Monday, 11 December 2017

Pdt. Mangapul Sagala

Sesungguhnya, pelayanan itu adalah sesuatu yang sangat mulia. Sayang sekali, sebagian orang yang melayani Tuhan tidak menghayatinya demikian. Seorang yang sedang melayani Tuhan, meminta rekannya mencarikan pekerjaan yang lebih baik. Meresponi hal itu, dengan wajah yang agak heran, rekannya bertanya apakah ada pekerjaan lain yang lebih baik dan lebih mulia daripada pekerjaan seorang hamba Tuhan.

Rasul Paulus sangat menyadari kemuliaan pelayanan itu. Itulah sebabnya, di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, ketika dia membandingkan pelayanannya (Perjanjian Baru) dengan pelayanan Musa (Perjanjian Lama), dia berulang kali menegaskan kemuliaan pelayanannya. Dia menulis: “Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian, betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh (2Kor.3:7c-8). Konsep kemuliaan tersebut sedemikian menonjol. Karena itu, dalam pasal tersebut, terdapat 9 kali pengulangan kata “mulia” (lihat 7-11, 18).

Mengapa pelayanan itu mulia? Kita dapat menemukan beberapa alasan yang sangat jelas. Pertama, karena sesungguhnya, ketika kita melayani, kita bukanlah melayani manusia, tetapi melayani Allah yang sangat mulia (7). Ketika diperhadapkan dengan kemuliaan Allah yang demikian, nabi Yesaya menyadari ketidaklayakannya dan berseru: “Celakalah aku! Aku binasa!” (Yes.6:3,5). Namun demikian, sungguh ajaib! Allah yang mulia inilah yang mengerjakan pelayanan itu di dalam diri kita. Kedua, karena kabar baik yang tertulis dalam loh-loh daging itu adalah mulia (2Kor.3:3). Injil itulah yang disebut oleh rasul Paulus sebagai harta yang sangat indah (4:7) yang mengandung rahasia Allah yang tersembunyi selama berabad-abad (Ef.3: 5-10). Harta tersebut tidak dapat dibandingkan dengan harta semahal apa pun di dunia ini. Ketiga, karena akibat dari pelayanan itu juga mulia (8,9,10,11, 18). Kuasa Injil akan merubah orang berdosa dari kematian kekal kepada kehidupan (7), dari perbudakan dosa kepada pembenaran (9), dari kehinaan kepada kemuliaan yang semakin besar (18).

Sesungguhnya, berita seperti itulah yang diberitakan oleh mahluk-mahluk kudus seperti malaikat, nabi dan rasul. Dan sekarang, di zaman ini, berita tersebut dipercayakan kepada kita orang lemah! Kenyataan tersebut, membuat kita mengerti dialog yang pernah terjadi antara Robert Munger dengan seorang usahawan sukses. Dalam sebuah penerbangan, Robert Munger menanyakan tentang perkerjaan usahawan tersebut. Dengan bangga orang ini bercerita tentang kisah perusahaannya yang sukses dan telah membuka cabang diberbagai tempat dan saat itu dia sedang meresmikan cabang perusahaan yang ke 53! Setelah itu, usahawan tersebut balik bertanya, “And you, what are you doing”? Selanjutnya, terjadi dialog yang menarik untuk disimak. Robert Munger dengan sangat bangga menjawab: “I am engaged in a greatest company in the world. The greatest company, with a greatest future, a most important product, and above all, the greatest Manager and President”! Usahawan tersebut terheran-heran dan ingin mengetahui perusahaan apa yang dimaksud. Siapakah Robert Munger? Dia adalah seorang pelayan Tuhan, penginjil yang terlibat dalam penginjilan sedunia (Global Mission), yang memenangkan jiwa-jiwa bagi kekekalan.

Apa implikasi konkrit dari menghayati pelayanan sebagai sesuatu yang mulia? Kesadaran akan kemuliaan pelayanan tersebut membuat para pelayan Tuhan melakukannya dengan rasa syukur, bangga sebagaimana terlihat dalam diri Robert Munger tersebut di atas. Ketika semakin banyak orang tidak memiliki kebanggaan terhadap panggilan pelayanannya, maka kita perlu merenungkan dan meneladani pernyataan Munger tsb.

KEMURAHAN ALLAH

Setelah menyatakan kemuliaan pelayanan tersebut, rasul Paulus melanjutkan: “Karena itu, oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini” (2Kor. 4:1). Sebagai catatan, dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia, kata “karena itu” tidak ditemukan (Yunani, dia touto; NIV Bible: therefore). Jadi, pelayanan tersebut dihayati oleh rasul Paulus, bukan karena dia layak untuk tugas dan panggilan tersebut, tapi semata-mata karena Allah bermurah hati untuk melibatkannya.
Penghayatan seperti ini sangat menonjol dalam surat-surat rasul Paulus. Sebagaimana telah kita sebut di atas, rasul Paulus menyatakan bahwa Injil itu merupakan rahasia Allah yang sangat mulia (baca juga Ef.3: 5-10). Setelah itu, rasul Paulus menegaskan, “Dari Injil itu, aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku... Kepadaku yang paling hina dari di antara segala orang kudus telah dianugerahkan kasih karunia ini untuk memberitakan... (Ef.3: 7-8).

Penghayatan bahwa pelayanan yang diterimanya adalah semata-mata kemurahan Allah membuat rasul Paulus memberikan satu pernyataan penting: “ Karena itu, kami tidak tawar hati” (2Kor.4:1b). Sikap inilah yang pertama disebutkan oleh rasul Paulus sebagai sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang –termasuk kita- yang dipanggil untuk melayani Dia.

Kata yang digunakan untuk “tawar hati”, bisa berarti kehilangan semangat atau api pelayanan (NIV Bible: “lose heart”; Yunani, egkakoumen). Memang sikap ini sangat dibutuhkan dalam menjalani pelayanan yang penuh dengan pergumulan dan tantangan. Tidak heran, hal “tidak tawar hati” ini diulang lagi pada ayat 16. Apa yang terjadi bila kita tawar hati dalam pelayanan? Itu bagaikan mobil bagus dengan peralatan yang canggih serta accessories yang menarik, tetapi tidak punya bahan bakar! Maka mobil itu tidak dapat bergerak, dan tidak pernah sampai ke tujuan. Dia hanya enak dipajang dan tidak berfungsi! Memang ada juga mobil seperti ini, tapi tempatnya di show room, tidak boleh di jalan raya! Karena jika demikian, akan mengganggu mobil lain yang mau bergerak, macet!

Demikian juga dengan pelayan-pelayan Tuhan yang sedang melayani. Kita mungkin memiliki pengetahuan teologia yang cukup serta berbagai ketrampilan dalam pelayanan. Tetapi bila hati tawar, maka pelayanan kita akan macet. Sebagai akibatnya, akan ‘memacetkan’ orang lain juga. Karena itu, baik sekali kalau kita sering memperhatikan dan merenungkan seruan Paulus, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala (mendidih, Yun: zew) dan layanilah Tuhan” (Ro.12: 11).-