Monday, 11 December 2017

Ada satu ungkapan dalam bahasa Inggris yang sangat terkenal: “No gain without pain” (Tiada bahagia tanpa derita). Dengan perkataan lain, ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebahagiaan. Tidak ada jalan pintas, juga tidak ada sesuatu yang gratis untuk sebuah kenikmatan sejati. Sekiranya ada kebahagiaan dan kenikmatan yang kita miliki secara gratis dan tidak membayar apapun, maka kemungkinan besar sudah ada orang yang membayarnya bagi kita. Atau, kita menyuruh orang lain membayar untuk kenikmatan kita tersebut.

Saya kira, ungkapan tersebut di atas sangat penting untuk dicamkan oleh semua orang yang ingin maju. Prinsip hidup seperti itu telah menjadi rahasia sukses orang-orang tertentu di berbagai bidang. Hal yang sama harus dilakukan, baik di keluarga, sekolah, kantor, masyarakat, dan dalam membangun Republik yang masih terus menghadapi berbagai masalah kehidupan ini. Sebagai contoh, jika pada minggu yang lalu kita dapat menikmati dan merayakan kemerdekaan bangsa kita yang ke-62, itu kembali membuktikan bahwa telah ada begitu banyak orang yang menderita bagi kita. Mereka telah mengorbankan waktu, harga diri, harta, kehilangan kaki, tangan dan nyawa mereka bagi kemerdekaan bangsa kita. Hal yang sama harus kita lakukan demi kehidupan kita. Jika ada di antara kita yang tidak mau membayar harga untuk kebahagiaan dan kenikmatan (misal, karena korupsi dan sejenisnya) maka orang lain akan membayarnya. Saya kira, itulah yang dilakukan oleh segelintir orang, termasuk pejabat-pejabat yang korup dan pengusaha atau konglomerat- konglomerat yang dengan berbagai cara telah menggarong harta kekayaan bangsa ini. Akibatnya, Republik ini semakin terpuruk, dan generasi yang akan datang harus membayarnya. Membayarnya dengan berbagai macam penderitaan yang tidak mungkin dielakkan dan sulit dibayangkan.

Teladan yang baik

Prinsip yang sama juga berlaku bagi Gereja, seluruh umat, khususnya pelayan-pelayan Tuhan. Setiap pelayan Tuhan, harus rela membayar harga untuk penyerahan mulia yang telah dilakukannya, dan tidak pernah menjual dan mengorbankan penyerahan tsb. Teladan seperti itulah nyata diajarkan dan dijalani Tuhan Yesus. Dia bersabda: “Sesungguhnya, jikalau bijih gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu bijih saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh.12:24). Seumur hidupNya, Dia telah mendemonstrasikan hal itu. Dia tidak pernah menjual Injil dan mengorbankan jemaat demi kenikmatanNya sendiri. Sebaliknya, Dia mengorbankan diriNya bagi kenikmatan seluruh umat yang percaya.

Rasul Paulus adalah salah satu rasul yang sangat mengerti tentang prinsip hidup seperti itu. Itulah sebabnya, dia mengingatkan jemaat di Galatia agar mereka tidak bermain-main dengan hidup mereka, jangan main-main dengan anugerah Tuhan yang telah memerdekakan mereka dari perbudakan dosa (Gal.5:1). Dia menyerukan: “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal.6:7). Rasul Paulus sangat serius dengan prinsip hidup seperti itu. Karena itu, pada ayat selanjutnya, dia menggunakan kalimat yang sangat keras: “Barangsiapa menabur dalam daging, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya” (6:8).

Kita mengamati bahwa rasul Paulus tidak hanya mengajarkannya, tapi dia sendiripun telah membayar harga untuk kebahagiaan jemaat-jemaat di zamannya. Kepada jemaat di Korintus dia menyaksikan apa yang dideritanya: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa. Kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa” (2Kor.4:9-10).

Bagaimana dengan pelayan-pelayan Tuhan, seperti pendeta, majelis, saat ini? Kelihatannya, kita masih harus terus bercermin dari teladan Tuhan kita dan rasul Paulus tsb di atas. Kita masih harus terus menerus mengingatkan diri, saling membangun dan saling mendoakan untuk menjadi pelayan yang juga dapat memberi teladan bagi jemaat dan generasi kita. Saya mendengar berbagai kisah sedih tentang kemunduran jemaat di berbagai tempat karena masalah pelayan. Ada pendeta atau pelayan di sebuah jemaat tertentu yang meninggalkan jemaatnya, karena terbuka kesempatan menjadi anggota DPRD dan pengurus partai tertentu. Ada juga yang meninggalkan jemaatnya karena pindah ke kota dan negara lain yang lebih memberi kenikmatan. Semua itu, tentu dilakukan atas nam ‘panggilan’. Yang menyedihkan, ada juga yang ‘sengaja’ menghancurkan jemaatnya karena berbagai tindakan kedagingan yang didemonstrasikannya. Termasuk di sini adalah kasus-kasus negatif, seprti perselingkuhan yang muncul di berbagai media belakangan ini. Kiranya, Dia terus menuntun dan membaharui pelayan-pelayanNya untuk rela membayar harga dan setia sampai akhir hidup kita.(Why.2:10).-