demikian. Yohanes menulis: "Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepadaNya" (Yoh.12:37).

Kisah tersebut di atas mengakhiri bagian pertama kitab Yohanes, yaitu yang disebut dengan Kitab Tanda atau the Book of Sign. Selanjutnya, bagian kedua disebut dengan the Book of Glory atau Kitab Kemuliaan, di mana Yohanes menuturkan kisah penderitaan Yesus yang berakhir pada kematianNya dikayu salib. Setelah kisah kematian dan kebangkitan Yesus diberikan, maka pada bagian akhir kita membaca satu pernyataan yang menarik dan menantang, yang kembali menyoroti hal beriman tersebut. "...semua yang tercantum disini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya" (Yoh.20:31).

Mengagumi Yesus saja, tidak cukup

Dengan membaca tujuan penulisan Injil Yohanes tersebut di atas, maka jelaslah bahwa tidak cukup seseorang membaca Injil sekedar menambah ilmu pengetahuan tentang siapa Yesus, mulai dari A-Z. Juga tidak cukup hanya melihat serta mengamati tanda atau mujizat yang dilakukanNya. Demikian juga, tidak cukup hanya mempelajari tentang moral dan etika yang dianut oleh Tuhan Yesus, bahwa Dia adalah manusia yang luar biasa dengan moralitas dan kasih yang sedemikian tinggi dan sempurna. Banyak orang, termasuk pemimpin-pemimpin dunia menyatakan kekagumannya kepada Yesus. Bukan saja demikian, Mahatma Gandhi bahkan pernah mengatakan bahwa hidup serta moralitas Yesus sangat mengilhami dirinya sehingga dia ingin mengikuti dan mempraktekkannya. Namun demikian, berdasarkan penegasan Injil tersebut diatas kita melihat satu tuntutan yang sangat penting yang melebihi sekedar tahu dan kagum, yaitu beriman kepada Yesus.

Yesus yang bagaimana yang kita imani? Banyak pengajaran tentang Yesus yang dimunculkan oleh mereka yang menganggap dirinya ahli. Sebagian pengajaran tersebut sungguh membingungkan dan mengacaukan iman jemaat. Namun kita bersyukur karena kita memiliki pengajaran yang jelas dan tegas. Pada ayat tersebut di atas kita diajar untuk beriman kepada Yesus yang adalah Mesias. Artinya, Dia adalah Seorang pribadi yang dinubuatkan oleh para nabi di Perjanjian Lama. Dia adalah pribadi yang dinanti-nantikan oleh banyak orang ketika itu. Penantian kepada Sang Mesias tersebut sedemikian luas, sehingga Dia bukan saja dinantikan oleh para rohanian atau mereka yang rajin beribadah, tapi juga dinantikan oleh mereka yang dianggap kafir dan pendosa besar, seperti perempuan Samaria yang memiliki suami setengah lusin. Hal itu nampak dari pernyataan perempuan tersebut yang mengatakan: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus, apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami" (Yoh.4:25).

Selanjutnya, Yesus juga disebut Anak Allah, suatu istilah penting yang menyatakan kesamaanNya dengan Allah Yahweh, yang menyatakan diri di dalam Perjanjian Lama. Sebenarnya, sejak permulaan Injil Yohanes kita telah menemukan penegasan tentang siapa Yesus yang sesungguhnya. Dia bukan saja dinyatakan bersama dengan Allah sejak kekekalan, tapi Dia sendiri adalah Allah, yaitu oknum kedua dari Tritunggal. Jika demikian halnya, betapa pentingnya beriman kepada Yesus. Barangkali ada yang bertanya, "Apa untungnya beriman kepada Yesus? Apa bedanya beriman kepada Yesus dan tidak?" Untuk itu, pernyataan Yohanes tersebut di atas penting untuk kita simak: "supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya". Hal apakah yang ditegaskan di sini? Bukan soal miskin atau kaya, bodoh atau pintar, sakit atau sehat. Betapa menyesatkan ketika seorang pengkhotbah menjanjikan kekayaan bagi mereka yang beriman kepada Yesus. Sama menyesatkan ketika pengkhotbah lainnya menjanjikan kesembuhan yang pasti atau hidup akan selalu sehat bila percaya kepadaNya. Mengapa? Karena bukan hal itu yang dijanjikan oleh Alkitab. Hal itu, mungkin terjadi, tapi bukan sesuatu yang pasti terjadi. Lalu apa yang dipastikan? Soal kehidupan. Dengan perkataan lain, setiap orang yang beriman kepada Yesus, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (3:16). Hal itulah yang pernah diteriakkan oleh Prof Ravi Zachariah di hadapan puluhan ribu hamba Tuhan pada konferensi para penginjil sedunia pada bulan Juli 1986 yang lalu di Amsterdam. Mengakhiri khotbahnya, Ravi menegaskan: "Dulu, ketika saya menganut agama lama, saya tidak percaya kepada Yesus. Apa bedanya sekarang setelah beriman kepadaNya? Perubahan yang saya alami bukan sekedar dari seorang yang jahat menjadi seorang moralist, juga bukan dari seorang bodoh menjadi seorang yang semakin pintar". Dengan dengan suara yang sangat keras serta mengharukan, Ravi melanjutkan: "Dulu saya hilang, sekarang ditemukan. Dulu saya mati, dan menuju kepada kebinasaan. Tetapi sekarang saya hidup dan menuju kepada hidup kekal". Jadi, seperti kesaksian Ravi, semua orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus akan mengalami perubahan hidup yang sangat mendasar dan mendapatkan untung yang sangat besar. Sesungguhnya, hal yang sama kita nyanyikan ketika kita beribadah di Gereja: "Ya untungku besar, karena Yesus miliku... Besar, besar, ya untungku besar...".-