Monday, 15 October 2018

Terungkapnya hasil percakapan telpon antara seorang pejabat Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara Kejagung, yaitu Untung Udji Santoso dengan seorang wanita kaya bernama Artalyta, telah menimbulkan kekecewaan dan kemarahan yang luar biasa dari banyak orang. Betapa tidak kecewa dan marah, seorang pejabat tinggi yang seharusnya menegakkan hukum dan kebenaran, serta seharusnya menjunjung tinggi kejujuran dan transparancy, ternyata mengadakan pembicaraan secara diam-diam yang justru melanggar hukum dan menyembunyikan fakta yang sesungguhnya.

Percakapan via ponsel yang semula dianggap aman itu, sedang melakukan sebuah rekayasa bohong. Hal itu dapat dibaca dengan jelas pada harian ibu kota dengan berita utama: “Skenario Selamatkan Ayin”. Tidak dapat disangkal, berita tersebut telah meneguhkan berbagai dugaan selama ini tentang penyimpangan yang telah lama terjadi di lembaga negara yang sangat penting tersebut.

Setelah membaca laporan percakapan tersebut, seorang rekan berkomentar: “Kok itu wanita dekat sekali sih dengan para pejabat? Siapa sih itu orang? Cara menyapanya saja pakai “bang”. Jika hubungan penguasa dan pengusaha sudah sedemikian, mana mungkin tidak terjadi penyelewengan dan berbagai rekayasa hukum?” Teman yang lain nyeletuk: “Oh dia itu sih ATM nya para pejabat”, entah apa maksudnya pernyataan tersebut.

Abraham Kuyper (1837-1920), seorang teolog Belanda dalam bukunya mengenai sphere sovereingnty menulis bahwa Allah yang berdaulat telah membagikan kekuasaanNya kepada pemerintah atau penguasa (God in his sovereignty shares or delegates His authority to the government or human authorities). Dari sini, penguasa atau pemerintah atas nama Allah, sekali lagi atas nama Allah, mengambil berbagai tindakan dan kebijakan demi dan untuk kebaikan rakyat.

Sejalan dengan pendapat Kuyper tersebut, di dalam Alkitab kita membaca: “Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu” (Roma 13:4). Dengan demikian, kita melihat penilaian yang sangat positif dari Alkitab terhadap pemerintah. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah dapat julukan sebagai “hamba Allah” atau lebih tepatnya, pelayan Allah (Yunani, diakonos). Makna sebutan itu jelas: penguasa atau pemerintah wajib melakukan apa saja yang sesuai dengan perintah Allah. Bukan saja demikian, di dalam melakukan tugas tersebut di atas, penguasa bertanggung jawab kepada Allah, sebagai atasannya, the greatest Master.

Selanjutnya, pada ayat di atas kita membaca satu anak kalimat yang sangat penting, yaitu, sebagai pelayan Allah, eksistensi dan keberadaan pemerintah adalah “untuk kebaikanmu”. Maksudnya, untuk kebaikan rakyat yang dipimpinnya. Dengan perkataan lain, sebagai pelayan Allah, pemerintah harus melakukan semua keputusan dan kebijakan demi dan untuk kebaikan rakyat. Itulah natur atau keberadaan pemerintah, dia berada untuk melayani Allah untuk melayani rakyat. Jadi, Alkitab dengan sangat jelas dan tegas mengatakan bahwa pemerintah hadir bukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk melayani dan memuaskan dirinya. Tetapi sebaliknya, sebagai pelayan Allah yang diwujudkan dalam pelayanan kepada rakyat demi membahagiakan rakyat.

Tidak Tahu atau Bebal?

Namun apa yang terjadi di negara kita? Fakta menunjukkan bahwa berbagai keputusan yang dilakukan oleh penguasa di Republik ini, baik yang dilakukan dengan terbuka atau diam-diam, hasilnya semakin menyengsarakan rakyat. Rakyat semakin miskin, susah dan tidak tahu bagaimana menjalani hidupnya hari lepas hari. Ironisnya, di pihak lain, sebuah media media melaporkan tentang pejabat X dan menteri Y, di mana harta kekayaannya bertambah terus dengan berlipat kali ganda, bermilyard-milyard rupiah!

Membaca berbagai penyimpangan yang diberitakan di berbagai media, cukup sering penulis ragu apakah para penguasa di Republik ini benar-benar mengetahui fungsi dan perannya yang sesungguhnya. Kalau pun tahu, nampaknya mereka telah menolak hati nuraninya dan menjadi bebal! Itulah sebabnya, mereka mendemonstrasikan berbagai tindakan yang sesungguhnya sangat memalukan. Sayang, nampaknya rasa malu telah hilang dari kebanyakan pejabat di republik ini.

Dalam kondisi yang demikian, kita sepenuhnya mendukung tekad pemerintahan Yudhoyono untuk terus mewujudkan pemerintahan yang bersih, tidak berhenti di tengah jalan sebagaimana dilakukan pendahulu-pendahulunya. Sekali pun banyak tantangan, dan betapa pun besarnya risiko yang diambil, Yudhoyono telah menyatakan tekad bulat penuh. Saat meluncurkan buku laporan United Nations Development (UNDP) Yudhoyono menegaskan: “Apakah kita masih gigih dan memiliki semangat untuk memberantas korupsi atau justru lemah? Pilihan kita sangat jelas. Apa pun beratnya, pilihan kita, the show must go on, harus jalan...”. Semoga itu tidak sebatas wacana. Kita menunggu tindakan konkrit, sapu bersih semua lembaga negara, termasuk Kejaksaan Agung tersebut di atas.

Kepada para pemerintah dan penguasa di Republik ini, kita mau mengingatkan kembali akan makna keberadaan mereka sebagai pelayan Allah yang melayani rakyat. Itulah tugas dan panggilan yang mulia dari Sang Khalik, Pencipta dan Pengasih seluruh rakyat. Bagi yang menyimpang, sadar atau tidak, suka atau tidak suka, pasti berurusan dengan Allah, yang telah mendelegasikan kekuasaan tersebut. Hukuman pasti diterima oleh mereka yang berdosa dan melanggar perintahNya. Jika tidak sekarang, di dunia ini, kelak di akhirat!