Thursday, 19 July 2018

MASALAH GELAR

Setelah rasul Paulus menegaskan tentang pentingnya kekudusan hidup, "dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian" (2Kor. 1:12), dan "menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan" (2Kor.4:1-2), maka hal selanjutnya yang ditegaskannya adalah menjaga kemurnian ajaran. Dengan perkataan lain, setiap pelayan Tuhan harus mengetahui pengajaran Alkitab dengan benar. Termasuk di sini dapat kemampuan membedakan mana ajaran Alkitab yang bersifat primer dan mana yang sekunder (2Kor.4.5).

Hal tersebut menjadi salah satu hal penting yang disorot oleh rasul Paulus dalam setiap surat-suratnya. Karena itu, kita membaca bagaimana rasul Paulus memperingatkan Timotius akan adanya pengajar-pengajar di zamannya yang tidak mengerti ajaran yang mereka ajarkan (1Tim.1: 6-7)

Apakah yang menjadi fokus pengajaran rasul Paulus? Ternyata, bukanlah soal mukjizat atau penyembuhan atau hal-hal spektakuler lainnya, sebagaimana kita temukan dalam pelayanan Gereja dan kelompok tertentu saat ini. Akan tetapi Paulus menyatakan bahwa pusat pengajarannya adalah "Yesus Kristus sebagai Tuhan" (2Kor.4:5b; lihat juga Kol.1: 28). Di pihak lain, dengan tegas rasul Paulus menolak segala usaha untuk mengiklankan diri sendiri atau kelompoknya, sebagaimana dilakukan sebagian orang sekarang ini. Dia menulis: "Sebab bukan diri kami yang kami beritakan" (2Kor.4:5a). Kita juga melihat penegasan seperti itu di dalam diri Yohanes pembaptis, pengkhotbah yang sangat disegani di zamannya. Karena itu, ketika murid-muridnya membandingkannya dengan Tuhan Yesus, maka dengan tegas dia memberikan pernyataan berikut: "Dia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil" (Yoh:3: 30). Yesus yang diberitakan di sini adalah Kristus Tuhan, yang menyatakan kemuliaanNya.

Dengan mennghayati seruan firman Tuhan tsb di atas, maka semua pelayan Tuhan harus menghindarkan diri dari pengajaran-pengajaran yang aneh dan menyesatkan sebagaimana pernah berkembang dan meluas di Indonesia. Sebagai contoh, ajaran tentang toronto blessing dengan praktek tertawa seperti orang kehilangan ingatan; perjamuan kudus yang dirubah maknanya menjadi sarana penyembuhan (cth: minyak urapan), teologia liberal yang menolak keAllahan Yesus, dll.

Itulah sebabnya, untuk meningkatkan kwalitas pengajaran tersebut, pelayan Tuhan tidak boleh terjebak dalam kegiatan semata-mata, tapi harus terus menerus memperlengkapi diri, baik secara formal maupun informal. Setiap pelayan Tuhan dituntut untuk membaca buku-buku yang bermutu, dan tidak hanya membaca buku-buku kesaksian atau majalah-majalah rohani yang menceritatakan pengalaman yang bombastis, seperti kesaksian seseorang yang katanya bolak balik naik ke surga, dll.

MASALAH GELAR TEOLOGIA

Bicara soal pengajaran teologia, barangkali ada yang bertanya: "Apakah masih perlu mempermasalahkan ajaran teologia? Bukankah kita sering mendengar khotbah dan membaca tulisan dari pendeta atau pengkhotbah yang bergelar tinggi-tinggi, seperti S.Th, M.Div, M.Th bahkan bergelar doktor? Apakah itu belum menjamin pengajaran yang benar dan mendalam?"

Saya mohon, pembaca sekalian memperkenankan saya untuk membicarakan hal ini secara jujur dan terbuka. Apa adanya. Memang benar, belakangan ini kita cukup sering menemukan orang bergelar doktor bahkan professor. Namun demikian, pertanyaan di atas harus saya jawab dengan, "Tidak". Ada beberapa alasan yang menyebabkannya. Alasan sederhana, adanya kesalahan menulis atau menyebutkan gelar seseorang. Kesalahan tersebut dapat dilakukan secara tidak sengaja. Itulah pengakuan seseorang yang menulis gelar dengan salah.

Kesalahan lainnya adalah adanya berbagai macam gelar doktor di bidang teologia, yang sebenarnya memiliki bobot dan tuntutan akademis yang berbeda, namun seringkali ditulis dengan cara yang sama: Dr. Padahal, kita mengenal gelar doktor honoris (kehormatan) yang diperoleh tanpa studi formal, seharusnya ditulis dengan Dr(HC). Gelar doktor lainnya yang diperoleh dengan studi formal, namun dalam waktu yang relatif singkat (dua sampai tiga tahun) adalah Doctor of Ministry, yang seharusnya ditulis dengan D.Min. Ada juga gelar Doctor of Missiology (D.Mis) dengan tuntutan akademis yang lebih berat dari D.Min. Sedangkan Doctor of Philosophy/Theology ditulis dengan Ph.D/Th.D, di mana gelar ini memiliki beban studi yang lebih berat dan waktu yang lebih lama dari D.Min dan D.Mis.

Ketidaksengajaan, tentu dapat dipahami dan diterima. Namun, hal yang menyedihkan adalah kenyataan adanya yang melakukan kesalahan tsb di atas dengan sengaja. Barangkali, ada yang keberatan terhadap pernyataan tersebut dan bertanya: "Sengaja? Bukankah hal itu adalah sebuah penipuan?" Benar. Tapi, itulah fakta yang menyedihkan. Demi sebuah pengakuan, orang bisa melakukan semuanya, termasuk memalsukan gelar. Itulah sebabnya, saya selalu mengingatkan rekan-rekan untuk hati-hati menulis gelar seseorang, karena pada dasarnya, gelar yang benar tersebut adalah simbol dari sebuah perjuangan yang panjang dan yang telah dibayar dengan harga yang sangat mahal. Pada umumnya, anggota jemaat memberi pengakuan secara wajar kepada orang-orang seperti itu.

Kita juga perlu membicarakan adanya gelar 'aspal', asli tapi palsu. Ini adalah sebuah kenyataan yang juga sangat menyedihkan. Di negara kita, seringkali kita membaca atau mendengar adanya kepalsuan, kecurangan, dan kebohongan yang dilakukan, baik secara tersembunyi, maupun publik. Kelihatannya, kejujuran dan ketulusan hati semakin menjauh dari banyak orang. Tentu saja, hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat bangsa ini terus terpuruk, sulit melihat adanya tanda-tanda menuju perbaikan.

Tetapi yang lebih menyedihkan adalah karena hal yang sama juga dilakukan di dalam Gereja, bahkan oleh mereka yang sesungguhnya bertanggung jawab untuk mengadakan pembaharuan. Saya kira, tidak terlalu sulit bagi kita untuk melihat adanya usaha-usaha dari kelompok atau institusi tertentu untuk menawarkan program teologia dengan gelar yang tinggi-tinggi, tanpa menjalani masa studi yang memadai. Di pihak lain, kita juga mengamati kecenderungan orang-orang tertentu untuk mengejar program dan gelar yang demikian. Gelar menjadi lebih penting dari isinya. Jadi, gelar yang dimilikinya, memang asli dikeluarkan oleh sebuah Institusi tertentu. Namun itu juga palsu, karena Institusi itu adalah fiktif atau Institusi liar yang tidak memiliki legalitas resmi.

Dan bicara mengenai legalitas, inipun menjadi masalah juga. Ada Institusi yang memiliki legalitas dari pemerintah, padahal, Institusi tersebut tidak memiliki dosen, sarana dan prasarana yang cukup, bahkan dapat dikatakan sangat minim. Namun, orang-orang terkait dapat diajak 'kerja sama' untuk memberikan legalitas atau akreditasi. Karena itu, nama dan gelarpun bisa diatur. Kenyataan seperti ini semakin banyak ditemui di sekitar kita. Sebagai hasilnya, kita dapat menemui semakin banyak orang bergelar doktor, bahkan professor, tapi kemampuannya sangat dipertanyakan. Akibatnya, standard dan kwalitaspun dikorbankan. Individu dan umat dan Gereja pun dikorbankan. Itu juga penyebabnya, buku-buku teologia di Indonesia masih didominasi oleh buku terjemahan, bukan oleh penulis asli Indonesia.

Jadi, jika mau serius terhadap kwalitas pengajaran firman Tuhan, maka mutu pengajaran harus benar-benar ditingkatkan. Konsekwensinya, mau tidak mau, suka tidak suka, semua gelar harus ditertibkan. Nah, bagi saya, di sini muncul masalah lain lagi. Siapa menertibkan siapa? Rektor menertibkan bawahannya? Bagaimana jika sang Rektor sendiri juga memiliki gelar yang tidak jelas atau 'aspal?' Harus dilaporkan ke Depag/Dirjen Bimas Protestan? Bagaimana jika Dirjennya juga memiliki gelar aspal dan tanpa rasa malu berani menuliskan gelar aspal tersebut?

Jika demikian, kelihatannya, tidak ada harapan, selain kita memohon anugerah dan mukjizat dari atas. Mukjizat, agar kepada kita semua dikaruniakan kesadaran penting akan pentingnya pengajaran yang benar, serta hati nurani yang murni dan tulus sebagaimana diserukan rasul Paulus tersebut di atas. Semoga kita semua pelayan-pelayan Tuhan, memiliki idealisme untuk maju mengejar kwalitas, berapapun harga yang harus dibayar untuk itu. Sebaliknya, sungguh-sungguh malu dan tidak mau memakai sesuatu yang tidak bermutu, apalagi palsu! Semoga.-