Saturday, 26 May 2018

Oleh: Pdt. Mangapul Sagala

Salah satu hal yang menyedihkan hati saya dalam pelayanan adalah menyaksikan adanya anggota jemaat yang salah menghayati imannya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana menderitanya seseorang ketika memahami dan mempraktekkan iman itu secara salah. Lebih menyedihkan lagi ketika korban tersebut tetap tidak menyadari bahwa apa yang dianggap dengan iman itu sebenarnya bukanlah iman yang benar. Saya akan menyebutkan dua contoh saja.

Pertama, iman bukan nekad. Alkitab memang menunjukkan bahwa kelihatannya iman itu sama dengan nekad. Sebagai contoh, kita dapat membaca kisah umat Allah ketika menyeberangi sungai Jordan. Kita memperhatikan bahwa mereka mencelupkan kaki terlebih dahulu ke dalam air, barulah sungai itu berhenti mengalir. Bukan sebaliknya (Baca Yos.3:15). Barangkali ada yang bertanya: “Bagaimana jika sungai itu tidak berhenti?” Saya teringat satu artikel yang ditulis oleh seorang pemimpin Gereja besar di Seoul, Korea. Dalam artikel itu dikisahkan tiga orang pemuda yang ingin menyeberangi sebuah sungai yang sedang pasang dan baru saja menghanyutkan jembatan penyeberangan. Namun demikian, ketiga pemuda tersebut tetap saja nekad. Dengan semangat ‘iman’, pemuda tersebut menyeberangi sungai itu. Lalu? Tiga hari kemudian, mereka ditemukan dalam kondisi mayat! Sungguh sangat tragis.

Selanjutnya, iman bukan sugesti. Dalam sebuah ibadah penyembuhan, seorang pengkhotbah dengan bersemangat menantang anggota jemaatnya untuk beriman. Karena itu, setelah di berkhotbah bla...bla...bla... tentang apa yang dianggap iman, pengkhotbah tersebut menyerukan: “Saudara yang datang ke tempat ini dengan memakai tongkat, dalam nama Yesus, lepaskan! Yang datang dengan mata buta, sekarang melangkah dan berjalanlah...” Namun apa yang terjadi? Tidak terjadi perubahan apa-apa, sebab mereka yang melepaskan tongkatnya terkapar di lantai. Sungguh sangat memilukan dan juga memalukan.

Dua hal penting tentang Iman

Alkitab menuliskan kisah yang sangat menarik tentang seorang yang memiliki penyakit kusta. Pada suatu kali, ketika Tuhan Yesus turun dari bukit, orang kusta tersebut datang kepada Yesus serta sujud menyembah. Dalam doanya, dia berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Mat.8:2). Menarik sekali, Tuhan Yesus mengabulkan permohonannya di mana seketika itu juga dia menjadi tahir dari penyakit kustanya. Keajaiban terjadi. Mengapa bisa demikian? Apa yang dapat kita pelajari dari pernyataan orang kusta tersebut? Saya melihat dua hal. Pertama, kedaulatan Allah. Dalam doa tersebut kita membaca: “Jika Tuan mau...” Jadi, kita tidak membaca kalimat “Saya sangat ingin atau sangat menghendaki”. Hal kedua adalah mengakui kuasa Allah. Kita memperhatikan dalam permohonan tersebut tidak ada keraguan akan kuasa Yesus. Dengan sangat jelas kita memperhatikan pernyataannya: “... Tuan dapat mentahirkan aku”.

Sesungguhnya, bicara soal iman yang sejati, kedua hal tersebut di atas merupakan hal yang yang sangat penting dan mendasar: kedaulatan dan kuasa Allah. Ada sebagian orang yang hanya melihat kuasa Allah, tapi mengabaikan kedaulatanNya. Mereka mengatakan bahwa Allah berkuasa melakukan segala perkara. Karena itu, asal beriman, segala perkara pasti terjadi. Tapi, apa yang dimaksud dengan beriman? Nekad? Sugesti diri? Jelas, bukan.

Di sinilah masalah ketiga pemuda tersebut di atas. Benar, Allah yang berkuasa menghentikan sungai Yordan, Allah yang sama berkuasa menghentikan sungai di mana saja, termasuk sungai yang hendak diseberangi oleh pemuda tsb. Lalu di mana perbedaannya? Mengapa umat Allah yang dipimpin Yosua dapat menyeberangi sungai dengan selamat, tapi ketiga pemuda tersebut tidak? Jawabnya, sederhana saja. Dalam peristiwa di sungai Yordan, Allah memerintahkan Yosua untuk menyeberangi sungai tersebut (Yos.3:7,14). Allah berkendak melakukan hal itu. Sedangkan dalam kisah ketiga pemuda itu, mereka ‘mengimani’ sesuatu yang tidak diperintahkan Allah! Mari kita perhatikan kebenaran yang sangat penting ini: Iman tidak boleh dilepaskan dari kedaulatan Allah. Artinya, Allah bebas melakukan sesuatu menurut kehendakNya sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat memaksakan kehendak dan keinginannya kepada Allah, betapa besar pun tingkat kerohanian dan kesalehannya. Jika Allah tidak menghendaki, maka Dia tidak melakukannya. Tapi jika Dia memang menghendaki, Dia tidak akan menunda-nunda untuk menjawab doa dan permohonan umatNya. Hal itulah yang dialmi oleh orang kusta tersebut. Tuhan Yesus yang berkenan kepada doanya, bersabda: “Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mat.8:3) Dan hal itu pun terjadi, karena kita membaca: “Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya” (Mat.8:3). Sungguh sangat ajaib.

Kiranya kita semakin bertumbuh dalam iman yang sejati, bukan nekad dan sugesti diri. Dengan demikian, kita terhindar dari segala penderitaan yang tidak perlu, juga dari hal-hal yang memilukan dan memalukan. Sebaliknya, kiranya kita diperkenankanNya mengalami keajaiban seperti orang kusta tersebut. Tetapi seandainya pun tidak, mari kita terus berserah dan percaya kepadaNya. Hal itulah yang pernah diserukan oleh Eka Darmaputera kepada sekelompok yang sedang berdoa untuknya. Dalam suratnya dia meminta untuk tidak lagi mendoakan kesembuhannya, di mana disadarinya, hal itu sepenuhnya merupakan kedaulatan Allah. Akhir kata, FAITH (iman) adalah Forsaking All I Trust Him”.

http://www.sinarharapan.co.id