Monday, 11 December 2017

Pdt. Mangapul Sagala

Apakah tuntutan yang sangat penting bagi seorang pelayan Tuhan, yang tidak boleh tidak ada di dalam dirinya? Harus memiliki gelar teologia? Atau, harus memiliki karunia-karunia rohani dan pengalaman? Semua itu, tentu baik dan diperlukan. Tapi tanpa itu pun seorang tetap dapat melayani Tuhan. Lalu kwalitas apa yang dituntut dari setiap pelayan Tuhan? Kasih? Tentu saja. Tanpa kasih, seseorang sulit melayani dengan baik. Hal itu, telah banyak dikhotbahkan dan dituliskan.

Namun ada hal lain yang sangat penting dimiliki oleh setiap orang yang melayani Tuhan, yaitu, kekudusan hidup. Tema kekudusan hidup sangat menonjol di dalam Alkitab, baik di dalam Perjanjian Lama, maupun di Perjanjian Baru. Perintah untuk hidup kudus, bukan saja diberikan kepada nabi dan rasul, tapi juga kepada seluruh umat. Hal itulah yang ditegaskan Allah kepada Musa. “ ...katakanlah kepada mereka, kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus” (Im.19:1-2). Seruan Allah yang sangat serius tersebut, diulangi lagi oleh rasul Petrus kepada umat Allah di Perjanjian Baru: “Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu, sama seperti Dia yang kudus...” (1Pet.3:15). Pada bagian yang lain kita membaca Rasul Paulus juga menyerukan: “Inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan” (1Tes.4:3).

Pada edisi yang lalu, kita telah melihat penegasan rasul Paulus bahwa menjadi pelayan Tuhan merupakan suatu panggilan yang sangat mulia, yang kita terima bukan karena kita layak dan cukup syarat (2Kor.3). Bersama rasul Paulus, kita mengaminkan bahwa hanya karena kemurahan dan karunia Allah kita dapat terlibat dalam pelayanan. Karena itu, merupakan suatu keharusan yang wajar apabila sesuatu yang sangat berharga dan mulia tersebut disertai dengan suatu tuntutan. Harap diperhatikan, saya menggunakan kata “tuntutan”, bukan “persyaratan”. Mengapa? Karena menurut keyakinan saya, kita tidak tidak pernah cukup syarat untuk dijadikan pelayan Tuhan. Karena itu adalah tuntutan, atau harga yang harus dibayar di dalam penyerahan, maka kita diwajibkan untuk memberi respons yang sesungguhnya terhadap panggilan tersebut. Tuntutan tersebutlah yang diuraikan oleh rasul Paulus secara khusus di dalam pasal berikutnya (2Kor.4).

Kekudusan yang tidak bisa ditawar

Menyimak pasal tersebut, menarik sekali memperhatikan apa saja tuntutan yang diberikan bagi seorang pelayan Tuhan. Hal pertama yang disebutkan oleh rasul Paulus adalah kekudusan hidup. Kekudusan tersebut merupakan respons wajar dari sebuah kesadaran yang mendalam bahwa pelayanan itu mulia dan diterima hanya karena kemurahan Allah. Kekudusan tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Itulah sebabnya, rasul Paulus menegaskan tiga hal yang bersifat negatif.

Pertama, “Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan” (2Kor.4:.2). Ini adalah suatu sikap tegas yang dinyatakan rasul Paulus untuk selalu memelihara hidup yang kudus. Kekudusan yang dimaksud bukanlah sekadar sesuatu yang didemonstrasikan di hadapan manusia, tetapi di hadapan Allah yang telah memanggilnya kepada pelayanan itu. Perhatikan kata “tersembunyi” (kruptos), berarti tidak seorang pun tahu. Namun sekalipun tersembunyi, tidak seorang pun tahu, kalau ternyata hal itu memalukan dan tidak berkenan kepada Allah, maka dengan tegas harus ditolak!

Sikap seperti ini jugalah yang pernah ditegaskan oleh penginjil terkenal Billy Graham ketika dia menuliskan: “Saya tidak akan mengizinkan dalam pikiran saya, apakah hal itu diketahui atau tidak diketahui orang, sesuatu yang dapat menyakiti hati Yesus”. Karena itu, kita semua, khususnya pelayan-pelayan Tuhan harus berhati-hati dalam pikiran kita. “Don’t entertain evil thoughts” (jangan menikmati pikiran jahat). Kita juga harus hati-hati terhadap segala tontonan dan menghindarkan diri dari segala macam pornography yang telah menjatuhkan banyak orang, termasuk pelayan-pelayan Tuhan. Hal ini sejalan dengan seruan firman Tuhan: “Jangan beri kesempatan kepada Iblis” (Ef.4:27). Kata “kesempatan” diterjemahkan dari “topos”, yang berarti, tempat, atau bisa juga dimengeri sebagai jejak kaki. Dengan perkataan lain, dosa merupakan jalan masuk atau jejak kaki bagi Iblis. Kita tidak boleh membiarkan Iblis masuk melalui semua itu, dan merusak kerohanian serta menghancurkan pelayanan kita. Karena itu, perselingkuhan, percabulan, pornografi, korupsi dan dosa-dosa lainnya harus dibereskan. Hal itu harus dilakukan dengan segera melalui pertobatan sejati. Perlu kita ingat bahwa benih dosa lebih mudah dimatikan ketika dia masih benih, baru mulai. Ketika dibiarkan bertumbuh, akan sulit dilawan, akhirnya menguasai dan menghancurkan kita.

Hal kedua yang ditegaskan oleh rasul Paulus adalah, “kami tidak berlaku licik”. Kata “licik” dapat dimengerti sebagai suatu tindakan yang seolah-olah lurus, tapi menyembunyikan satu “maksud terselubung”. Hal ini menjadi semakin jelas bila dikaitkan dengan yang ketiga, “tidak memalsukan atau menyerongkan firman Allah” (2Kor.4:.2).

Kalau kita mengamati surat-surat Paulus (2Kor.11: 12-15; 1Tes.2: 5b; 1Tim.6:5, juga surat Petrus (1Pet.5: 2), maka hal-hal negatif seperti inilah yang cukup sering ditemui. Dengan berani Paulus menuliskan, “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah (2:17). Karena itu, kita kita tidak perlu heran bila menyaksikan ada juga pelayan-pelayan lain di sekitar kita yang demikian. Karena itulah seruan di atas menjadi sangat penting. Kita juga perlu meneladani pernyataan Paulus tentang hidup yang penuh ketulusan dan kemurnian (2Kor.1:12). Kwalitas hidup seperti itu, membuat dia berani menuliskan tantangan berikut: “... dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah” (2Kor.4:2b). Sungguh, itu adalah suatu pernyataan yang sangat berani, di mana Paulus dengan berani hidup transparan di hadapan Allah, bukan sekedar di hadapan manusia. Siapakah di antara kita yang berani menyatakan tantangan yang demikian? Dengan adanya kasus-kasus negatif di sekitar kita, nampaknya, kehidupan seperti itu, semakin jauh. Kita masih perlu semakin banyak berdoa dan memperjuangkan kekudusan tersebut.-