Thursday, 19 July 2018

Pdt. Mangapul Sagala

Professor Alan Cole, yang pernah mengajar di Trinity Theological College, Singapura pernah mengatakan satu kalimat yang sangat mengejutkan saya: "I hate a good start, but with a bad ending" (Saya membenci permulaan yang baik tetapi dengan akhir yang jelek) Hal itu dikatakannya sebagai kalimat pertama dari khotbahnya pada sebuah peristiwa akbar dan megah, yaitu wisuda para sarjana dan master teologia dari TTC tsb. Selanjutnya, Cole menunjuk kepada kemegahan suasana, nyanyian dalam acara wisuda tsb, lengkap dengan toga dan stola warna warni dari para wisudawan.

Dalam suasana seperti itu, Cole menyerukan: "Ini adalah sebuah permulaan yang baik. Tapi perjuangan Anda sekalian masih jauh, penuh suka duka dan tantangan. Jangan sampai mengakhirinya dengan cara yang mengecewakan".

Sehubungan dengan seruan Cole di atas, saya teringat kisah seseorang yang yang dituliskan oleh penginjil Markus yang juga mengakhiri perjumpaannya dengan Yesus dengan perasaan kecewa (10:17-27). Padahal, jika kita mengamati kisah tersebut dengan seksama, maka kita dapat melihat berbagai kelebihan yang dimilikinya, yang belum tentu dimiliki oleh orang lain. Pertama, berdasarkan kisah tersebut, kita mengamati bahwa orang tersebut memiliki kesungguhan dalam mengikut Yesus. Hal itu dapat dilihat dari sikapnya yang datang "berlari-lari mendapatkan Dia" (17), bukan dengan gaya bersantai-santai. Selain berlari-lari, dia juga "bertelut di hadapan Yesus" (17) Kedua, orang ini memiliki niat yang baik: "Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" (18). Jadi, dia tidak datang kepada Yesus untuk menanyakan kiat-kiat bagaimana mempertahankan atau menambah hartanya, tetapi dia menanyakan soal hidup yang kekal. Suatu pertanyaan yang sangat penting ditanyakan oleh semua manusia berdosa. Ketiga, orang ini datang kepada pribadi yang tepat, yaitu: Yesus. Bicara soal hidup yang kekal, kepada siapa lagi ditanyakan kalau bukan kepada Yesus? Orang boleh berteori tentang hidup kekal, tapi tidak seorangpun sanggup memberikannya, tidak menjadi soal seberapa besar tingkat kenabian atau kerasulannya! Jadi, sebenarnya, orang tersebut di atas sangat beruntung, di mana dia dapat berbicara langsung dengan Yesus, pemberi hidup kekal itu.

Lalu, mengapa dia gagal? Dimana sebenarnya letak kegagalan orang ini? Apakah Tuhan Yesus menolak permohonannya? Tidak, malahan Injil menuliskan "Yesus memperhatikan dia dan mengasihi dia (21). Dan dari kasih yang demikian, Tuhan Yesus memberi perintah: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan berolah harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (21). Jika kita menyimak jawaban Tuhan Yesus tersebut, maka kita melihat bahwa pertanyaan orang tersebut bukan saja terjawab, tetapi terkabul. Karena Tuhan Yesus mengatakan "Ikutlah Aku". Dengan perkataan lain, hidup kekal dapat dimiliki, bukan? Sebab mengikut Yesus sama dengan memiliki hidup kekal. Karena itu, seharusnyalah orang ini bersorak-sorai! Tapi, kenyataannya, tidak demikian. Injil mencatat "Mendengarkan perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih... (22). Lho, kok kecewa? Kok pergi? Kok sedih? Ada satu kalimat yang penting kita amati sebagai sambungan dari kalimat di atas: "Sebab banyak hartanya" (22).

Apa sebenarnya inti permasalahan orang tersebut? Di mana letak kegagalannya? Sebab banyak hartanya? Lalu, mengapa Tuhan Yesus memerintahkan: "Juallah segala sesuatu yang kami miliki dan berikanlah kepada orang miskin." Apakah orang kaya tidak boleh mengikut Yesus? Apakah harus miskin lebih dahulu? Tentu kita akan menjawab secara pasti dengan, "tidak". Menarik sekali mengamati kisah tersebut. Meskipun orang tersebut memiliki berbagai kelebihan, namun hal itu tidak cukup untuk menjadikannya pengikut Tuhan yang baik dan sejati. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menegaskan: "Satu lagi kekuranganmu". Rupanya, segudang kelebihan orang tersebut (termasuk sebagai orang yang memelihara dan melakukan hukum Taurat sejak kecilnya) akan runtuh pada waktunya 'hanya' karena satu kekurangan. Apakah itu? Orang tersebut gagal menjadikan Yesus yang terutama dalam hidupnya. Baginya, hidup kekal itu perlu, Yesuspun diperlukannya. Semuanya itu penting baginya. Namun, bukan yang terpenting. Apakah yang terpenting baginya? Kita tidak tahu dengan pasti. Yang jelas, ketika disuruh memilih antara mengikut Yesus (beserta hidup kekal) dan hartanya, maka dia memilih hartanya. Padahal, Yesus menuntut agar dia mengutamakan diri-Nya (dan hidup kekalnya). Jadi, persoalannya, bukannya tidak boleh memiliki banyak harta dalam mengikut Yesus. Tetapi, di dalam memiliki banyak harta, seseorang tidak boleh menjadikan harta itu yang pertama dan terutama dalam hidupnya. Kisah tersebut dengan jelas mengajarkan agar setiap orang yang mau mengikut Tuhan Yesus, senantiasa menjadikanNya yang pertama dan terutama dalam hidupnya. Bukan harta, kuasa, nama, relasi dan yang lainnya. Pada bagian lain, Tuhan Yesus dengan gamblang menegaskan bahwa pengikut-pengikut-Nya haruslah mengasihi Dia diatas segala-galanya. "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perembpuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dam barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya (Matius 10:37-39)

Barangkali, ada yang bertanya, "Mengapa harus mengutamakan Yesus? Dr. John Stott juga pernah mengajukan pertanyaan yang sama: "Mengapa Yesus menuntut penyerahan sehebat itu terhadap diriNya? Layakkah Dia menuntut hal yang demikian? Kalau tidak, jangan berikan, abaikan saja. Tetapi kalau layak, mengapa tidak melakukan?" Layakkah Dia? Jawabannya, tentu, "Layak". Bahkan lebih dari layak. Mengapa? Pertama, karena Alkitab menjelaskan bahwa Diapun telah mengutamakan kita. Dia telah meninggalkan segala kemuliaanNya diSorga, demi kita. Bahkan Dia telah mengorbankan nyawa-Nya sendiri. Karena itu, sebagaimana Dia telah menjadikan kita yang pertama dan terutama dalam hidup-Nya, Diapun menuntut hal yang sama. Tidak boleh kurang. Kedua, karena Dia adalah Allah yang Mahamulia dan Mahatinggi. Jadi, yang terbaik, layak dipersembahkan kepada yang termulia. Hal ini jelas kita lihat dalam kitab Wahyu. Segala malaikat dan makhluk bersembah sujud pada-Nya. Ketiga, kita harus mengutamakan Dia, karena itulah cara hidup Kristen yang benar. Jika tidak, maka kita, cepat atau lambat akan mengalami kegagalan yang sama seperti orang tersebut di atas. Barangkali, selama belum disuruh untuk memilih antara Kristus dengan harta, karier, kekasih, calon suami, dan lain-lain, maka tidak ada masalah. Tetapi, bila tiba saatnya 'dipaksa' untuk memilih? Kecuali Anda dan saya telah sungguh-sungguh menjadikan Dia diatas segalanya, maka Anda dan saya pasti akan gagal! Dokter Stanley Brown, seorang ahli dari Inggris dan yang pernah menjadi dokter misi untuk orang-orang berpenyakit kusta pernah mengatakan: "Utamakanlah Kristus dalam hidupmu, maka kamu tidak akan pernah menyesal". Semoga Tuhan mengaruniakan hal itu kepada kita semua. -
(Sinar Harapan, kolom Mangapul, 2.9.06)