Monday, 11 December 2017

Oleh: Pdt. Mangapul Sagala

Jika kita bicara mengenai doa yang benar, itu berarti ada doa yang tidak benar. Memang demikian adanya. Pernyataan akan adanya doa yang benar dan salah ditegaskan oleh Alkitab itu sendiri. Alkitab menegaskan bahwa ada orang yang tidak menerima apa-apa karena tidak berdoa. Namun, ada juga orang yang meskipun berdoa tetapi tetap tidak memperoleh apa-apa (Yak.4:2). Barangkali ada yang bertanya: “Apa alasannya? Bukankah kita mendengar bahwa setiap doa pasti dikabulkan Tuhan?” Ternyata tidak.

Mari kita perhatikan penegasan Alkitab berikut: “Atau kamu berdoa juga, tetapi tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa” (Yak.4:3). “Salah berdoa? Di mana letak kesalahannya?”, demikian tanya seseorang sambil penasaran. Untuk itu, Alkitab melanjutkan memberi jawaban yang tegas dan lugas: “... sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (4:3).

Doa yang sia-sia & yang berkuasa

Seperti apakah doa yang muncul dari hawa nafsu tsb? Sebenarnya, kita dapat mengambil banyak contoh konkrit, tapi cukuplah saya menulis kisah nyata berikut. Dalam sebuah ibadah penghiburan, seorang yang sedang menyampaikan khotbah merasa terganggu dengan keributan suara orang-orang yang tidak mendengar khotbahnya. Sungkan menegur secara langsung, maka dia pun tiba-tiba mengajak jemaat untuk berdoa. Dengan nada yang cukup tinggi dan mencerminkan kemarahan, orang tersebut pun berdoa: “Tuhan Yesus, Engkau mengetahui ibadah perkabungan yang sedang berlangsung. Namun kami mengalami kesulitan mendengarkan firmanMu. Karena itu, tutuplah mulut orang-orang yang ribut di sekitar kami...” Kita dapat membayangkan reaksi negatif yang terjadi akibat doa seperti itu. Saya kira, kita dapat menemukan doa sejenis itu, yang keluar dari emosi dan hawa nafsu. Atau, mendengar doa yang menggurui Tuhan atau menjadikan diri sendiri seolah-olah Tuhan dan Tuhan menjadi budak atau pesuruh. Akibatnya, doa seperti itu tidak menghasilkan apa-apa, walau pun disampaikan dengan mulut sampai berbusa. Sesungguhnya, orang seperti itu tidak sedang berdoa, melainkan hanya melampiaskan emosinya dan berkata-kata dengan mata yang tertutup seolah-olah berdoa! Jika ternyata banyak hal seperti itu yang dialami oleh anggota jemaat, maka wajarlah jika kemudian mereka itu meremehkan doa. Doa dianggap hanya sekedar pelarian dari tindakan dan tanggung jawab nyata, yang dibungkus dengan jubah keagamaan.

Penilaian negatif tersebut di atas, tidak sepenuhnya salah, karena sebagaimana telah kita sebutkan, memang ada doa yang salah, yang merupakan pelampiasan kemarahan. Namun di pihak lain, rasul Yakobus juga menandaskan adanya doa yang benar yang sungguh sangat berkuasa mengubah segala sesuatu sesuai kehendakNya: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (5:16).

Untuk meyakinkan pembacanya, termasuk kita akan kuasa doa tersebut, maka rasul Yakobus menyebut kisah nyata yang dialami oleh nabi Elia ketika dia berdoa untuk meminta hujan di musim kering (1Raja2 17). “Nabi Elia? Ah, tentu saja. Dia adalah seorang nabi. Tentu saja doanya berkuasa. Sedangkan saya?”, barangkali itu respon pembaca. Namun demikian, menarik sekali mengamati bahwa bukan status kenabian Elia yang ditonjolkan yang membuat doanya sedemikian berkuasa.

Kelihatannya, rasul Yakobus telah mengantisipasi respon kita tersebut. Karena itu, dia menulis dua hal penting. Pertama, Elia adalah manusia biasa. Kedua, dia sama seperti kita. Namun demikian, sebagai manusia biasa, kita diminta untuk memiliki hidup yang benar, berdoa dengan yakin serta sungguh-sungguh. Dengan perkataan lain, pendoa yang benar itu memiliki relasi yang baik dan hidup dengan Sang Pencipta, yaitu Dia yang menjawab dan mengabulkan doa tersebut. Seorang teolog yang bernama Franc Laubach pernah mendefenisikan doa dengan cara yang menarik. “Doa adalah dialog dari dua pribadi yang saling mengasihi. Di dalamnya ada seni mendengar dan berbicara. Yang penting bagiku adalah mendengar”.

Sungguh merupakan sebuah defenisi doa yang indah. Jika di dalam doa, kita mendengar Allah, tentu kita akan meminta sesuatu yang sesuai dengan kehendakNya. Akibatnya, doa tersebut akan sangat berkuasa. Seorang missionary di India mengisahkan bahwa dia terkesan dengan anak-anak Sekolah Minggu yang mengimani sabda Yesus tentang doa yang memindahkan gunung. Karena mereka tinggal di lembah dikelilingi pebukitan, mereka tidak dapat menikmati sinar matahari. Itulah sebabnya mereka terus berdoa agar gunung tersebut pindah. Apa yang terjadi? Ternyata, gunung itu memang ‘pindah’. Hal itu terjadi karena pemerintah India menimbun sebuah lembah dengan tanah yang diambil dari gunung tempat anak-anak tersebut!

Kiranya banyak perkara besar akan terjadi dalam diri, keluarga, pelayanan dan pekerjaan kita. Bukan itu saja, kiranya banyak perkara besar dan ajaib dapat terjadi dalam kehidupan bangsa kita yang sedang menghadapi masalah yang sangat kompleks ini karena kita semua berdoa dengan benar.-

Sinar Harapan, 18.11.06