Tuesday, 20 November 2018

Tiga tahun terakhir, terlihat adanya peningkatan Travel yang bertujuan untuk membawa umat mengadakan kunjungan wisata rohani ke Yerusalem. Seruan untuk mengikuti Holy Land Tour (HLT) terlihat sedemikian gencar dilakukan, baik melalui media cetak maupun elektronik. Itulah sebabnya, radio, tabloid dan majalah Kristen dan juga harian ibu kota semakin sering mengiklan HLT tsb.

Berbagai pendekatan dilakukan oleh pemilik jasa perjalanan tsb untuk menarik minat peserta sebanyak-banyaknya. Antara lain, ada yang dengan berani mengutip ayat-ayat dari Kitab Suci Alkitab, yang isinya seolah-olah menyuruh umat untuk pergi ke Yerusalem. Untuk melakukan hal itu, mereka mendekati orang-orang penting dan berpengaruh di Gereja, seperti pendeta, pengkhotbah terkenal serta artis-artis terkenal. Dari nama-nama yang diiklankan sebagai pemimpin rombongan, nampaknya, pihak travel cukup berhasil mendekati berbagai pihak, bahkan pemimpin2 tertinggi organisasi Gereja, termasuk dari Bimas Kristen Protestan. Dengan demikian, tidak heran jika cukup banyak orang pergi setiap bulannya mengikuti HTL tsb.

Salah satu kewajiban dari saudara/i kita, penganut agama Islam (rukun ke lima) adalah, ‘’Naik haji ke Mekah jika sanggup keuangannya”. Dengan kenyataan tsb di atas, barangkali, ada di antara jemaat yang bertanya, “Apakah gerakan atau kegiatan business rohani yang melibatkan pendeta, artis dan petinggi Gereja tsb di atas merupakan sebuah kewajiban sebagaimana dilakukan oleh saudara/i kita yang Muslim?” Menurut pengamatan penulis, disadari atau tidak, secara perlahan namun pasti ada kecenderungan yang mengarah ke sana. Seorang pendeta yang mengaku telah puluhan kali memimpin rombongan ke Yerusalem bahkan dengan sangat berani memberikan satu pernyataan yang cukup mengejutkan. Rupanya, untuk meyakinkan pendengarnya akan pentingnya mengikuti HLT, orang tersebut mengatakan: “ Sebelum saudara/i mengunjungi Yerusalem, yang merupakan tanah suci dan tanah perjanjian tsb, maka iman saudara masih bersifat teoritis. Anda membaca Alkitab masih belum hidup, dalam bentuk peta, belum mengetahui kondisi dan keindahannya yang sebenarnya”.

Bagaimana sesungguhnya?

Pernyataan seperti di atas, sedikit banyak telah membingungkan jemaat juga. Karena itu, berbagai pertanyaan berkenaan dengan kunjungan ke Yerusalem ditanyakan oleh anggota jemaat. Bagaimana sesungguhnya? Untuk menjawab pertanyaan tsb, maka sebaiknya kita ‘berkonsultasi’ dengan Tuhan Yesus.

Injil Yohanes mengisahkan satu percakapan yang menarik antara Tuhan Yesus dengan seorang perempuan Samaria (Yoh.4). Mengamati percakapan tersebut, terlihat satu percakapan religious yang mencerminkan kebanggaan yang dimiliki, baik oleh orang Samaria maupun oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Samaria sudah lama membanggakan tempat ibadah mereka yang berada di gunung Gerizim. Sedangkan orang-orang Yahudi, sangat membanggakan kota Yerusalem. Kebanggaan tersebut tidak lepas dari sejarah atau pengalaman dan pemahaman teologia dengan tempat-tempat tersebut. Sebagai contoh, ke mana pun orang-orang Yahudi merantau, mereka sangat rindu ke kampung halaman mereka di Yerusalem, di mana di sana ada bait Allah yang dibangun dengan sangat megah. Kerinduan tersebut tercermin dalam kitab-kitab Mazmur (Maz.84). Demikian juga, kelihatannya, kebanggaan itulah yang dinyatakan perempuan Samaria tsb kepada Tuhan Yesus: “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini...” (Yoh.4:20).

Mendengar pernyataan tsb, menarik sekali menyimak penegasan Tuhan Yesus kepada perempuan tsb. Tuhan Yesus menegaskan satu hal yang saya yakin telah mengecewakan perempuan Samaria tsb, juga orang-orang Yahudi pada umumnya. Mengapa? Ternyata, Tuhan Yesus tidak memilih keduanya, baik gunung Gerizim maupun Yerusalem (Yoh. 4:21). Sebaliknya, Dia menegaskan satu hal yang sangat penting: “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembahNya, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (ayat 24). Dengan perkataan lain, dalam hal badah kepada Allah, Tuhan Yesus tidak mengikat anggota jemaat kepada satu tempat tertentu, termasuk tempat yang dianggap suci atau sakral oleh nenek moyang. Satu hal yang sangat penting, di mana pun beribadah dan menyembah Allah, hal itu harus dilakukan dengan benar, dengan segala kesungguhan, yaitu di dalam pimpinan Roh Kudus.

Jika demikian, cukup jelas bahwa Alkitab tidak memberikan suatu perintah yang mewajibkan umat untuk pergi ke Yerusalem. Dengan menegaskan kebenaran Alkitab tsb, saya harap saya tidak disalahmengerti, seolah-olah saya anti dengan kunjungan ke Yerusalem, anti dengan program HLT. Ada yang berkata: “Apa salahnya melakukan wisata rohani jika memang mampu?”
Memang tidak ada salahnya, asalkan perjalanan tsb tidak disertai dengan penipuan secara halus, khususnya kepada jemaat yang masih lemah imannya dan polos. Misal, dengan menjanjikan: “Diberkati ulang pernikahan Anda di kota Kana; dibaptis ulang di sungai Yordan” dan sejenisnya. Sebaliknya, perjalanan ke kota-kota yang bersejarah di dalam Alkitab tsb dapat bermanfaat, jika dipersiapkan dan dilaksanakan dengan segala kejujuran dan kesungguhan hati.

Akhir kata, meski tidak salah, untuk apa melakukannya sampai berkali-kali, bahkan puluhan kali sebagaimana disebutkan di atas? Saya kira, pendeta dan pemimpin perlu membimbing anggota jemaat dalam hal skala prioritas. Bagaimana dengan wisata rohani di tempat-tempat bersejarah di Indonesia, misalnya Salib Kasih di Tarutung? Selain membangkitkan kecintaan kepada tanah air dengan segala kekayaan budayanya, pada saat yang sama, kunjungan tersebut akan bermanfaat dan membangun kehidupan masyarakat di sana. Dengan demikian, melalui kunjungan wisata tsb, kita telah turut membangun desa-desa tertinggal di seluruh persada Nusantara. Soli Deo gloria.-