Monday, 11 December 2017

Oleh. Pdt Mangapul Sagala

Tema tersebut di atas merupakan tema yang sangat penting dan relevan untuk dibahas pada masa kini. Tema itulah yang kami bahas bersama Dr SAE Nababan, dalam seminar para pelayan Tuhan di Palembang pada waktu yang lalu.

Mengapa penting? Tidak dapat disangkali bahwa akhir-akhir ini, kehidupan para rohanian serta pelayan-pelayan Tuhan menjadi sorotan umum. Hal itulah yang cukup sering ditemukan di dalam berbagai media di mana jemaat mengeluhkan kehidupan pelayan di Gerejanya.

Dalam sebuah kesempatan tanya jawab (dialog interaktif), pada sebuah radio swasta, penulis juga menerima berbagai keluhan dan pertanyaan di seputar kehidupan pelayan Tuhan yang tidak memberi kesaksian yang benar, baik dalam kehidupan keluarga, keuangan, ambisi-ambisi negatif terselubung, terlibat dalam perselingkuhan, dll.

Ada satu hal yang 'menarik' untuk diamati. Ada sementara orang yang suka menyebut dirinya sebagai pelayan Tuhan atau hamba. Di sebuah Gereja tertentu, seorang dapat dengan mudah menjadi pendeta, tanpa melewati waktu yang cukup lama serta adanya ujian serta seleksi yang cukup memadai. Berbagai kategori diberikan kepada mereka, seperti pendeta muda, pendeta pembantu, pendeta senior, serta sejenisnya. Tetapi apa pun jenis atau kategori yang diberikan, yang jelas, mereka itu semua merasa dirinya sebagai pelayan Tuhan. Dan memang, kelihatannya, mereka sangat senang disebut sebagai pelayan Tuhan atau hamba Tuhan. Sayangnya, walau senang disebut atau menyebut diri sebagai pelayan atau hamba, kadang kala, sikap seorang pelayan atau hamba tidak terlihat jelas. Yang nampak dengan nyata adalah sikap seperti tuan, ngebos dan ingin dilayani. Kontradiksi? Benar. Namun, itulah kadangkala kenyataan yang terjadi. Lalu, bagaimanakah sesungguhnya kita menghayati pelayanan tersebut?

Pelayanan adalah Penyembahan

Dalam Perjanjian Lama, kata penyembahan (Ibrani) adalah avodah. Kata ini mengandung makna vertikal dan horizontal. Artinya, di satu sisi, avodah mengacu kepada relasi umat yang menyembah Allah. Di sini ditunjukkan sikap hormat kepada Allah, yang seringkali dinyatakan dalam bentuk sujud menyembah dengan kening sampai menyentuh tanah/lantai.

Di sisi lain, kata avodah mengacu kepada sikap seseorang yang pergi melayani Allah, sebagai akibat dari ketaatannya pada perintahNya. Apa saja yang Allah perintahkan untuk dilakukan untuk kebaikan umatNya akan dilakukan dengan segala ketaatan dan penyembahan. Jadi, di sini kita belajar bahwa kedua hal ini, yaitu penyembahan dan pelayanan, bukan merupakan dua hal yang terpisah, tetapi merupakan satu bagian.

Jikalau dalam bahasa Inggris kita menemukan dua istilah, yaitu worship dan serve, demikian juga dalam bahasa Indonesia: menyembah dan melayani, yang mengacu kepada dua hal yang berbeda, tidak demikian dengan bahasa Ibrani, avodah. Karena istilah ini mencakup dua hal di atas. Atau lebih tepatnya, istilah ini diungkapkan dalam dua bentuk kegiatan tsb di atas. Ini dapat diibaratkan seperti satu keping uang dengan dua mata coin. Itulah sebabnya, pelayanan yang benar kepada sesama (horizontal) harus keluar dari relasi yang benar dengan Allah, yaitu ketika secara sadar kita menyatakan kasih dan penyembahan kita kepadaNya (vertikal) melalaui pelayanan tsb. Dengan demikian, tidak akan ditemukan kasus-kasus di mana pelayan memperalat orang-orang yang dilayaninya untuk kepentingan diri sendiri, terlebih lagi merusak serta mencemarkannya.

Pelayanan adalah being bukan sekedar doing

Mengatakan diri sebagai seorang pelayan Tuhan serta melakukan berbagai perbuatan (doing) dan kegiatan rohani, memang tidaklah terlalu sulit. Namun, hal itu tidak menjamin keberadaan (being) orang tersebut. Hal itulah yang dihadapi oleh rasul Paulus. Ketika melayani di jemaat Korintus, dia menyaksikan pengajar serta pelayan-pelayan palsu. Dalam kondisi demikian, nampaknya, dia tergoda dan dituntut untuk memberikan semacam surat rekomendasi yang membuktikan kerasulan atau otoritasnya. Namun demikian, dia menolak melakukan hal itu. Sebaliknya, dia menegaskan dengan suatu pernyataan penting: "...kamu tertulis dalam hati kami... karena telah ternyata bahwa kamu... ditulis dengan pelayanan kami (2 Kor.3:2-3). Dari pernyataan tsb, kita memperhatikan betapa beraninya rasul Paulus menyatakan dua hal penting yang merupakan ciri dari seorang pelayan sejati. Pertama, dia menunjuk kepada dirinya sendiri: "kamu tertulis dalam hati kami". Di sini rasul Paulus menegaskan bahwa dia bukan sekedar menjadikan jemaat Korintus sebagai objek pelayanan- misalnya untuk cari untung, sebagaimana dilakukan pengajar dan pelayan lain yang telah menyusup ke dalam jemaat. Tetapi dia berani mengatakan bahwa jemaat ada dalam hatinya.

Pernyataan tersebut menunjukkan menyatunya kegiatannya dengan dirinya, karena kegiatan yang dilakukannya keluar dari hatinya yang sangat dalam. Pada fasal sebelumnya dia telah menyatakan hal ini: "... Allah adalah saksiku -Ia mengenal aku- bahwa aku mengasihi kamu" (2 Kor.1: 23; 2:4c). Karena kasih inilah maka rasul Paulus tidak mau menyakiti hati jemaat dan rela mencucurkan air mata (2:1-4).

Bukankah kualitas hati seperti ini sangat luar biasa? Adakah bukti lain yang diperlukan melebihi bukti diri pelayan itu sendiri yang sedemikian mengasihi jemaatnya? Apa yang terjadi bila sebaliknya, di mana pelayan hanya giat melayani tanpa kasih, bahkan menjadikan jemaat sebagai sapi perahan? Semoga Bapa sorgawi senantiasa menjaga dan menguduskan semua pelayanNya sehingga mereka tetap teguh berdiri di tengah badai, dan tidak menjadi batu sandungan. Kiranya Dia, yang pada abad lalu telah mengaruniakan pelayan-pelayan sejati seperti Nomensen ke tanah Batak, Denninger ke Nias, Joseph Kam ke Maluku, Sadrakh ke Jawa, akan terus mengaruniakannya pada masa kini.-