Monday, 19 November 2018

Oleh: Pdt. Mangapul Sagala

Adakah puasa yang tidak dikehendaki oleh Allah? Bukankah Allah sendiri yang menetapkan umatNya untuk berpuasa, karena itu setiap puasa pasti dikehendakiNya? Memang benar, di dalam Alkitab Perjanjian Lama, Allahlah yang memerintahkan umatNya untuk berpuasa dan menetapkan satu hari dalam setahun yang disebut dengan hari raya pendamaian. Pada hari tersebut, umatNya harus merendahkan diri di hadapan Tuhan serta tidak melakukan sesuatu pekerjaan (Baca Imamat 16:29-31;23:27-32).

Selanjutnya, setelah masa pembuangan ke Babel, ada empat peristiwa lainnya di mana orang-orang Yahudi mengadakan puasa tiap tahun (Zach.7:5;8:19). Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa sebelum memulai pelayananNya, Tuhan Yesus berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam (Mat.4:2). Orang-orang Farisi yang fanatik berpuasa dua kali seminggu (Luk.8:12), yaitu hari Senin dan Kamis. Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, kita juga membaca bahwa murid-murid melanjutkan tradisi berpuasa tersebut (Kis.13:3;14:23;27:9). Demikian juga dengan komunitas Qumran, mereka juga berpuasa dan mengadakan hari pendamaian (1QpHab 11:7).

Namun demikian, ada satu hal yang barangkali mengecewakan kita. Ternyata, tidak benar bahwa setiap puasa dikehendaki Allah. Mengapa? Apakah yang terjadi dengan umat yang berpuasa tersebut? Di dalam kitab Yesaya, kita membaca pertanyaan umat kepada Allah: "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga? (Yes.58:3). Dengan jelas dan tegas Allah menjawab: "Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena". Setelah itu, kita membaca respon Allah terhadap puasa tersebut: "Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi" (Yes.58:3b-4).

Dari jawaban tersebut di atas kita mengetahui bahwa berpuasa tidak sekedar melakukan kegiatan phisik, yaitu menahan lapar dan haus. Juga tidak sekedar melakukan rutinitas agama dengan segala upacara ritual dan simbol-simbolnya. Jika demikian, betapa menyedihkan puasa seperti itu, karena walaupun telah dilakukan dengan segala susah payah, akhirnya adalah kesia-siaan. Allah menuntut lebih dari itu, sebab Dia menghendaki agar umatNya mampu menangkap makna yang terdalam dari puasa tersebut.

Bagaimanakah kita memahami puasa tersebut? Apakah maknanya yang sesungguhnya? Untuk menjawabnya, kita tidak perlu menyusahkan diri dengan membaca berjilid-jilid buku. Juga tidak perlu mengadakan seminar khusus. Dan jangan berspekulasi. Mengapa? karena hal itulah yang selanjutnya ditegaskan oleh Allah. "Berpuasa yang kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang-orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan dirimu terhadap saudaramu sendiri! (Yes.58:6-8).

Sungguh merupakan pelajaran yang sangat penting. Walaupun nabi Yesaya menulis seruan Allah tersebut sekitar 2700 tahun yang lalu, namun isinya tidaklah kuno dan menjadi usang. Sebaliknya, kita mengamati bahwa seruan tersebut sangat mengena dengan kehidupan kita sekarang. Jika kita berani jujur dan terbuka, sesungguhnya itulah masalah kita saat ini. Itulah masalah republik Indonesia, negara yang berpenduduk lebih dari 220 juta. Pertama, kita membaca dan mendengar dari media cetak dan elektronik bahwa begitu banyak rakyat dinegara kita menderita, tersiksa, teraniaya, mengalami berbagai macam belenggu dan terikat dengan tali-tali kuk yang sangat tebal dan kuat. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah karena tidak tegaknya hukum di republik ini. Hari demi hari kita menyaksikan penerapan hukum yang sangat memprihatinkan. Media melaporakan bahwa di satu pihak, atas nama hukum, pelaku dan penguasa direpublik ini dapat menghabisi nyawa orang yang tidak bersalah. Tapi di pihak lain, atas nama hukum, membiarkan orang jahat, perusuh dan koruptor bebas berkeliaran! Melihat kenyataan tersebut, bukankah seruan untuk membuka belenggu kelaliman serta melepaskan tali-tali kuk menjadi sangat relevan?

Selanjutnya, kita juga menyaksikan proses pemiskinan yang dialami oleh banyak rakyat di republik ini. Jika kemiskinan tersebut diakibatkan oleh bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami, barangkali itu dapat disebut sebagai 'nasib' atau sejenisnya yang harus diterima dengan segala kepasrahan. Tetapi bagaimana jika kemiskinan tersebut adalah akibat kepemimpinan yang tidak bertanggung jawab, adanya keteledoran manusia dan tindakan sewenang-wenang yang berasal dari sikap hati yang sangat jahat dan egois? Pasti sangat menyakitkan dan menyesakkan hati. Namun apa pun penyebab dari kemiskinan tersebut, orang-orang miskin perlu dan harus segera ditolong. Karena itu, seruan tersebut di atas sangat penting untuk kita camkan dan taati, khususnya bagi kita yang sedang mengejar puasa yang berkenan kepadaNya. Semoga.-