Monday, 11 December 2017

Pdt. Mangapul Sagala

Berapa lamakah periode seseorang melayani Tuhan? Satu periode? Dua periode? Di Gereja tertentu, seorang majelis hanya boleh dipilih selama dua periode. Tapi di Gereja lainnya, kemajelisan melekat kepadanya seumur hidup. Tentu masing-masing keputusan, memiliki motivasi dan pemahaman yang berbeda. Jika kita mengamati Alkitab, maka sesungguhnya, pelayanan itu adalah komitmen seumur hidup (a long life commitment). Itulah sebabnya, kita membaca di dalam Alkitab, Allah bersabda kepada Yosua: "HambaKu Musa telah mati; sebab itu, bersiaplah sekarang..." (Yos.1:2). Dengan perkataan lain, Yosua diminta untuk menggantikan Musa, bukan ketika Musa telah berusia 60 tahun atau 70 tahun, tapi ketika dia telah meninggal dunia.

Pada edisi sebelumnya kita telah membicarakan makna pelayanan yang bukan sekedar kegiatan, tapi hal itu seharusnya keluar dari kerohanian yang benar, atau dari relasi yang benar dengan Allah, atau kegiatan yang telah menyatu dengan diri seseorang. Dari pemahaman tersebut, secara wajar, kita juga akan mengerti bahwa pelayanan itu bukanlah satu panggilan yang cukup dikerjakan satu atau dua tahun, satu atau dua periode, tetapi seumur hidup. Sebenarnya, di sinilah kita juga menghayati apa artinya pelayanan sebagai sebuah panggilan. Ini berarti merupakan pekerjaan Allah dalam diri kita, di mana Dia menaruh beban dan panggilan itu dalam hati kita.

Dengan demikian, pelayanan bukan sekedar keinginan sesaat, yang merupakan ambisi daging semata. Tetapi sesungguhnya, pelayanan itu merupakan panggilan mulia dan kekal bagi kita yang tidak tergantung dari apapun bentuk pekerjaan kita kelak. Panggilan itulah yang membuat kita selalu mengaitkan semua milik: karier, talenta, posisi, dsb dengan pelayanan bagiNya selama kita di dunia ini. Bahkan kelak, bila dalam rahmat dan kasih setiaNya kita akan bersamaNya, kita juga akan terus melakukan pelayanan kepadaNya (Why.7: 15).

Total dependence

Jika demikian halnya, apakah yang menjadi dasar kekuatan dan efektivitas seseorang untuk melayani Tuhan? Rasul Paulus menulis dasar keyakinannya kepada jemaat di Korintus: "Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada ALLAH" (2Kor.3:4). Selanjutnya dia menegaskan ketidaksanggupan mereka melakukan pelayanan itu dari diri mereka sendiri. "Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah" (5); NIV: "but our competence comes from God". Bagaimanakah respon kita terhadap penegasan tersebut? Barangkali, kita terkejut dengan pernyataan seorang rasul yang sangat hebat tersebut.

Jika pernyataan seperti ini dikatakan oleh orang sederhana, misalnya yang baru terlibat dalam pelayanan, kita dapat mengerti. Tetapi pernyataan tersebut dikatakan oleh seorang yang sudah sangat lama melayani, sudah matang dan berpengalaman. Sudah banyak makan 'asam' dan 'garam'.

Kalau kita sungguh-sungguh mengamati pernyataan tersebut, dua hal bisa muncul. Pertama, itu hanya kalimat basa basi, atau gaya bahasa merendah, low profile. Tetapi tafsiran ini tidak dapat dibenarkan, khususnya ketika kita membaca dengan teliti seluruh isi suratnya dalam 2 Korintus tersebut. Tafsiran seperti ini akan digugurkan oleh pengakuannya yang secara apa adanya mmenulis: menderita, berbeban berat... hingga sampai putus asa (2Kor.1:8; 4: 7-12; 11: 23-29).
Dengan demikian, kita akan sampai kepada kemungkinan kedua, yaitu bahwa memang dia dan tim pelayanannya sungguh- sungguh merasa tidak mampu menjalankan pelayanan yang sedemikian berat. Jadi pernyataan itu adalah fakta, bukan sebuah gaya bahasa simbolis atau yang merendah.
Menarik sekali memerhatikan bahwa penegasan yang bersifat negatif tersebut ("kami tidak sanggup dari diri sendiri") keluar dari pengalaman rohani yang nyata, yang hidup sedemikian berat hingga sampai putus asa. Sepertinya, ini merupakan penilaian atau evaluasi akhir dari sebuah sekolah rohani. Setelah pernyataan tersebut, rasul Paulus memberikan pernyataan lain, yang juga sangat menarik untuk diamati dan penting untuk dicamkan dengan segenap hati: "Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah" (2Kor.1: 9b).

Apa maknanya penegasan akan keyakinan rasul Paulus tersebut bagi kita, para pelayan Tuhan? Hal tersebut mengajarkan satu pelajaran penting, yaitu, Allah menghendaki supaya dalam melakukan pelayanan, kita semakin yakin dan bersandar kepada Allah, bukan kepada diri sendiri. Untuk hal ini, Allah akan menggodok kita dalam 'sekolah' rohani, mengerjakan dan mengizinkan sesuatu terjadi, agar kita lulus dan mendapatkan pelajaran rohani yang benar sebagaimana rasul Paulus tersebut di atas.

Sebenarnya, penyerahan hidup tersebut di atas, bukanlah hal yang baru. Seruan seperti itu telah ditemukan sejak Perjanjian Lama. Kita dapat membandingkan hal ini dengan pengalaman Gideon pada kitab Hakim2 7, khususnya ayat 2. Ketika Allah memerintahkan bangsa Israel yang dipimpin Gideon untuk berperang melawan bangsa Midian, maka Allah berfirman: "Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau, jangan-jangan bangsa Israel memegahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku". Jadi, Allah tidak menghendaki sikap seperti itu. Sebaliknya, Dia menghendaki agar kita semakin menghayati ketergantungan kita kepada Allah, dengan mencamkan bahwa pelayanan tersebut adalah pelayanan Allah. Ini akan membawa kita kepada sikap TOTAL DEPENDENCE, dan menjauhkan kita dari perasaan SUPERIOR atau INFERIOR dalam pelayanan. Karena Allah dan Roh Kuduslah sesungguhnya yang melakukan pelayanan itu di dalam dan melalui kita.-